![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Seorang pemuda yang menjadi bahan pembicaraan di Demiand Senior High School ini berjalan menuju kantin sekolah dengan santainya. Sesekali mengedarkan pandangannya melihat pemandangan yang lumayan indah disekolah ini. Ia terus berjalan hingga kakinya berhenti melangkah di ambang pintu kantin. Bukan tanpa alasan ia menghentikan langkahnya. Ia melihat seorang gadis yang telah membuatnya pindah kesekolah ini hanya karna penasaran dengan gadis itu.
Pemuda itu menghampiri gadis yang duduk dimeja kantin. Ia berhenti sejenak dibelakang gadis itu hanya karna gadis tersebut nampak sangat serius dengan ponselnya. Tak ingin mengundur waktu lagi, pemuda itupun menepuk bahu sang empunya. Gadis itu memekik kaget dan ponselnya yang hampir terjatuh membuat pemuda itu terkekeh geli melihat reaksinya.
"Hey" sapa pemuda itu mengagetkan Aurora.
"Astaga.." kaget gadis itu hampir saja ponselnya jatuh jika ia tidak cepat menahannya.
Pemuda itu melihat Aurora akan membalikkan badannya, setelah itu Aurora menunjukkan ekspresi kagetnya saat melihat pemuda itu terbukti dari matanya yang membulat dan tangan kirinya yang memegang ponsel menutup mulutnya karna kaget.
"Lo?!!!" pekik Aurora dengan jari telunjuk yang menunjuk wajah pria itu karna kaget.
Pemuda itu tersenyum melihat ekspresi wajah Aurora yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Hai Ra.. Ketemu lagikan?" sapa Pemuda itu dengan cengiran khasnya.
"Rey? Kok lo?" pertanyaan Aurora menggantung, ia meneliti penampilan Rey dari bawah sampai atas.
Rey yang mengerti kebingungan Aurora hanya tersenyum lalu mengacak gemas rambut Aurora.
"Gue pindah kesini. Kan kemarin gue udah bilang sampai ketemu besok" jawabnya dengan ramah.
"Gak ditawarin duduk nih?" canda pemuda itu
"Eh.. Hehe duduk aja" balas Aurora kikuk.
Ia hanya tak menyangka Rey akan pindah kesekolah ini. Aurora penasaran apa yang membuat Rey pindah ke sekolah ini
"Kok lo bisa pindah kesini?" tanya Aurora penasaran.
"Nanti lo bakal tau sendiri kok" jawab Rey tersenyum penuh arti, Aurora hanya mengangguk mengerti, ia juga merasa tak pantas mencampuri urusan pribadi orang lain, apalagi Rey yang baru ia kenal kemarin malam.
Mereka berdua bercanda sesekali tertawa karna Rey termasuk orang yang humoris. Tak lama Keyra datang membawa pesanan makanannya. Keyra langsung duduk tanpa menyadari kehadiran pemuda di sampingnya.
"Pesanan dat–" ucapan Keyra menggantung digantikan dengan ekspresi kagetnya saat menyadari siapa pemuda disampingnya ini.
"Lo murid baru itukan?" tanya Keyra kaget bercampur antusias.
Rey mengangguk tersenyum tipis lalu memperkenalkan dirinya.
"Gue Rey" ucap Rey sambil mengulurkan tangannya ke Keyra sebagai tanda perkenalan yang disambut dengan baik oleh Keyra.
"Keyra" balas Keyra dengan senyum cerianya.
Aurora hanya geleng-geleng melihat Keyra yang begitu antusias jika melihat cogan. Rey mengangguk mengiakan lalu mereka melepaskan jabatan tangan.
Aurora sudah asik dengan makanannya tanpa memperdulikan Keyra yang asik mengobrol dengan Rey. Keyra berhenti sejenak mengobrol dengan Rey. Ia menatap Aurora dan Rey secara bergantian dengan ekspresi bingungnya.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Keyra penasaran
"Hmm" Aurora hanya berdehem menanggapi pertanyaan Keyra.
"Kok bisa?" tanya Key lagi.
"Gue udah ceritakan ke lo tentang kejadian tadi malam. Nah itu Rey yang nyelamatin gue" jelas Aurora.
Keyra pun mengangguk mengerti lalu kembali memakan makanannya sementara Rey pamit untuk kembali kekelasnya.
"Ra, Key gue duluan yah" pamitnya
"Eh iya silahkan" jawab Key, sementara Aurora hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Rey pun melangkah meninggalkan kantin. Menyisakan Aurora yang meminum minumannya karena makanannya sudah habis dan Keyra yang menatap dalam Aurora. Aurora yang merasa ditatap pun menghentikan aktivitasnya lalu bertanya ke Keyra.
"Apa?" tanya Aurora dengan alis terangkat satu.
"Hehe enggak, dia ganteng banget."
****
Sementara dikantin belakang sekolah tepatnya diwarung Babe Rojak kini tengah ramai diakibatkan oleh sekelompok geng yang terkenal dengan kebrutalannya namun dibalik semua itu mereka memiliki sikap yang lucu dan abnormal. Wolfer. Sebuah geng motor yang diketuai oleh Agra Fransisco Demiand. Mereka tengah asik bercanda ria.
"Eh Vin kemarin janda yang deket rumah gue minta salam sama lo, katanya dia rindu" celutuk Deon pada Kevin.
Didekat rumah Deon memang ada seorang janda yang sangat menggilai Kevin teman satu geng Deon yang juga bersekolah di DSHS namun beda kelas. Janda itu sangat menggilai Kevin karna memiliki paras yang tampan. Setiap kali Kevin ke rumah Deon pasti janda itu akan meneriaki namanya. Itulah yang membuat Kevin kadang malas ke rumah Deon.
Kevin memberikan tatapan horornya pada Deon yang kini menertawakannya bersama anggota lainnya.
"Sialan lo bapaknya biskuit kongguan" balas Kevin dengan melempar kulit kacang bekasnya ke Deon.
"Alah sok-sokan lo nolak, padahal mah diem aja kalo digrepein sama tuh janda... Haha"
"Haha yah jelas dia diem ajalah Yon... Orang dapet gratisan mah siapa yang mau nolak. Haha" timpal Danis anggota wolfer lainnya.
"Ya Allah sabarkanlah hati hamba... Jauhkanlah hamba dari manusia terkutuk seperti mereka. Aamiin..." Do'a Kevin mendramatis dengan tangan mengadah keatas seperti berdoa lalu mengusapkan ke wajahnya saat mengucapkan kata Aamiin.
"Yeu.. Lo tuh yang terkutuk. Katanya gak suka sama tuh janda tapi diem aja pas diraba-raba hahaa" balas Deon membuat semua orang disana termasuk Agra dan Alif yang dari tadi hanya menonton mereka dengan kepala menggeleng.
"Alah... Bilang aja lo juga mau dibelai sama tuh janda kurang belaian" sewot Kevin.
"Ngapain gue mau dibelai sama tuh janda. Orang Ariana Grande tiap malem ngebelai gue" balas Deon dengan angkuhnya.
Pletak.
"Ariana Grande nenek lo pake boxer" jitak Alif pada Deon karna tidak terima penyanyi idolanya di sangkut pautkan dengan perdebatan Deon dan Kevin.
"Kok tau?" tanya Deon dengan muka polosnya.
"Tau apaan?" tanya Alif mengernyit.
Kini giliran Kevin yang menonton Deon dan Alif.
"Kok lo tau nenek gue pake boxer?" tanya Deon dengan wajah polosnya yang membuat siapa saja ingin menaboknya.
Pletak...
Pletak...
Semua anggota Wolfer menjitak kepala Deon secara berjamaah membuat Deon meringis kesakitan.
"Woy etan lo semua, ngapain jitak gue sih" gerutu Deon kesal seraya mengusap kepalanya yang kena jitakan.
"Gimana sensasi jitakannya Yon?" tanyab Alex anggota lainnya
"Macam ada t4i-tainya" jawab Deon kesal.
Semua orang tertawa melihat wajah kesal Deon dengan bibir yang maju beberapa senti. Tiba-tiba suasana menjadi hening saat Alif membuka suara.
"Gra ingat kan entar malam lo ada balapan sama Leon?" tanya Alif serius.
"Hm.. Gue inget" jawab Agra santai sambil meminum jus jeruknya.
"Agra lo curiga gak sih dengan kepindahan Rey kesini?" tanya Alex serius.
"Iya Gra kayaknya gak mungkin deh dia pindah kesini tanpa ada niatan buat geng kita?" timpal Danis.
"Mungkin diskolah lamanya gak ada cecan makanya pindah kesini" celutuk Deon asal.
Pletak...
"Serius bambang" omel Alif.
"Ck.. Iya.. Iya" balas Deon sambil mengusap keningnya yang dijitak Alif.
"Kasian banget sih kening ganteng gue slalu dapet jitakan dari manusia kurang ganteng kek Alif" gumam Deon dramatis namun mampu di dengar oleh yang lainnya.
"BACOT?!!" teriak semuanya pada Deon.
"Astgfrlhsgahsvahs" Deon terkejut.
Semuanya mengabaikan Deon dan memilih membahas yang lebih penting.
"Entar jam 10 malam. Lo semua harus dateng. Gue pamit" ucap Agra pamit lalu pergi meninggalkan kantin babe Rojak diikuti oleh Alif.
"Woy setan tungguin guee!!" teriak Deon karena ditinggalkan oleh Agra dan Alif.
****
Malam pun tiba kini jam telah menunjukkan pukul 09:15 yang artinya balapan sebentar lagi akan dimulai. Agra sudah siap dengan style-nya yang terbilang keren. Baju kaos oblong berwarna putih dengan gambar serigala hitam di depannya, celana jins hitam yang sengaja di robek-robek pada bagian lutut, jaket kulit berwarna hitam serta sneakers Nike berwarna hitam putih. Semua tertatah rapi dibadannya. Ia mengendap-endap keluar dari kamarnya, karna biasanya mamanya masih berkeliaran jika masih jam segini.
Agra terus mengendap-endap sampai keluar didepan rumahnya tanpa ketahuan. Ia menghembuskan nafas lega dan berjalan munuju garasi mengambil motor sport hitam kebanggannya.
Agra mendorong motornya hingga jauh dari lokasi rumahnya agar tidak ketahuan oleh orang rumah, untung saja satpam rumahnya lagi asik menonton bola jadi Agra tidak usah bersusah payah membuat alasan lagi. Merasa sudah jauh dari jangkauan rumahnya ia pun naik keatas motonya lalu menstater motornya tak lupa dengan helm full face hitamnya. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuati diponselnya.
Wolfer
Agrafrns
"Gue udah otw"
Setelah mengirim pesan singkat itu ke grubnya Agra pun menjalankan motornya menuju tempat balapan yang akan ia tempati.
****
Sesampainya disana semua anggota Wolfer menghampiri Agra yang tengah membuka helm fullface-nya. Mereka bertos ala pria dengan Agra.
"Gimana Lif?" tanya Agra pada Alif.
"Noh... Leon ada disana" jawab Alif sambil menunjuk keramaian.
Agra menyampirkan helmnya pada tangannya lalu membawa motornya ke garis start. Disana telah dipenuhi oleh beberapa penonton yang tak lain Adalah geng Wolfer dan Diamond' Black. Namun yang membuat anak Wolfer bingung adalah kemana Ketua geng DB?.
Lelaki yang memiliki paras tampan itu menghampiri Agra dengan senyum miringnya.
"Gue kira lo gak bakal datang" ucapnya sinis.
Agra menatapnya tak kalah sinis dan menjawab ucapan pemuda itu sehingga membuat sang empunya mengerang kesal.
"Lo kira gue pengecut kek lo? Huh" balas Agra datar diakhiri senyum miringnya.
Pemuda itu a.k.a Leon yang menantang Agra balapan mengerang kesal terbukti dari tangannya yang mengepal.
"Gak usah banyak bacot lo" balasnya kesal
"Emang bener kan. Ketua lo aja pengecut gak berani datang. Apalagi lo!" sarkas Agra santai dengan posisi masih berada diatas motornya.
Hampir saja Leon melayangkan pukulannya pada wajah tampan Agra jika saja Alif tidak menangkis tangannya.
"Disini lo bilang bakal balapan bukan adu jotos!" ucap Alif dengan nada dinginnya. Beginilah Alif jika marah aurah mengintimidasinya bakal keluar.
Alif menghempaskan tangan Leon dengan kasar membuat Leon sedikit meringis.
Alif kembali ketempat para penonton berdiri sementara Leon menghampiri Agra lalu membisikkan sesuatu yang membuat mata Agra membelalak.
"Taruhan kali ini cewek. Lo tau siapa?... Aurora Mauren." bisik Leon ditelinga Agra dengan senyum miringnya.
Mata Agra membulat tak percaya namun cepat mengubahnya menjadi tatapan dingin.
"Dari mana lo tau Aurora?" tanya Agra dengan nada dinginnya, serta tatapan tajamnya.
"Huh.. Buat apa gue buang-buang duit bayar pandu?" balas Leon.
Kini Agra mengerti ternyata selama ini Pandu bukan hanya memata-matai gengnya melainkan orang yang dekat dengan Agra juga. Tapi yang membuat Agra bingung kenapa harus Aurora? Padahal ia dan Aurora tidak pernah akur.
"Dia gak ada hubungannya dengan urusan kita" ucap Agra tajam.
"Gue gak peduli. Intinya gue menang dapat Aurora. Lo menang dapat Aurora. Simple kan?" setelah mengatakan itu Leon berjalan menaiki motornya yang terparkir disebelah kanan Agra lalu memakai helm fullface nya dan menyalakan motornya begitupun Agra.
Balapan pun akan segera dimulai kini Leon juga sudah stand by dengan motor sport orange-nya. Motor Agra dan Leon berdiri diatas garis start. Leon menengok ke arah kiri dimana Agra berada, Leon tersenyum sinis dibalik helm fullfacenya. Sedangkan Agra hanya menatap lurus kedepan dengan tatapan dinginnya.
Bagaimana pun ia kesalnya kepada cewek beasiswa itu ia juga tidak bisa memungkiri bahwa hatinya tidak tenang saat mendengar Aurora lah taruhannya kali ini.
Seorang wanita dengan baju kurang bahannya berjalan ketengah jalan dengan menenteng bendera berwarna hitam putih. Perempuan itu mengangkat bendera ditangannya lalu menghitung.
1
2
3
Benderapun jatuh bersamaan dengan dua motor sport yang melaju kencang.
****
Motor sport Agra ketinggalan beberapa meter di belakang motor Leon. Ini memang taktik Agra, karena ia tahu bagaimana Leon. Jika Agra berada didepan maka Leon akan bermain curang. Jadi Agra hanya menunggu hingga waktunya ia didepan.
Sedangkan dibarisan penonton semua orang menunggu kedua rival itu.
"Lif taruhannya apaan kali ini kok Leon gak bilang tadi?" tanya Deon penasaran.
"Yeu... Lo mah mikirinnya taruhan mulu. Noh fikirin si boss!" celutuk Kevin
"Suka-suka gue dong. Sirik aja lo kutu beras!" sewot Deon.
"Udah deh ngapain malah adu mulut coba?!" lerai Alif. "Gue juga gak tau apa taruhannya entar tanya Agra aja!" lanjut Alif.
****
Kembali ke Agra dan Leon kini garis finish sudah terlihat, Agra bisa melihat bagaimana antusiasnya para penonton disana.
Melihat garis finish pun Leon menengok kebelakang dan melihat Agra yang masih jauh. Semua anggota geng Agra menunjuk kan raut khawatir dan kecemasannya karna ini pertama kalinya Leon bisa membuat Agra tertinggal jauh.
Berbeda dengan Alif yang hanya menonton dengan wajah tenang dan santainya.
Sebuah motor sport melaju kencang dari arah barat. Membuat semua penontok bersorak antusias. Motor sport itu berhenti tepat digaris finish dan disusul oleh motor sport lain. Pemenang balapan itu membuka helm full facenya membuat penonton bertepuk tangan meriah.
"Sial... Kenapa gue harus kalah" gerutu pemuda yang kalah balapan itu karna merutuki kebodohannya.