[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Pasar Malam dan Pengintai



Kini kedua insan yang mulai hari ini resmi berdamai telah sampai di sebuah pasar malam. Mereka berkeliling memilih wahana yang akan mereka naiki setelah lama membeli pakaian untuk mengganti seragam sekolah yang dari tadi mereka pakai.


"Gra cobain itu yuk!" ajak gadis itu menunjuk sebuah wahana bernama bianglala.


"Lo yakin?" tanya pemuda itu sedikit ragu.


"Kenapa? Jangan bilang lo takut?!" ucap gadis itu sedikit curiga.


"Ck... Siapa takut. Justru gue yang nanya sama lo. Emang lo gak takut naik bianglala?"


"Ngapain harus takut? Gue sering naik itu sama Key"


"Yaudah" ucapnya lalu menarik gadis itu menuju tempat pengambilan karcis. Setelah mengambil karcis mereka pun menaiki wahana bianglala itu.


"Agraaa seru bangeettt...." seru gadis itu saat bianglala telah berputar.


Agra hanya tersenyum melihat betapa antusiasnya gadis ini. Setidaknya ia bisa membuat gadis dihadapannya ini tertawa setelah ia buat menangis waktu itu dikantin sekolah.


Agra mengamati gadis didepannya ini. Manik mata berwarna coklat yang tersirat banyak kesedihan membuat Agra penasaran akan hidup gadis itu. Hidung yang sedikit mancung dan pipi yang sedikit berisi membuat Agra kadang gemas ingin mencubit pipi itu.


Rambut berwarna hitam pekat serta aroma strawberry yang melekat pada gadis itu membuatnya nyaman dan berdebar tak karuan kala bersamanya.


Gadis dengan segala kesederhanaannya yang entah mengapa saat melihat senyum serta tawa gadis itu yang terlihat begitu tulus selalu membuat hatinya menghangat.


Agra tidak tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Karena bagi pemuda itu, ini adalah perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa nyaman, hangat, khawatir, takut kehilangan, dan deg-degan itulah yang Agra rasakan saat ini.


Rasa nyaman yang ia dapat kan saat bersama gadis yang kini tengah tertawa menikmati wahana pasar malam.


Rasa hangat yang ia rasakan dikala melihat gadis itu tersenyum manis dan tertawa layaknya orang yang tak memiliki beban.


Rasa khawatir dikala melihat gadis itu


terluka walau hanya sedikit, dan rasa khawatir dikala melihat gadis itu menangis.


Rasa takut kehilangan pada gadis itu. Agra juga tak tahu mengapa ia begitu takut kehilangan gadis didepannya ini, padahal gadis itu bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah gadis sederhana yang telah merubah pendapatnya terhadap orang miskin, gadis yang telah membuat pandangannya terhadap orang miskin berubah. Agra selalu berharap jika suatu saat nanti ia diberi kesempatan untuk memiliki gadis dihadapannya ini, hanya satu yang ia pinta. Ia hanya ingin gadis itu selalu berada disisinya meskipun suatu saat nanti banyak rintangan yang harus mereka lalui.


Terakhir...Rasa deg-deg an entah karena apa saat bersama gadis itu. Rasa deg-deg an saat ia menatap manik mata coklat milik gadis itu, serta rasa deg-deg an yang sering timbul begitu saja saat gadis itu tersenyum kepadanya untuk pertama kalinya. Dan anehnya Agra menyukai rasa deg-degan itu.


"Agra... Ayo turun" suara seruan gadis itu membuyarkan lamunan Agra.


"Eh... Udah dibawah?" tanya Agra setelah sampai dibawa bersama Aurora.


Gadis itu mengernyit bingung, kenapa Agra bertanya seperti itu? Apa dari tadi pemuda itu melamun? Begitulah isi kepala Aurora saat ini.


"Lo ngelamun yah?"


"Eh... Gak kok. Yuk cari wahana lain!" ajaknya mengalihkan pembicaraan.


Aurora hanya mengangkat bahunya acuh lalu berjalan mengikuti Agra.


***


Sekarang dua insan itu berada disebuah kursi untuk pengunjung. Mereka mengistirahatkan diri setelah menaiki beberapa wahana keinginan gadis itu. Rupanya Aurora benar-benar memeras Agra.


"Gra beli es krim yuk!" ucap gadis itu memelas.


"Istirahat dulu Ra. Lo gak cape apa?" keluh pemuda itu menyandarkan bahunya.


"Ya udah gue aja yang pergi. Sini duit lo!" pintanya dengan mengulurkan tangan berniat meminta uang pada Agra.


Agra menghela nafas berat lalu mengeluarkan dompetnya. Setelah itu ia mengambil selembar uang biru lalu ia berikan pada gadis itu. Setelah diberi uang oleh Agra gadis itu pun pergi meninggalkan Agra untuk mencari es krim, menyisakan Agra yang kini menatap nanar dompetnya.


"Kuatkanlah dompet hamba ya Allah!"


Agra memang kaya namun untuk saat ini ia hanya membawa beberapa ratus ribu uang kes. Selebihnya ada diatm nya.


Gadis itupun kembali dengan kantung kresek hitam ditangan kirinya yang Agra yakini itu adalah es krim.


"Maaf yah Gra gak ada kembaliannya" ucap gadis itu mengulum senyum.


"Hm"


"Mau?" ucap gadis itu menyodorkan sebuah es krim.


Baru saja Agra ingin mengambil es krim yang gadis itu sodorkan namun dengan cepat Aurora memasukkan sebagian es krim itu ke mulutnya membuat Agra melongo ditempat karena kelakuan gadis itu.


"Beli sendiri dong" ucapnya sambil menikmati es krim.


Agra tambah melongo ditempatnya. Bukankah uang yang digunakan gadis itu untuk membeli es krim adalah uang nya? Lalu apa ini? Gadis itu malah menyuruhnya membeli sendiri? Bener-bener songong untung Agra udah bilang buat berdamai. Jika tidak, Agra sudah mengarungi gadis ini terus dibuang ke sungai nil.


"Agra pulang yuk!!" ajak gadis itu setelah menghabiskan 3 es krim. Benar-Benar maniac es krim guys.


"Es krim lo udah habis?" tanya pemuda itu lalu bangkit dari duduknya.


"Masih ada sih. Entar gue makan dirumah aja. Soalnya udah malem banget" jawabnya lalu memakai sweater Yang Agra beli untuknya. Tuh kan kurang baik apalagi coba si Agra.


"Yaudah yuk"


Baru saja Agra ingin melangkahkan kakinya. Matanya tak sengaja melihat siluet tubuh seseorang berpakaian serba hitam seperti mengintai dirinya. Ia pun menghentikan langkahnya membuat gadis itu mengernyit bingung.


"Kenapa? Kok brenti?" tanya gadis itu sedikit mendongak karena tinggi nya hanya sebatas dagu Agra.


Bukannya menjawab Agra malah mendekap kepala gadis itu kedadanya agar wajah Aurora tak terlihat oleh orang itu.


Mata Agra terus memicing menembus keramaian untuk menangkap sosok berpakaian serbah hitam itu. Berbeda dengan Agra, gadis yang kini Agra sembunyikan wajahnya malah merasakan jantung nya yang berpacu lebih cepat dari biasanya karena kelakuan Agra.


"Gra..." seru gadis itu dalam dekapan Agra.


"Ssstt..." setelah lama mencari siapa sosok itu, akhirnya Agra dapat mengetahui siapa pengintai itu, dari kalung khas pemilik orang berpakaian serba hitam itu. Rahang pemuda itu nampak mengeras saat tahu siapa wajah dibalik topi hitam itu.


Agra melepaskan dekapannya dari kepala gadis itu lalu menatap Aurora membuat Aurora mengernyit bingung melihat raut wajah Agra yang terlihat khawatir dan... Marah?


"Lo kenap-"


"Kita pulang" potong Agra lalu menarik tangan Aurora pergi munuju motornya.


***


Motor sport hitam itu telah sampai didepan sebuah rumah khas betawi. Aurora turun dari boncengan Agra lalu mengucapkan terima kasih dan dibalas dengan deheman oleh pemuda itu.


"Makasih ya Gra" ucap gadis itu dengan senyumnya.


"Masa iya, dia marah gara-gara duitnya gue habisin?"


Tak kunjung mendapatkan jawaban dari kebingungannya Aurora hanya mengangkat bahunya acuh lalu berjalan memasuki rumahnya.


***


Agra menyeruput es jeruknya dengan pandangan seolah memikirkan sesuatu membuat kedua sahabatnya mengerutkan kening bingung oleh sikap Agra yang dari tadi hanya diam. Jika ditanya pun pemuda itu hanya mengangguk, menggeleng ataupun berdehem.


"Agra!!" panggil Alif namun yang dipanggil hanya diam dengan fikirannya.


"Agra?!!" seru Alif sedikit kesal namun hasilnya tetap sama.


Deon yang melihat itupun menepuk bahu Alif mengisyaratkan agar menghentikan aksi Alif memanggil Agra.


"Udah... Biar gue aja" cegah Deon membuat Alif mengangkat bahunya acuh.


Deon tersenyum bangga lalu menarik nafas dalam-dalam membuat Alif melototkan matanya tak tahu apa yang akan Deon lakukan, Alif juga menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya karena pasti Deon akan mengeluarkan suara toa-nya.


Setelah mengambil nafas dalam-dalam Deon pun menghembuskan nafasnya pelan lalu dengan tiba-tiba pemuda itu bergelayut manja pada lengan Agra layaknya seorang perempuan.


"Agraaaa..." rengek Deon membuat sang empunya melototkan matanya kaget lalu menepis kasar tangan Deon sementara Alif kini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum miris karena malu akan suara dan kelakuan Deon yang mengundang berbagai macam tatapan penghuni kantin.


"Apaansih lo. Jijik tau gak!!" sentak Agra lalu menepis kasar tangan Deon.


"Abisnya bang Agra dipanggil-panggil gak nyaut yaudah dedek Deon gandeng aja lengannya" ucapnya dengan bibir mengerucut dan kaki yang dihentak-hentakkan dibawah meja, persis seperti bocah 4 tahun yang ngambek gara-gara gak dikasih permen, sehingga mengundang gelak tawa penghuni kantin.


"Yon malu-malui tau gak!" desis Alif dengan geraman tertahan.


"Hehe abisnya ni bocah satu bengong aje" balas Deon cengengesan.


"Gra lo ada masalah?" tanya Alif mulai serius.


Agra hanya menggelengkan kepalanya membuat kedua sahabatnya menghela nafas jengah.


"Gra kita temenan udah berapa tahun? 2 tahun? 3 tahun? Gak Man kita udah temenan dari orok jadi lo gak bisa nutupin semua masalah lo sama kita. Buat apa kita ada disini kalo lo aja gak mau berbagi cerita sama kita" tutur Deon panjang lebar yang diangguki oleh Alif.


Agra menghela nafas berat, ia juga merasa bersalah kepada sahabatnya karena sikapnya yang seolah tidak menganggap mereka ada.


"Papa" jawabnya ambigu membuat kedua sahabatnya mengerutkan kening bingung


"Papa lo kenapa?" tanya Alif serius.


"Papa nyuruh Jack buat ngintai gue lagi. Dan parahnya ada Aurora disana" jawab Agra dengan raut wajah yang sulit dideskripsikan.


"Jack? Jack siapa? Jackson anggota boyband korea yang katanya mirip gue itu?" idiot Deon dengan wajah tak berdosanya.


Pleetaakk!!


"Lagi serius bambang!!" omel Alif membuat Deon mengerucutkan bibirnya sok imut.


"Lo yakin itu Jack?" tanya Alif lagi pada Agra dan mengabaikan Deon.


"Gue yakin banget itu dia" jawab Agra yakin.


"Lo udah tanya sama bokap lo?"


Agra menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa lo bisa yakin itu Jack?"


Agra menatap Alif dan Deon sekilas lalu menjawab. "Gue gak sengaja ngeliat kalung pengenal pekerja di rumah gue yang dia pake. Dan bentuk kalung kek gitu cuman dia yang punya, karena bokap memang khususin bentuk kalung buat tangan kanannya." jawabnya membuat Alif dan Deon menghela nafas berat, tidak tahu harus melakukan apa jika tangan kanan papa Agra yang sudah bertindak, karena itu pasti perintah langsung dari papa Agra.


Setiap pekerja dirumah Agra memang memiliki kalung pengenal tersendiri. Sopir, pelayan, koki, sekretaris, bodyguard, mata-mata, atau bahkan tangan kanan memiliki bentuk kalung pengenal berbeda-beda, apalagi kalung tanda pengenal seorang tangan kanan lah yang paling beda diantara yang lainnya, itulah yang membuat Agra yakin bahwa itu adalah Jack. Kalung tanda pengenal ini berfungsi untuk mencegah adanya penyusup dari perusahaan lain dengan cara menyamar menjadi pelayan untuk menjatuhkan keluarga Demiand.


Kalian pasti taukan persaingan dalam dunia bisnis?


"Terus Aurora, dia tau ada yang ngintai lo?" tanya Deon setelah tadi hanya mendengarkan.


"Gak. Gue langsung nyembunyiin mukanya" jawab Agra membuat Deon menghela nafas lega. Tapi tidak dengan Alif yang nampak berfikir.


"Lo yakin Jack gak tau muka Aurora?" tanya Alif membuat alis Agra dan Deon mengkerut bingung.


"Maksud lo?" Tanya Agra.


"Lo yakin ini pertama kali nya Jack ngintai lo bareng Aurora?" bukannya menjawab Agra, Alif malah bertanya balik yang membuat Agra sedikit membelalakkan matanya lalu menatap Deon dan Alif bergantian begitupun dengan Deon.


"Gra... Pokoknya lo harus lindungin Aurora mulai dari skrang!" tegas Deon dengan ekspresi seriusnya.


"Bener Gra.. Gue yakin bokap lo pasti bakal cari tahu tentang Aurora. Apalagi Leon" timpal Alif membuat Agra dan Deon heran, kenapa harus ada Leon juga?


"Leon?" tanya Agra dengan alis terangkat satu.


"Lo lupa beberapa hari yang lalu lo ngalahin dia lagi di arena balapan? Lo kira dia bakal diem aja?" ungkap Alif lagi.


"Terus apa hubungannya sama Aurora?" tanya Agra lagi dengan raut wajah bingungnya.


"Come on dude.. Gak mungkin lo gak tau maksud gue. Yahh kecuali lo bego' kek dia" cibir Alif dengan menunjuk Deon dengan dagunya membuat sang empunya melototkan matanya tidak terima, sedangkan Agra mencerna ucapan Alif.


"Maksud lo apa-apaan ngatain gue bego hah?!!" nyolot Deon.


"Gue gak bilang itu lo" balas Alif santai.


"Tapi lo nunjuk gue Alifuddiiinnn..." balas Deon dengan mengejek Alif menggunakan nama Alifuddin.


Alif yang tidak terima namanya diubah menjadi Alifuddin pun berdiri dari duduknya begitupun dengan Deon yang berdiri dari duduknya mereka saling menatap tajam membuat Agra memutar bola matanya malas.


"Enak aja nama gue udah bagus-bagus Alif fernando, ngapain lo ubah jadi Alifuddin hah?!!"


"Muke lo gak pantes punya nama bagus, mendingan juga Alifuddin cocok sama muke lo.. Haha"


"Songong yah lo... Mentang-mentang cari duit beliin anak sembarangan"


"Ngajak gelud hah!!"


Baru saja mereka akan maju untuk saling menjambak, Agra sudah lebih dulu pergi dari kantin membuat Alif dan Deon menghentikan aktivitasnya.


"Lo sih!! Agra pergi kan" geplak Alif pada kepala Deon lalu pergi keluar kantin menyusul Agra dan meninggalkan Deon yang kini mengumpat ditempatnya.


"Alif sialan! Hobi banget jitak pala gue, untung pala gue udah kebal sama tuh tangan jeleknya. Gue sumpahin tambah ganteng baru tau rasa lo" gerutunya sambil mengusap-usap kepalanya lalu ikut menyusul Agra.