[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Gara-Gara Aurora



"Agraaa." Citra–Mama Agra kini membangunkan anak semata wayangnya yang dari tadi tidak bangun-bangun padahal jam sudah menunjukkan pukul 07:00.


"Agraaa bangun udah jam tujuh ini kamu mau telat lagi?" ucap Mama Agra sambil mengguncang pelan bahu Agra.


Citra menghela nafas pelan. "Ekstra sabar ini mah," batin Citra mengeluh.


Tiba-tiba senyum jahil tercetak diwajah cantiknya.


"AGRA BANGUN ATAU MAMA SURUH PAPA BUAT SITA SEMUA FASILITAS KA–" teriakan Citra terpotong karena Agra yang tiba tiba bangun membuat Citra hampir jantungan.


"ASSHIYAAPP!!" teriak Agra setengah sadar, lalu berlari ke kamar mandi.


"ASTAGA AGRA UNTUNG MAMA GAK ADA RIWAYAT JANTUNG!" Teriak Citra kesal.


"Siapa suruh mama mau sita fasilitasnya Agra," sahut Agra dalam kamar mandi.


Citra hanya geleng-geleng tak percaya dengan tingkah anaknya.


"Udah buru mandi kamu udah telat banget loh. Mama tunggu dimeja makan," balas Mama Agra dengan suara yang lebih santai daripada tadi.


Tanpa menunggu balasan dari Agra, Citra melangkah keluar dari kamar Agra menuju meja makan yang ada di lantai satu.


****


Setelah selesai dengan ritual mandinya, kini Agra berjalan menuju meja makan, dengan tampilan yang bad tentunya. Rambut acak-acakan, kaki baju keluar sebelah, kancing atas terbuka satu memperlihatkan kaos biru navy yang ia kenakan, kaos kaki semata kaki ditambah sepatu putih bercampur abu-abu. Citra hanya geleng-geleng dengan penampilan Agra karena jika ditegur, Agra pasti menjawab dengan kalimat yang sama "Ini tuh style Mama" Citra sudah hafal betul dengan jawaban itu.


Agra berjalan santai ke meja makan lalu mencium pipi mamanya.


"Pagi ma," sapa Agra seraya mencium pipi Citra lalu duduk di kursinya.


"Pagi son." Balas Mama Agra lalu duduk di hadapan Agra.


"Papa udah berangkat?" tanya Agra seraya memakan sarapannya.


"Udah dari tadi, kamu aja yang susah dibangunin!" seru Citra ketus.


"Hehe maaf... Agra keasikan game online sama duo kunyuk tadi malam," balas Agra cengengesan.


"Hm, eh Gra kamu udah telat banget loh ini!!" pekik Citra panik karena kini jam telah menunjukkan pukul 7:30.


Sedangkan Agra menanggapi nya dengan mendengus. Seperti mamanya baru kali ini saja melihatnya terlambat.


"Mama kek gak tau Agra aja," ucap Agra malas


"Ck, udah buruan habisin sarapan kamu terus berangkat!" perintah Citra tegas


"Iyaaaa."


****


Motor sport hitam itu telah sampai di depan gerbang sekolah. Sang pemilik motor itu berdecak kesal karena gerbang telah ditutup. Agra sampai di sekolah pada jam 08:00. Bagaimana tidak jarak dari rumahnya kesekolah memakan waktu hampir 30 menit itupun jika tidak macet. Agra berfikir sejenak akan menitipkan motornya kemana, kalau ia mah gampang tinggal manjat tembok selesai masalah.


Setelah lama berfikir ia menitipkan motornya saja di kios dekat sekolahnya, dan ia kini berjalan menuju belakang sekolah.


"Manjat lagi kan!" keluh Agra malas.


Akhirnya iapun memanjat tembok sekolah yang tinggi ini.


Hap!


Agra telah sampai dibawah dengan melompat dari atas tembok tinggi itu, kini ia berjalan mengendap-endap seraya memperhatikan sekitarnya berharap tidak ada guru maupun anak osis yang berjaga. Melihat keadaan aman Agra pun menghela nafas lega stidaknya tidak mendapat hukuman hari ini.


Baru saja ingin melangkah, suara yang terdengar seperti mengejek dari seseorang membuatnya menghentikan langkahnya.


"Jago juga lo!" ejek orang itu dengan tangan dilipat didada.


"Sial!" umpat Agra dalam hati.


****


Lelaki yang dikagum-kagumi seantero sekolah ini sedang melaksanakan hukumannya yaitu NGEBERSIHIN TOILET COWOK KELAS XI. Bayangin gimana keselnya Agra sama cewek yang udah ngaduhin dia ke Pak Tono.


Flasback on


"jago juga lo!" ejek seorang gadis yang menangkap basah Agra melompat dari tembok.


"sial!" umpat Agra dalam hati.


Agra membalikkan badannya ingin melihat siapa cewek yang memergokinya ini. Agra menghela nafas berat saat tau siapa cewek itu. Dia cewek paling songong yang perna Agra temui cewek beasiswa AURORA MAUREN. Agra menatap Aurora dengan datar sedangkan Aurora kini menunjukkan senyum miringnya dengan tangan disilangkan didada.


"Kayaknya seru deh kalo liat lo dihukum," ucap Aurora dengan nada mengejeknya ditanggapi tatapan malas ole Agra.


"Ngapain lo harus muncul sih?" Agra mendesah frustasi karena pasti cewek didepannya ini akan mengadukannya kepada guru kesayangannya. Aurora hanya diam menatap Agra seperti sedang berfikir, membuat Agra mengernyit bingung. Tiba-tiba gadis itu berseru dan membuat Agra tambah bingung.


"Gra," seru Aurora, kini raut wajahnya berubah menjadi serius tidak sesongong tadi.


"Apa?" tanya Agra dengan alis terangkat satu, heran dengan perubahan ekspresi cewek didepannya ini.


"Lo mau bebas dari Pak Tono?" tanya Aurora serius.


Agra merasa curiga dengan perubahan cewek didepannya ini. Bukannya tadi dia bilang ingin melihatnya di hukum, lalu sekarang?.


"Gue mencium bau-bau busuk disini," curiga Agra dengan wajah yang seperti mengendus-endus.


"Hidung lo kali bau," balas Aurora asal.


"Enak aja!" sarga Agra cepat.


"Mau kagak gue bantuin? Kalo gak mau sih gakpapa biasanya pak Tono suka keliling jam-jam segini buat nyari murid-murid kesayangannya buat dihukum," Ucap Aurora lagi.


Agra nampak menimang-nimang ucapan Aurora hingga pada akhirnya ia menjawab.


"Emang apaan?" tanya Agra penasaran


"Ikut gue!" titah Aurora lalu berjalan mendahului Agra yang mendengus mengikuti langkah Aurora.


Agra hanya berjalan seraya menatap punggung Aurora yang berjalan didepannya sesekali berfikir apa yang akan dilakukan oleh cewek didepannya ini. Lama berjalan Aurora menghentikan langkahnya diikuti Agra yang menatap Aurora seolah meminta penjelasan karena Aurora berhenti tepat diruang BK, sementara yang ditatap kini mengulum senyumnya agra tidak tampak karena berhasil mengerjai Agra.


Aurora berjalan memasuki ruangan tersebut yang membuat Agra semakin bingung dengan apa yang akan dilakukan Aurora.


"Assalamualaikum... Permisi, Pak," sapa aurora sopan saat tiba di meja pak Tono.


"Walaikumsalam... Ada apa Aurora?" tanya Pak tono heran.


"Diluar ada yang nunggu hukuman dari bapak," ucap Aurora sopan.


"Maksudnya?" tanya pak tono bingung dengan maksud Aurora


"Itu pak diluar ada Agra, tadi pas saya mau ke perpustakaan gak sengaja ngedenger kek sesuatu yang jatuh dibelakang, pas saya liat eh ternyata Agra yang lompat dari tembok belakang sekolah," jelas Aurora panjang lebar. Disertai senyum miringnya.


"Oh Agra, emang yah anak itu gak ada kapok-kapoknya, oh yah kamu tau Agra dimana sekarang?" tanya Pak Tono, bangkit dari duduknya.


"Itu pak ada diluar katanya gak sabar nunggu hukuman bapak,"


"Telat lagi Agra Fransisco?" tanya Pak Tono datar.


"Sialan nih cewek ngerjain gue!" umpat Agra dalam hati dan menatap tajam Aurora yang dibalas senyum mengejek oleh cewek itu. "Awas aja loh!" lanjut Agra dalam Hati.


"Kalo udah tau gak usah nanya pak!" sahut Agra malas.


"Hufftt, bersihin semua toilet cowok kelas sebelas!" titah Pak Tono pada Agra.


Agra melototkan matanya. Enak saja seorang Agra Fransisco Demiand disuruh bersihin toilet. Big No!!.


"Apa-apaan bersihin toilet, lari aja deh pak keliling lapangan!" tawar Agra dengan muka memelasnya berharap pak Tono mengganti hukumannya.


"Sekarang Agra Fransisco Demiand!!" seru Pak Tono tak terbantahkan.


Agra berdecak kesal, lalu menatap Aurora dengan pandangan seolah berkata 'tunggu pembalasan gue' sebelum beranjak dari sana meninggalkan Pak Tono yang geleng-geleng kepala, dan Aurora yang tersenyum kemenangan.


"Asik juga ngerjain si cowok manja," Aurora terkikik dalam hati melihat wajah kesal Agra


Flashback off


"Sialan, ini semua gara-gara tuh cewek beasiswa, awas aja lo!" gerutu Agra sambil menyikat lantai wc.


"Semangat bosskuu!" Agra menoleh ke arah suara itu, dan mendengus kesal saat melihat disana ada Deon dan Alif yang terkekeh geli melihatnya.


"Diem lo kambing!" sentak Agra kesal.


"Wihh dia ngegas bung!" canda Deon sedangkan Alif hanya geleng-geleng seraya terkekeh.


"Ngomong skali lagi muka lo yang gue sikat!" ancam Agra kesal karena Deon yang terus mengejeknya.


"Haha... Udahlah Yon kasian si boss butuh asupan kayaknya." Alif ikut nimbrung meledek Agra yang kini menatap mereka horor, Deon tertawa melihat Agra yang siap meledak kapan saja.


"Lo sama aja setan!" umpat Agra pada Alif.


Alif dan Deon beranjak pergi dari sana tapi sebelum itu Deon meledek Agra lagi.


"Semangat Agra demi cinta lo ke Aurora. Hahaha...." Deon dan Alif berlari setelah Deon mengatakan itu meninggalkan Agra dengan sumpah seraphnya yang ia tujukan untuk duo kunyuk itu.


***


Sementara dikelas XI IPA 1 Aurora masuk dengan senyum merekahnya dengan membawa buku, karena tadi ia memang berniat mengambil buku paket diperpustakaan tapi harus tertunda karena ngerjain Agra dulu. Guru yang mengajar memandang Aurora bingung karena baru kembali dari perpustakaan.


"Aurora kenapa baru kembali?" tanya Bu Endang selaku guru bahas Inggris.


"Maaf bu tadi saya kebelet makanya ketoilet dulu," jelas Aurora sedikit hati-hati


"Oh... baiklah, silahkan kembali ketempatmu," ucap Bu Endang maklum.


"Makasih bu," balas Aurora, bu Endang hanya tersenyum dan melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda.


Setelah beberapa jam mendengarkan penjelasan dari Bu Endang akhirnya bel istirahatpun berbunyi.


Kringg... Kringg...


"Baik anak-anak sampai disini dulu pertemuan kita hari ini. Wassalamualaikum," ucap Bu Endang mengakhiri pelajaran.


"Walaikumsalam buu...." jawab semua serempak.


Bu Endang pun keluar meninggalkan kelas. Semua siswa siswi juga ikut meninggalkan kelas untuk kekantin termasuk Aurora dan Keyra.


"Kantin yuk Ra!" ajak Keyra semangat karena dari tadi perutnya sudah demo minta diisi.


"Yuk!"


Mereka berjalan beriringan kekantin dibarengi canda tawa mereka, namun tiba-tiba Keyra menanyakan sesuatu yang membuat Aurora begitu Antusias menjawabnya.


"Lo kenapa sih, dari tadi kayaknya bahagia banget?" heran Keyra


"Kayaknya hari ini paling menyenangkan buat gue." jawab Aurora dengan senyum bahagianya.


"Apaansih? Bahagia banget."


"Gue bahagia banget hari ini bisa ngerjain cowok manja itu!"


"Agra?" tanya Keyra penasaran


"Emang lo apain sampai-sampai lo bahagia gini?" lanjut key semakin penasaran.


Akhirnya Aurora pun menceritakan yang dia lakukan ke Agra mulai dari dia yang memergoki Agra lompat dari tembok, membohonginya dengan embel-embel akan membebaskan dia dari Pak Tono, hingga akhirnya Agra berujung dihukum membersihkan toilet cowok kelas XI.


"Sumpah Key, lo harusnya liat gimana keselnya muka Agra waktu itu, kalo gak ada Pak Tono mungkin gue udah ngakak disana," girang Aurora terlihat sekali dia sangat senang melihat Agra bahagia.


"Haha... Kejam banget lo, Ra," timpal Keyra geleng-geleng tak percaya dengan kelakuan sahabatnya ini.


"Lagian siapa suruh jadi orang songong banget haha..." ucap Aurora disisa-sisa tawanya.


***


Mereka telah sampai di dalam kantin, Keyra mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat yang pas untuk menikmati makanannya, lama mencari akhirnya Keyra mendapatkan yang ia mau


"Duduk disana yuk Ra!" Ajak Keyra ke meja paling pojok


Aurora hanya nurut saja kepada Key. Sampai disana mereka duduk dan Keyra pergi memesan makanan sesuai permintaan Aurora. Selagi menunggu Keyra datang Aurora mengedarkan pandangannya keseluruh kantin mencari tiga orang yang selalu menjadi pusat perhatian, tidak! Lebih tepatnya salah seorang dari ketiga orang itu. Tak kunjung menemukannya Aurora hanya mengangkat bahunya acuh hingga suara orang didepannya membuatnya kaget.


"Nyari siapa?" Tanya orang itu yang membuat Aurora tersentak kaget.


***


Bangunan bertingkat tiga dengan logo SMA ANGKASA terpampang jelas di pagar sekolah itu. Di dalamnya begitu sunyi, mungkin proses belajar mengajar telah di mulai. Terlihat beberapa guru berjalan di koridor untuk ke kelas yang akan mereka ajar.


Lain halnya di bagian belakang sekolah. Terdapat beberapa kantin yang menjadi tempat tongkrongan anak-anak 'Nakal' SMA ANGKASA. Kepungan asap rokok tersebar ke mana-mana kala 3 orang cowok diantara mereka mengeluarkan asap rokok dari mulut dan hidungnya.


"Gimana nih Yon? Kita bales dendam gak sama Wolfer? Kalo kita diem terus bisa-bisa Wolfer malah nganggep kita kalah. Ini gak bisa dibiarin!" celutuk salah satu cowok berambut pirang bernama Rio.


Leon yang tengah asik dengan rokoknya berhenti sejenak. Wajah cowok itu masih terdapat lebam yang Agra berikan beberapa hari lalu.


"Biar luka kita semua sembuh dulu. Baru kita balas semuanya."


"Tapi kalo mereka anggep kita kalah karna lama diem gimana?!"


Leon membuang asal puntung rokoknya lalu menarik kerah baju cowok itu.


"Lo mau mati sia-sia di tangan mereka?! Bahkan lebam di muka lo aja belum sembuh sepenuhnya! Kalo kita gegabah, kita bisa aja mati di tangan mereka. Jangan pandang enteng anak Wolfer!"


Cowok yang dibentak oleh Leon itu menunduk bersalah. Leon pun melepaskan cengkaramannya di kerah baju cowok itu lalu kembali duduk di tempatnya.


"Gue gak mau ambil resiko kalau kalian kenapa-napa. Masih banyak anggota kita yang belum pulih gara-gara Agra. Dan gue harap lo jangan egois cuma karna ketakutan lo!" cowok yang baru saja Leon bentak mengangguk lemah. Dia sadar ini adalah salahnya karena bersikap egois.


"Persiapin diri kalian. Nanti gue bakal nantangin Agra buat balapan. Andre! Servis motor gue sebaik mungkin!" setelah mendapat sahutan dari cowok bernama Andre, Leon pun pergi dari tempat itu entah kemana.