[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
She's Back



Agra tidak bisa berkata-kata begitu melihat senyum Lena yang masih sama seperti dulu. Manis, cantik dan memikat. Agra tidak munafik. Lena benar-benar cantik versi dewasanya. Agra yakin, ketika cewek itu berjalan, semua mata pasti tertuju padanya.


Bram tersenyum tipis melihat reaksi Agra. Tentu, hubungan Agra dan Lena dulunya bukanlah rahasia. Banyak yang tau bagaimana kedua pewaris itu saling mencintai namun harus berpisah karena Lena yang ikut bersama kedua orang tuanya ke Jerman.


"Disapa Lenanya, Gra. Masa kamu diemin aja," celetuk Bram menyadarkan Agra. Lena memunduk malu sementara Mendensen dan istrinya terkekeh. Citra menatap Agra. Dari tatapannya, ia tahu betul bagaimana perasaan putra semata wayangnya itu saat ini.


Dengan kikuk, Agra membalas sapaan Lena. "Hai, a-apa kabar, Len?" Lena tersenyum tipis. "Aku baik-baik aja, bahkan sekarang kayaknya jauh lebih baik."


Orang tua Lena dan Bram tertawa mendengar jawabannya. "Bisa aja kamu, Lena. Liat, anak Om sampe salah tingkah," ujar Bram menggoda keduanya.


Agra tidak tahu harus bagaimana. Otaknya tiba-tiba mati fungsi. Suara Lena masih selembut dulu. Dan ternyata ... masih berpengaruh pada jantung Agra karena kini, organ itu berdetak hebat. Dengan alasan berbeda, bukan karena Aurora. Seperti biasanya.


Seketika Agra tersentak begitu nama Aurora terlintas di kepalanya. Bodoh! Benar-benar bodoh! Bagaimana bisa ia merindukan Lena sementara Aurora sudah menjadi pacarnya?


"Agra, kamu ajak Lena jalan-jalan dong. Dia baru balik dari Jerman. Dia pasti butuh pengenalan lagi sama Jakarta."


Agra menatap Papanya. Pria itu menaikkan alis penuh arti pada Agra. Seolah hal yang baru saja ia katakan adalah perintah mutlak yang tidak bisa Agra tolak. Cowok itu mengangguk kaku. "Ayo, Len."


Sejenak Agra bertanya, mana Agra yang biasa melawan pada Papanya? Mana Agra yang tidak terpengaruh dengan ekspresi mengancam Papanya? Tubuhnya seolak dikendalikan orang lain saat ini ketika mendengar nama Lena. Tubuhnya bergerak diluar perintah otaknya.


"Lena pamit, Ma, Pa."


"Iya sayang. Kamu senang-senang aja sama Agra. Nak Agra, jagain Lena ya?"


"Iya, Tante."


Agra dan Lena berjalan bersama menuju lobi. Mobil hitam milik keluarga Demiand sudah menunggu. "Gue aja yang nyetir. Lo gak usah ngekor," ujar Agra pada sopirnya. "Tapi-"


"Ini perintah!"


Sopir itu mundur dengan menunduk. Kunci mobil beralih kepemilikan pada Agra, cowok itu memutari mobil kemudian membukakan pintu untuk Lena.


Agra masuk kebalik kemudia. Membawa mobil ketempat yang biasa ia gunakan untuk bersantai.


****


"Pelan-pelan, Ra. Entar lo keselek." Aurora menyengir ketika Rey menegurnya karena cara makannya yang terburu-buru. "Gue laper banget, Rey. Dari sore belum makan." Tentu saja ia belum makan sore tadi, karena mengira akan pergi bersama Agra. Namun, nyatanya cowok itu tidak datang. Bahkan sampai sekarang belum ada kabar dari Agra.


Kemana sebenarnya cowok itu?


"Astaga! Lo jangan suka lupa makan. Kalo maag lo kambuh gimana?"


Aurora lagi-lagi menyengir. Ia seperti seorang anak yang tengah dimarahi oleh Ayahnya. Rey menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir.


"Habis ini mau kemana?" tanya Rey, menyeruput es teh yang ia pesan.


Aurora meneguk segelas air kemudian meletakkannya kembali ke meja. "Kita keliling aja gimana? Gue udah lama banget gak ngerasain nyantai sambil jalan-jalan. Biasanya cuma dihabisin buat tidur."


Rey terkekeh gemas melihat ekpresi lesuh Aurora lalu mengacak gemas rambut cewek itu. "Oke, Princess Aurora. Kita keliling sekarang."


Tawa Aurora mengudara. Rey ini, Aurora akui sangat boyfriend-able. Idaman banyak cewek. Dan juga gentle. Kalau saja ia belum jatuh pada pesona Agra, Aurora pasti akan jatuh cinta pada sosok Rey.


Seperti katanya, Rey menemani Aurora berkeliling taman. Telinganya setia mendengar cerita-cerita dari cewek itu. Sesekali ia berceletuk atau pun hanya mengangguk-angguk sebagai tanggapan.


Namun, sepersekian detik, Rey tiba-tiba berhenti melangkah ketika matanya menangkap pemandangan yang berhasil menyulut emosinya.


Di ujung taman sana, ia melihat sosok Agra tengah tertawa lepas bersama cewek lain. Secepat mungkin, Rey membalikkan tubuh Aurora sebelum cewek itu juga melihatnya.


"Kenapa, Rey? Kok tiba-tiba balik?"


Wajah Rey datar. "Perut gue tiba-tiba sakit, Ra. Kita pulang aja."