A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
38. Pertemuan yang tidak terduga



Adam memberikan buah apel pada Ashma yang sudah ia potong menjadi beberapa bagian.


"Nah, makanlah," Ashma meraih apel itu dari tangan Adam, menggigitnya perlahan sambil mengusap perutnya gemas.


seseorang membuka pintu kamar rawat Ashma, disana tengah berdiri bibi Marianee dan juga Lily yang datang untuk menjenguk Ashma.


Mereka segera menghampiri Ashma. Bibi Marianee menampilkan raut wajah sedih melihat keadaan menantunya terbaring lemah diatas brankar.


"Ashma," bibi Marianee memeluk lembut menantunya penuh sayang.


"Syukurlah kamu dan bayimu tidak apa-apa,"


Lily mendelik kearah Adam yang tersenyum tipis melihat interaksi Mama dan Ashma.


Bodoh, Adam memang bodoh! Jelas sekali matanya memperlihatkan cinta untuk Ashma tetapi dia masih saja kekeh ingin mencintainya juga, dasar lelaki rakus, batin Lily jengkel.


"Kamu membuat kami khawatir Ashma," ucap Lily menimpali, Adam segera menoleh mendapati Lily yang menatap Ashma penuh senyuman.


"Ah itu... Maaf," tidak, bukan itu yang ingin Lily dengar. "Bagiamana keadaanmu sekarang?" tanyanya berubah cemas.


Ashma tersenyum tipis, "Jauh lebih baik."


Lily tertawa kecil, "baguslah, Adam juga begitu perhatian mendampingimu," itu seperti perkataan yang sengaja untuk menyinggung Adam.


"Tidak Lily bukan seperti itu, tuan Adam hanya menolongku!" ucapan Ashma yang terlalu formal dan merendah itu membuat telinga Adam berdengung dan sangat tidak suka.


Lily membawa tubuhnya untuk duduk di sofa, "tidak usah menjelaskan, aku juga sudah tahu betapa perhatiannya Adam padamu. Tidak usah khawatir Ashma, aku tidak mempermasalahkan itu. Lagian dia juga Kakakku, Kakak yang sangat plinplan akan perasaannya!" sindir Lily membuat Adam merengut kesal.


Lily baru saja memberitahu bahwa hubungan mereka hanya sebatas adik dan kakak, anehnya Adam tidak terlalu masalah padahal sebelumnya dia selalu marah saat Lily tidak berusaha mencintainya. Mungkin Adam tengah berusaha menjaga diri agar tidak membuat Ashma stres, ya dia tetap mencintai Lily bukan berarti perasannya telah menghilang.


"Ah aku ingin keluar," Lily bangkit dari duduknya dan segera berpamitan pada penghuni ruangan itu.


Lily keluar melangkahkan kakinya untuk mencari udara segar diluar rumah sakit namun tiba-tiba pengawal Adam bernama Jhon mengikutinya dari belakang.


"Haruskah selalu seperti ini?" tanya Lily jengah mendapati pengawalan yang sangat menjengkelkan setiap kali dia keluar untuk melangkah ketempat yang ingin dituju.


"Maaf Nona tapi ini perintah dari tuan Adam." Lily mendengus sebal, dia tidak tertarik menjawab pengawal itu lagi.


Langkahnya terus membawa dirinya kelantai satu, memperlihatkan aktivitas orang-orang yang tengah sibuk dengan masalahnya sendiri.


Ada tatapan samar dari mata elang seorang lelaki berdarah dingin, Edward berada disana karena harus melakukan pemeriksaan rutin. Matanya menangkap satu objek yang membuatnya ragu-ragu, dia melihat dengan samar-samar seorang wanita yang begitu mirip dengan Lily. Edward kira itu istrinya Adam tetapi dia tidak menggunakan penutup kepalanya jadi Edward segera mengejarnya, sialnya dia kehilangan jejak yang ia duga itu adalah istrinya, Lily.


"Saya tidak mungkin salah lihat bahkan ada Jhon dibelakangnya. Lily ku masih hidup, dia benar-benar istriku!" Edward merasakan simfoni rindu yang mendamba, perasaannya membumbung rasa bahagia mendapati kenyataan bahwa kekasihnya masih hidup.


Suasana hatinya berubah cepat juga, Edward mengepalkan ruas-ruas jarinya dengan rahang yang mengeras. Emosinya nampak kentara karena mengingat Adam yang lebih dulu menemukan Lily.


"Sial! berani-beraninya kau menangkap Lily dariku Adam!"


Edward segera menuju meja resepsionis, dengan wajah garang dia meminta nama seseorang. Resepsionis itu nampak ketakutan tetapi ia tetap menjaga privasi atas nama-nama yang tertera dibuku kunjungan.


"Cepat beritahu saya atau kau mahu mendengar keluargamu mati mengenaskan?" Edward memberi ancaman membuat resepsionis itu semakin ketakutan.


"Maaf tuan tapi ini privasi!"


Nafas Edward semakin memburu, dia menatapnya begitu nyalang. "Saya akan menghitung sampai hitungan ketiga, kalau kamu tidak juga menurut berarti malam ini kau akan melihat jasad seluruh keluargamu!" Dia semakin dipojokkan jadi tidak ada cara lain lagi untuk menolaknya.


"Baiklah. Sebentar saya akan mencari nama yang kau maksud."


"Atas nama Ashma Zehra, ada tuan," ucap wanita itu setelah mencarinya dengan perasaan takut.


Edward semakin mengeratkan rahangnya mendengar dugaannya yang benar, dia semakin membenci Adam. Lihat saja nanti apa yang akan dia lakukan pada istrinya yang tengah mengandung itu, Edward akan memberinya balasan pada Adam karena sudah membawa Lily darinya.


Edward keluar dari rumah sakit itu lalu segera masuk kedalam mobil, dia memutuskan menghubungi teman lamanya yang akan menjadi partner untuk menghancurkan Adam.


"Oho Dexter, si pria berbahaya yang ulung!" kata Edward dengan sinis dibalik telepon.


Daxter dari balik ponsel pintarnya tersenyum menyeringai, mendapatkan panggilan masuk dari teman lamanya.


Daxter menyeringai sambil mengepulkan asap dari cerutunya, "Tentu, saya harus merebut chip itu dari tangan Adam!"


Edward merasa sangat senang karena sebentar lagi mereka akan segera memulai permainannya.


"Saya memiliki berita yang sangat menarik untukmu Daxter," ucap Edward ingin memberitahu kejutan yang sangat besar.


Edward dari balik handphone mendecih sebal, "tidak usah bertele-tele Edward!"


Edward terkikik mendengar deru nafas Daxter yang tidak sabaran. "Ya kau ini memang situkang tak sabaran. Baiklah saya akan memberitahu satu hal yang sangat menarik,"


"Kau masih ingat wanita yang membantu Adam untuk merampas Chip yang sudah kita ambil?"


Daxter tentu mengingatnya karena wanita itu masuk kedalam daftar buruannya. "Mana mungkin lupa, dia adalah mangsaku yang sangat berharga!"


Edward mengambil beberapa foto diatas meja, itu adalah potret istrinya Adam yang diambil secara diam-diam oleh suruhannya.


"Wanita itu adalah istrinya," ucapnya memberitahu. Daxter menyeringai sambil tertawa mengerikan, dia benar-benar mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan.


"Tidak menyangka permainan ini akan menjadi sangat menarik. Sekarang kita tidak perlu lagi mencari kelemahan sibedebah Adam itu karena istrinya adalah titik kelemahannya bukan ?!" tanya Daxter memastikan, Edward segera membenarkan.


"Baiklah itu saja informasi yang bisa saya berikan, kita harus bertemu langsung dan membicarakan nya lebih lanjut esok bagaimana?" tanya Edward menawarkan waktu pertemuan.


"Ya, besok kita harus berbicara empat mata!"


Setelah panggilan itu berakhir, Edward segera melenggang pergi dengan mobilnya untuk kembali ke Mansion, dia juga harus merencanakan permainan selanjutnya untuk bersenang-senang melihat kehancuran Adam.


...•••...


"Kenapa masih disini Adam? Pergilah! urusanmu pasti sangat banyak."


Ashma sedari tadi menggerutu karena Adam tidak juga pergi dari hadapannya, itu membuat Ashma jengkel.


"Kau sangat suka mengusirku, tapi kali ini saya tidak akan pergi!" tegas Adam yang sudah muak mendengar Ashma cerewet sekali.


"Pergilah! Aku sangat pening melihatmu disini?!" Adam langsung memikirkan perkataan dokter Miranda untuk tidak membuat Ashma stress, baiklah dia harus mengalah.


"Dasar keras kepala. Baiklah saya akan keluar tapi tunggu Mama kembali kesini!"


Ashma tidak menyahuti lagi, dia hanya bisa menunggu bibi Marianee untuk segera datang keruangannya.


Tidak lama itu bibi Marianee datang, Ashma langsung saja mengusir Adam, lelaki itu merengut kesal karena Ashma masih saja ingin mengusirnya.


Bibi Marianee menggeleng kecil melihat pertengkaran mereka, dia harus segera mencari cara agar dapat membuat mereka berbaikan.


"Ma tolong jaga wanita keras kepala ini, Adam mau keluar," bibi Marianee mengangguk mengerti, Adam segera keluar dari ruangan Ashma. Langkah lelaki itu semakin menjauh dan akhirnya lenyap dipendengaran Ashma.


"Kalian ini sangat suka mencari keributan!" ucap bibi Marianee dengan lembut.


"Maaf Ma, tapi dengan bersikap seperti ini padanya membuat hatiku tidak mudah kecewa," jelas Ashma dengan senyum tipis, Ashma rasa dia sudah melakukan hal yang tepat.


Bibi Marianee paham akan hal itu tetapi kalau komunikasi mereka semakin memburuk kemungkinan renggangnya rumah tangga mereka akan berpeluang semakin besar.


"Sayang, kunci hubungan yang baik itu adalah komunikasi. Kalau seperti ini terus Mama takut kalian akan semakin berjalan masing-masing dengan saling egois, bukan apa hanya saja Mama takut calon anak kalian yang nanti akan menjadi korban." ucap bibi Marianee memberi saran.


Ashma paham betul maksud ibu mertuanya tetapi untuk saat ini, bersikap tidak perduli pada Adam adalah pilihan terbaiknya. Ashma tidak mahu repot-repot harus memikirkannya dengan sakit hati lagi, dia mau lari sejenak dari permasalahannya dengan Adam.


"Tapi Adam tidak pernah mahu mengerti ma, dia egois dengan perasaannya sendiri. Mama, aku tidak tahu hubungan dia dan anakmu dahulu seperti apa tetapi, aku juga manusia biasa yang memiliki perasaan. Aku juga seorang perempuan biasa yang mudah cemburu mengetahui suaminya masih mencintai wanita dimasa lalunya, hatiku sakit dan aku tertekan." Air mata Ashma luruh, ini adalah perasaan nya yang selalu ia rasakan saat mendengar Adam selalu menyebut nama wanita lain


"Juga tidak akan sesakit ini Ma, karena aku sudah jatuh hati kepadanya!"


Bibi Marianee menatap getir menantunya , ia tidak menyangka Adam akan menyakiti Ashma sedalam ini sampai membuatnya kehilangan rasa percaya nya pada suaminya.


"Maafkan Mama Ashma, Mama tidak tahu ternyata kamu menanggung semua ini sendirian," bibi Marianee langsung merengkuh tubuh ringkih Ashma. Wanita itu menangis dipelukan ibu mertuanya dengan segala rasa sakitnya.


#TBC