[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Sick



Hal pertama yang Agra lihat saat membuka mata adalah langit-langit sebuah ruangan yang berwarna putih. Matanya yang masih menyipit bergulir melihat ke setiap sudut ruangan yang ia tempati.


Rumah Sakit.


"Gue kenapa bisa ada di sini?" Gumamnya. Seingat Agra, terakhir kali ia berada di rumah Aurora. Dibawah hujan menunggu cewwk itu mau berbicara dengannya. Apa karena gara-gara kehujanan ia bisa ada di sinu?


Kepala Agra sakit bukan main, seolah ada sesuatu yang berputar. Badannya pun terasa panas. Ini pasti karena semalam ia terlalu percaya diri bahwa Aurora akan membukakannya pintu kemudian tidak membiarkannya kehujanan. Ternyata ia salah, Aurora sama sekali tidak membuka pintu bahkan sampai Agra kehilangan kesadarannya.


Lalu siapa yang membawa Agra kemari?


"Agra, gimana keadaan kamu?" Suara Lena mengalihkan pikirannya. Cewek itu berdiri di samping Agra dengan raut cemas yang tidak tertutupi.


"Lumayan. Gue kenapa bisa ada di sini?"


"Alif sama Deon nemuin kamu pingsan di depan rumah Aurora tadi pagi." Alis Agra mengerut. "Mereka tau dari mana gue ada di sana."


"Katanya tadi rumah Aurora didatangin tetangga gara-gara liat kamu pingsan. Jadi mungkin dia nelfon Keyra terus Keyra ngabarin Alif sama Deon."


Padahal, Agra berharapnya Aurora yang membawanya kemari. "Rara ... Rara pernah ke sini?" Tolong katakan iya. Agra sangat ingin mendengar bahwa Aurora juga datang menjenguknya. Sayangnya, gelengan kepala Lena membuat Agra harus menelan kekecewaan.


"Aurora gak ke sini, bahkan kata Deon, Aurora pergi gitu aja pas mereka datang dan gak liat kamu."


Sakit tapi tak berdarah. Sikap dingin Aurora benar-benar menyakitkan untuknya. Cewek itu sungguh tidak ingin lagi tahu hal tentang Agra. Lena menatap Agra dengan sendu. Kelihatan sekali bahwa Agra sangat mengharapkan Aurora disisinya. Tetapi, apapun itu Lena akan berusaha membuat Agra tidak lagi memikirkan Aurora dan hanya membutuhkan Lena saja.


Tangan mulus cewek itu terangkat mengusap bahu Agra. "Gak usah terlalu dipikirin, Gra. Mungkin Aurora gak mau telat ke sekolah. Kamu tenangin diri dulu sampe sakit kepala kamu redah. Dokter juga bilang demam kamu tinggi banget."


Agra tidak butuh istirahat, ia butuh Aurora. Entah kenapa, sekarang kehilangan Aurora terasa sangat nyata. Agra dapat merasakan sebagian dirinya hilang dan tak lagi lengkap. Seolah Aurora membawa separuh jiwanya ikut meninggalkannya.


Aurora menyelesaikan ujian hari keduanya dengan lancar seperti hari sebelumnya. Sekali pun setiap harinya terdapat empat mata pelajaran atau pun lima, Aurora tidak meruntuhkan semangatnya. Beasiswa ke Amerika tidak boleh ia sia-siakan begitu saja.


Saat ini, ia berjalan ke kantin bersama Keyra. Dua sahabat itu bercanda sepanjang jalan membuat tawa kadang kala mengudara. Tak sengaja, mereka berpapasan dengan Alif dan Deon. Ada yang berbeda.


Jika biasanya Alif dan Deon akan menyapa atau sekedar menggoda Keyra saat berpapasan, kini tak ada lagi. Dua cowok itu memasang wajah datar dan tak mau memandang Aurora serta Keyra. Kemudian sahabat-sahabat Agra itu berlalu begitu saja.


Aurora dan Keyra saling bertukar pandang kemudian mengangkat bahu acuh. Mereka sudah memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan apapun atau siapapun yang berkaitan dengan Agra.


Aurora ingin pergi dengan perasaan seperti dimana ia belum mengenal Agra, Alif dan Deon. Hanya ada Keyra. Keyra pun menyetujui. Menurutnya, ketiga cowok itu juga tidak ada gunanya jika terus diingat.


"Lusa lo berangkat jam berapa, Ra?" tanya Keyra setelah mendapatkan bangku untuk duduk bersama Aurora. "Jam tujuh-an. Lo jangan sampe telat nganterin gue!"


Keyra terkekeh sembari mengangkat tangan memanggil penjual kantin. "Gak bakal dong, kan gue mau nginap di rumah lo," katanya, "btw mau pesan apaan?"


"Jus alpukat aja deh, gue lagi males makan."


"Oke." Keyra menyebutkan pesanannya begitu pun pesanan Aurora. "Jadi ceritanya gimana Agra bisa pingsan di depan rumah lo?" tanya Keyra setelah penjual tadi pergi.


Aurora terlihat malas membahasnya. "Biasa. Dia mau sok keren kali, pake nungguin gue keluar dari rumah sambil hujan-hujanan."


Keyra terkekeh. "Ternyata Agra belum kenal lo sebaik itu. Dia gak tau aja hati lo sekeras apa kalo udah dikecewain." Aurora mengangkat sudut bibirnya. Jujur, ia juga khawatir akan keadaan Agra, namun ia harus menguatkan hatinya.


Mengkhawatirkan Agra sama saja akan membuka lukanya yang perlahan menutup.