A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
41. Romantisme ditanah surga



Adam membiarkan ungkapan cinta itu mengambang ditengah kebisuan dirinya. Bukan tidak ingin menjawab justru Adam tidak tahu harus membalasnya seperti apa.


"Saya harus lanjut masak, Ashma. "tandas Adam sambil melepaskan pelukan istrinya.


Ashma segera mengangguk, dia tidak mengharapkan balasan dari Adam hanya ingin mengungkapkan perasaannya saja supaya tidak terlalu mengganjal didalam hatinya.


"Kamu istirahat dulu saja, nanti kalau sudah selesai saya segera memanggilmu." Ashma mengangguk lagi tanpa mahu mengeluarkan suara, dia pergi kekamar yang pernah ditempati oleh kedua orang tua Adam.


Ashma benar-benar menyukainya, dia segera merebahkan dirinya diatas kasur yang empuk, badannya yang pegal akhirnya bisa rileks.


Kantuk menjemputnya tetapi Ashma berusaha menghalau sebab dia tidak mau melewatkan rasa masakan yang Adam buat, karena itu Ashma memutuskan untuk membuka layar ponsel pintarnya supaya kantuknya hilang.


Ashma membuka Instagram, media sosial yang sering ia gunakan. Baru saja membuka tiba-tiba muncul postingan dari aku Instagram dokter Halifa yang mengumumkan kehamilan pertamanya bersama dokter Gilang, melihat itu Ashma ikut senang akhirnya mereka bisa hidup bersama dan juga bahagia.


Ashma tidak merasakan cemburu sama sekali sebab ia sudah lama mengikhlaskan perasaannya pada dokter Gilang. Sekarang yang ada didalam hatinya hanya Adam seorang, untuk suaminya.


...•••...


Adam sibuk menatap layar laptopnya, dia sangat sibuk sekali mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda.


"Mas, kamu gak pulang ke Mansion?" tanya Ashma, dia Tengah bersiap untuk mandi sore.


"Tidak, saya mau disini saja. Nanti Jhon juga akan kesini untuk membantu pekerjaan saya,"


"Hmm, seperti itu."


Adam merasa janggal atas jawaban Ashma, ia segera menoleh.


"Kenapa kok terlihat senang Jhon akan datang?"


Ashma menampilkan raut wajah bingung, lelaki itu nampak sensi padahal dia sedang asik dengan laptopnya.


"Apasi Mas, mana ada. Gajelas kamu!" Ashma jadi ikut sensi, lelaki itu tiba-tiba menuduhnya.


Adam nampak berpikir, "Sepertinya Jhon tidak usah kemari, biarkan dia menjaga Lily!" gumamnya lalu segera meraih ponsel diatas meja. Ashma menaikan bahunya acuh, dia segera bergegas masuk kedalam kamar mandi.


"Gengsi banget si, padahal dia cemburu!" Kira Ashma, sepertinya lelaki itu memang sedang kepanasan buktinya saja setiap Ashma menanyai tentang Jhon, Adam langsung menimpalinya dengan sensi.


"Ah sudahlah gausah kegeeran, tapi kalaupun benar bagus juga biar dia kepanasan!" Ashma tersenyum sinis, dia berharap Adam benar cemburu.


Ashma kembali fokus untuk membersihkan tubuhnya, dia berendam dalam bak yang tidak sebesar milik Adam di Mansion.


Tubuh Ashma merasa rileks saat air hangat menyentuh kulitnya, pikiran-pikiran berat di kepalanya juga terkulai sedikit demi sedikit menjadi lebih ringan.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Ashma sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ashma segera bangkit untuk memakai handuk dan berpakaian namun saat akan memakai pakaiannya mereka tidak ada, Ashma menepuk jidat karena lupa membawa baju ganti.


"Yah, bagaimana ini. Kenapa bisa kelupaan sii!" Ashma kesal sendiri karena lupa membawa baju ganti.


"Masa aku harus keluar pake anduk doang?!"


"Tapi kan sebelumnya aku juga suka pakai baju seperti itu saat mau menggoda dia, ish tapi itu beda! Ah gimana dong?!" Ashma frustasi sendiri karena dia tidak tahu harus berbuat apa, dia malu kalau keluar hanya berbalut anduk setengah badan ini.


"Tapi kalau aku tidak keluar-keluar nanti si bayi kenapa-napa!"


"Aishh!"


Mahu tidak mahu Ashma keluar dari kamar mandi. Dia membuka handle pintu dengan pelan-pelan, ingin memastikan terlebih dahulu apakah diluar aman.


Kepalanya menyembul keluar memastikan keberadaan Adam. Oh tidak dia sekarang malah sedang duduk diatas ranjang kasur sambil bersandar pada kepala ranjang, lelaki itu fokus menatap layar ponselnya dengan kacamata minus yang bertengger sempurna dimatanya.


Ashma memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi, langkahnya sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.


Tapi Adam dapat melihat dari ekor matanya, Istrinya itu tengah berjalan kearah lemari. Adam segera menoleh dan mendapati wanita itu hanya menggunakan handuk setengah badan.


Adam meneguk salivanya sendiri saat matanya terkunci pada istrinya, bagaimanapun juga dia lelaki normal.


Melihat istrinya seperti kucing yang malu-malu itu mana dia tahan, tapi mengingat Ashma baru saja pulih jadi Adam mencoba menetralkan pikirannya yang gersang lalu segera memutuskan pandangannya dari Ashma.


Ashma dapat bernafas lega saat Adam memalingkan wajahnya, Ashma segera menuju kearah lemari baju yang sudah disiapkan oleh Adam sedemikian rupa untuk pakaiannya.


Adam memutuskan untuk pergi keluar menetralkan pikirannya yang kacau karena Ashma. Dia mengambil udara sore itu didepan teras rumahnya yang begitu tenang.


Jauh memandang ke langit jingga, senja itu berbalut ria dengan cahaya matahari yang sedikit demi sedikit redup, sangat indah dipandang mata.


Dari langit sana terdapat sekawanan burung-burung yang berterbangan untuk pulang pada sangkar nya. Memandang itu tiba-tiba dia teringat pada janjinya yang akan memulangkan Ashma dengan selamat, dia berpikir apakah Ashma dapat hidup bahagia di tanah Palestina nanti setelah mereka tidak bersama. Oh-tentu saja dia akan bahagia, batinnya dengan praduga yang kuat.


Dia berada disana dan menatapi langit senja sudah hampir sepuluh menit itu tidak membuatnya bosan.


Lamunan Adam tidak membuatnya bergeming dan menyadari bahwa istrinya tengah menatapnya didekat pintu, Ashma ikut tertegun mendapati Adam tengah tersenyum pada langit jingga diatas sana.


Riak angin membuat rambut Adam menari-nari kecil, itu membuat ketampanannya bertambah dan bulu lentiknya juga ikut menari, sebuah penggambaran yang sangat sempurna.


Adam mengerjapkan matanya dan akhirnya dia sadar dari lamunannya. Dia merasakan kehadiran seseorang, dia menoleh kearah pintu. Disana, dipintu itu terdapat jelmaan bidadari yang tengah berdiri menatapnya dengan sangat elok.


Gaun tidur panjang berwarna putih dan hijabnya yang berwarna senada membuat kesan memukau pada tubuh kurus dengan perut buncitnya.


Suaranya seperti tersangkut di tenggorokan saking terpesona oleh kecantikan Ashma. Dia menuju Adam dengan langkah perlahan, duduk disamping suaminya begitu anggun.


Bagaikan magnet yang kuat menarik atensinya yang kini tidak pernah pudar memandang wajahnya yang jelita.


Dengan nalurinya Adam meraih pergelangan tangan Ashma yang sedikit kasar, mungkin itu adalah jerih payahnya dalam mengejar impian menjadi seorang perawat. Tangan mungil itu sepertinya selalu terkena cairan antiseptik, membuatnya sedikit kasar tapi Adam sangat menyukainya.


Dia mencium kedua punggung tangan Ashma begitu lembut membuat darah Ashma berdesir hebat seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya.


"Bagaimana bisa kamu begitu cantik!" Adam melepaskan suaranya yang berat didengar oleh Ashma, itu seperti pertahanan Adam yang tengah runtuh.


Sekarang Tangannya bergerilya memeluk pinggang nya yang keras, dia membawa Ashma bergeser kearahnya begitu dekat dengan wajah yang saling memandang.


Adam semakin mendekatkan wajahnya pada Ashma, deru nafas mereka terasa membuat keduanya hilang akal diperaduan cumbuan hangat yang memabukkan.


Romantisme ditanah surga itu membersamai mereka hingga membuatnya saling nyaman dan enggan memberhentikan sentuhan lembut dari keduanya.


...•••...


Lily mendengus sebal karena Jhon selalu saja mengikutinya dari belakang, dia seperti parasit yang selalu menempel, itulah yang Lily pikirkan mengenai Jhon.


Betapa dia ingin berkata kasar pada Jhon karena dia sudah mengikutinya dari siang tadi sampai sekarang menjelang sore.


"Hey Jhon, apakah kau tidak lelah mengikuti aku?!" tanya Lily begitu sarkas. Jhon hanya menampilkan raut wajah dingin, dia tidak terusik sekalipun dengan suara berisik Lily sedari tadi yang ingin mengusirnya.


"Tidak Nona, tuan Adam memberi perintah kepada saya untuk menjaga Nona." tutur Jhon, sedangkan Lily mendengus sebal.


Lily menuruni tangga eskalator dengan terburu-buru, dia jengah dengan kelakuan kakaknya itu yang memiliki gaya kehidupan super ribet.


Lily mengunjungi pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa pakaian, tapi karena ada Jhon yang selalu membuntutinya itu membuat dia menjadi kesulitan bergerak bebas.


"Persetan dengan semua itu! Aku harus bisa keluar dari jeratan pengawal menyebalkan ini!" Batin Lily menggebu-gebu.


"Aku ingin ke toilet, kau tunggu lah disini!" Lily hendak beranjak namun tangannya dicekal oleh Jhon.


"Anda pasti ingin melarikan diri!


Lily menatapnya sensi, dasar pengawal menyebalkan.


"Aku mau ke toilet Jhon, masa mau buang air kecil dilarang sih!" Tukasnya menyerungut, Jhon akhirnya mempersilahkan Lily untuk ke toilet.


"Saya akan menunggu diluar, anda jangan mencoba-coba untuk kabur!"


"Iya-iya!"


Lily masuk kedalam toilet dengan perasaan dongkol, bagaimana caranya dia bisa kabur kalau Jhon menunggunya tepat disamping pintu toilet.


"Arghhhh!" kesalnya untuk Jhon.


Tapi Lily tidak kehabisan akal untuk mengelabuhi pengawal meresahkan itu, dia memiliki ide cemerlang.


Lily meminta bantuan kepada perempuan yang berada di toilet itu untuk mengelabui Jhon supaya dia bisa kabur darinya.


Dia mengintip situasi diluar dan wanita yang ia suruh telah menjalankan aksinya maka dari itu Lily bergegas pergi dengan pelan-pelan untuk kabur dari Jhon supaya tidak ketahuan.


"Maaf saya tidak melihat anakmu," kata Jhon sopan, sedari tadi wanita itu terus saja memintanya untuk mencari anaknya tetapi Jhon tidak bisa karena harus menjaga Lily.


"Anda bisa membuat pengumuman Nyonya!"


Wanita itu merengut pasrah, "ah baiklah, terimakasih tuan sudah membantu saya!"


"Sama-sama."


Wanita itu sudah pergi sedangkan Jhon masih setia menunggu Nonanya didalam sana yang sudah sekitar lima belas menit belum juga kunjung keluar itu membuat Jhon curiga.


Seseorang keluar dari bilik toilet tapi itu bukan Lily melainkan petugas kebersihan lantas Jhon menanyainya.


"Permisi nyonya, apakah anda melihat wanita ini didalam toilet?"


Petugas kebersihan itu mengingat-ingat, "Kalau tidak salah sekitar sepuluh menit yang lalu dia sudah keluar dari toilet."


"Apa?" dugaan Jhon benar, wanita itu sungguh meresahkan. Jhon segera pergi mencarinya setelah mengucapkan terimakasih pada petugas kebersihan tersebut.


Sedangkan Lily tengah berlari sejauh mungkin dari jangkauan Jhon keluar dari Mall, dia hendak masuk kedalam taksi namun saat akan masuk kedalam taksi tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.


"Akh-" Lily terperanjat kaget saat tubuhnya bersentuhan dengan seseorang.


Lily meringis kecil atas tarikan itu dan dia segera melihat pelaku yang telah membuat tangannya nyeri.


Saat Lily menoleh dia langsung kehilangan kata-katanya. Dia mendapatkan wajah lelaki yang selalu muncul dalam kepingan ingatannya, lelaki itu yang selalu membuat Lily bertanya-tanya, siapa sebenarnya lelaki itu yang selalu muncul dalam ingatannya yang belum juga pulih.


"Baby!"


#TBC