![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Aurora berjalan dengan tergesah-gesah melewati koridor sekolah. Gadis itu terus berjalan sesekali menabrak siswa lain namun tak ia pedulikan. Diujung koridor, gadis itu berhenti sejenak menetralkan nafasnya lalu kembali berjalan menuju parkiran.
Sesampainya diparkiran, ia mengedarkan pandangannya mencari motor sport berwarna hitam milik Agra.
Setelah lama mencari akhirnya ia menemukan motor itu.
"Maaf yah lama!" ucapnya dengan nafas sedikit terengah-engah saat sampai dihadapan cowok yang kini menatapnya bingung.
"Kenapa ngos-ngosan?" tanya pemuda itu merapikan anak rambut Aurora yang sedikit berantakan karena terburu-buru. Perlakuan Agra itu hampir saja membuat jantung Aurora lompat dari tempatnya.
"Moga aja Agra gak denger jantung gue!"
"Santai aja kali tuh jantung!" Ujar pemuda itu membuat Aurora membulatkan matanya. Jadi Agra dengar?
"Lo denger?" tanya Aurora polos, membuat Agra menepuk puncak kepalanya dua kali. Membuat jantung gadis itu bertambah cepat.
"Haha... Gak usah kaget," Agra terkekeh
"Gue juga gitu kok." Gumamnya rendah, membuat Aurora tak dapat mendengarnya.
"Hah? Lo bilang apa tadi?" tanya Aurora bingung, pasalnya ia melihat mulut Agra seperti bergumam sesuatu namun ia tak mendengarnya.
"Udah lupain!" balasnya membuat Aurora merenggut kesal.
"Dasar plin-plan!!"
"Udah ayoo... Gak usah ngatain gue dalam hati!" ajanya lalu naik keatas motor sport hitamnya.
"Lo tau?" tanya Aurora polos dengan ekspresi kagetnya. Jadi Agra tahu kalo dia mengumpat dalam hati untuk pemuda itu?
"Apanya?"
"Yang gue ngatain lo dalem hati."
"Jadi bener?" tanya pria itu sok galak.
"Apanya yang bener?" tanya Aurora polos.
"Lo ngatain gue dalem hati?" ujarnya membuat Aurora cengengesan memperlihatkan gigi rapinya.
Agra mencubit pipi gadis itu, membuat sang empu pipi itu dengan cepat menepis tangan kekar milik Agra.
"Udah cepetan naik!" suruhnya dan Aurora pun naik ke jok belakang motor sport hitam itu.
Motor sport hitam itu pun melaju meninggalkan sekolah dan juga seorang pemuda diujung koridor dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
"Ra gue boleh nanya sama lo?" tanya Agra disambil memperhatikan gadis yang kini duduk dikursi taman dengan es krim coklat ditangan kanannya.
"Itu udah nanya." Balasnya santai membuat Agra mendengus kesal.
"Bukan itu maksud gue,"
"Hehe... Becanda kok. Emang mau nanya apa?"
"Lo benci sama gue?" tanya pemuda itu mulai serius.
"Kalo gue benci sama lo, mana mungkin gue ada disini bareng lo." Jawab Aurora santai, sesekali memakan es krimnya.
"Iya juga yah!!"
"Lo ada dendam sama gue?"
"Buang-buang waktu dendam sama lo."
"Lo risih gak kalo di dekat gue?"
Aurora diam mendengar pertanyaan itu. Apa ia risih berada didekat Agra? Tidak, ia tidak risih sama sekali, tetapi jantungnya selalu berdegub berlebihan jika berlama-lama dengan pemuda yang kini nampak menunggu jawabannya.
"Jadi lo bener risih?" tanya pemuda itu lagi dengan nada yang terdengar... tidak enak.
"Eh?" gadis itu terkesiap dari lamunannya. "Siapa bilang gue risih?"
"Trus kenapa lo diem aja?"
"Gue gak risih kok." Jawab gadis itu membuat Agra diam-diam bernafas lega.
"Emang kenapa?" tanya gadis itu tidak melihat Agra melainkan sibuk dengan es krimnya.
"Gak nanya aja."
Mulut gadis itu membulat membentuk huruf "O".
Suasana menjadi hening, Aurora sibuk dengan es krim yang ada ditangannya sedangkan Agra menatap gadis itu dari samping.
"Ra?" panggil Agra memecah keheningan
"Hm?" dehem gadis itu tanpa menatap Agra, ia masih sibuk dengan es krimnya. Membuat Agra mendengus kesal, bisa-bisanya seorang Agra Fransisco Demiand terabaikan hanya karena es krim?
"Es krim sialan!!"
"Lo suka es krim?" tanya Agra dan tanpa pikir panjang gadis itu langsung menjawab.
"Iya..
"Suka senja?"
"Iya.."
"Suka hujan?"
"Iya.."
"Suka matahari?"
"Iya.."
"Suka gue?"
"Iy-"
"Eh?"
Aurora menghentikan acara makan es krimnya lalu menatap Agra yang kini menahan tawa.
"Beneran?" tanya Agra lagi dengan senyum tertahan.
"E-enggak!" kilah Gadis itu gugup.
"Kok gugup?" pemuda itu tak bisa lagi menahan senyumnya melihat semburat merah favoritnya yang ada dipipi mulus itu.
"Siapa yang gugup?!" balas gadis itu berusaha agar tidak gugup.
"Terus itu pipi kenapa merah?"
Refleks tangan Aurora yang bebas langsung memegang pipi kanan dan kirinya bergantian membuat tawa Agra benar-benar pecah.
"Hahaha..." suara tawa itu membuat Aurora merenggut kesal ditempatnya.
"Agra... Gak lucu tau gak?!" kesal gadis itu namun Agra tidak menghentikan tawanya pemuda itu malah semakin gencar menggodanya.
Karena merasa kesal Agra tidak menghentikan tawanya, Aurora pun memasukkan es krim miliknya kedalam mulut Agra dan berhasil membuat pemuda itu bungkam.
"Diem kan lo!" cibir gadis itu kesal.
"Kok manis yah Ra?" tanya pemuda itu polos. Membuat Aurora memutar bola matanya malas.
"Yah iyalah manis. Kalo pahit ma pare!!" balas gadis itu tidak santai.
"Kayaknya bukan karna itu deh," ujar Agra membuat alis Aurora menyatu kebingungan.
"Trus apaan?" ketus gadis itu.
"Mungkin karna itu bekas bibir lo makanya tambah manis." Jawab Agra dengan mengulum senyum.
Aurora membulatkan matanya. Apa kata Agra? Bekas bibirnya? Berarti secara tidak langsung mereka ciuman? Memikirkan itu saja sudah membuat jantungnya berdetak hebat.
"Lagi dong!" pintah Agra mengejek.
"Agraaaa! Bego!" teriak Aurora dengan menghujani Agra pukulan di bahunya.
"Haha.. Aww.. Aduhh Ra brenti dong."
"Brenti ketawa gak?!!"
"Iya... Iya.."
Aurora pun menghentikan pukulannya lalu memandang tajam Agra.
"Ngapain senyam-senyum?!" galak gadis itu.
"Pipi lo merah." Ejek Agra dengan menusuk-nusuk pipi merah itu.
Aurora menepis kasar tangan Agra.
"G-gak mata lo kali yang merah!" elak gadis itu dengan memalingkan wajahnya untuk menghindari bertambahnya semburat merah itu jika menatap mata hitam Agra.
"Beneran merah!" ujar pemuda itu dengan senyum lebarnya. Ia benar-benar senang melihat gadis itu salah tingkah dengan rona merah dipipi mulusnya. Mungkin sekarang hobi baru Agra adalah menggoda gadis itu agar bisa melihat rona merah itu.
"Gak!!"
"Merah!"
"Gak"
"Meraahh!"
"Gue bilang enggak!" balas gadis itu dengan nada sedikit bergetar membuat Agra kaget.
"Eh... Kok nangis sih?" tanya Agra lalu memegang pundak gadis itu agar menatapnya.
Mata gadis itu nampak sedikit memerah. Membuat Agra merasa bersalah telah membuat mata indah itu akan mengeluarkan isinya lagi. Agra tak menyangka jika candaannya bisa membuat gadis itu akan menangis.
"Ternyata cengeng juga yaaa." gumam pemuda itu terkekeh dalam hati
"Maafin gue..." pinta Agra dengan nada bersalahnya.
Aurora hanya diam membuat Agra merasa bersalah.
"Raa..."
Aurora masih diam!
"Gue traktir es krim lagi deh. Sepuas lo!" Ujar Agra lalu menghitung dalam hati.
1
2
3
"Serius?" balas cewek itu dengar mata berbinarnya menggantikan warna merah sialan itu.
"Tuh kan!!"
"Giliran es krim aja!" cibir Agra
"Yaud-"
"Eh... Iya... Iya, gue traktir!" potong Agra cepat, lebih baik uangnya habis daripada gadis ini marah kepadanya. Bagaimanapun itu tak akan membuat Agra jatuh miskin.
Mereka kembali diam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Sebenarnya Agra ingin sekali mengatakan sesuatu yang sejak lama ia tahan, namun pemuda itu ragu.
Tiba-tiba saja wajah Rey terlintas difikiran Agra, membuatnya menghela nafas berat.
"Ra..." suara berat Agra kembali memecah keheningan.
"Kenapa?" jawab gadis itu menoleh ke Agra sekilas lalu menatap kedepan lagi.
Agra diam memikirkan apakah ini waktu yang tepat, atau bahkan ini akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri?
"Gue..." pemuda itu nampak ingin mengatakan sesuatu yang mungkin akan berdampak besar bagi yang mendengarnya.
"Gue?" beo Aurora dengan jantung yang berdetak tak karuan.
"Gu-gue..." pemuda itu menggigit bibir bawahnya tak tahu harus berkata apa, matanya sibuk melihat kemana-mana seolah mencari apa yang harus ia katakan. Tak sengaja matanya jatuh ke arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya. Matanya membulat saat menyadari sesuatu.
"Ra!! Liat jam skarang!!" pekiknya melupakan apa yang akan ia katakan tadi. Mungkin ini bukan waktu yang tepat, pikir pemuda itu.
Aurora mengernyitkan dahinya bingung, namun tetap mengindahkan perintah Agra.
Mata gadis itu membulat saat melihat jam. 16:10, itu artinya..
"Agra gue udah telat kerja?!!" pekik gadis itu membuat Agra menutup telinganya.
"Ck... Gak usah teriak juga kali!" kesal pemuda itu.
"Kalo gue dipecat gimana?!"
"Yaudah gak usah kerja." Balas pemuda itu santai, membuat Aurora menabok kesal punggung tegap itu.
"Gak usah kerja gigi lo goyang!!"
"Ck... Bar-bar," cibirnya. "Nanti gue yang bilangin boss lo." lanjutnya.
"Sok iya lo!" cibir gadis itu sebal.
"Ck... Ayo! Gak usah bacot mulu!"
Mereka pun berjalan meninggalkan taman. Dan melaju menuju Melody Caffe.
***
Gadis berkaos abu-abu serta celana jeans putih itu kini duduk diatas kursi panggung kafe dengan gitar dipangkuannya, sebelum naik kepanggung ia mengganti seragam sekolahnya terlebih dahulu. Gadis itu akan menyanyikan lagu kedua untuk kafe ini, setelah tadi menyanyikan lagu pertama yang berjudul I Will Be.
Gadis itu adalah Aurora Mauren. Setelah melalui perdebatan yang memakan waktu 10 menit antara dirinya, Agra dan manajer kafe ini. Awalnya manejer kafe ini memarahi Aurora karena kelalaiannya, namun karena Agra yang memberikan alasan yang mengatakan bahwa mereka baru pulang karena rapat osis, awalnya manajer itu tidak percaya namun karena Agra terus meyakinkannya akhirnya manajer itupun memaafkan Aurora dan menyuruhnya kembali bernyanyi.
Alunan gitar gadis itu mulai terdengar, ia akan mengcover lagu milik Ariana Grande yang berjudul Thank U Next. Lagu ini salah satu request dari pengunjung Melody Caffe.
Lima menit kemudian Aurora telah menyelesaikan lagunya, semua pengunjung kafe bertepuk tangan mendengar suara lembut milik gadis itu.
Aurora pun melemparkan senyum manisnya lalu sedikit membungkuk dan mengucapkan terima kasih, lalu turun dari panggung menuju tempat istirahat para karyawan.
Aurora mendudukkan badannya pada sofa yang ada didalam ruangan itu lalu mengambil benda pipih persegi empat itu.
Saat menyalakan ponselnya, gadis itu melihat ada 3 massage baru. Gadis itu pun membuka kunci ponselnya dengan memasukkan beberapa sandi lalu membuka notif tersebut.
+628195364####
Ra!!
Save back yah!
Ini gue Rey!
"Rey??" gumam Aurora bingung saat melihat isi notif dari nomor tak dikenal.
Aurora Mauren
"Rey? Rey siapa?"
Tak lama kemudian balasan Aurora itu terlihat dua centrang berwarna biru tandanya telah dibaca oleh sang penerima.
+628195364####
"Reynald Erlangga".
Aurora nampak sedikit terkejut membaca balasan pemuda itu. Ternyata dia adalah Rey. Reynald Erlangga. Tapi yang Aurora bingungkan dari mana Rey tahu nomor whatsapp nya?
Aurora Mauren
"Oh Rey..."
"Tau nomer wa gue dari siapa?"
Aurora pun men-save kontak Wa pemuda itu
Rey Erlngga
"Hehe... Dari Keyra maaf yah gue lancang minta kontak wa lo sama dia!🙏"
Aurora terkekeh membaca balasan pemuda itu, ada-ada aja, pikirnya.
Aurora Mauren
"Wkwkw... Santai aja kali Rey"
"Oh iya! Ada apa chat gue?"
Rey Erlngga
"Hehe... Iya."
"Emang gak boleh?"
Aurora Mauren
"Eh bukan itu maksud gue"
Rey Erlngga
"Hehe... Gak kok canda doang"
"Oh iya! Lo masih kerja pulang dari kafe?"
Aurora mengernyit bingung membaca balasan Rey. Ada apa pemuda itu menanyakan pekerjaan nya?
Aurora Mauren
"Gak kok.. Hari ini gue cuti di resto"
Rey Erlngga
"Kalo acara hari ini lo punya?"
Aurora tambah bingung dibuatnya.
Aurora Mauren
"Gak juga... Emang kenapa?"
Rey Erlngga
"Gak-papa... Cuma pengen ngajak lo jalan"
"Mau gak?"
Aurora Mauren
"Kemana?"
"Daripada gabut dirumah sendirian mending ikut lo hehe XD"
Rey Erlngga
"Nanti gue kasih tau."
"Haha ada-ada aja."
"Oke nanti jam tujuh gue jemput yah;)"
Aurora Mauren
"Siap!!"
Rey Erlngga
"Oke!"
(Read).
Setelah Aurora membaca balasan Rey, gadis itu memasukkan ponselnya kedalam tas sekolahnya, lalu keluar menuju panggung untuk menyanyikan lagu ketiga, yang berarti setelah lagu ketiga itu selesai ia boleh pulang.
Gadis itu menyanyikan lagu Shawn Mendes yang berjudul Imagination.
Alunan musik pun menggema didalam kafe tersebut, sebagian pengunjung yang tahu lagu ini pun ikut bersenandung.
Setelah beberapa menit akhirnya gadis itu turun dari panggung lalu mengambil tas sekolahnya dan berpamitan pada karyawan lain.
Gadis itu berjalan menuju pintu kafe. Tangan gadis itu membuka pintu kafe, tepat saat Aurora berada di luar pintu seorang pemuda yang bersandar di motor sport merahnya membuat nya tersentak kaget.
"Hai..."