![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Keyra dan Rey kembali ke lapangan setelah membantu Aurora menghentikan pendarahan di hidungnya. Mungkin kejadian tadi terdengar sepeleh, tetapi hantaman bole itu benar-benar kuat membentur hidungnya hingga Aurora pikir tulang hidungnya akan patah.
Cewek itu berbaring di UKS. Keyra dan Rey melarangnya untuk kembali kelapangan dan mengatakan akan memintakannya izin pada guru olahraga. Aurora tidak menolak, lagi pula ia tidak ingin lagi kejadian tadi terulang jika ia kembali ke sana. Dan sebenarnya, Aurora sudah tidak wajib mengikuti pelajaran di sekolah mengingat ia telah menyelesaikan semua ujian akhir.
Hanya saja, Aurora ingin menikmati waktu terakhirnya di sekolah ini. Sekolah yang banyak memberikannya kenangan. Mulai dari yang manis hingga pahit.
Aurora masih ingat, bagaimana awal mula ia bertemu Agra. Hanya dengan keberaniannya yang berani melawan Agra Sang Penguasa Sekolah, Aurora banyak terlibat hal-hal kecil dengan cowok itu.
Mulai dari Agra yang beralih menindasnya, mempernalukannya, memberikannya tumpangan pulang dan pergi, terlambar bersama hingga akhirnya dihukum berdua. Aurora tersenyum tipis mengingat bagaimana menyebalkannya Agra saat itu.
Sekarang, tidak ada lagi sosok menyebalkan di hidup Aurora. Setiap kenangan yang pernah ia lewati bersama Agra perlahan mengabur. Aurora bahkan pernah kesulitan mengingat beberapa di antaranya. Sejenak ia berpikir, apakah dirinya benar sudah berhasil melupakan Agra?
Tapi setiap pertanyaan itu muncul, kenangan-kenangan yang tadinya mengabur perlahan terlihat jelas kembali. Ini, membuat Aurora bingung dengan perasaannya sendiri.
Ketukan di pintu menghentikan ingatan Aurora pada Agra. "Masuk," ucapnya. Cewek berpakaian olahraga sepertinya masuk dengan sebuah kantung kresek dan disodorkan pada Aurora.
Alis cewek itu mengerut, merasa bingung. "Buat gue?" tanyanya, cewek itu mengangguk mengiyakan. "Dari siapa?" tanya Aurora lagi. Cewek itu hanya diam, kemudian ia mengatakan, "Tadi ada yang bagi-bagi es krim, katanya ini bagian lo jadi gue disuruh buat ngasih ini ke lo."
Aurora mengangguk mengerti dan menerima es krim tersebut. "Makasih." cewek tadi mengangguk dan segera pergi dari UKS.
Es krim adalah makanan kesukaan Aurora. Ia tidak suka makanan manis, namun beda cerita jika es krim. Ia berani bertaruh, bahwa berapa pun bisa ia habiskan.
Yang ia dapat adalah sebuah eskrim melon dengan campuran coklat dan susu. Aurora nyaris memekik kegirangan mengingat es krim ini adalah rasa favoritnya. Ia menggingit beberapa bagian. Mulutnya bergumam tidak jelas. Terlihat wajahnya sangat puas.
"Lo suka es krim rasa apa?"
"Gue suka yang rasa melon coklat terus ada susunya. Itu fav gue banget."
"Perasaan gue gak pernah ngeliat lo makan es krim rasa itu."
"Itu karna rasa es krim melon coklat susu jarang gue dapet. Sekalinya dapet eh malah diduluin sama orang lain. Sebel banget."
Memori percakapannya dengan Agra ketika cowok itu ingin membelikannya es krim terputar. Masih terlihat jelas bagaimana Agra tertawa ketika Aurora menyuarakan kesebalannya waktu itu.
Aurora menatap es krim yang ada di tangannya. Es krim ini, mengingatkannya pada Agra. Ia memang tidak bisa melupakan Agra jika tetap berada di sini, karena hampir setiap hal di kota ini, menyimpan ceritanya bersama Agra.
Aurora kembali memasukkan es krim tadi ke kantung plastik. Ia sudah tidak berselerah untuk menghabiskannya sebab tawa Agra terus terngiang-ngiang.
Sebuah sticky note pink menyita perhatian Aurora.
I'm Sorry —Agra
Aurora menghela napas.