[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Telat Bareng



"Gila gue udah telat banget astaga" gerutu seorang gadis yang kini tengah memakai kaos kakinya, dan memakai sepatunya sambil buru-buru.


Bagaimana tidak ini sudah jam 07:10 namun ia masih saja dirumah. Ini gara-gara kemarin ia bekerja sampai jam delapan malam dan dilanjutkan dengan mengerjalan tugas-tugas sekolah.


Iapun keluar dari rumah khas betawi itu dan tak lupa menguncinya. Ia berlari keluar ke tempat penungguan kendaraan umum.


"Hoossstt..." nafasnya kini terengah-engah karena kencangnya ia berlari. Gadis itu menyeka keringatnya lalu mengecek Arlojinya yang kini menunjukkan pukul 07:18.


"Astagaaa bisa dihukum ni gue kalo gini caranya." gerutunya sembari mondar-mandir dengan raut wajah cemasnya.


Aurora terus menunggu.


5 menit berlalu....


Masih sama!


10 Menit berlalu...


masih sama!


Menit selanjutnya...


Tinn...tinn...


"Woy"


Suara klakson motor dan suara panggilan seseorang menghentikan aksi mondar-mandir Aurora. Aurora menatap pemuda dengan motor sport berwarna hitam dan helm fullface-nya.


Aurora tahu siapa pemuda itu. Dia adalah Agra Fransisco Demiand laki-laki dengan kadar ketampanan diatas rata-rata namun memiliki sejuta sifat yang sangat menyebalkan.


Pemuda itu menaikkan kaca helm fullface-nya tanpa mematikan motor sport-nya.


"Mau bareng?"tawarnya


Aurora nampak berfikir. Ia masih marah pada Agra namun sekarang sekolah adalah prioritasnya. Ia mengecek arlojinya yang kini menunjukkan jam 07:35.


"Udah ayoo..." ajak pemuda itu lagi dengan kesal karena Aurora yang mengundur-undur waktu.


"Ck...iya...iya"


Dengan malas Aurora pun naik ke atas motor Agra. Aurora mengernyit bingung saat Agra mengeluarkan jaket yang ia pakai lalu memberikannya pada Aurora.


"Buat apa?" tanya Aurora bingung saat Agra memberikan jaketnya kebelakang dengan badan setengah berbalik.


"Paha lo jelek" balasnya malas.


Aurora yang mengerti ucapan Agra pun mengambil jaket itu dengan sedikit kasar karna Agra yang mengatakan pahanya jelek.


"Yaudah sih gak usah ngatain" balasnya ketus dengan bibir mengerucut yang membuat Agra tersenyum tipis dibalik helm fullface-nya.


"Udah belum?" tanya Agra memastikan.


"Udah" jawab Aurora lalu memegang tas Agra yang tipis sebagai pegangannya agar tidak jatuh.


Agra yang melihat Aurora memegang tasnya pun memutar bola matanya malas.


"Pegangan yang bener" ucapnya pada Aurora.


"Ini udah bener!"


"Yang bener tuh kek gini" ucap Agra lalu menarik kedua tangan Aurora memeluk perutnya, membuat Aurora sontak melototkan matanya dan memukul punggung Agra.


"Bilang aja lo mau modus!" ucap Aurora kesal.


"Ck.. Yaudah kalo gak mau. Gue cuma mau bilang, gue bakal ngebut, kita udah telat banget ini." balas Agra cuek.


Aurora pun kembali memegang tas Agra erat dan Agra yang menurunkan kaca helm fullface-nya. Sedetik kemudian Agra melajukan motornya dengan kecepatan penuh, membuat Aurora hampir terjungkal kebelakang jika saja Aurora tidak memeluk perut Agra. Agra yang melihat itupun tersenyum dibalik helm fullface-nya.


"AGRA PELAN-PELANG GILA?!!" teriak Aurora kesal karena Agra yang mengendarai motor dengan kecepatan penuh dan menyalip pengendarai lainnya tanpa memperdulikan sumpah serapah pengendara lain.


Agra tidak mengubris teriakan Aurora ia terus melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata hingga sampai didepan gerbang sekolah Aurora turun dari motor Agra dengan nafas terengah-engah dengan tangan kanan yang memegang dadanya.


"Hossstt.. Huu.. Lo mau..huu.. Bunuh gue hah?!" Kesal Aurora


"Lebay lo" ucap Agra cuek lalu turun dari motornya dan melepas helm fullface-nya.


Agra membawa motornya ke sebelah kios yang pernah ia tempati untuk menitipkan motor sebelumnya. Aurora yang melihat Agra pergi pun membulatkan matanya karena mengira Agra akan meninggalkan-nya sendiri.


"Woy... Gra lo mau kemana?!" Teriak Aurora.


"Tunggu elah... Gue cuma mau nitipin motor!!" balasnya teriak.


Setelah Agra menitipkan motornya ia pun menghampiri Aurora yang kini tengah melihat-lihat kedalam sekolah melalui gerbang.


"Ikut gue!" ajak Agra.


"Mau kemana?" tanya Aurora heran.


"Ikut aja. Gak usah banyak bacot!"


Dengan terpaksa Aurora pun mengikuti langkah Agra yang menuju belakang sekolah. Sesampainya dibelakang sekolah Agra mengambil anak tangga yang biasa ia gunakan dengan Duo Cunguk saat ia telat.


Aurora yang melihat Agra menyandarkan tangga ke tembok sontak membulatkan matanya.


"Jangan bilang lo mau....?" tanya Aurora was-was


"Ck.. Udah ikutin aja"


Aurora pun pasrah dan membiarkan Agra menyiapkan semuanya. Setelah memastikan tangga itu baik untuk dinaiki, Agra pun beralih menatap Aurora yang dari tadi hanya melihat apa yang ia lakukan.


"Naik!" suruh Agra.


"Tapi kan ini tinggi banget. Kalo gue jatoh gimana?" tanya Aurora dengan wajah takutnya membuat Agra ingin sekali mencubit pipinya namun ia tahan.


"Kalo lo jatuh yah pasti jatuh ke bawah lah."


"Ih jahat banget sih!"


"Ck... Udah buru naik. Smpe lo diatas, jangan langsung lompat. Tungguin gue dulu."


Dengan sangat terpaksa Aurora pun menaiki tangga itu dan Agra yang memegang tangga yang ia naiki agar tidak jatuh.


"Jangan ngintip lo!" seru Aurora melihat ke Agra dengan mata yang di pelototkan.


"Iya... Iyaa"


Agra pun memalingkan wajahnya kesamping agar tidak mengintip sesuatu yang indah diatas sana. Sementara Aurora tetap berusaha agar bisa naik ketembok meskipun rasanya sulit apalagi rok sekolah yang terbilang pendek.


"Agraa.. Susah naiknya" gerutunya kesal.


"Ck... Sentakin badan lo abis tuh naikin kaki lo ke atas tembok!" balasnya kesal karena Aurora yang terus mengomel.


"Udah beloom?" tanya Agra memastikan.


"Iya udahh" jawab Aurora saat tiba diatas.


Aurora melihat kebawah dan setelah itu ia terbelalak kaget dengan tangan yang menutup mulutnya.


"Agraaa... Ini tinggi bangeeett..." racaunya saat melihat dari atas tembok sekolah.


"Ck... Diem bego! Lo mau ketauan?" ucap Agra kesal karena suara Aurora yang terbilang cukup besar.


Agra telah sampai diatas. Mereka berdua kini berada di atas tembok sekolah. Agra bersiap-siap untuk melompat kebawah dan...


Hap...


Pemuda itu telah sampai di bawah menyisakan Aurora yang menatap kebawah dengan wajah ngerinya.


"Trus gue gimana?" tanyanya was-was.


"Yah lompatlah" balas Agra cuek.


"Trus kalo gue jatoh?"


"Udah cepetan lompat. Gue yang nangkep lo disini" Agra tak menyangka bahwa gadis yang selama ini ia kira cuek ternyata cerewet juga.


"Beneran yah?"


"Iyaa"


"Gak boongkan?"


"Gue tinggalin nih?" ancam Agra karena Aurora terus saja seperti ini.


"Eh... Eh.. Jangan. Oke gue lompat."


Dengan mata yang tertutup rapat Aurora pun melompat dari atas tembok dan...


Hap...


"Kok gak sakit?" gumamnya tanpa membuka matanya.


Agra memutar bola matanya malas melihat kebodohan cewek di gendongannya ini.


"Karna lo gak jatuh" jawab Agra yang mendengar gumaman Aurora.


Dengan perlahan Aurora pun membuka matanya dan detik berikutnya ia membelalakkan matanya karena posisi wajahnya sangat dekat dengan wajah Agra karena Agra menggendongnya ala bridal style.


Aurora tertegun melihat manik mata hitam pekat milik Agra begitupun dengan Agra yang tertegun melihat manik mata coklat Aurora. Jantung mereka tiba-tiba memompa dua kali lebih cepat. Membuat dua sejoli itu bingung.


"Jantung gue kenapa?" gumam mereka bersamaan dalam hati.


Mereka sama-sama tertegun namun cepat mengelak. Jantung mereka pasti berdetak lebih cepat karena habis melompat. Ia pasti gara-gara itu bukan yang lain.


Agra tersadar dari ketertegunannya lalu membisikkan sesuatu yang membuat Aurora refleks memukul dadanya


"Lo berat btw..." bisik Agra ditelinga Aurora.


Dengan refleks Agra memukul dada Agra lalu dengan cepat turun dari gendongan Agra dan memperbaiki roknya. Masih dengan merapikan seragamnya tiba-tiba Aurora tersentak kaget karena Agra tiba-tiba menarik tangannya dan mengendap-endap layaknya maling.


"Eh.... Eh... Apaansih narik-narik" protes Aurora dengan memberontak untuk melepaskan tarikan tangan Agra, namun sayang tenaga Agra jauh lebih kuat.


"Udah diem aja. Lo gak mau kan di hukum sama pak Tono?" Aurora pun mengangguk mengiyakan.


"Makanya diem!"


Mereka berdua kini berjalan mengendap-endap seraya menengok kekanan dan kekiri untuk melihat-lihat apakah ada guru ataupun anggota osis yang piket.


Merasa aman Agra dan Aurora pun kembali berjalan dengan santai ke kelas masing-masing namun suara deheman keras seseorang membuat mereka menghentikan langkahya dan menutup rapat-rapat mata mereka karena ketahuan.


"EKHEEMM..."


"Mampus..." gumam mereka dalam hati.


****


Dilapangan sekolah kini terlihat dua insan yang sedang berlari mengelilingi lapangan. Mereka bisa berada disini karena kepergok oleh pak Tono pada saat akan ke kelas masing-masing dan dengan terpaksa mereka harus menjalankan hukumannya masing-masing.


Agra dihukum dengan berlari keliling lapangan sebanyak 20 putaran dan Aurora yang hanya 10 putaran. Sebenarnya hukuman Aurora itu 15 putaran, namun Agra meminta kepada pak Tono agar dikurangkan menjadi 10 putaran saja dengan alasan Aurora adalah perempuan dan ini untuk pertama kalinya Aurora telat dan dengan sedikit berfikir pak Tono pun mengiyakan permintaan Agra.


"Huuu...huuu... Cape banget parah" keluh Aurora dengan nafas terengah-engah dan keringat di dahinya dengan badan yang membungkuk memegang lututnya untuk menetralkan nafasnya.


"Alah lebay... Baru 5 putaran aja udah lemes!" ejek Agra lalu berlari begitu saja melanjutkan hukumannya meninggalkan Aurora yang kini menyumpahinya dengan sumpah serapahnya.


Setelah merasa nafasnya telah normal Aurora kembali melanjutkan hukumannya yang tinggal 5 putaran lagi, sedangkan Agra masih tersisah 10 putaran.


Bayangin gimana kencengnya lari Agra. Aurora aja baru 5 putaran dia udah 10 putaran .


****


Kini Aurora tinggal sendiri duduk ditepi lapangan mengibas-ibaskan tangannya ke wajahnya karena kepanasan.


Sedangkan Agra sudah hilang sejak tadi setelah hukumannya selesai. Baru saja ingin bangkit untuk kekantin membeli air. Seseorang dengan tiba-tiba menyodorkan sebotol air minum kepadanya, membuatnya duduk kembali.


"Nih..." ucap orang itu sambil menyodorkan sebotol air minum kepada Aurora.