[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Reynald Erlangga



"Nama gue Reynald Erlangga. Lo boleh manggil gue Rey atau apapun terserah lo" jawab pemuda itu dengan senyum tipisnya.


"Rey aja deh yang simpel hehe" balas Aurora dengan cengirannya yang membuat Rey gemas ingin mencubit pipinya namun ia tahan.


"Haha terserah lo. Iya lo udah mau pulang?" tanya Rey dengan nada ramahnya.


"hmm.. Gue dari tadi nungguin taksi tapi gak nongol-nongol" jawab Aurora sedikit kesal.


Rey terkekeh melihat raut wajah kesal milik gadi itu. "Ya udah yuk bareng gue aja, gue bawa motor kok" ajak Rey


"Eh gak usah deh, gue udah ngerepotin lo tadi. Gue nunggu taksi aja pasti bentar lagi dateng kok" tolak Aurora tidak enak karena telah banyak merepotkan cowok ini.


Rey menghela nafas berat "Udah gak-papa kok, malam-malam kek gini bakal susah nyari taksi" Rey menjeda perkataannya lalu mengedarkan pandangannya. "Kalo preman itu balik lagi gimana?" tanya Rey dengan alis terangkat satu


Aurora nampak berfikir. Ini memang sudah malam namun taksi tak kunjung datang dan ditambah dengan tiga preman tadi yang membuatnya ketakutan. Tapi dia juga merasa tidak enak kepada Rey yang banyak ia repotkan.


"Ck... Kelamaan mikirnya" dengan cepat Rey menarik lengan Aurora agar mengikutinya.


Aurora tidak memberontak ia hanya mengikuti Rey. Sesampainya mereka di motor sport warna merah milik pemuda itu Aurora memberhentikan langkahnya yang membuat pemuda itu ikut memberhentikan langkahnya, Rey berbalik menatap Aurora dengan alis terangkat satu.


"Kenapa berhenti?" tanya Rey bingung.


"Naik motor gede?" bukannya menjawab pertanyaan Rey, Aurora malah balik bertanya.


Rey semakin bingung mendengar pertanyaan Aurora. Rey memang naik motor gede. Lalu apa yang ada difikiran Aurora?


"Iya... Emang kenapa?"


Aurora tidak menjawab pertanyaan Rey, namun gadis itu malah menarik turun rok kerjanya agar sedikit panjang, karena ukuran rok kerjanya 1 cm diatas lutut.


Melihat apa yang dilakukan kini Rey mengerti apa yang difikirkan Aurora. Ia lalu berjalan ke motornya meninggalkan Aurora yang menatap kepergian Rey dengan alis mengernyit. Tak lama Rey datang membawa jaket di tangannya lalu memberikannya pada Aurora.


"Nih.." ucap Rey sambil menyodorkan jaketnya yang disambut dengan ekspresi bingung Aurora.


"Buat?" tanya Aurora bingung.


Rey yang sudah tidak tahan akan kegemasannya pada cewek ini lantas mengacak-acak rambut Aurora gemas. "Buat nutupin paha lo pas naik motor gue Aurora..." ucapnya gemas.


"Oh hehe... Sorry" cengir Aurora.


Aurora pun mengikat jaket yang diberikan Rey kepadanya lalu naik keatas motor Rey.


*****


Kini motor sport itu membelah kota Jakarta. Mereka hanya diam tanpa ada yang berniat membuka suara. Rey yang fokus mengendarai dan Aurora yang memang sudah lelah.


"Ren rumah lo dimana?" tanya Rey dengan sedikit berteriak karna bisingnya suara kendaraan.


"Di jalan Anggrek nomor 37" jawab Aurora dengan sedikit berteriak.


Rey mengangguk menanggapi jawaban Aurora. Mereka kembali diam, hingga akhirnya di gang yang sepi Rey mempertanyakan mengapa jalan rumahnya harus melewati gang? Dan akhirnya Aurora pun menceritakan dengan jujur kepada Rey, hingga Rey mengerti.


Motor sport milik Rey berhenti didepan rumah khas betawi dengan nomor 37. Aurora turun dari motornya sementara Rey masih diatas motor pemuda itu hanya menaikkan kaca helm fullfacenya lalu menatap Aurora. Aurora membuka ikatan jaket yang ada di pinggangnya lalu diberikan kepada pemiliknya.


"Makasih yah Rey. Gue udah banyak ngerepotin lo malam ini" ucap Aurora tak enak.


"Santai aja kali Ren. Oh iya lo sekolah dimana?" tanya Rey


"Demiand senior high school. Tapi beasiswa"


"Wow.. Berarti lo pinter dong" puji Rey dengan wajah kagetnya.


"Ck.. Biasa aja. Kalo lo?"


"SMA Garuda"


"Kenapa gak skolah di DSHS?"


"Lo mau kalo gue skolah disana?" tanya Rey dengan senyum jahil


"Ya bu-bukan gituu" jawab Aurora kikuk


"Haha gak kok gue becanda. Oh iya gue pamit yah, gak enak sama tetangga lo udah malam hehe.." Pamit Rey diakhiri dengan kekehannya.


"Hmm... Hati-hati Rey"


"sampai jumpa besok" ucap Rey setelah menstater motornya.


Aurora mengernyit bingung dengan ucapan Rey. "Besok? Yakin banget bakal ketemu gue besok" ucap Aurora geleng-geleng.


Rey tersenyum penuh arti lalu mengucapkan kata yang membuat Aurora semakin bingung setelah itu Rey langsung pergi begitu saja.


"Liat aja besok"


****


Hari ini Demiand Senior High School digemparkan dengan kabar akan adanya murid baru disekolah mereka ini. Dan yang membuatnya tambah panas adalah murid barunya ini seorang cogan guyssss.


Siswi-siswi di DSHS pastinya bahagia karena populasi cogant disekolah mereka bertambah.


Murid yang kini tengah hangat diperbincangkan lewat di koridor dengan santai, tangan kirinya ia masukkan ke sakunya sementara tangan kanannya memegang sebelah tali tasnya yang bertengger indah di bahu kanannya.


Ia berjalan dengan santai sesekali tersenyum membalas sapaan siswi-siswi yang menyapanya. Siswi-siswi DSHS semakin histeris dikala murid baru itu melemparkan senyumnya di tambah dengan lesung pipi yang menambah kadar ketampanannya.


"Ya Allaaahh... Ganteng bangeettt...."


"Manakah nikmat tuhanmu yang engkau dustakan..."


"Aku meleleh bangg..."


"Nikahin aku maasss..."


Begitulah kira-kira teriakan siswi-siswi DSHS. Lelaki itu berjalan menuju kelasnya yang telah diberi tahu oleh kepala sekolah. Pemuda itu menghentikan langkahnya saat melihat papan bertuliskan XI IPA 3. Pemuda itupun melangkahkan kakinya memasuki kelas. Didalam kelas sudah ada guru yang mengajar.


"Permisi..." ucap pemuda itu.


Guru yang mengajarpun menengok ke arah pintu begitupun dengan murid-murid yang ada didalam kelas itu, kecuali ketiga pemuda yang berada dipojok belakang kelas, karena sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Iya ada apa nak?" tanya guru itu.


"Saya murid baru bu dikelas ini" jawab pemuda itu


"Ohh yah sudah mari masuk"


Pemuda itupun memasuki kelas membuat murid perempuan didalam kelas itu memekik tertahan saat melihat dengan jelas wajah pemuda itu karena tadi sedikit terhalang oleh pintu.


"Ya ampuunn ganteng bangett..."


"Kalo gini mah gue pasti bakalan rajin kesekolah..."


"Masa depan gueee ya Allah..."


Semua murid perempuan memekik membuat guru yang mengajar geleng-geleng kepala.


"Udah anak-anak, biarkan dia memperkenalkan dirinya." ucap guru itu membuat seisi kelas menjadi tidak seribut tadi namun masih ada yang berbisik-bisik bahagia karena stok cogan dikelasnya bertambah.


"Silahkan kenalkan diri kamu nak" lanjut guru itu ke pemuda yang ada disampingnya.


"Makasih bu. Hai guys kenalin nama gue Reynald Erlangga kalian bisa manggil gue Rey. Gue pindahan dari SMA Garuda. Trima kasih" ucapnya memperkenalkan diri.


Mendengar nama itu ketiga pemuda yang berada dipojok belakang kelas yaitu Agra, Alif dan Deon serempak menghentikan aktifitasnya masing-masing. Agra yang tadinya menelungkupkan wajahnya sekarang mendongakkan wajahnya menatap Alif yang melepas earphone ditelinganya serta Deon yang mempause gamenya. Mereka saling menetap dengan tatapan kaget.


"Reynald Erlangga" gumam mereka pelan.


Dengan cepat Deon memalingkan wajahnya menatap pemuda yang dipanggil Rey itu yang masih menjawab beberapa pertanyaan dari teman-teman kelasnya, Deon membelalakkan matanya dengan mulut sedikit menganga, sementara Agra dan Alif saling mengerutkan keningnya bingung dengan kepindahan cowok itu ke sekolahnya.


"Udah anak-anak biarin Reynald duduk ditempat duduknya. Reynald silahkan duduk di barisan tengah bangku belakang".  Rey pun mengangguk dan melangkahkan kaki nya menuju bangku yang disebutkan oleh guru itu.


Sebelum duduk Rey berhenti didepan meja Agra. Rey tersenyum sinis sementara Agra menyeringai menatap Rey, Alif dan Deon hanya menatapnya datar.


"Long time no see dude" ucap Rey dengan senyum miringnya.


"Punya nyali juga lo masuk kandang macan" balas Agra tersenyum sinis.


Rey hanya tersenyum miring lalu berjalan menuju bangkunya. Pelajaran pun dilanjutkan hingga jam istirahat berbunyi.


****


"Ra sumpah murid baru itu ganteng banget gilaaa"


"Ck.. Gak usah lebay deh Key"


"Lo bilang kek gitu karna lo belum liat mukanya. Setelah lo liat mukanya gue jamin lo bakal terpesona. Apalagi lesung pipinya. Astagaaa..." tutur Keyra antusias.


Sementara Aurora hanya memutar bola matanya malas dan bergumam "Terserah". Mereka berdua kini berada di kantin. Semuanya sibuk membicarakan murid baru yang katanya tampan itu. Aurora hanya mendengus kesal karna semua orang hanya membicarakan itu saja bahkan Keyra sama saja.


"Ck... Udah deh Key lo gak cape apa bahas itu mulu, gue aja cape dengerin lo!" ucap Aurora kesal.


"Ih Ra gak mau banget sih ngeliat gue bahagia" celutuk Key dengan mengerucutkan bibirnya.


"Bukannya gue gak mau liat lo bahagia Key. Tapi kita udah lama ada dikantin dan lo cuma bahas itu-itu aja smpe2 lo lupa mesen makanan" jelas Aurora panjang lebar.


Keyra pun menepuk jidatnya lalu menunjukkan cengirannya pada Aurora. "Hehe maaf yah Ra. Soalnya gue antusias banget"


"Hm..." Aurora hanya berdehem menanggapi Keyra.


Sementara keyra kini berdiri dari kursinya dan menanyakan pesanan Aurora.


"Ra mau makan apa?"


"Bakso sama air putih aja"


"oke tunggu yah" ucap Keyra lalu pergi begitu saja memesan makanan.


Seraya menunggu Keyra kembali Aurora memainkan ponselnya. Terlalu sibuk memainkan ponselnya Aurora tidak menyadari bahwa dibelakangnya kini sudah ada seorang pemuda yang dari tadi memperhatikannya dipintu kantin.


"Heii..." sapa pemuda itu dengan menepuk bahu Aurora sehingga membuat sang empunya kaget.


"Astaga..." Kaget Aurora, hampir saja ponselnya jatuh, untung Aurora dengan cepat menahannya.


Pemudah itu terkekeh melihat tingkah Aurora pada saat ia membuatnya kaget. Aurora berdiri dari tempat duduknya dan membalikkan badannya untuk melihat pemuda itu.


Awalnya Aurora ingin memarahi pemuda yang membuatnya kaget sehingga membuat ponsel kesayangannya nyaris terjatuh.


Namun saat melihat siapa pemuda yang membuatnya kaget, Aurora membelalakkan matanya lalu menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang memegang ponsel. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menunjuk wajah pria itu dengan ekspresi kaget.


"Lo?!!" pekik Aurora.