![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Pagi kembali hadir. Keadaan Agra sudah membaik. Cowok itu sudah masuk bersekolah hari ini. Dengan penampilan yang lumayan asal-asalan. Rambutnya acak-acakan, kemeja sekolah dikeluarkan dari celana, sepatu berwarna selain hitam dan juga tanpa tas. Entah apa sebenarnya tujuan cowok itu bersekolah dengan penampilan demikian.
Kedua tungkainya berjalan di koridor dengan kepala celingukan mencari sosok yang akhir-akhir ini membuatnya nyaris frustasi. Aurora Mauren. Tidak nampak di mana-mana. Padahal, bel masuk kelas masih lama.
"Woi!! Udah sehat lu nyet!" Teriak Deon yang kemudian merangkul bahu Agra disusul Alif. Agra mengangguk singkat. Alif mendengus jengah. "Lo kok beg0 banget sih mau ujan-ujanan segala? Biar apa lo begitu? Biar dikata keren?" cecarnya sinis menyinggung soal kemarin.
Agra memutar bola mata malas. "Biar Rara kasian sama gue terus mau dengerin penjelasan gue."
Mereka berbelok di koridor. "Tapi ya, Gra. Sekali pun Aurora ngasih lo waktu buat ngejelasin semuanya. Emang lo mau ngejelasin apa? Ngejelasin kalo lo emang belum putus sama Lena atau lo gak bisa lepas kedua-duanya?" tanya Deon.
Agra dibuat bungkam. Selama ini, ia hanya berpikir bahwa ia harus menjelaskan semuanya pada Aurora tanpa memikirkan lebih dulu apa yang harus ia jelaskan.
"Nah, bener kata Deon. Sekali pun lo ngejelasin panjang lebar, ujung-ujungnya Aurora bakal nganggep lo tuh cuma ngeles. Dia gak bakal percaya sama apa yang lo bilang. Orang udah terlanjur kecewa gitu."
Agra mengusap wajahnya kasar. Lalu ia harus bagaimana? Diam dan meratapi nasib saja tanpa melakukan apapun untuk kembali bersama Aurora?
"Terus gue harus gue gimana?! Gue harus diam aja gitu dan biarin semuanya?" tanyanya dengan nada putus asa. Sungguh, ia tidak punya jalan keluar untuk masalah ini. Memilih antara Lena dan Aurora sangat lah sulit.
"Gra ...." Alif menepuk bahunya sekali. "Gue kan udah pernah bilang, yakinin hati lo. Siapa yang dia mau buat dipertahanin. Take your time, bro. Mikir yang baik."
"Lagian ya, Gra. Kalo lo beneran cinta sama Aurora, lo gak bakal mikir lama buat milih dia dan ngelepasin Lena. Pun sebaliknya, kalo lo masih cinta sama Lena, lo gak bakal uring-uringan gini ditinggal Aurora."
Agra mendudukkan dirinya di kursi panjang koridor, disusul Alif dan Deon di masing-masing sisinya. Ia menatap lurus ke depan, memikirkan perkataan Deon yang baru saja berhasil menyadarkannya.
"Lif, Yon. Gue bener-bener gak tau harus ngapain. Gue sayang sama Lena, tapi gue gak mau kehilangan Aurora." Alif dan Deon bertukar pandang. Mereka tidak tahu lagi harus berkata apa agar Agra bisa mengerti bahwa semuanya tidak akan sulit jika Agra bisa tegas dengan perasaannya sendiri.
Dari jarak beberapa meter dari radarnya, Agra melihat Aurora baru saja keluar dari ruang guru. Seperti mendapat hadiah, Agra bergerak cepat menghampiri Aurora, sayangnya, ia harus berhenti ketika Keyra datang bersama Rey dan membawa Aurora bersama mereka.
***
"Lo gak ada kelas abis ini, Rey?" tanya Aurora, ketika Rey ikut bergabung bersamanya dan Keyra. Cowok itu menggeleng. "Hari ini kelas gue jamkos. Jadi gue free."
"Eh, pesen makanan yuk. Ra lo mau makan apa?" tanya Keyra. Ketiganya berada di kantin setelah Aurora menyelesaikan ujiannya di ruang guru. Tentu tanpa sepengetahuan Rey. Aurora juga tidak ingin Rey tahu bahwa ia akan pergi. Rey tahunya Aurora ke ruang guru untuk membantu guru memeriksa ujian adik kelas.
"Sosis goreng aja sama air putih."
"Oke. Lo Rey?"
"Jus melon aja."
"Okee! Pesanan segera datang!" Keyra beranjak memesan makanan. Menyisakan Rey dan Aurora di meja itu. "Ra, lo mau kuliah di mana lulus nanti?" tanya Rey mengawali percakapan.
Aurora tampak diam beberapa saat sebelum mengangkat bahu. "Gue belum tau." Dalam hati ia meminta maaf karena sudah berbohong dengan Rey.