[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Tawuran Dadakan



Setelah dari kantin Agra dan sahabat-sahabatnya memasuki kelas dan duduk dibangkunya dengan Alif sambil memperhatikan Deon yang kini berjoget ria karena Tejo teman sekelas mereka yang terkenal rada gila.


"Aseekkk... Goyang terus Yon..." seru Cika sekretaris kelas mereka.


Lagu dangdut yang berjudul Jarang Goyang terus menggema didalam kelas XI IPA 3 membuat sebagaian warganya ikut bergoyang seperti Tejo dan Deon.


Mereka asik bergoyang hingga keramaian dilapangan sekolah lebih tepatnya didekat gerbang membuat semua murid kelas IPA 3 berhenti bergoyang dan Tejo yang mematikan musiknya.


Keramain diluar sana mengundang rasa penasaran semua penghuni kelas XI IPA 3, termasuk Agra dan Alif yang dari tadi hanya menonton dan menertawakan aksi kocak Deon.


Hingga suara teriakan dari luar membuat Agra dan Alif bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar kelas diikuti oleh Deon.


"AGRA!!... LEON NYERANG SEKOLAH KITA!!" Teriak seseorang diluar kelas yang ternyata adalah Alex teman se-geng Agra.


Agra bangkit dari duduknya begitupun Alif lalu melangkah keluar kelas diikuti oleh Deon.


"Sialan" umpat pemuda itu seraya berjalan keluar kelas.


Sesampainya diluar kelas ia mendapati anak anak Wolfer yang kini bergerak gelisah karena sekolahnya sudah diserang namun hanya dihalau oleh guru-guru.


"WOY AGRA SIALAN KELUAR LO!!!" teriak seseorang dari luar gerbang sekolah yang rupanya adalah Leon.


Rahang Agra terlihat mengeras. Pemuda itu lantas memberikan aba-aba pada temannya yang langsungi di jalankan oleh mereka.


"Lex... Lo kasi tau buat semua siswa-siswi disini maupun guru-guru atau bahkan cleaning servis atau apapun itu buat ngumpul di aulah. Cepet!!" suruh nya pada Alex yang tanpa fikir panjang langsung di angguki oleh Alex.


"Lo semua udah pada lengkapkan?" tanya Agra pada temannya yang langsung diangguki oleh mereka karena suasananya sangat genting.


"Oke... Dengerin gue. Gue tau Leon pasti bawa pasukan yang lebih banyak dari kita. Jadi gue minta sama lo semua, sebagian aja yang ikut ngelawan Leon di waktu pertama, karena gue takut kita semua lengah dan pasukan dia masih banyak. Jadi sebagian nyerang pada waktu pertama, dan sebagiannya lagi ngejaga aulah, siapa tau ada yang tiba-tiba nyusup. Nah... pas anggota Leon udah lengah atau mungkin kita, sebagian yang tadi ngejaga aulah langsung ikut lapangan. Ngerti kan?" jelas Agra panjang lebar yang diangguki oleh teman-temannya.


***


Sementara dilain tempat nampak dua orang gadis yang kini terlihat takut dan cemas karena adanya serangan tiba-tiba pada sekolah mereka.


"Aduhh.. Ra kok bisa sekolah kita diserang gini sih" ucap Keyra dengan airmata yang hampir keluar gara-gara takut.


"Gue juga gak tahu Key!" balasnya.


"Terus gimana dong..."


Tiba-tiba Aurora teringat obrolannya dengan Agra pada saat mereka di rumah pohon milik pemuda itu.


"Rey itu ketua geng Diamond's Black musuh geng gue. Gengnya dia slalu aja cari gara-gara sama geng gue. Mereka slalu ngajak balapan ujung-ujungnya mereka yang kalah terus balas dendam dengan nyerang skolah, lebih tepatnya tawuran." jelas Agra panjang lebar.


Ucapan Agra itu membuat Aurora sedikit membulatkan matanya, lalu bergumam membuat Keyra bingung melihatnya.


"Agra..." gumam gadis itu membuat Keyra menatapnya bingung.


"Agra? Aduhh.. Ra plis deh. Disaat-saat kek gini lo masih sempet-sempetnya mikirin Agra?" ucap Keyra tak percaya.


"Ck.. Bukan itu Key. Gue yakin serangan ini ada hubungannya sama Agra" ungkapnya membuat Keyra tambah bingung. Pasalnya kenapa Aurora bisa berfikiran seperti itu? Apa karena Agra termasuk badboy?


"Ra jangan sem-" ucapan Keyra terpotong karena suara seorang pemuda di mickrofon sekolah.


"Buat semua siswa-siswi Demiand Senior High School beserta guru-guru dan yang lainnya yang ada disekolah ini. Saya mohon agar berkumpul di Aulah sekolah, jika kalian tidak ingin terkena dampak tawuran ini. Ini perintah langsung dari Agra, sekian"


Setelah mendengar penyampaian itu, Keyra langsung menarik tangan Aurora dan berlari menuju Aulah dimana semua orang sudah berkumpul ramai disana dengan berbagai macam ucapan.


"Kok skolah kita bisa diserang sih..."


"Tau nih... Tiba-tiba aja sekolah kita diserang"


"Kyaknya itu musuh geng Wolfer deh..."


"Kok lo ngomong gitu??"


"Lo gak denger tadi salah satu dari mereka manggil-manggil Agra?"


"Enggak..."


Begitulah ucapan yang dapat Aurora tangkap. Dan ternyata benar Agra ada sangkut pautnya dengan ini. Lalu Aurora kembali berfikir, dimana Rey sekarang? Bukannya yang menyerang sekolah kita adalah geng motor milik Rey?


Aurora menggelengkan kepalanya menghilangkan fikiran itu. Yang harus ia fikirkan adalah bagaimana caranya agar dia tidak terkena dampak tawuran ini.


***


Didalam gerbang sekolah sudah berdiri sebagian anggota geng Agra begitupun dengan Agra yang berada di tengah, Alif disebelah kanan Agra, dan Deon di sebelah kirinya. Agra menatap tajam nan dingin pemuda yang kini menunjukkan seringai setannya didepan gerbang sekolah.


"Udah nyiapin senjatanya huh?" sinis pemuda yang ada didepan gerbang sekolah itu. Leon.


Agra tersenyum sinis.


"Bahkan gue gak butuh senjata murahan itu buat ngabisin lo." cibir Agra tak kalah sinis-nya.


Pemuda didepan itu nampak emosi, terlihat dari rahangnya yang mengeras dan tangannya yang terkepal.


"Keluar lo kalo berani!" tantang Leon dengan nada remehnya.


Baru saja Agra akan keluar diikuti oleh teman-temannya, suara seseorang menghentikan langkahnya dan membuat pemuda itu menghela nafas berat.


"Mau kemana kamu Agra!!" ucap Pak Tono.


"Bapak mau sekolah ini hancur gara-gara mereka?" ucap Agra datar.


"Tapi pihak sekolah bisa telfon polisi. Kamu gak usah bahayain diri kamu buat melawan mereka."


"Pak udah deh. Kalo kita ngedengerin bapak ngoceh terus yang ada sekolah ini udah ancur duluan sebelum kita ngelawan!" celutuk Deon kesal karena pak Tono yang menghalangi dan mengulur waktu mereka.


"Tap-"


"Pak... Kita udah gak punya waktu ini!" timpal Alif.


"Jangan coba-coba buat lapor polisi. Kasih tau semua siswa-siswi disini jangan ada yang membeberkan masalah ini ke sosmed kalo gak mau berurusan dengan saya!" titah Agra dingin membuat pak Tono ketakutan dan hanya pasrah lalu pergi dari sana.


"WOY... LAMA AMAT LO PERPISAHANNYA!!" teriak Leon lagi.


Tanpa pikir panjang pun Agra membuka gerbang lalu mereka saling menghantam. Jumlah pasukan Agra kalah dengan Leon. Pasukan Agra hanya berjumlah 20 orang dan 10 orang sisanya menjaga Aulah. Sedangkan pasukan Deon berjumlah 30 orang itupun yang terlihat saat ini. Kita tidak tahu apakah masih ada pasukan yang disembunyikan Leon atau tidak. Agra bodo amat dengan itu, yang ia fokuskan hanya lah yang ada dihadapannya sekarang.


Agra bertarung dengan 3 anak buah Leon, sementara Alif dan Deon masing-masing 2 orang. Anak geng Wolfer dan DB saling menyerang satu sama lain.


Terlihat dari sisi kanan Agra ada 3 anak buahnya yang kini telah terseungkur di aspal gara-gara serangan Leon. Rahang Agra mengeras lalu membabi buta anak buah Leon dihadapannya ini sehingga membuat mereka terkapar diaspal dengan wajah lebam serta darah yang keluar dari mulut mereka.


Agra berlari menghampiri Leon, lalu melayangkan tendangan dari samping Leon membuat pemuda itu tersungkur. Sesaat kemudian pemuda itu bangun lagi dan tersenyum sinis membuat Agra naik pitam.


Agra dan Leon saling menyerang. Nampak sudut mata Leon dan pipinya yang terdapat beberapa lebam serta sudut bibirnya yang berdarah. Sementara Agra sudut bibirnya juga berdarah dan pelipisnya yang membiru akibat terkena pukulan dari Leon.


Mereka terus menyerang satu sama lain, begitu juga dengan Alif yang kini telah menghabiskan beberapa anak buah Leon. Bibir pemuda itu juga berdarah dan pipinya yang terdapat beberapa lebam. Deon pun sama seperti Alif.


Alif meludah didekat anak buah Leon yang kini tersungkur kesakitan di aspal jalanan.


"Lemah!!" cibir pemuda itu lalu pergi mencari mangsa lain.


Pemuda itu berlari menghampiri Deon yang nampak kesusahan karena menyerang 4 anak buah Leon. Alif langsung melayangkan tendangannya dari arah belakang membuat kedua pemuda itu tersungkur kedepan.


Deon melempar senyum ke arah Alif yang dibalas juga oleh pemuda itu.


Alif dan Deon bersamaan menyerang anak buah Leon meskipun ada dari mereka yang memakai senjata entah itu balok atau lainnya, namun itu tak membuat mereka takut.


Alif dan Deon terus membabi buta begitupun dengan teman-temannya yang lain, setelah 4 orang itu jatuh tersungkur Alif dan Deon bertos kemenangan. Tak sengaja mata Alif melihat seseorang dari arah belakang Agra yang membawa balok kayu seperti ingin memukul Agra dari belakang. Sementara Agra tidak menyadari hal itu karena sibuk menghabisi Leon yang kini wajahnya sudah penuh dengan warna biru ke-ungu-unguan.


Alif membulat kan matanya lalu berlari untuk menangkis serangan orang itu, sementara Deon sudah pergi untuk membantu teman-teman lainnya.


Tanpa ba bi bu Alif langsung menendang tangan orang tersebut membuat balok yang akan menghantam tengkuk Agra itu terlempar dan membuat sang empunya mengerang kesakitan karena tendangan Alif yang lumayan keras.


"Berniat curang huh?" sinis Alif dengan nada dinginnya.


Melihat itu membuat Agra kaget karena hampir saja ia terkena pukulan balok. Melihat Agra yang berbalik Leon tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung menendang punggung Agra lalu berlari memasuki sekolah entah apa yang akan pemuda itu lakukan.


"AGRA!!" teriak Alif kaget melihat Agra yang jatuh.


"AGRA!!... LEON MASUK KE DALAM SEKOLAH!!?!!!" teriak Deon dari arah timur.


Mendengar teriakan Deon, Agra langsung bangkit lalu berlari memasuki sekolah.


Sesampainya didalam sekolah pemuda itu menghentikan langkahnya, tubuhnya terasa beku saat melihat apa yang ada didepannya.


"Gimana? Masih brani maju hmm?" ejek Leon sinis.


Agra terdiam di tempatnya melihat perbuatan licik Leon. Ia tidak tahu harus maju menyerang Leon yang kini menampilkan seringai setannya atau mengaku kalah dalam tawuran kali ini.


Agra beralih menatap seorang gadis yang kini berada dalam kukungan Leon dan sebuah pistol yang mengarah kepelipisnya. Wajah gadis itu nampak ketakutan. Tak sengaja mata Agra melihat cairan bening yang keluar dari pelupuk mata indah gadis itu, membuat rahang Agra mengeras dan tangannya yang terkepal.


"Lepasin dia!" dingin Agra pada Leon yang semakin menunjukkan seringai tajamnya.


"Lepasin dia?" sinis Leon lalu memandang Aurora dan Agra bergantian. "Gampang... Lo tinggal berlutut dihadapan gue dan ngakuin kekalahan lo dalam tawuran kali ini dan bubarin geng motor sialan lo itu!" lanjutnya.


Rahang Agra tambah mengeras pandangannya kian tajam.


"Lo-"


"Aww.." Geraman Agra terpotong mendengar rintihan kesakitan gadis itu karena Leon menekan pistol itu dipelipisnya.


Mendengar rintihan itu membuat wajah Agra semakin memerah karena menahan amarahnya yang jika ia ledakkan akan membahayakan gadis yang tak tahu apa-apa ini.


"Oke kalau itu mau lo." ucap Agra datar nan dingin membuat Leon tersenyum miring, dan Aurora yang membulatkan matanya tak percaya


"Agra lo jangan ****?!" teriak gadis itu dalam kukungan tangan Leon.


"Diam!!" bentak Deon pada gadis bernama Aurora itu. Mungkin ada yang bingung kenapa Leon tahu wajah Aurora padahal mereka belum ketemu? Itu karena Pandu mata-mata suruhan Leon sering memperlihatkan foto Aurora pada nya. Masih ingat Pandukan?


Agra tidak memperdulikan ucapan Aurora, yang Agra fikirkan hanyalah bagaimana menyelamatkan gadis tak bersalah itu dari manusia licik seperti Leon. Anak buahnya yang menjaga Aulah juga sudah bergabung dengan yang lainnya diluar sekolah membantu teman-temannya melawan pasukan Leon.


Baru saja Agra akan berlutut didepan Leon tiba-tiba ada seseorang yang melayangkan tendangannya pada punggung Leon membuat pemuda itu tersungkur kedepan dan pistolnya terlempar.


Dengan cepat Agra menarik Aurora untuk bersembunyi dibelakang punggungya sebelum Leon bangkit.


Tak lama Leon bangun lalu berdecih sinis siapa yang menyerangnya.


"Apa kabar penghianat?" sinis Leon dengan menekankan kata 'Penghianat'


Pemuda yang dimaksud penghianat oleh Leon hanya menatap datar Leon. Berbeda dengan Agra yang mengernyit bingung mendengar kata 'Penghianat ' yang keluar dari mulut Leon untuk pemuda itu.


"Nanti gue jelasin," ucap pemuda itu setelah melihat kerutan dahi Agra.


Agra pun hanya mengangkat bahunya acuh lalu pergi maninggalkan pemuda itu dengan Leon dan membawa Aurora masuk kedalam sekolah. Meninggalkan dua pemuda yang kini saling menatap dingin.


"Ngapain lo nyerang sekolah ini?" tanya pemuda dihadapan Leon itu.


"Perlu banget lo tau?" sinis Leon membuat pemuda itu mengepalkan tangannya lalu tanpa babibu ia menyerang Leon membuat pemuda itu tersungkur karena tidak siap akan penyerangan pemuda tersebut.


Emosi Leon tersulut iapun maju membalas pemuda itu dan melayangkan bogemannya namun berhasil ditangkis oleh pemuda itu. Mereka terus saling menyerang tanpa memperdulikan pekikan-pekikan siswa-siswi lain.


Wajah Leon yang memang sudah membiru akibat Agra kini tambah membiru karena mendapat serangan dari pemuda itu. Pemuda tersebut juga memiliki lebam di pelipis dan pipinya, serta sudut bibirnya yang membiru, hanya biru bukan berdarah!


"Pergi lo dari sini sialan!" usir pemuda itu dengan menendang badan Leon yang tersungkur dilapangan.


Leon pun bangkit lalu berlari sempoyongan menuju keluar gerbang dan menghimbau anak buahnya untuk pergi dari sini, karena memang anak buahnya pun banyak yang terkapar lemah diaspal jalanan.


Pemuda yang menatap punggung Leon berlari itu kini merapikan seragamnya lalu berjalan meninggalkan lapangan menyusul Agra dan Aurora.