[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
On Rooftop



Asap mengepul keluar dari mulut Agra yang baru saja menyesap sebatang benda nikotin. Semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya yang acak-acakan. Matanya lurus ke depan seolah tengah menerawang.


Teringat dulu masa-masa indahnya bersama Aurora. Saat dipasar malam, saat telat bersama dan akhirnya dihukum berdua. Agra paling ingat saat keduanya tengah dinner disebuah rooftop restoran. Aurora yang saat itu memangku gitar sembari bernyanyi bersamanya. Menyanyikan lagu 'Seluruh Nafas Ini' yang menjadi favorit Aurora.


Agra tidak terlalu mementingkan lagunya, ia hanya menikmati wajah cantik Aurora yang bercahaya diterpa sinar rembulan. Sangat cantik hingga Agra merasa bahwa Aurora adalah salah satu bidadari surga nyasar ke bumi.


Malam yang cerah dengan perasaan yang berbunga. Ditemani cahaya bintang-bintang dab bulan, Agra memandang Aurora tiada henti.


"Lo kenapa sih liatin gue terus bukannya fokus nyanyi?" seru Aurora kala itu yang membuat Agra terkekeh. "Ya gimana. Orang yang nyanyi lebih menarik daripada lagunya."


Cewek itu tersenyum malu-malu dengan semburat merah muda dipipinya. Agra refleks mengangkat tangannya untuk mengelus pipi itu. "Kayaknya, salah satu bidadari lagi nyasar deh ke bumi." ujarnya.


"Tau dari mana?"


"Nih, buktinya yang lagi gue liatin. Cantik banget sampe gue pengen terus-terusan bilang makasih sama Tuhan."


"Kenapa gitu?"


"Mau bilang makasih aja karna udah ngebuat bidadarinya nyasar ke hati gue."


Aurora tidak bisa menyembunyikan rona merah dipipinya. Cewek itu mencubit pinggang Agra karena malu hingga cowok itu mengaduh sakit kemudian tertawa.


"Dasar buaya! Pasti bukan cuma gue cewek yang lo gituin."


Agra tertawa. "Emang nasib orang ganteng, pasti selalu dikatain buaya. Padahal gue mah setia."


Pedih menghampiri Agra ketika mengingat momen itu. Momen dimana ia bisa dengan sangat puasnya memandangi Aurora yang lagi tersenyum sembari merona.


"Agra ...." Panggilan bernada lembut itu menghentikan Agra dari segala flashbacknya. Lena datang dan duduk disampingnya. Terdiam sejenak menikmati angin sepoi-sepoi sebelum ia membuka suara.


"Gimana rasanya?"


Agra mengangkat sudut bibirnya lalu menunduk. Kedua tangannya kebelakang menyanggak tubuhnya yang duduk selonjor di lantai rooftop. "Sakit. Dada gue kayak ditusuk-tusuk paku." Lena tetap memandang Agra tanpa melepas senyumnya.


"Waktu ditinggal sama aku?"


Agra terdiam. Matanya masih memandang lurus ke depan. Lalu, ia menoleh saat Lena menyandarkan kepala di bahunya. Agra ingin menolak, tapi seperti ada yang menahan dirinya dan memerintahkannya membiarkan saja. "Labih sakit mana, Gra? Ditinggal Aurora atau aku?"


Agra membuang pandangannya ke arah lain, napasnya terhembus lirih. Ia sungguh tidak tahu jawabannya. Ditinggal Aurora dan Lena rasanya berbeda, keduanya memiliki sensasi yang berbeda. Dulu, ketika Lena pergi, Agra pun merasakat sakit dan takut kehilangan seperti ini. Hanya saja, rasanya ditinggal Aurora lebih menyesakkan.


Lena terkekeh. Membuat Agra menatap rambut cewek itu yang mengeluarkan aroma apel. Aroma yang sama dengan dulu. Aroma yang dulunya menjadi favorit Agra. Mungkin ... sampai sekarang pun masih?


"Gak usah dijawab. Aku udah tau jawabannya. Semuanya keliatan. Aurora kayaknya perempuan hebat. Bisa ngasih pengaruh besar sama kamu hanya dalam kurun waktu singkat. Berbeda sama aku yang dulunya butuh waktu lama buat ngebuat kamu ngebalas perasaan aku."


Agra menatap kedua tangannya yang kini saling bertaut. "Maaf."


"Gakpapa." Lena masih nyaman bersandar di sana. Pada bahu yang dulu selalu menjadi tempat pulangnya. Pada bahu yang dulu sampai sekarang masih menjadi tempat favoritnya. "Tapi, Gra. Sesekali aku mau egois sama kamu. Aku udah kehilangan kamu beberapa tahun lalu. Aku udah setia nunggu kamu yang gak tau kapan datangnya buat jemput aku di Jerman. Aku udah jaga hati aku dari cowok lain cuma buat kamu tanpa peduli kamu udah ada yang lain atau enggak. Aku mau egois. Aku mau usaha dan kesetiaan aku dihargai."


"Kamu harus bisa ngelepasin Aurora, Gra. Dan jadiin aku satu-satunya perempuan yang nempatin hati kamu. Karna dari awal emang seharusnya kayak gitu."


"Len, gak segampang itu. Gue gak bisa ngelepas Aurora."


"Jadi kamu mau ngelepas aku?"


Agra tidak bisa menjawab.


Membuat sosok yang sejak tadi berdiri dibalik pintu rooftop, tersenyum pahit. "Jawabannya udah jelas, Gra. Lo lebih gak bisa ngelepas Lena dari pada gue," gumamnya.


Aurora menatap dua insan yang asik berdua itu sejenak sebelum pergi. Sepertinya rooftop bukan tempat yang tepat lagi untuk menenangkan diri. Setidaknya bagi Aurora