![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
"Ra! Aurora ini gue Rey!!"
"Ra, lo di dalem, kan?!"
"Buka pintunya, Ra!"
"Ra, lo baik-baik aja?! jawab gue, Ra! Jangan buat gue khawat-"
Pintu yang sejak tadi diketuk oleh Rey terbuka. Menampilkan senyum tipis seseorang yang terlihat tidak begitu baik. "Gue baik-baik aja, kok, Rey. Makasih udah khawatir sama gue."
Suara lemah itu membuat hati Rey berdenyut perih. Seolah Aurora yang terluka namun Rey yang berdarah. Segera ia menarik cewek itu kedekapannya. Memeluknya dengan hangat. Aurora membalas pelukan Rey, ia tersenyum, tidak lagi menangis. Sudah cukup dua hari ia habiskan untuk membuang air matanya hanya untuk si berengsek Agra.
Kondisinya pun lebih baik dari sebelumnya. Matanya tidak lagi sembab, hanya saja kantung mata hitam samar-samar masih terlihat dan juga suaranya yang berubah serak.
"Gue disini, Ra. Gue bakal selalu ada buat lo. Kalo lo butuh tempat bersandar, lo tinggal cari gue. Bahu gue selalu siap buat lo."
Aurora tidak tahu terbuat dari apa hati seorang Reynald. Cowok ini begitu baik sampai Aurora merasa sangat bersalah karena bersikap sangat tidak peka pada sekitar. "Maaf. Maaf, Rey."
Terkekeh, Rey melepas pelukannya kemudian mengelus rambut Aurora. "Gue kan udah bilang gak usah maaf-maaf terus. Udah seharusnya gue emang ada saat lo lagi down."
Aurora menunduk, tidak sanggup melihat pancaran mata Rey yang begitu tulus dan dalam menatapnya. Aurora bahkan bisa melihat bayangan dirinya dengan jelas di sana. "Gue bodoh banget, Rey. Gue bodoh banget karna selama ini mikir kalau Agra bener-bener cinta sama gue. Tapi ternyata ... gue cuma pengalihan dia dari sakit hatinya. Gue bodoh! Bodoh!"
Rey membawa Aurora untuk duduk di kursi teras rumah cewek itu. Kemudian Rey berlutut didepannya dengan menggenggam kedua tangan Aurora. Ia mendongak menatap Aurora yang masih menunduk.
Aurora membalas tatapan Rey. "Rey."
"Iya?"
"Gue gak tau harus ngomong apa sama lo. Yang jelas, gue bener-bener mau bilang makasih. Makasih buat semaunya." Lalu Aurora memeluk leher Rey dengan erat. Seolah ia tidak akan bisa lagi memeluk cowok itu besok.
"Gue sayang sama lo, Rey. Lo sosok kakak yang paling baik buat gue. Lo ngejagain gue, ngehibur gue, dengerin cerita gue, sabar sama gue, dan apapun yang gue mau selalu lo lakuin." Aurora tersenyum tanpa Rey tahu. "Gue bersyukur banget Tuhan ngasih gue sosok kakak kayak lo."
"Gue berasa terbang, nih, Ra." Aurora terkekeh tanpa melepas pelukannya. "Rey, sekali lagi gue sayang lo."
Rey terus terkekeh sampai ia melepas pelukannya. "Udah, ah. Entar gue baper lagi. Sana masuk, gue kesini cuma mau mastiin lo baik-baik aja."
"Lo mau pulang?" Rey mengangguk. "Beneran mau pulang?" wajah Aurora tampak sedih. Entah kenapa.
"Iya, Ra. Sana masuk."
Aurora beranjak dari kursinya dengan cukup berat. Langkahnya memelan melewati pintu. Ia menoleh, tersenyum pada Rey yang melambai seraya tersenyum lebar padanya.
Andai Rey tahu bahwa pelukan dan ungkapan sayang dari Aurora tadi adalah salam perpisahan, cowok itu tidak akan berdiri saja di sana seperti orang bodoh.