![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Setelah dua hari berlalu, Agra baru mendapatkan keberaniannya untuk kembali bertemu Aurora. Ia harus menjelaskan semuanya. Ia tidak ingin lagi hubungannya dengan Aurora seperti ini.
Agra sudah siap dengan setelan casual all black-nya. Cowok itu menyambar jaket serta kunci motor untuk mendatangi rumah Aurora. Bersamaan dengan kakinya yang terus melangkah keluar rumah, ritme jantung Agra menggila. Semua kalimat-kalimat penjelasan dan permintaan maafnya telah ia susun dengan baik. Berharap semoga hari ini menjadi hari ia dan Aurora berbaikan.
Langit di atas sana tampak lebih gelap dari biasanya mengingat malam ini cukup mendung. Agra cepat-cepat memakai helm dan mengendarai motornya diatas kecepatan rata-rata.
Entah berapa lama ia mengendara, motornya sampai di depan rumah Aurora. Sunyi. Satu kata yang mewakili suasana rumah cewek itu saat ini. Apa mungkin Aurora sudah tidur?
Melihat lampu kamar Aurora yang kebetulan dapat diliat dari samping masih menyala, Agra yakin Aurora belum tidur mengingat cewek itu tidak dapat terlelap dalam keadaan terang. Menarik napas, Agra mengetok pintu.
Ketukan pertama tidak ada jawaban begitu pun ketukan-ketukan berikutnya. Jelas, Aurora tidak ada di rumah. Rasa khawatir langsung menyergap Agra. Kemana Aurora malam-malam begini dan sebentar lagi akan hujan?
"Ra, plis jangan buat gue khawatir." Agra bisa gila. Aurora memblokir seluruh kontak dan sosial medianya. Keyra sudah pasti tidak akan menbantunya begitupun dengan Rey. Agra mengacak rambutnya resah.
"Sialan!" umpatnya, terlebih pada diri sendiri.
Sebuah motor matic yang baru saja tiba dengan dua perempuan di atasnya mengalihkan atensi Agra. Ia bernapas lega ketika melihat salag satunya adalah Aurora.
Aurora sempat mematung beberapa saat ketika melihat adanya Agra, lalu secepat mungkin cewek itu bersikap biasa saja dan beralih pada Elma yang mengantarnya pulang.
"Makasih, El. Lo mampir aja dulu, bentar lagi hujan lo."
"Sama-sama. Enggak usah deh, makasih. Rumah gue udah deket, ngebut dikit juga sampe."
"Yaudah, hati-hati."
"Yep."
Setelah Elma tidak terlihat lagi, Aurora menarii napas diam-diam. Menenangkan detak jantungnya yang menggila hingga membuatnya sesak. Ia berjalan denga santai, seolah tidak ada orang lain selain dirinya. Caranya mengeluarkan kunci dari tas dan membuka pintu benar-benar biasa saja, Agra benar-benar tidak dianggap disana.
Hingga saat pintu terbuka dan Aurora melangkah, pelukan lengan seseorang dari belakang menghentikannya. Aurora menahan napas, aroma Agra yang selalu menjadi favoritnya kini begitu dekat. Membuat rasa ingin berbalik membalas pelukan cowok itu begitu besar namun Aurora menahan dirinya sekuat mungkin. Ia tidak boleh goyah lagi. Ia harus paham bahwa Agra sama sekali tidak mencintainya. Mungkin cowok itu hanya merasa bersalah dan kasihan pada Aurora.
"Gue kangen, Ra. Gue kangen banget sama lo." Agra bersuara lirih diceruk leher Aurora. Membuat napas cowok itu terhembus di sana. Kedua tangan Aurora mengepal disamping masing-masing pahanya. Ia tidak boleh goyah! Ia tidak boleh terpengaruh! Tidal lagi.
Menarik napas sejenak, Aurora melepas lengan Agra diperutnya, namun sia-sia karena Agra justru semakin mempererat pelukannya.
"Lepasin, Gra! Nanti tetangga gue salah paham. Gak seharusnya lo kayak gini!"
"Gue gak bakal ngelepasin lo sebelum lo mau dengerin penjelasan gue. Gue mohon, Ra. Sekali ini aja dengerin gue dulu."
Aurora menghela napas jengah. "Semuanya udah jelas, Agra. Gak ada lagi yang perlu lo jelasin. Sejak awal emang sepantasnya lo sama Lena."
"Rara, pliis ...."
Sekuat tenaga, Aurora melepas paksa lengan Agra hingga benar-benar terlepas dan ia menjauh dari jangkauan cowok itu. Agra menatapnya penuh luka. "Gue mohon, Ra. Gue sama Lena udah gak ada apa-apa. Gue sama di-"
"Justru lo sama gue yang udah gak ada apa-apa. Pulang, Gra. Lena rumah kamu yang sebenarnya, aku cuma tempat persinggaha hati kamu yang sedang nyari rumahnya. Kita gak bisa sama-sama lagi."
Agra putus asa mendengar kalimat Aurora. "Bisa, Ra. Kita bisa sama-sama lagi. Gue janji bakal ngelepas Len-"
"Jangan buat janji kalo kamu aja ragu bisa tepatin atau enggak. Kita cukup sampai hari itu, Gra. Kita udah selesai."
Hujan turun tepat setelah Aurora selesai mengatakan kalimatnya. "Gue capek mau istirahat, sebaiknya lo pulang." Kemudian menutup pintu tepat di depan wajah Agra yang pilu.
Agra mengetuk-etuk pintu, berharap Aurora kembali membukanya. "Gue gak akan pulang sebelum lo mau dengerin gue, Ra! Gue bakal tetep disini apapun yang terjadi."
Sama sekali tidak ada sahutan. Agra berpindah ke samping untuk melihat keadaan di kamar Aurora hingga tubuhnya langsung basah. Jendela cewek itu tertutupi oleh gorden, lampu yang tadinya menyala terang kini padam.
Agra memaku ditempatnya. Aurora benar-benar menghukumnya. Cewek itu bahkan tidak ingin mendengarnya lagi. Hujan yang makin deras Agra biarkan untuk membasahi tubuhnya. Membiarkan air matanya yang diam-diam mengalir menyatu dengan hujan. Auroranya, benar-benar tidak ingin melihatnya lagi.
Waktu terus berlalu. Agra masih setia dibawah hujan dengan posisi berlutut. Tubuhnya sudah menggigil dengan bibirnya yang sudah membiru.
Hingga mentari mulai muncul diufuk timur, Agra masih di sana. Bedanya, ia sudah tidak sadarkan diri.