[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Maaf



Kini Aurora tinggal sendiri duduk ditepi lapangan mengibas-ibaskan tangannya ke wajahnya karena kepanasan.


Sedangkan Agra sudah hilang sejak tadi setelah hukumannya selesai.


Baru saja ingin bangkit untuk kekantin membeli air. Seseorang dengan tiba-tiba menyodorkan sebotol air minum kepadanya, membuatnya duduk kembali.


"Nih..." ucap orang itu sambil menyodorkan sebotol air minum kepada Aurora.


Aurora mendongak melihat siapa yang memberinya minum. Ia pun mengernyit bingung dengan orang itu yang tiba-tiba memberinya minuman.


"Tumben baik!" balas Aurora cuek, lalu mengambil air itu dan meneguknya hingga tersisah seperdua dari botol itu.


Pemuda itu melongo melihat betapa hausnya gadis didepannya ini. Setelah itu ia pun duduk disamping gadis itu sehingga membuat gadis yang kini duduk disampingnya menatapnya dengan alis terangkat satu.


"ngapain?" tanya gadis itu saat melihat Agra duduk disampingnya.


"Boker!"


Aurora berdecak kesal karena jawaban Agra yang menurutnya menjijikkan.


"Ck... Btw thanks buat minumnya." ucap Aurora lalu meminum kembali air itu hingga tandas dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.


Mereka berdua hanya duduk di pinggir lapangan dengan keheningan. Mereka sama-sama sibuk dengan fikiran mereka sendiri, sehingga menimbulkan kecanggungan yang begitu terasa. Mereka masih sibuk dengan fikiran masing-masing hingga suara Agra memecah keheningan.


"Ra..." panggil Agra pada Aurora.


Namun yang dipanggil hanya diam mendengarkan dan menatap lurus kedepan tanpa ada niatan menyahuti panggilan Agra.


"Ra.."


Aurora masih diam


"Aurora?!" panggil Agra mulai jengkel.


Namun Aurora masih diam.


"Aurora Mauren?!!" panggil Agra kembali dengan suara yang agak keras sehingga membuat sang empunya kesal.


"Apaansih?!" tanya Aurora kesal dan menatap Agra sekilas setelah itu pandangannya kembali lurus kedepan.


"Lo denger gue gak?"


"Lo kira gue budek?"


"Yah abisnya gue panggil-panggil gak nyaut"


"Apaan emang?"


Setelah menanyakan itu Agra kembali diam membuat Aurora memalingkan pandangannya ke Agra dengan raut wajah bingung melihat Agra yang menunduk.


"Lah... Kenapa skarang lo yang diem?" tanya Aurora heran. Bukannya tadi Agra yang memanggil-manggilnya? Ini kenapa dia yang diam.


"Woy?!"


"Eh?.." Agra tersentak kaget dan beralih menatap Aurora dalam.


Aurora yang ditatap seperti itu oleh Agra tiba-tiba merasa gugup dan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.


"Ini jantung gue kok alay banget sih?!" gerutu gadis itu dalam hati.


"Ra... Guee..." terlihat jelas bahwa Agra kini kesusahan untuk mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan kepada Aurora.


"Gue?" beo Aurora menunggu kelanjutan Agra.


"Gu-gue ma-mau..."


"Kok lo jadi gagap gini sih?!"


Agra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menarik nafas.


"Jangan ketawain gue yah!"


"Apaansih emang?" kini Aurora benar-benar penasaran!


"Guemintamaafsamalo." Ucap Agra dengan cepat. Bahkan cara pengucapan Agra lebih cepat dari pada RapMonster yang lagi Rapper.


"Hah? Lo ngomong apaan sih?" Aurora benar-benar dibuat bingung dengan sikap Agra saat ini, tidak seperti biasanya yang terlihat garang dan menyebalkan. Namun skarang tidak lagi garang namun jauh lebih menyebalkan.


"Gue minta maaf sama lo," ucap pemuda itu dengan pelan dan wajah yang tertunduk malu. Bagaimana tidak malu, ini pertama kalinya seorang Agra Fransisco Demiand meminta maaf kepada wanita selain mamanya, apalagi wanita disampingnya ini bener-bener songong.


"Pffttt..." Aurora menahan tawanya saat melihat wajah Agra yang malu-malu.


Bagaimana tidak, seorang Agra yang terkenal sangar ini kini menunduk malu di dekatnya hanya karena meminta maaf. Sebenarnya Aurora sudah memaafkan Agra, namun ia juga ingin bagaimana pria itu meminta maaf. Dan ternyata sangat menggemaskan bagi Aurora.


"Hahahaha..." Tawa Aurora benar-benar pecah, ia sudah tak tahan lagi melihat wajah Agra yang memerah.


Agra yang melihat Aurora menertawakannya dengan cepat membekap mulut gadis itu agar berhenti menertawakannya.


"mmm...mmm.." racau Aurora saat Agra membekap mulutnya.


"Brenti gak!" ucapnya dengan mata melotot kepada Aurora. Aurora pun mengangguk dan Agra melepaskan bekapan tangannya di mulut Aurora.


Tapi....


"Hahaha...." Tawa Aurora kembali terdengar di telinga Agra, membuat sang empunya merasa kesal dan kembali membekap mulut Aurora dan membuat gadis itu memberontak.


"Brenti ketawa atau gue cium di depan semua orang?" ancam Agra pada Aurora yang kini membelalakkan matanya mendengar ancaman Agra dan mengedarkan pandangannya.


"Oh Astaga udah istirahat?"


"Mau gue cium?"


Aurora menggelengkan kepalanya sebagai jawaban karena Agra yang masih membekap mukutnya.


"Kalo gitu brenti ketawa!"


Aurora menganggukkan kepalanya dan Agra melepaskan bekapannya dari mulut Aurora. Aurora mengambil nafas dengan rakus karena sedari tadi ia tak bisa bernafas dengan baik saat Agra membekap mulutnya.


"Gue gak bisa nafas beg0?!"


"Siapa suruh songong?!"


"Lo bener-bener minta maaf sama gue?"


"Hmm.. Maaf karna gue udah ngehina lo waktu itu dikantin!"


"Jadi gimana nih gue dimaafin gak?" tanya Agra setelah bahunya tak perih lagi.


"Emm.. Gimanaya?" Aurora nampak berfikir dengan mengetuk-etukkan telunjuknya di dagu. Sebenarnya ia sudah memaafkan Agra namun mengerjai cowok didekatnya ini mungkin tidak ada salahnya.


"Ck.. Gak usah sok mikir deh."


"Gue bakal maafin lo tapi..." jawab Aurora dengan sengaja menggantungkan ucapannya.


Agra memutar bola matanya malas. "Kalo maafin orang tuh yang ikhlas, gimana sih?!"


"Bawel lo ah." kesal Aurora. "Traktir gue eskrim!" lanjutnya dengan senyum sumringah.


"Eskrim doang?" tanya Agra dengan wajah santainya.


"Sombong!" ketus Aurora.


"Hehe..." cengir Agra membuat Aurora memutar bola matanya malas.


"Oh iya entar sore lo ada acara?" tanya Agra.


"Gue kerja."


"Minta izin aja dulu. Gue mau ngajak lo jalan."


"Hah?" Aurora tidak salah dengarkan kalau tadi Agra mengajaknya jalan?


"Ck... Gak usah kepedean. Gue ngajak lo jalan cuma buat permintaan maaf gue!"


"Siapa juga yang kepedean?!" kilah Aurora ketus.


"Terserah... Jadi gimana lo bisa kan minta izin sehari aja?"


"Gak bisaa... Nanti gaji gue dipotong!"


"Entar gue minta izin sama bos lo"


"Batu banget sih.. Di bilang gak bisa juga!"


"Bahkan gue bisa beli tempat kerja lo kalo gue mau."


"Sultan bebas," ucap Aurora memutar bola matanya malas.


"Gue gak nerima penolakan. Entar pulang skolah tunggu gue diparkiran!" ucap Agra lalu pergi menghampiri Alif dan Deon yang sejak dari tadi menonton mereka dengan Keyra.


"Dasar lo pemaksa?!" teriak Aurora kesal pada Agra yang kini berjalan ke arah sahabatnya.


****


Kantin...


Agra, Alif, Deon, Keyra dan Aurora kini berada dikantin dengan meja yang sama. Awalnya Aurora dan Keyra menolak untuk bersama mereka karena takut diserang oleh fans-fans nya Trio Kadal ini. Namun berkat paksaan dari Deon yang mengatakan ingin akrab dengan mereka dan akhirnya Keyra dan Aurora pun pasrah.


Semua pasang mata yang ada dikantin menatap mereka dengan berbagai macam tatapan. Ada yang menetap bingung dengan kedekatan mereka, ada yang menatap Keyra dan Aurora iri karena bisa bersama dengan geng-nya Agra dan ada yang menatap mereka sinis karena menganggap Keyra dan Aurora yang kegatelan.


Meja mereka dipenuhi canda tawa yang dibuat oleh Deon, sesekali Alif dan Keyra juga ikut menimpali. Berbeda dengan Agra yang hanya diam meminun jusnya dan memperhatikan Aurora makan.


"Ekheemm... Santai aja kali tuh mata!" singgung Deon pada Agra yang terus menatap Aurora entah karena apa.


Agra tersentak kaget lalu cepat mengalihkan pandangannya ke sembarang arah berbeda dengan Aurora yang mengernyit bingung dengan ucapan Deon.


"Kenapa Yon?" tanya Aurora bingung.


"Tuhh ada yang dari tadi ngeliatin lo!" jawab Deon dengan nada mengejek.


Alif dan Keyra mengulum bibirnya agar tawanya tak pecah melihat gelagak Agra yang salah tingkah karena ketangkap basah oleh Deon sedang memperhatikan Aurora.


"Siap-"


"Udah deh mending lo semua pada makan!" Celutuk Agra memotong ucapan Aurora.


"Diem gak lo?" gertak Agra dengan melototkan matanya pada Deon.


"Uuuhh... Eneng takut bang..." ejek Deon dengan nada centilnya.


Alif dan Keyra hanya terkekeh melihat Deon dan Agra yang takut ketahuan oleh Aurora. Sementara Aurora hanya mengernyit bingung melihat Agra dan Deon yang ia tak mengerti kemana arah ucapannya.


"Udah lo makan aja. Gak usah dengerin Deon." ucap Agra pada Aurora saat melihat dahi Aurora berkerut bingung.


"Ekheemm... Ekheemm.." sahut Alif, Deon dan Keyra bersamaan bermaksud menggoda Agra namun Agra hanya memutar bola matanya malas.


"Tuh Ra kata tuan muda gak usah didengerin wekaweka..." timpal Keyra terkekeh.


"Apaansih Key?!" sanggah Aurora malas.


Mereka bertiga kembali memakan makanannya dengan khidmat sampai akhirnya suara Alif membuat mereka mendongak menatap Aurora.


"Ra... Lo kenapa bisa kenal sama Rey?" tanyanya to the point.


Semua yang ada di meja yang ditempati Agra menatap Aurora menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut gadis itu, kecuali Agra yang pura-pura sibuk dengan makanannya, namun tak bisa dipungkiri ia juga ingin mendengar jawaban Aurora.


"Lo kenal sama Rey?" bukannya menjawab pertanyaan Alif, Aurora malah balik nanya.


"Bahkan lebih dari yang lo bayangin." balasnya santai


"Jadi lo kenal dia dari mana?" lanjut Alif.


"Emang kenapa?" Tanya balik Aurora membuat Agra diam-diam berdecak pelan.


"Gue punya temen kek nya dia suka sama lo trus pengen tau lo punya hubungan apa sama Rey, tapi gengsi!" bukan Alif yang menjawab namun Deon yang tiba-tiba menyahuti ucapan Aurora.


Mendengar ucapan Deon, Agra tiba-tiba tersedak makanannya.


Uhhuuukk... Uhhuukk...


Namun semua temannya hanya menatap Agra polos.


"Kenapa Gra?" tanya Alif dengan polosnya.


"Mi.. Uhhuukk minum gila!" kesal Agra.


"Oh bilang dong." balas Alif kelewat santai.


"Nih.."


"Sialan lo pada untuk gue gak mati gara-gara keselek makanan!"


"Alah, manja cuma keselek juga!" ejek Aurora.


"Eh lo diem aja!" balas Agra nyolot.


"Kok lo nyolot?!!"


"Siapa yang nyolot?!"


"Lo lah masa bapaknya biskuit kongguan!"


"Emang biskuit kongguan ada bapaknya?"


"Kenapa lo nanya sama gue?"


"Lo kan ibu tirinya!"


Teman2 mereka? Mereka hanya memakan makanannya sambil menonton pertunjukan di depannya ini, dan Deon yang mengabadikan perdebatan mereka melalu ponselnya.


"Eh lo jangan sembarangan yah!!"


"Lah? Emang ben-"


"Stooopp?!!" Semua penghuni kantin menatap ke arah meja mereka karena heran dengan Key yang tiba-tiba berteriak.


Alif, Deon, Agra dan Aurora pun menatap Keyra takut melihatnya seperti orang yang ingin marah. Sementara Keyra menatap kesal kepada Agra dan Aurora.


"Kenapa?" tanya Keyra polos karena ditatap seluruh kantin..


Semua penghuni kantin langsung meneriaki Keyra. Sementara Aurora, Agra dan Alif menatap datar Keyra, berbeda dengan Deon yang langsung menjitak Keyra.


Pletaaak....


"Ih Deon sakit tau!" gerutu Keyra dengan bibir mengerucut.


"Gue kira lo kenapa tiba-tiba teriak."


"Hehe..." cengir keyra "Abis gue kesel sama pasangan Tom and Jerry ini, ngapain coba bahas bapaknya biskuit kongguan" ucapnya kesal lalu menatap Agra dan Aurora saat mengatakan "Pasangan Tom and Jerry"


Sementara yang di maksud hanya memutar bola matanya malas.


"Jadi gimana Ra?" tanya Alif kembali setelah perdebatan Aurora dan Agra tentang bapaknya biskuit kongguan.


"Apanya?" tanya Aurora balik dengan dahi mengernyit bingung.


"Lo sama Rey kenapa bisa kenal?"


Semua orang yang ada di meja Agra kini menunggu jawaban Aurora termasuk Agra sendiri, berbeda dengan Key yang hanya acuh karena gadis itu sudah tau bagaimana Aurora bisa kenal dengan Rey.


"Oh itu, gue kenal sama Rey pas dia nyelamatin gue dari preman2 malam pas gue baru balik kerja. Disitu gue langsung akrab sama dia, karna dia juga orang nya ramah kok." jawab Aurora seadanya.


"Jadi intinya lo cuma temenan?" kini Deon yang bertanya.


"Hmm.." Aurora menjawab dengan deheman dan mengangguk kecil.


"Yakin?"


"Emang kenapa sih?" tanya Aurora mulai kesal.


"Gak kok hehe..." jawab Deon dengan cengirannya.


Tanpa mereka sadari ada orang yang tersenyum lega mendengar jawaban Aurora.


Agra bangkit dari tempat nya lalu mengajak Alif dan Deon untuk ikut bangkit juga.


"Mo kemana Gra?" tanya Deon saat Agra menyuruhnya ikut dengannya.


"Warung Babe," jawab pemuda itu singkat.


"Lo mau bolos lagi?" tanya Auora kaget.


"Kenapa? Mau ikut?"


"Yah gak lah. Ngapain ikut-ikutan bolos sama lo."


"Yaudah gak usah bawel!"


"Siapa yang bawel cob-"


"Udah deh! Bisa gak sih satu hari aja gak usah berantem?!" omel Alif kesal


"GAK?!!" sentak Aurora dan Agra barengan.


"Kompak banget nih kayaknya," goda Deon dengan senyum jahilnya.


"Apaan! Orang dia yang ikut-ikutan!" tunjuk Aurora pada Agra.


"Heh?! Enak aja kalo ngomong. Yang ada tuh lo plagiat!"


"Siapa juga yang mau jadi plagiat lo!"


"Alah bilang aja lo-"


"Lama-lama gue nikahin lo bedua!" omel Alif lagi.


"OGAH?!!" jawab mereka lagi dengan serempak.


"Ck... Udah-udah. Kek anak tk lo bedua ribut mulu!" omel Keyra jengah


"Gra katanya mau pergi ke warung babe?" ucap Alif.


"Yaudah yuk cabut!" ajak Agra. Tapi sebelum itu ia mengucapkan sesuatu pada Aurora yang membuat Deon bersiul-siul gaje.


"Gue tunggu diparkiran pulang sekolah!" ucapnya menatap Aurora.


"Gue kan udah bil-"


"Gue gak suka penolakan!" tegasnya lalu pergi dari sana diikuti oleh Alif sementara Deon tinggal sejenak untuk menggoda Aurora.


"Kheemm... Kayaknya ada yang mau jalan bareng ni.. Haha..." godanya pada Aurora yang kini menatapnya horor.


"Pergi gak lo?" ancam Aurora dengan mata melotot tajam dan botol saos ditangannya yang siap ia lemparkan ke Deon.


"Uuuhh... Nyonya Demiand galak!" ejek sok takut lalu lari dari hadapan Aurora sebelum botol saos ditangan Aurora melayang ke wajah tampannya.


"DEOOOONNN?!!!" Teriak Aurora kesal.


"Khemm... Beneran nih mau jalan sama Agra?" goda Keyra.


"Ih Key apa-apaan sih!" gerutu gadis itu kesal.


"Bagus yah giliran Agra yang ngajak gak nolak. Pas gue yang ngajak katanya sibuk kerja!" ucap Keyra sok kesal.


"Key... Gue sebenarnya gak mau. Tapi dia yg maksa gue..." ucapnya dengan nada bersalah.


"Paham lah gue yang lagi kasmaran mah beda."


"Key..."


"Haha... Astaga Ra baperan amat sih, gue cuma becanda. Gue juga tau kali kalo lo dipaksa sama Agra." Ucap Keyra dengan tertawa saat melihat sahabatnya itu akan mengeluarkan airmatanya.


"Ishh.. Key gue kira beneran!" kesal Aurora dengan bibir mengerucut.


"Haha.... Bibirnya santai aja dong. Nanti diliat Agra trus dia khilaf kan enak."


"Ih Key udah deh!"


"Haha iya deh iya... Yuk ke kelas!"