
“Le—lepaskan!” ucapnya dengan suara serak, Ashma mencoba menepis tangan Adam yang menggenggamnya. Adam tetap tidak melepaskan genggaman tangan Ashma, dia segera memencet tombol disamping ranjang untuk memanggil dokter.
Namun Ashma teringat sesuatu dia segera memegangi perutnya dengan sangat lemas, Ashma menarik napas lega karena bayinya tidak kenapa-napa, dia masih berada didalam perutnya.
Ashma teringat saat tubuhnya terhempas dan merasakan seluruh tubuhnya nyeri dengan darah yang keluar dari balik betisnya.
Dimalam itu, saat Adam merenggut kepercayaannya dan Ashma kehilangan segala perasaannya untuk lelaki itu, kini dia hanya merasakan kebencian pada lelaki itu dia sungguh membencinya.
Dokter segera datang untuk memeriksa keadaan Ashma, Adam mundur beberapa langkah memberikan ruang untuk dokter memeriksa keadaan istrinya.
Ashma memegangi kepalanya yang terasa amat sakit itu menjadi kekhawatiran Adam, dia sempat ingin melangkah maju namun urung karena dokter masih fokus untuk memeriksa keadaannya.
“Dok saya ingin minum,” pinta Ashma karena tenggorokannya terasa sangat kering. Mendengar itu Adam berniat untuk mengambilkan gelas yang berada di atas nakas namun lagi-lagi urung saat Ashma hanya ingin diambilkan oleh dokter Alicia.
Ashma meneguk air putih itu hingga tandas, rasanya tenggorokannya menjadi lega setelah terkena air.
“Apa kepalamu terasa sakit?” tanya dokter Alicia, Ashma mengangguk kecil.
“Apa bayiku baik-baik saja?” tanyanya berbalik dengan suara parau. Dokter Alicia tersenyum tipis. “Bayimu baik-baik saja, dia begitu gigih berjuang dengan ibunya.” Ashma tersenyum kecil dengan air mata yang mengembun, dia Bahagia mendengarnya.
“Syukurlah sayang.” ucapnya membatin, dia ingin sekali mengusap perutnya lagi akan tetapi tangannya terasa lemas untuk di gerakan.
“Apa tubuhmu bisa digerakkan?”
Ashma mengangguk lemah, “hm, tapi terasa begitu lemas.”
Dokter Alicia memegang kaki Ashma, “Apa kau merasakan sentuhan tanganku?” tanyanya lagi, Ashma mengangguk.
“Karena nona Ashma mengalami koma selama satu bulan, itu yang membuat tubuh nona terasa kaku dan lemas, tapi jangan khawatir karena kami akan membantu pemulihan nona sampai membaik.”
Ashma tercengang mendengar penuturan dokter Alicia yang mengatakan dia mengalami koma selama satu bulan, berarti kehamilannya juga sudah memasuki bulan ke-enam.
Dokter selesai memeriksa kondisi Ashma, Adam segera bertanya pada dokter Alicia. “Dokter Alicia, bagaimana keadaan istri saya sekarang?” matanya tidak putus untuk menatap Ashma, namun sayangnya Ashma enggan sekedar melirik Adam.
Dokter Alicia tersenyum tipis, “Puji Tuhan perkembangannya sangat baik, dia siuman lebih cepat dari prediksi pemeriksaan kami selama ini. Hanya saja kita tidak boleh lalai untuk terus memantau perkembangan istri anda tuan, jadi setelah kondisinya benar-benar stabil kami akan memindahkan istri anda keruang rawat.” Tuturnya menjelaskan kondisi istrinya, Adam tentu bahagia sekali karena Allah telah mengabulkan doanya secepat ini.
“Untuk saat ini tuan harus menjaga kondisi istri anda agar tetap stabil, jangan membuatnya memikirkan sesuatu yang membebani pikirannya, saya berharap dia dapat pulih dengan cepat. Kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan pemeriksaan saya pada pasien lain tuan.” Ucap dokter Alicia sebelum pamit dari ruangan Ashma.
Adam mengangguk paham lalu mempersilahkan dokter Alicia untuk melanjutkan tugasnya.
Atmosfir di ruangan itu sedikit hening namun Adam segera mendekati Ashma lalu menarik kursi untuk bisa dekat dengan Ashma, wanita itu masih enggan melirik suaminya.
“Sayang,” panggil Adam dengan sangat lembut namun sang empu tetap tidak menyahutinya.
Adam meraih jemari itu lalu mengecupnya sekilas, “syukurlah kamu sudah bangun,” Jemari Ashma diletakan di keningnya, Adam menitihkan air mata dan itu terasa basah pada bahu tangan Ashma.
Ashma menarik tangannya, dia tidak ingin disentuh oleh Adam. “Le—lepaskan!”
Adam menatapnya dengan lirih, “Maafkan saya Ashma, saya bersalah. Kamu boleh membenci saya tapi saya mohon padamu, tolong jangan buat saya takut lagi, jangan tinggalkan saya lagi.” Ucapnya penuh sesal. Ashma tidak percaya lagi padanya, dia tidak ingin mendengar bualan kata-katanya lagi.
“Aku tidak ingin mendengar kebohongan mu lagi Adam!” jawab Ashma dengan nada suara dingin.
“Ashma sayangku saya mo—”
“Tolong Adam aku mohon, tolong keluarlah.”
Ashma memohon kepadanya dengan air mata mengalir di wajah pucat nya, dia memohon dengan putus asa.
Dengan berat hati Adam menyingsing dari sisi ranjang Ashma, dia hendak pergi namun langkahnya tertahan saat keinginannya untuk mencium istrinya atas kerinduannya selama ini menggebu-gebu. Adam dengan beraninya mencium lembut kening Ashma tanpa peduli istrinya memukul-mukul pelan dada bidangnya.
“Aku mencintaimu.” Kata-kata itu lolos dari bibir Adam yang tidak pernah Ashma inginkan lagi, dia tidak lagi mengharapkannya.
Adam segera keluar setelah mengungkapkan perasaanya, dia sangat lega walaupun Ashma kelihatan tidak suka saat Adam mengatakannya.
Adam duduk dibangku tunggu, memandangi pintu ruangan Ashma yang tertutup. Dia diliputi keresahan akan istrinya, walaupun dia sudah bersiap jika Ashma akan membencinya tetapi Adam akhirnya tidak bisa, dia terganggu saat melihat sorot mata Ashma yang menatapnya dengan dingin.
Ashma, sorot matanya itu nampak tidak mempercayainya lagi.
Adam menghela napas panjang lalu segera menghubungi bibi Marianne dan juga Lily untuk memberitahu kabar bahagia ini.
"Ashma, oh Ashma-ku." Gumamnya dengan sedikit frustasi.
Setengah jam berlalu dia masih menunggu diluar, duduk dibangku tunggu, tidak lama dari itu bibi Marianne dan juga Lily datang menghampirinya.
“Ma, tolong jaga Ashma, dia tidak ingin Bersama saya.” Bibi Marianne dan Lily akhirnya memahami situasinya.
Bibi Marianne segera masuk kedalam diikuti dengan Lily namun Wanita itu menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Adam, dia ikut duduk disebelahnya.
“Kamu pasti sangat menyesal kan Adam?”
Adam tidak bergeming dia hanya menghela napas panjang sambil bersandar pada dinding. Lily ikut menyenderkan bahunya.
"Benar. Penyesalan itu memang selalu datang diakhir, entah masih ada harapan atau tidak tapi Adam, kau masih memilikinya jadi, berjuanglah untuk Ashma dan anak kalian!" Lily menepuk bahu Adam sedikit keras lalu dia beranjak bangun dari duduknya.
"Hey aku tahu satu hal, tidak ada kata menyerah bagi seorang Adam Kenedy. Kau harus merebut kembali cinta istrimu!" Ucap Lily memberi semangat membara untuk Adam supaya tidak pesimis dalam memperjuangkan cintanya lagi.
Adam menatap bahu wanita itu yang menghilang dibalik pintu, dia tersenyum kecil.
"Ya benar, saya harus semangat untuk mendapatkan cintanya lagi "
...•••...
Setelah Ashma siuman dari koma nya semua orang nampak antusias dan berbahagia.
Setelah satu minggu bangun dari mimpi panjangnya Ashma sudah boleh dipindahkan keruang rawat dimana kondisinya sudah membaik dan tinggal melakukan pemulihan.
Bibi Marianee tengah menyuapi Ashma buah jeruk, wanita itu ingin sekali memakan buah berwarna oranye yang sangat menyegarkan tenggorokannya.
Adam duduk sedikit jauh dari mereka, dia hanya dapat memandangi istrinya saja tanpa bisa menyentuhnya, Ashma sangat tidak ingin dan dia selalu menangis saat Adam berusaha dekat dan ingin menyentuhnya, dia sudah seperti lalat pengganggu untuk Ashma.
Tapi Adam tidak pernah menyerah walaupun dia tidak menginginkannya lagi.
"Apa kamu ingin sesuatu yang lain?" tanya Adam membuka suara diantara dia dan istrinya.
Ashma melirik sekilas lalu kembali menatap objek lain, "Ma, setelah ini Ashma ingin istirahat ya." Mendengar penuturan menantunya bibi Marianee mengangguk pasrah, situasi yang penuh kecanggungan antara pasangan suami-isteri itu sedikit membuat bibi Marianee kewalahan.
"Iya sayang, Mama setelah ini akan pulang dulu ke Mansion jadi kamu dijaga oleh Adam ya?" kata bibi Marianee sengaja supaya waktu berdua mereka semakin banyak dan semoga membuat hubungan mereka membaik.
Ashma mengangguk pasrah dia juga tidak enak sudah banyak membebani ibu mertuanya selama seminggu ini, dia harus segera sembuh lagi.
"Iya Ma tak apa, terimakasih sudah menjaga Ashma dan maaf merepotkan Mama."
Bibi Marianee segera menggeleng, "tidak sayang, Mama tidak keberatan pokoknya kamu harus pulih lagi ya demi calon anak kalian." Ucapnya sambil melirik Adam yang tersenyum tipis.
Bibi Marianee akhirnya pergi dari sana, dia berniat untuk mampir sebentar ke Mansion tetapi urung dan membiarkan mereka memiliki waktu berdua yang lebih lama.
Sekarang didalam ruangan itu hanya ada mereka berdua suasana pun berubah menjadi canggung.
Adam mendekatkan diri kepada Ashma, dia duduk disampingnya dengan mata yang terus menatapnya.
"Apa kamu menginginkan sesuatu lagi sayang?"
"Sweetheart?"
Ashma lagi dan lagi tidak menyahuti ucapan Adam membuat lelaki itu harus ekstra bersabar.
Ashma mengganti posisi tidurnya untuk tidak berhadapan dengan Adam tepatnya dia memunggungi suaminya.
Niat hati tak ingin berbicara dengannya tiba-tiba lelaki itu malah mengusap punggungnya dengan penuh kehalusan.
Ashma awalnya ingin protes tapi mendadak tidak bisa karena usapan Lembut Adam dipunggung nya membuat dia menjadi mengantuk.
"Sayang, Ashma-ku," Adam menghela napas sebentar. "Maafkan Mas sayang..." Dia melanjutkan dengan lirih berharap Ashma mau sekedar merespon sedikit saja ucapannya.
"Saya benar-benar mencintaimu, tolong Ashma beri Mas kesempatan lagi, tolong..."
Adam menghentikan ucapannya kala mendengar dengkuran halus dari mulut istrinya dia segera memeriksanya dan dia tersenyum kecil karena melihat istrinya yang sudah pulas tertidur jadi sepertinya sia-sia ucapannya barusan, tak apa Adam akan terus berusaha merebut kembali hatinya.
"Tidur yang nyenyak tapi kamu janji harus bangun lagi setelah ini, Mas tidak mengijinkan kamu tidur lama lagi sayang." Katanya halus ditelinga Ashma itu membuatnya menggeliat kecil membuat Ashma sayup-sayup dapat mendengarnya di dalam mimpi.
Adam mencium pipi Ashma dengan lama, dia sangat merindukan istrinya.
#TBC