[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Sok Jagoan



Di parkiran sekolah kini Agra dan teman-temannya tengah mengobrol sesekali tertawa karena kegoblokan Deon. Hingga suara Alif membuat suasana berubah jadi serius.


"Agra, Leon nantangin lo balapan," seru Alif serius


Mendengar ucapan Alif kini Agra tersenyum miring sedangkan Deon tersenyum antusias karena pasti dia yang akan mendapatkan hadia balapannya jika Agra menang.


"Masih punya nyali juga dia?" kekeh Agra tersenyum sinis.


"Kapan?" lanjut Agra santai.


Mengerti dengan maksud Agra yang bertanya 'kapan' Alif menjawab


"Lusa, ditempat biasa jam sepuluh malam."


"Taruhannya apaan?" tanya Deon antusias


"Belum tau gue, dia belum ngasih tau," jawab Alif datar.


Deon berdecak kesal mendengar jawaban Alif. Sedangkan Agra hanya manggut-manggut gak jelas.


"Okelah, kita balik aja udah sore nih," ucap Agra


"Alah, kayak anak gadis aja lo pulang sore!" ejek Deon


Agra tidak mengubris ucapan Deon. Sedangkan Alif hanya geleng-gelang tak percaya punya temen seperti Deon.


****


Kini motor Agra sudah ada di ambang gerbang ia berhenti sebentar menyapa pak satpam disana lalu melajukan kembali motornya. Saat hendak melewati halte dekat sekolah mata Agra tak sengaja menangkap sosok yang akhir-akhir ini sering berurusan dengannya yang tengah menghela nafas bosan. Agra tersenyum entah karena apa menghampiri sosok itu.


Motor Agra berhenti tepat dihadapan gadis itu. Agra hanya diam sejenak melihat gadis itu dibalik helm fullface nya. Melihat gadis itu mendongak menatapnya Agra pun membuka kaca helmnya. Membuat gadis itu memutar bola matanya malas.


"Butuh tumpangan?" Tanya Agra pada gadis yang kini menatapnya malas.


"Gak perlu!" cetus Aurora singkat.


Agra menghembuskan nafas pelan


"Ck, gak bakalan ada angkot lagi jam segini." seru Agra malas.


"Mau kagak? Kalo gak gue cabut nih. Jarang-jarang lo gue berbaik hati. Apalagi sama lo!" lanjut Agra


Aurora nampak berfikir sejenak antara ingin menerima atau tidak. Jika ia tidak menerima tawaran Agra bisa-bisa ia berjalan pulang kerumahnya yang terbilang jauh dari sekolah.


Namun jika dia menerimanya bisa-bisa ia berutang budi pada Agra. Huufftt.. Dari pada jalan pulang lebih baik Aurora melupakan egonya sejenak. Lama berfikir akhirnya Aurora pun mengangguk terpaksa menerima tawaran Agra.


"Lama amat mikirnya!" ejek Agra.


"Yah udah sih gak usah bawel!" balas Aurora ketus


"Udah numpang juga!" balas Agra kesal.


"Kan lo yang nawarin!" Balas Aurora menahan tawa karena melihat Agra yang diam tak tau mau berkata apa.


"Ck, Iya... Iya...."


****


Motor sport hitam itu kini tengah membelah kota Jakarta. Mereka berdua sama-sama diam dengan fikirannya masing-masing. Sesekali Agra curi-curi pandang lewat spion pada Aurora dan tersenyum tipis dibalik helm fullfacenya.


Motor Agra berhenti didekat warung nasi goreng dipinggir jalan. Aurora yang merasakan motor yang didudukinya berhenti kini mengernyit bingung. Agra turun dari motornya melepas helm fullfacenya diikuti Aurora yang juga turun dari motor Agra.


"Kok berenti?" tanya Aurora dengan alis menyatu kebingungan


"Suka-suka gue, lah, motor-motor gue," balas Agra santai.


"Ck, tapi, kan, rumah gue masih jauh!" pekik Aurora kesal.


"Gue laper. Makanya gue berenti dulu. Emang lo gak laper?" tanya Agra dengan alis terangkat satu.


"Gak!" jawab Aurora singkat


Kriukkk. Kriiukk..


Tiba-tiba perut Aurora bersuara minta diisi, membuat Agra menahan tawanya mati-matian agar tidak pecah. Namun sayangnya tawanya tak bisa ia tahan lagi membuatnya kini tertawa lepas mendengar suara perut Aurora dan wajah Aurora yang memerah karena malu dan kesal.


Sesaat Aurora tertegun melihat ketampanan Agra yang berkali-kali lipat tambah ganteng saat tertawa lepas namun ia membuang kekagumannya pada wajah Agra karena kesal pada Agra yang tak henti-hentinya menertawakan dia.


"Hahahahahaha...." tawa Agra kini memenuhi mereka berdua membuat Aurora bertambah malu dan kesal.


"Ketawain aja gue terus!" pekik Aurora ketus. Antara menahan malu dan kesal.


Agra menyeka ujung Matanya yang sedikit berair akibat terlalu ngakak. "Yang bilang tadi gak lapar siapa, yah?" ejek Agra dengan pura-pura mengingat-ingat.


"Puas lo ngetawain gue?!" seru Aurora kesal


"Haha iya, iya... Sorry. Cewek mah gitu, sok-sokan bilang gak laper padahal mah laper banget," kekeh Agra dengan sisa-sisa tawanya.


"Udah deh. Tadi lo bilang lo laper!" ucap Aurora menatap Agra malas.


"Gue apa lo yang laper?" tanya Agra dengan nada mengejek.


"Agraaaa!!" geram Aurora pada Agra yang tak henti-henti mengejeknya.


"Iya... Iya...."


Kini mereka tengah menikmati nasi goreng yang tadi mereka pesan dengan es teh manis. Aurora masih malu akan kejadian tadi sehingga menimbulkan kecanggungan diantara mereka. Agra yang tak suka suasana canggung ini pun mengangkat suara.


"Rumah lo di mana?" tanya Agra berusaha memecahkan keheningan.


"Abis dari sini Lurus aja terus belok kiri rumah ke delapan," jawab Aurora


Agra hanya manggut-manggut paham lalu kembali memakan nasi gorengnya begitupun dengan Aurora.


***


Lurus, belok kiri, rumah ke delapan kini Motor Agra telah sampai ke tempat yang Aurora katakan. Agra mengamati rumah khas betawi Dihadapannya dengan dahi mengernyit. Melihat kebingungan Agra kinibAurora membuka suara.


"Kenapa?" tanya Aurora heran seraya menatap wajah Agra yang kebingungan.


Agra tersentak kaget mendengar suara Aurora lalu dengan cepat menetralkan wajahnya. "Ini rumah lo?" bukannyannya menjawab pertanyaan Aurora Agra malah bertanya balik.


"Menurut lo?" tanya Aurora memutar bola matanya malas


"Gue kira lo tinggal dikontrakan," balas Agra santai.


"Gue gak punya duit banyak buat ngontrak. Ini rumah peninggalan kedua orang tua gue," terang Aurora


"Peninggalan?" tanya Agra dengan dahi mengernyit bingung dengan kata peninggalan yang diucapkan Aurora.


Aurora menghela nafas sedih lalu menundukkan kepalanya dan menjawab "Hm, bonyok gue udah meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan," jawab Aurora dengan nada sendu tidak seperti biasanya yang terkesan ketus atau datar jika bersama Agra


Entah kenapa Agra merasa tak enak menanyakan itu pada Aurora hingga akhirnya ia meminta maaf. "Sorry gue gak tau," Ucap Agra merasa bersalah.


Mendengar ucapan maaf Agra kini Aurora mendongakkan lalu terkekeh yang membuat Agra bingung.


"Ngapain lo ketawa?" tanya pemuda itu heran


"Seorang Agra bisa bilang maaf juga? Wow...." takjub Aurora dengan ekspresi kagum dibuat-buat.


"Ck, dasar. Merusak suasana lo!" Agra juga ikut terkekeh meskipun Aurora mengejeknya setidaknya gadis itu tidak sedih lagi dan membuat Agra merasa bersalah. Jujur Agra lebih suka melihat Aurora yang ketus, datar, dan Aurora yang berani melawannya daripada Aurora yang menunduk sedih dan berbicara sendu.


"Masuk sana! Nanti di culik om-om pedo baru tau rasa!" suruh Agra.


"Ngaco lo!" balas Aurora terkekeh kecil.


"Btw , makasih yah Gra," ucap Aurora disertai senyuman tulus plus manisnya yang membuat Agra tertegun sejenaknya melihat betapa manisnya senyum itu.


"Woy!" Aurora mengagetkan Agra yang hanya diam menatapnya. Jujur Aurora merasa risih ditatap seperti itu.


"Eh, oke gue balik yah" ucap Agra gelagapan karena tertangkap basah oleh Aurora.


Aurora hanya manggut-manggut dan motor beserta pengendaranya itupun berlalu begitu saja dari hadapannya.


****


Agra kini tengah berbaring dikamarnya seraya menatap langit-langit kamarnya. Fikirannya berkelana kemana-kemana. Memikirkan seseorang yang akhir-akhir ini selalu berurusan dengannya. Aurora Mauren. Satu nama yang berhasil membuat Agra bingung dengan dirinya sendiri yang selalu senang melihat betapa lucunya wajah gadis itu saat kesal padanya, betapa menggemaskannya wajah gadis itu saat tengah malu dibuatnya, dan terakhir sebuah senyuman tulus nan menenangkan milik gadis itu yang membuat sesuatu berdesir aneh didalam dirinya melihat senyum itu.


"Arrgghh... Ngapain gue mikirin tuh cewek beasiswa, sih!" Agra mengacak rambutnya kesal karena sedari tadi tak bisa mengalihkan fikirannya dari cewek beasiswa itu. Aurora Mauren. Apalagi mengingat senyum yang jarang ia lihat dari gadis itu, karena biasanya gadis itu hanya menunjukkan muka datarnya atau malasnya saat bertemu dengannya


"Bodo amaat. Mending gue tidur!" Daripada stress sendiri memikirkan Aurora, Agra lebih memilih untuk tidur. Dan berjelajah didunia mimpinya.


***


Paginya Agra telah siap dengan seragam sekolahnya yang jelas acak-acakan kek orang gila kata mama-nya.


Agra berjalan menuju meja makan disana sudah ada Mama dan Papanya. Sesampainya Agra duduk berhadapan dengan Mamanya sedangkan Papanya yang duduk dikursi tengah.


"Morning Ma, Pa," sapa Agra pada Mama dan Papanya


"Morning," balas Mama Papa Agra.


Mereka makan dalam keheningan yang terdengar hanya suara dentingan sendok, karena Papa Agra sangat tidak suka orang yang berbicara saat makan. Tidak sopan!


Selesai makan Agra pun beranjak dari kursinya dan pamit pada kedua orang tuanya.


"Agra berangkat Ma, Pa," pamit Agra pada kedua orang tuanya.


"Tumben berangkatnya pagi gini, biasanya kan berangkat jam delapan," ejek mama Agra


"Hehe...." Agra hanya menunjukan cengiran bangsatnya pada sang mama, karena ia pun tak tahu tiba-tiba saja moodnya ingin berangkat pag. Mama Agra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh anak satu-satunya ini.


"Ya udah hati-hati yah, jangan ngebut-ngebut bawa motornya!" nasihat Mama Agra.


"Hehe... Tergantung suasana sih Ma," Agra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan nyengir gaje.


Mama Agra hanya geleng-geleng kepala melihat anaknya, sedangkan Papa Agra terkekeh mendengar jawaban Agra.


***


Motor sport berwarna hitam itu memasuki sekolah. Semua murid Demiand  Senior High School menganga tak percaya pada Agra yang kini datang kesekolah dengan cepat.


Ini sejarah baru bagi DSHS. Agra kini berjalan santai dikoridor sekolah dengan satu tangan dimasukkan kesaku,sedangkan tangan satunya memegang tali tasnya yang bertengger di bahunya.


Semua siswi memekik kagum melihat Agra pagi ini. Bagaimana tidak, seorang Agra Fransisco Demiand yang tak pernah datang sebelum bel, kini datang lebih cepat. Entah dapa hidayah darimana Agra bisa seperti ini.


Agra yang ditatap seperti itu hanya berjalan santai dengan wajah datarnya karena merasa sudah biasa dengan ini. Agra berjalan menuju kelas. Sesampainya dijelas, semua teman kelasnya pun sama terkejutnya dengan Agra hari ini apalagi Alif dan Deon. Agra duduk santai di bangkunya, yang disambut dengan pertanyaan-pertanyaan unfaedah dari Deon.


"Lo bener Agra kan?" tanya Deon dengan tampang bodohnya.


"Bukan," jawab Agra malas.


"Lah terus lo siapa dong kalo bukan Agra?" tanya Deon kembali denga watadosnya. Hufftt minta ditabok ini orang.


Pletak.


"Aww, Ngapain sih nyet jitak kepala gue? Kalo gue jadi pinter lo mau tanggung jawab?" tanya Deon kesal pada Alif yang menjitak kepalanya.


Alif memutar bola matanya malas. "Ya Jelas dia Agra lah gila!" geram Alif karena ketidakwarasan Deon yang tiada tara.


"Lah tadi dia sendiri yang bilang bukan Agra," balas Deon dengan wajah SOK POLOSNYA!


Alif yang mendengar itu menepuk jidatnya sedangkan Agra memutar bola matanya malas karena kepintaran temannya yang melewati batas.


"Terserah lo Bambang!" sarkas Alif pada Deon lalu memainkan gamenya.


Sementara Deon mengerucutkan bibirnya kesal. Tiba-tiba seringaian aneh muncul di bibirnya.


"Gue tau kenapa Agra dateng cepet!" semangat Deon. Kini Alif kembali mempause gamenya dan menatap Deon menunggu kelanjutannya.


Sementara Agra yang tadinya menelungkupkan wajahnya dimeja karena masih ngantuk kini menegakkan badannya, ia juga penasaran dengan kelanjutan ucapan Deon.


"Apaan?"Tanya Alif mengangkat alisnya satu


"Hmmm... Kasi tau gak yaaa...." Canda Deon


"Ck, E'e lo!" kesal Alif


"Baperan amat sih lo. Pantesan jomblo sampe sekarang," balas Deon.


"Lah?" heran Alif "Udah cepet cerita!" desak Alif karena Deon sedari tadi hanya bertele-tele.


"Lo cepet datang pasti gara-gara dia kan?" tanya Deon ambigu pada Agra.


Agra mengerutkan keningnya bingung. "Dia siapa maksud lo?" tanya Agra balik


Alif hanya diam mendengarkan mereka berdua, karena masih bingung dengan "dia" yang dimaksud Deon.


"Halaah... Sok-sokan gak tau," ejek Deon.


"Ck, Apa susahnya sih, Yon, langsung to the point aja?!" Kini Alif yang angkat bicara karena kesal melihat Deon yang menurutnya bertele-tele, apalagi sebentar lagi bel masuk belajar akan berbunyi.


"Agra datang cepet pasti karna pengen cepet-cepet ketemu Aurora," jawab Deon semangat. "Iyakan?" tanya Deon dengan senyum jahilnya.


"Sok tau lo--" Ucapan Agra terpotong karena bel telah berbunyi.


Seorang Guru dengan tampang sangarnya memasuki ruangan. Pak Indra namanya Guru terkiller setelah guru BK di SHSD.


"Selamat pagi anak-anak!" ucap pak Indra dengan tampang datarnya.


"Pagi paaakk...." jawab seluruh siswa.


"Baik materi kita hari ini ad–kamu Agra Fransisco?" Tanya Pak Indra seraya menunjuk Agra yang duduk di pojok belakang.


  Pak Indra yang tadinya akan memulai pelajaran kini bertanya karena heran sekaligus bingung melihat murid kesayangannya yang datan lebih awal.


Agra kini memutar bola matanya jengah karena Teman-temannya  dan gurunya ini sama saja.


"Ya, iyalah, Pak. Masa Song Joong Ki." jawab Agra malas.


"Tumben-tumbenan kamu datang secepat ini. Dapat hidayah dari mana kamu?" tanya Pak Indra mengejek


"Lah? Saya datang terlambat dimarahin, datang cepet di ejekin? Salah saya apa pak?" tanya Agra dramatis ke Pak Indra.


"Haha... Saya cuma bercanda. Dibiasakan yah datang lebih awal. Jangan seperti yang dulu-dulu lagi."


"Saya gak janji pak," Jawab Agra asal.


***


Di kelas Aurora, Keyra juga membicarakan tentang Agra. Yang membuat Aurora muak mendengar itu semua.


"Udahlah Key, mau dia dateng cepet kek, lambat kek, gak masuk kek, itu urusan dia. Ngapain juga lo yang sibuk!" kelas Aurora.


Keyra mengerucutkan bibirnya kesal, karena jawaban Aurora yang bodo amat.


"Ck, au ah terang,"


Aurora hanya geleng-geleng melihat sahabtnya ini.


****


KRIGGG. KRINGGG.


Bel istirahat berbunyi semua siswa pun berlomba-lomba memasuku surganya sekolah. KANTIN!


"Duduk sana yuk, Ra," ajak Key. Aurora hanya mengangguk mengiyakan.


Mereka berjalan ke meja kosong tersebut lalu memesan makanan, beberapa menit kemudian makanan pesanan mereka telah sampai dimeja mereka.


"Ra, bentar temenin gue shopping yah, gue traktir deh," ajak Keyra pada Aurora dengan wajah memelasnya, karena sahabatnya ini sangat susah diajak keluar buat sekedar shopping, katanya buang-buang waktu.


"Bukannya gue gak mau, Key, tapi lo taukan gue gimana?" jawab Aurora dengan wajah berslah.


Keyra mendesah kecewa karena Aurora menolak ajakannya, percuma ia mengajaknya berulang kali, karena bagi Aurora sekali gak, yah, gak.


Tiba-tiba Aurora dan Keyra dibuat bingung dengan penghuni kantin yang tiba-tiba berlarian menuju lapangan.


"Itu mereka kenapa?" gumam Key bingung.


"Pembullyan lagi?" tanya Aurora menatap Keyra.


"Daripada penasaran mending kita liat!" Keyra menarik tangan Aurora keluar kantin, Aurora memberontak namun Key tetaplah Key orang paling kepo yang pernah ia kenal.


***


"Bangun lo brengsek!" ucap Agra dengan menarik kerah baju lawannya yang terbaring di tengah lapangan dengan muka lebam.


Agra pun sama terdapat beberapa lebam diwajahnya namun tak separah lawannya


"Bilang sama ketua lo. Kalo dia brani sama gue, samperin gue langsung, jangan nyuruh orang buat mata-mata. Pengecut tau gak?!" sarkas Agra pada lawannya yang tak berdaya.


Semua orang yang melihat kejadian itu bergedik ngeri, melihat kemarahan Agra. Guru-guru pun berusahah melerai Agra agar tidak membuat lawannya berujung koma di rumah sakit.


"Agra sudah cukup!" Kata Pak Tono—guru BK SHSD.


"Gak usah ikut campur!" balas Agra datar pada Pak Tono.


"Oke, kalau begitu saya akan memberitahukan ini pada Papa kamu biar dia yang urus ini?" ancam Pak Tono.


Agra menghentikan aksinya dan berjalan ke arah lapangan, sementara Pak Tono tersenyum kemenangan karena mengetaui titik lemah Agra.


Sedangkan lawan Agra kini di tanduh ke UKS oleh anggota PMR. Aurora dan Keyra dari tadi menyaksikan ini. Aurora berdecih dalam hati melihat kelakuan Agra yang sok jagoan.


Agra dan duo kunyuk kini berada di tepi lapangan, mereka membahas mengenai lawan Agra yang menjadi musuh dalam selimut.


"Gue gak nyangka Pandu ngelakuin ini sama Geng kita," ucap Alif tak percaya.


Pandu yang selama ini terlihat patut dan penurut dalam gengnya malah berkhianat dan menjadi mata-mata musuh gengnya.


Agra memang punya geng motor, tapi mereka tidak pernah cari masalah, justru masalah yang mencarinya, dan tentu saja Agra menyambutnya dengan senang hati. Nama gengnya adalah Wolfer. Geng mereka punya musuh yang selalu saja mencari masalah padanya karena merasa tak suka pada geng Agra yang selalu menang dalam balapan, geng ini diketuai oleh salah satu siswa SMA GARUDA. Nama gengnya yaitu  Diamond Black.


"Ternyata selama ini dia cuma cari muka sama kita, dan buat kita percaya sama dia," geram Deon, kini wajahnya tampak serius dari biasanya.


"Hufftt... Gak ada kapok-kapoknya dia nyari masalah sama kita," ucap Agra, yang memegang sudut bibirnya yang berdarah.


Saat asik-asiknya gobrol, suara pak Tono kini mengintrupsi.


"Agra obatin luka kamu, bahaya kalo infeksi," kata Pak Tono yang sudah ada didepan Agra cs.


Mereka bertiga kompak mendengus kesal melihat pak Tono yang sok perhatian.


"Gak usah lebay, deh, pak, Agra mah luka bekas samurai aja gak dipeduli, apalagi cuman bekas tinju doang!" ucap Deon.


Pak Tono geleng-geleng heran melihat pemikiran ketiga pemuda didepannya ini. Tak sengaja mata Pak Tono melihat seorang gadis yang kini berjalan ke arah mereka karena memang kelasnya ada di ujung.


"Hey kamu... Sini!" Panggil pak Tono pada gadis itu sambil melambaikan tangannya layaknya orang memanggil


.


.


.


.


.


.


.