[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Happy



Agra masuk kedalam rumahnya dengan senyum lebarnya. Para pelayan rumahnya merasa aneh dengan tuan muda mereka yang nampak seperti bahagia sekali saat ini. Agra tidak memperdulikan tatapan aneh para pelayan itu. Dia terus naik ke atas tangga menuju kamarnya. Namun...


"Baru pulang Gra?" suara lembut itu menyapa telinga Agra membuatnya berbalik dan turun kembali menuju mamanya yang kini ikut memandang Agra aneh.


Citra tersentak kaget saat Agra tiba-tiba saja berhambur kepelukannya.


"Eh... Agra kamu kenapa?" tanya Mama Agra heran, namun tetap membalas pelukan sang anak.


Agra melepaskan pelukannya lalu menatap sang mama dengan senyum lebarnya. Membuat Citra semakin bingung dibuatnya.


"Kenapa sih kamu?" heran Citra.


"Agra bahagia banget Ma hari ini!" ujarnya dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


Citra heran dengan anaknya ini, namun ia tetap tersenyum karena ini untuk pertama kalinya Agra tersenyum lebar jika di rumah.


Citra menuntun Agra duduk di sofa. Wanita parubaya itu duduk disamping Agra dengan badan menghadap ke pemuda itu.


"Coba kasih tau mama, apa yang buat anak mama ini bahagia banget?" pinta Citra lembut dengan menatap Agra.


"Coba mama tebak!" ucap Agra dengan wajah sok misteriusnya.


Citra terlihat berfikir. Wanita itu nampak tengah menimang-nimang apa yang membuat anaknya ini tersenyum lebar sejak tadi.


"Kamu menang balapan?" tebak Citra yang mendapat gelengan Agra.


"Menang tawuran?" Agra menggeleng lagi!


"Kamu....??" Citra sengaja menggantungkan ucapannya dengan wajah yang terlihat kaget.


Agra menunggu kelanjutan ucapan mamanya, wajah pemuda itu nampak penasaran. Apa mamanya sudah berhasil menebak?


"Kamu kerjain pak Tono lagi?!" pekik mama Agra dengan wajah kaget membuat Agra yang tadinya menatap mamanya penasaran kini berubah menjadi datar.


"Gue kira udah tau!!"


Agra mendengus kesal!


"Ck... Mama gak asik" sungut pemuda itu kesal.


"Yaudah kalo gitu kasi tau mama aja langsung!" balas mama Agra.


"Mama percaya gak kalo Agra udah punya pacar?"


Citra membelalak kaget! Jadi ini yang membuat anaknya terlihat sangat bahagia?


"Kamu serius?" tanya Citra dengan wajah tak percayanya.


"Emang Agra keliataan boong?" malas Agra.


"Gak sih. Tapi emang ada yang mau sama kamu?" tanya Citra setelah menetralkan raut wajahnya.


Wajah Agra langsung berubah menjadi datar saat mendengar ucapan mamanya itu. Apa-apaan ini? Mamanya sendiri meragukan ketampanannya?


"Untung nyokap gue!"


"Maa..." rengek Agra membuat Citra terkekeh.


"Iya... Iya mama becanda doang kok." ujar Citra membuat Agra kembali tersenyum. "Siapa gadis yang udah berhasil narik perhatian anak mama ini?" lanjut Citra seraya mengelus rambut hitam Agra.


"Dia bukan siapa-siapa kok Ma. Tapi gak tau kenapa Agra jadi penasaran sama dia, eh kebablasan deh!" jawab pemuda itu dengan menyengir.


"Maksud kamu?" Citra bingung dengan maksud Agra yang mengatakan kalau gadis itu bukan siapa-siapa.


Seolah mengerti kebingungan mamanya Agra tersenyum tipis lalu menjawab.


"Dia cuma gadis sederhana ma. Bukan anak konglomerat!" jawab Agra membuat Citra sedikit kaget. Apa benar ini anaknya? Bukannya kata Alif dan Deon, Agra tidak suka atau bahkan sering membully anak golongan kelas bawah? Tapi ini?


"Kamu bener Agra anak mama kan?" tanya Citra dengan wajah was-wasnya.


Agra menatap mamanya dengan wajah mengernyit bingung. Yah iyalah ini anaknya emang siapa lagi yang punya wajah mirip Sehun EXO selain dia!


"Yah iyalah ini Agra mah! Masa Sehun EXO!!" kesal pemuda itu tak tahu maksud mamanya.


Agra menatap mamanya yang kini nampak menghembuskan nafas lega. Pemuda itu menatap wanita parubaya namun cantik ini lekat-lekat.


"Apa jangan-jangan mama gak suka gue sama Aurora?"


"Mama gak suka kalo dia bukan anak orang kaya?" tanya Agra sedikit takut. Ia benar-benar tak siap jika mamanya berkata "Iya."


Citra menabok pelan lengan kekar anaknya, membuat pemuda itu menatap aneh mamanya.


"Kamu ngomong apasih?! Gak mungkin lah mama gak suka! Kalo dia bisa buat kamu bahagia kayak gini. Mama bisa apa?" jawab wanita cantik itu membuat Agra bernafas lega.


"Mama serius?" semangat Agra.


"Hm... Apapun yang penting anak mama seneng!! Lagian status sosial gak penting bagi mama" Agra tersenyum bahagia mendengar penuturan mamanya.


Pemuda itu tersenyum lebar lalu memeluk mamanya dengan bergumam "Makasih!" membuat wanita cantik itu ikut tersenyum bahagia.


Jujur dia tidak peduli dengan status sosial seseorang, karena bagi wanita itu. Percuma punya status sosial tinggi kalau kelakuannya rendahan.


***


Sepulang sekolah Agra mengajak Aurora untuk ikut dengannya. Gadis itu sudah bertanya sejak tadi kemana Agra akan membawanya, sampai-sampai pemuda itu nekad lagi meminta izin pada kedua boss-nya.


Agra naik ke atas motor sport hitamnya disusul oleh Aurora dijok belakang. Gadis itu ingin memegang jaket Agra saat sudah berada diatas sebagai pegangannya agar tak jatuh saat motor itu sudah jalan. Namun dengan cepat Agra menarik kedua tangannya lalu menuntun kedua tangan miliknya untuk memeluk pinggang pemuda itu.


Aurora melototkan matanya kaget. Apa-apaan Agra ini? Suasana parkiran masih ramai dan pemuda itu dengan nekadnya melakukan ini?


"Agra! Banyak orang bego?!" desis gadis itu sedikit berbisik.


Banyak pasang mata yang menatap mereka. Ada yang menatap sinis karena mengira Aurora kegatelan. Ada yang biasa-biasa saja. Dan ada juga yang berbinar karena menurut mereka Agra dan Aurora serasi.


Persetan dengan itu Agra hanya mengangkat bahunya acuh lalu menjalan kan motornya meninggalkan sekolah.


Setelah 20 menit berkendara motor sport itu telah sampai didepan sebuah pagar yang menjulang tinggi dimana didalam pagar itu terdapat rumah mewah berwarna putih. Aurora mengernyit bingung melihat rumah itu.


"Ini rumah siapa? Apa mungkin rumah Agra?" batin gadis itu bingung.


"Gak mau turun?" suara berat Agra membuat Aurora sadar dari kebingungannya lalu turun dari motor sport hitam itu. Setelah itu Agra juga ikut turun pasca melepaskan helm fullface-nya.


"Yuk!" ajak Agra lalu membawa tangan mungil Aurora kedalam genggaman tangan kekarnya. Jantung Aurora berdegub kencang lagi hanya karena kelakuan Agra.


"Pak Anton bukain dong!" suruhnya pada satpam yang duduk dipos satpam dekat gerbang itu.


"Eh den Agra.. Kok telat? Biasanya kan slalu bareng sama temen-temennya kesini!" ujar pak Anton sambil mendorong gerbang itu kesamping untuk membukanya.


"Hehe... Jemput ibu negara dulu pak makanya telat" jawab Agra membuat pak Anton beralih memandang Aurora yang ada disamping Agra saat pemuda itu membawa motornya masuk ke halaman rumah itu.


"Owalahh... Ini siapa den? Bening bener!" sahut pak Anton membuat Agra terkekeh.


"Calon tukang masak dimasa depan pak!"


Pak Anton terkekeh sedangkan Aurora sedikit merona. Ia tahu apa maksud Agra.


"Ada-ada aja mah si aden!"


"Yaudah pak saya masuk dulu"


"Eh... Iya den silahkan"


Agra dan Aurora pun masuk ke halaman rumah mewah itu. Sesampainya didalam mata Aurora terbelalak kaget melihat ada banyak motor sport berbagai warna yang terparkir rapi di depan rumah ini.


Agra yang mengetahui keterkejutan gadisnya itu hanya terkekeh. Benar-benar menggemaskan saat gadis itu kaget.


"Udah gak usah bengong! Yuk masuk!" Agra menyentil pelan jidat gadis itu lalu membawanya masuk.


"Ini rumah lo?" tanya Aurora setelah menetralkan kekagetannya.


"Rumah Deon!"


Aurora bergumam dengan mulut berbentuk huruf "O". Ternyata ini rumah Deon? Lalu motor-motor sport itu punya siapa? Deon juga?


"Gila!! Mentang-mentang kaya, koleksiannya motor sport!"


Agra melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah putih itu. Namun sebuah tarikan dikerah bajunya membuat pemuda itu mundur kebelakang lalu berbalik menatap gadis yang tadi menarik kerah bajunya.


"Kenapa?" tanya pemuda itu bingung dengan alis terangkat satu.


Pletak!!


"Salam dulu bego!! Main masuk aja kerumah orang!" omel gadis itu membuat Agra cengengesan ditempatnya.


"Hehe... Kebiasaan" cengir pemuda itu membuat Aurora memutar bola matanya malas.


Agra menggenggam tangan Aurora!


"ASSALAM-Aw.. ngapain ditabok sih?" heran Agra saat Aurora menabok lengannya.


"Gak usah teriak juga Agra!" gemas gadis itu, lagi-lagi Agra cengengesan ditempatnya.


"Hehe... Yaudah! Assalamualaikum!" ulang Agra dengan nada sedang.


Tak lama kemudian wanita parubaya namun masih cantik keluar dari balik pintu itu.


Wanita parubaya itu berbinar saat melihat siapa yang datang kerumahnya.


"Walaiku-Agra?!!" pekik wanita parubaya bernama Diana Samudra [Mama Deon]


"Bundaaa..." sahut Agra lalu merentangkan tangannya membuat wanita parubaya itu langsung memeluknya.


"Tumben kesini?" ujar Mama Deo setelah melepaskan pelukannya.


"Emang ga-"


"Eh, ini siapa?" ucapan Agra terpotong saat mama Deon menyadari kehadiran Aurora.


Aurora tersenyum tipis lalu menyalami tangan Diana.


"Aurora tante" ujar gadis itu memperkenalkan diri.


"Saya Diana mamanya Deon" jawab mama Deon. "Kamu temennya Agra?" lanjut mama Deon membuat Aurora menatap Agra meminta jawaban.


"Calon tukang masak dimasa depan bunda" jawab Agra membuat Diana melototkan matanya.


"Jadi ka-kamu?" Mama Deon membulatkan matanya tak percaya. Agra yang selama ini terkenal anti dengan yang namanya cewek kini punya pacar?


"Bener?" tanya nya pada Aurora. Gadis itu membalas dengan anggukan kikuk.


"Wah.. Kam-"


"Bun... Tawarin masuk kek! Capek tau bediri terus kek gini!" sahut Agra memotong ucapan Diana.


Mama Deon menunjukkan cengirannya, lalu mempersilahkan Agra dan Aurora masuk.


"Bun yang lain mana? Kok sepi?" tanya Agra saat melihat ruang tengah kosong.


"Oh itu, ada di taman belakang!"


"Yaudah Agra sama Aurora kebelakang dulu ya bun" pamit Agra lalu membawa Aurora ketaman belakang.


Suara tawa dan candaan terdengar dari arah taman belakang, Aurora mengernyit bingung suara siapa itu? Sepertinya sangat ramai.


Sesampainya di taman belakang, mata Aurora membulat kaget melihat siapa yang ada dihadapannya ini. Mereka semua nampak asing dimata Aurora kecuali Dua pemuda serta satu gadis yang ada disana.


"Keyra?!" kaget Aurora saat melihat Keyra juga berada disini. Gadis itu nampak berebut cemilan dengan Deon.


"Rara?!"