![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Citra tidak henti-hentinya menatap ke arah lantai dua dimana kamar Agra berada. Putra tunggalnya itu belum keluar kamar sejak tadi malam. Entah kenapa. Di saat Citra mengetuk pintu pun, Agra tidak nenjawab. Kamar anaknya itu juga terkunci hingga tidak memudahkan Citra untuk masuk.
"Agra kenapa, Ma?" tanya Bram memasukkan sesendok makanan. Sarapan pagi ini hanya dihadiri Bram dan Citra. Tidak seperti biasanya yang selalu bersama Agra.
Citra menggeleng. "Gak tau, Pa. Dari tadi malam gak keluar-keluar kamar. Mama jadi khawatir." Bram menepuk pundak istrinya. "Mungkin dia lagi kecapean, gak usah khawatir. Kita hampir telat, nih."
Hari ini, Citra harus ikut dengan Bram untuk meeting bersama salah satu client paling penting untuk perusahaan Bram dan bisnis fashion Citra. Wanita itu sarapan dengan rasa khawatir. Tidak biasanya Agra seperti ini.
Menit terus berlalu dan Agra belum juga turun. Citra naik ke lantai dua untuk memanggil Agra sekali lagi. Sementara Bram sudah keluar rumah, pria itu seperti menelfon seseorang.
Citra mengetuk pintu kamar Agra beberapa kali. "Agra, udah siang sayang. Kamu gak laper, hm?" tidak ada sahutan dari dalam. "Agra? Ini Mama udah dari semalam kamu abaikan. Kamu kenapa, Nak?"
Masih tidak ada sahutan. Andai saja ia punya kunci cadangan untuk kamar Agra, Citra pasti sudah membukanya. Sayangnya, semua kunci kamar Agra, Agra sendiri yang simpan. Ia tidak ingin privasinya tercampuri sekali pun yang mencampuri adalah orang tuanya sendiri.
"Agra? Ayo turun sarapan! Kamu gak ke sekolah?"
"Ngantuk, Ma."
Helaan napas lega Citra terembus begitu mendengar suara Agra. Namun, anehnya suara anaknya itu terdengar lemah. "Agra kamu sakit? Kok suara kamu lemah gitu?"
"Gak, Ma. Agra cuma kecepean. Ngantuk juga."
"Beneran?"
"Iya."
"Yaudah. Mama sama Papa mau meeting hari ini sama client. Kalo kamu lapar, turun aja ke bawa suruh Bibi masak. Oke?"
"Ya."
Citra menghela napas lalu berbalik. Kembali ke lantai satu. Di sana, sudah ada Bram yang menunggunya. "Jadi Agra kenapa?" Tanya Bram. "Katanya kecapean aja, Pa."
Bram mengangguk mengerti. "Papa udah telfon Lena, bentar lagi dia ke sini buat nemenin Agra."
***
Demi Tuhan, Agra sedang tidak mengharapkan keberadaan Lena saat ini. Ia butuh waktu dan ruang untuk sendiri menghilangkan kegalauannya akibat Aurora yang entah di mana. Sayangnya, Agra tidak tega menyuruh Lena untuk pergi. Sementara cewek itu dengan senyum hangatnya menyiapkan beberapa makanan di meja makan untuk Agra.
"Hey, udah bangun. Makan dulu, yuk. Katanya kamu belum makan dari semalam," ujar Lena. Membalikkan piring di meja Agra kemudian mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk juga sayur. Agra tidak berselerah. Seperti, rasa laparnya langsung hilang.
"Lo udah lama di sini?" tanyanya sembari duduk. Lena mengangguk. "Udah dari setengah jam yang lalu."
"Kenapa gak bangunin gue?"
"Kata Bibi kamu kecapean, jadi gak aku bangunin. Oh iya, ini aku yang masak loh. Tapi dibantu Bibi dikit sih. Nih, cobain ya?" Lena menyodorkan rendang daging sapi pada Agra dan menyuapi cowok itu. "Aaaaa." Mau tidak mau Agra membuka mulutnya. "Gimana enak gak?"
Agra menganguk saja. Lena tersenyum senang dan duduk di depannya. Agra melanjutkan makannya meskipun sedikit terpaksa. "Btw, Gra. Aku denger kalo Aurora pindah. Emang bener?" Lena tampak hati-hati menanyakan hal sensitif ini pada Agra
Cowok itu menghentikan kunyahannya lalu menatap Lena. Kemudian mengangguk. Lena bisa melihat pancaran sayu di wajah Agra. Dan itu menyakiti Lena. Ternyata, tanpa sadar Agra sudah menyerahkan seluruh hatinya bersama Aurora. Perasaannya ke Lena tidak lain hanyalah perasaan bersalah.
Lena menunduk memainkan sendok. Ternyata sesakit ini rasanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri bahwa orang yang sangat kita cintai, hatinya telah dimenangkan oleh orang lain.
"Agra ...." Agra yang tadinya kembali makan, beralih menatap Lena lagi. Tatapan sendu Lena membuatnya tidak mengerti. "Kenapa?"
Cewek itu tersenyum tipis, dengan luka yang tersirat. "Kalo emang hati kamu udah milik Aurora dan gak ada aku lagi disana, aku rela kamu sama Aurora."
"Maksud lo?"
"Kejar Aurora, Gra. Cari dia sampe dapat dan minta maaf. Aku baru nyadar sekarang, kalo ternyata bahagia kamu cuma sama Aurora. Aku terlalu egois mau milikin kamu."
"Lena-"
"Aku serius, Gra. Aku gakpapa selagi cewek itu Aurora. Aku ikhlas kamu sama dia."