![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Rasanya benar-benar ada yang tidak beres. Sudah satu minggu berlalu dan Aurora tidak pernah lagi datang ke sekolah. Agra tidak pernah melihat cewek itu lagi dan rumahnya pun masih seperti minggu lalu ketika Agra datang ke sana. Tingkah Keyra juga semakin mencurigakan. Sahabat Aurora itu selalu mengelak atau pun mengalihkan pembicaraan ketika Agra maupun Rey menanyakan keberadaan Aurora.
Agra semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Keyra dan Agra sama sekali tidak diizinkan untuk mengetahui itu.
"Guru-guru juga kayak gak pernah ngebahas Aurora. Seolah-olah ke-enggak hadiran dia tuh udah direncanain gak sih?" celetuk Deon. Agra dan dua sahabatnya memilih tetap di dalam kelas ketika yang lain keluar untuk istirahat di kantin.
Alif mengangguk menyetujui Deon. "Kayaknya Aurora absen selama ini bukan hal yang gak disengaja. Coba lo selidikin, Gra. Pengaruh lo di sekolah ini kan cukup besar. Guru-guru pasti bakal ngasih tau lo Aurora kenapa."
Agra menepuk jidatnya. "Bodoh, kenapa gue gak mikirin itu dari kemarin, sih?" Kemudian segera beranjak keluar kelas menuju ruang guru. Alif dan Deon saling pandang kemudian menggeleng-geleng lalu menyusul Agra.
***
Seminggu tanpa Aurora membuat hidup Keyra terasa benar-benar sepi. Ia tidak lagi bisa seceriah dulu. Temannya di sekolah banyak, hanya saja tidak ada yang seperti Aurora. Di rumah pun, Keyra kerap kali merasa kesepian dan murung.
Jarak yang cukup jauh dari Indonesia ke Amerika membuat komunikasi keduanya tidaj berjalan lancar. Perbedaan waktu yang cukup jauh juga membuat Keyra kadang ragu untuk menghubungi Aurora. Ia takut mengganggu jika saja saat ia menelpon, Aurora tengah beristirahat.
Terakhir kali mereka berkomunikasi adalah lima hari yang lalu ketika Aurora baru menyelesaikan registrasi beasiswanya di sana. Setelah itu, mereka tidak pernah lagi saling bicara. Bahkan, pesan yang Keyra kirim belum Aurora baca padahal terterah dua ceklis di roomchatnya.
"Gue kengen banget sama lo, Ra." Keyra duduk di bangku panjang taman belakang sekolah. Menatap fotonya bersama Aurora di ponsel yang saling merangkul dengan senyum lebar. "Gue pengen bareng lo lagi. Gak ada yang seasik lo di sekolah ini."
Jujur, sekali pun Aurora dan Keyra kadang kala hanya saling diam ketika berdua, suasananya tidak akan terasa sepi. Keduanya seperti memiliki hubungan batin.
"Gue harap lo baik-baik aja ya, Ra, dan cepet bales chat gue."
***
Guru wanita yang merupakan wali kelas Aurora, terlihat ketakutan ketika Agra--yang datang menanyakan keberadaan Aurora--mengancamnya. Ia sudah mengatakan bahwa ia tidak tahu Aurora kemana namun Agra masih tidak memercayainya.
"Saya serius, Agra. Saya gak tau Aurora di mana. Setau saya, dia cuma pindah sekolah. Dia pindah kemana pihak sekolah gak tau. Aurora gak mau ngasih tau kami." Dalam hati wanita itu terus merapalkan permintaan maaf karena telah berbohong. Ia telah berjanji pada Aurora, maka ia pun harus menepatinya.
Menggeram kesal, Agra keluar dari ruang guru dengan sesikit membanting pintu. Membuat orang-orang di dalam sana hanya bisa mengelus dada sabar. Untung anak pemilik sekolah! Pikir mereka.
Alif dan Deon yang menunggu di luar, langsung mendekati Agra begitu keluar. "Gimana lo udah tau?" tanya Alif. "Aurora sakit beneran?" tambah Deon.
Agra menggeleng. Entah untuk pertanyaan Alif atau Deon. Cowok itu duduk di kursi, tubuhnya lemas hanya dengan mengetahui fakta bahwa Aurora pindah sekolah. Kenapa? Apa semua ini karena ke-brengsekannya? Agra mengacak rambutnya frustasi dengan desah resah. Tuhan ... tolong jangan hukum dirinya seperti ini.
"Kenapa sih lo? Jadi Aurora kenapa nih?" desak Deon tidak sabar. Agra menatap satu persatu sahabatnya yang berdiri dengan wajah penasaran. "Aurora pindah. Gak tau kemana," jawabnya tanpa semangat.
"WHAT?!" pekik Alif dan Deon. "Kita udah mau ujian akhir, Man. Mana bisa pindah sekolag gitu?" Kata Alif masuk akal. Deon mengangguk. "Bener. Sekolah lain juga pasti gak bakal nerima murid baru kelas 12."
"Tapi faktanya emang gitu. Gue liat sendiri surat kepindahan dia. Tapi dia pindah kemana gak ada yang tau."
"Susah dong kalo gitu," decak Alif.
Agra tidak tahu harus apa lagi. Namun, seperkian menit berlalu, semua ingatan tiba-tiba muncul dan memberikannya ide. Cowok itu segera bangkit dari dudukannya. "Mau kemana lo?" tanya Deon.
"Ke Tim Cyber. Lo berdua ikut gue."