[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Takut



Agra sudah dibiarkan pulang kemarin. Kondisinya sudah membaik. Kata Dokter, tidak ada lagi yang perlu dikhawtirkan. Agra hanya harus meminum beberapa butir obat untuk membantu penyembuhan lukanya. Selebihnya, ia sudah baik-baik saja.


Buktinya, sekarang cowok itu sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia menuruni tangga menuju meja makan. Bram sudah tidak ada di sana mengingat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Hanya ada Citra yang menyambut Agra dengan senyuman hangatnya.


"Pagi sayang. Kamu yakin udah mau masuk sekolah?"


Agra menarik kursi lalu duduk dan menggigir roti yang telah disiapkan oleh Citra. "Udah, Ma. Agra kan anak kuat. Luka kalo dimanjain entar malah makin-makin."


Terkekeh, Citra menyodorkan segelas susu untuk Agra. "Gra, Mama mau tanya boleh?"


"Boleh lah, Ma. Masa enggak, sih."


Citra bernapas lega. "Sejak kemarin Mama penasaran. Sebenarnya, gimana perasaan kamu? Mama tau kamu pasti udah pacaran sama Rara, tapi mata kamu gak bisa bohong kalo kamu masih punya harapan sama Lena."


Kunyahan Agra terhenti. Ia menenggak segelas susunya hingga setengah. "Percaya sama Agra, Ma. Dari kemarin, pertanyaan itu juga selalu Agra pikirin. Agra gak ngerti sama perasaan Agra sendiri. Sama Aurora, Agra nyaman dan selalu mau ngelindungin dia. Sama Lena, perasaan Agra gak menentu. Rindu, senang, nyaman, bahkan Agra bisa lupa sama Aurora kalo sama Lena."


Citra menatap Agra yang menunduk. Ia sangat mengerti kegundahan anaknya. Tangan Citra mengelus punggung tangan Agra. "Yakinin hati kamu, Nak. Kamu laki-laki. Laki-laki harus tegas dengan hatinya dan harua punya pendirian. Jangan sampai kegundahan kamu membuat salah satunya tersakiti. Mama gak mau."


***


Para lelaki tentu saja mulai bertingkah sok keren, melemparkan jutaan godaan untuk memikat sosok itu. Sedangkan para cewek, dilanda rasa iri. Sosok itu adalah satu-satunya cewek dengan proporsi tubuh paling sempurna. Seolah ia lahir tanpa cacat sedikit pun.


Agra, Alif dan Deon yang baru menuruni tangga dibuat terpaku. Alif dan Deon yang berdiri di belakang Agra melempar pandangan. Sementara Agra, ekspresinya tidak bisa dijabarkan untuk saat ini.


"Bencana, Gra. Kenapa bisa Lena sekolah di sini? Bukannya dia di Jerman?" tanya Alif yang lebih dulu membuka suara.


"Kemarin juga dia datang sama nyokab lo ks RS. Jangan bilang lo udah duluan tau soal kedatangan Lena di Jakarta?" timpal Deon.


Agra mengangguk kaku. Membuat kedua sahabatnya memandangnya tidak habis pikir. "Lo kenapa gak bilang, sih? Lo tau kan seberapa besar pengaruh Lena sama lo?" kesal Alif.


Agra tidak menanggapi. Sekarang, ia diliputi rasa takut akan sesuatu. Bagaimana kalau sampai Aurora tau siapa Lena bagi Agra?


"Sekarang lo hati-hati, Gra. Gue yakin, kembalinya Lena pasti berpengaruh besar buat perasaan lo. Ingat, ada hati yang harus lo jaga sekarang." Alif kembali menuruni tangga setelah mengatakan itu.


"Lo berdo'a aja, Gra. Semoga Tuhan gak nempatin Lena dikelas Aurora." Deon juga ikut pergi, menyusul Alif ke arah kantin.


Menyisakan Agra yang berperan batin. Ia benar-benar takut akan banyaknya kemungkinan.