![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Untuk memastikan ke-khawatirannya, Agra lebih memilih mengunjungi rumah Aurora sepulang sekolah dibanding bertanya pada Keyra. Dan disini lah cowok itu berada sekarang. Di depan rumah Aurora, dengan wajah yang dipenuhi kebingungan ketika melihat pagar rumah cewek itu tergembok dan tampak sunyi. Seperti tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang.
"Ini kenapa digembok, sih? Apa Rara lagi pergi ya?" gumam Agra. Cowok itu berjalan ke samping, memastikan apakah benar-benar sunyi atau tidak. Nyatanya, rumah itu benar-benar kosong.
Agra mengacak rambutnya kesal. Ia sangat khawatir Aurora kenapa-napa. Ingin menelfon, tapi kontaknya sudah diblokir oleh Aurora. Menggunakan kartu baru, ternyata giliran nomor Aurora yang sudah tidak terdaftar. Aurora benar-benar membuang Agra dari hidupnya. Padahal, Agra sangat-sangat merindukan cewek itu tanpa henti.
"Terus gue harus gimana buat tau kondisi lo, Ra?!" lirih Agra mengusap wajahnya. Satu-satunya cara adalah Keyra, Agra mau tidak mau harus mengesampingkan egonya dan menemui Keyra. Persetan jika cewek itu akan menjutekinya atau pun mencaci makinya.
Agra sudah akan pergi jika saja seseorang tidak datang. Helm yang sudah ia pakai, Agra buka kembali. "Lo ngapain ke sini?" tanyanya pada sosok pengendara lain di depannya.
Rey tidak menjawab dan hanya melepas helm. Turun dari motor kemudian mendekati pagar rumah Aurora. Ekspresinya persis sama seperti Agra beberapa menit yang lalu. Ia tampak kebingungan. Rey menoleh pada Agra yang memperhatikannya. "Kenapa kegembok?" tanya Rey.
Agra mengangkat bahu. "Gue aja bingung. Rara hari ini gak dateng ke sekolah, rumahnya sepi terus pagarnya ke gembok. Gue bener-bener bingung dia kenapa."
Rey terdiam. Jelas sekali keanehan ini semakin terasa. Aurora tidak masuk sekolah, Keyra yang gugup ketika ditanya Aurora dimana, dan rumah Aurora yang tidak berpenghuni.
"Lo mau kemana?" tanya Agra saat Rey kembali menaiki motornya dan memakai helm. "Bukan urusan lo," jawab Rey datar. Ia membelokkan motornya kemudian melaju kencang. Agra cepat-cepat mengikutinya. Siapa tau saja Rey tau sesuatu.
***
"Rara lagi di dalem. Lagi tidur dan gak mau diganggu. Mending lo berdua pulang aja deh. Entar dia kebangun lagi." Adalah jawaban yang diberikan Keyra setelah dengan sangat Agra dan Rey membujuk cewek itu untuk memberitahukan keberadaan Aurora.
Wajah Agra berubah cemas. "Emang Rara kenapa? Dia gak sakit kan?" tanyanya mendesak. Keyra memutar bola matanya malas. "Gak usah sok cemas deh lo. Ini semua juga gara-gara lo! Mending lo cemasin aja sono cewek lo, Si Lena."
"Key, pliss ... gue lagi gak mood buat itu."
"Lo pikir gue juga mood liat lo di sini? Nggak! Sana pergi." Keyra beralih pada Rey yang terus mengintip ke dalam rumah Keyra. Cewek itu menghela napas jengah. "Lo juga, Rey! Gue kan udah bilang Rara tidur dan gak mau diganggu! Lo berdua pulang aja deh."
"Key pliss. Izinin gue ketemu Rara. Gue mau mastiin dia baik-baik aja." Agra memelas. Keyra tertawa sinis. "Lo harus ingat satu hal ini, Gra. Dia gak pernah baik-baik aja semenjak lo mainin ketulusan dia. Jadi udah jelas kan?" Keyra menutup pintu dengan keraa di depan wajah Agra dan Rey.