![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Dua minggu telah berlalu sejak kejadian di uks itu. Setelah dimana Agra menanyakan sesuatu yang membuat Aurora tak bisa berkata-kata lagi, gadis itu nampak menjauh dari Agra entah apa sebabnya. Agra pun dibuat bingung setiap ingin mengobrol atau hanya sekedar menyapa saja gadis itu selalu saja mencari alasan agar bisa pergi dari hadapan Agra.
Iya, tanpa kalian tahu, Agra mengungkapkan perasaannya pada Aurora yang membuat cewek itu bingung.
Gadis berambut hitam dikuncir itu berjalan tergesah-gesah melewati kelas XI IPA 3 dimana kelas itu adalah kelas Agra. Gadis itu mempercepat langkahnya menuju kelas namun sayang sebuah tangan kekar mencekal tangannya di ambang pintu kelas IPA 3.
Aurora tersentak kaget serta jantungnya berdetak dua kali lebih cepat karena kaget. Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat dan berharap semoga bukan Agra pemilik tangan kekar yang kini mencekal tangannya, namun...
"Lo kenapa sih?" suara berat itu membuat harapannya sirna. Ternyata pemilik tangan kekar itu adalah pemuda yang untuk saat ini tak ingin ia jumpahi, akibat tak tahu harus berbicara apa dengannya.
Dengan segenap keberaniannya Aurora membalikkan badannya menghadap ke pemuda itu, tapi tidak menatap manik mata hitam pekat yang sering membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Le-lepasin!" sahutnya sedikit gugup.
"Gak sebelum lo bilang ke gua. Lo kenapa ngehindar stiap ketemu gue?" balas pemuda itu, seraya menatap Aurora yang kini nampak gugup, terlihat dari gerak-geriknya yang tidak tenang.
"Si-siapa yang ngehindar sih! perasaan lo aja kali." balasnya dengan kekehan yang terdengar dipaksakan ditelinga Agra.
"Lo kira gue gak merhatiin lo selama ini?"
Aurora semakin gelisah ditempatnya. Dia benar-benar ingin menghilang saat ini juga.
"Siapapun tolong gue!!"
"Kenapa? Apa karna gara-gara di uks dua minggu yang lalu?" tanya pemuda itu lagi membuat Aurora menelan salivanya.
"Gue kan udah bilang, gue gak akan maksa lo, buat jawab sekarang. Tapi kenapa lo ngejauh?"
Agra benar-benar bingung dengan gadis pikun ini. Apa karena perkataan Agra di uks dua minggu lalu yang membuatnya menjauh? Kalo iya, Agra benar-benar menyesal telah mengatakan itu.
"Gu-gue gak ngejauh!" kilah gadis itu namun tak menatap Agra.
"Kalo gitu tatap gue!"
"Ngapain harus natap lo?"
"Tatap gue Ra!" tegas Agra.
Dengan segenap keberanian yang ia punya Aurora pun memberanikan diri untuk menatap manik mata hitam pemuda itu.
Deg!
"Tuh kan!"
Jantung itu berdetak dengan cepat lagi keduanya saling memandang, mengabaikan seorang pemuda tampan yang tak jauh dari lorong kelas sedang memperhatikan mereka.
"Gue gak suka lo ngejauh. Kalo lo ngerasa tertanggu dengan perkataan gue di uks waktu itu, lo lupain aja! Tapi jangan ngejauh dari gue," ujar pemuda itu dengan lembut.
Aurora bungkan dengan masih menatap mata hitam Agra. Sebenarnya dia juga bingung, kenapa dirinya gugup saat bertemu Agra setelah kejadian di uks itu. Hatinya juga menolak untuk menjauhi Agra namun logikanya menang untuk membuatnya jauh dari Agra.
"Gue tunggu jawaban lo pas istirahat. Jangan kemana-mana gue bakal jemput ke-kelas lo!" ucao Agra dengan menepuk-nepuk pelan puncak kepala Aurora setelah itu ia masuk kedalam kelasnya, menyisakan Aurora yang terdiam menatap punggung kekar itu.
Aurora menghela nafas lalu berjalan menuju kelasnya. Menyisakan pemuda tampan berlesung pipi yang menatap nanar punggung mungil itu.
"Sakit yah ngeliat orang yang kita suka bentar lagi bakalan jadi milik orang lain!" sahut seorang gadis disamping Rey yang tiba-tiba saja muncul.
Rey menoleh kesamping gadis yang kini bersedekap dada dan memandangnya. Gadis itu asing bagi Rey, ia tak pernah melihat gadis itu sebelumnya. Gadis dengan baju jangkis nan ketat begitupun roknya yang berada diatas lutut, rambut berwarna coklat karena pewarna, bedak tebal serta bibir merah merona. Sungguh Rey ingin muntah melihat dandanan gadis itu yang layaknya lonteh pinggir jalan.
"Sok tau lo!" ketus Rey lalu pergi meninggalkan gadis itu yang kini menunjukkan senyum miringnya.
"Ternyata banyak yang gue lewatin slama ini!" gumam gadis itu dalam hati lalu pergi entah kemana.
***
Aurora duduk dibangkunya dengan pandangan kosong, mengabaikan Keyra yang sibuk berceloteh disampingnya. Gadis itu terus memikirkan jawaban yang akan ia berikan untuk Agra.
"Ra. Mikirin apaan, sih?" suara Keyra membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
Aurora beralih menatap Keyra dengan wajahnya yang sedikit terlihat banyak fikiran. Keyra heran dan bingung melihat wajah sahabatnya ini.
"Kenapa? Kok gitu amat muke, lo." ujar Keyra sedikit bercanda.
"Key... Gue boleh cerita sama lo?"
Keyra tersenyum antusias mendengar itu, pasalnya ini pertama kalinya Aurora menawarkan dirinya untuk bercerita kepadanya. Biasanya Keyra lah yang memaksa gadis itu untuk menceritakan masalahnya.
"Ya ampun Rara.. Boleh banget malah!" antusias Keyra. Gadis itu duduk menyamping untuk melihat dengan baik wajah Aurora.
"Jadi kenapa?" tanya Keyra menatap Aurora.
Flashback on
Setelah Rey keluar Agra mendekat ke arah Aurora yang kini menyandarkan dirinya di ujung brankar uks. Agra menatap Aurora dalam-dalam membuat sang empunya sedikit salah tingkah.
"Ngapain ngeliatin gue kek gitu sih!" risih Aurora.
"Pengen aja!" balasnya santai dengan msih memperhatikab gadis itu.
Aurora memberenggut kesal ditempatnya membuat Agra tambah gemas dengan kelakuan gadis itu.
"Ra..." suara berat namun bernada lembut itu membuat Aurora menoleh kepada sang empu suara.
"Kenapa?" sahut Aurora sedikit heran melihat raut wajah Agra yang berubah menjadi serius.
"Lo suka sama gue?"
Deg!
Apa? Tadi Agra bilang apa guys? Apa benar Aurora tidak salah dengar?
Aurora kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir sexy pemuda itu. Aurora menelan salivanya saat Agra menatapnya dalam.
"Ma-maksud lo?"
"Gue sayang sama lo."
Mata Aurora semakin membulat kala mendengar itu. Jantung nya sudah benar-benar ingin meloncat dari tempatnya. Dia benar-benar butuh oksigen untuk saat ini.
"Ag-"
"Lo sendiri gimana?" potong pemuda itu membuat Aurora lagi-lagi menelan salivanya gugup. Ia benar tak tahu harus melakukan apa. Jujur saja jantungnya saat ini sedang berdetak tak teratur, perutnya seperti dipenuhi kupu-kupu beterbangan, lidahnya kelu saking gugupnya.
"Gu-gue..."
"Gue juga gak tau kenapa bisa sayang sama lo. Yang jelas jantung gue gak pernah normal tiap deket-deket sama lo. Gue slalu nyaman ngeliat lo senyum atau bahkan ketawa. Awalnya gue kira ini cuma perasaan gue aja yang berlebihan karna ternyata lo asik juga diajak temenan, makanya gue ngerasa nyaman. Tapi smakin lama gue sadar, gue gak mau jauh dari lo. Gue takut ngeliat lo kenapa-kenapa. Gue khawatir saat lo jauh. Gue kesel ngeliat lo bareng Rey. Jujur gue gak tau apa yang gue rasain, dan setelah gue cerita ke Alif sama Deon. Disitu semua pertanyaan gue kejawab. Ternyata slama ini gue sayang sama lo." ungkap Agra panjang lebar, pemuda itu masih setia menatap manik mata coklat gadis yang kini bersandar diatas brankar uks.
Aurora menatap Agra tak percaya. Jadi selama ini bukan cuma dia yang merasakan detakan itu? Jadi bukan cuma dia yang merasakan rasa khawatir yang tak ia tahu apa sebabnya? Jika ini mimpi tolong jangan bangunkan Aurora saat ini!!
"Agra... Lo-lo jangan becanda!! Gak lucu!!" ujar gadis itu sedikit ketus untuk menetralkan degupan jantungnya.
"Terserah lo mau anggep ini becanda atau gak! Yang jelas gue udah ungkapin semua yang buat gue gak tenang tanpa sebab" balasnya.
Aurora memutuskan pandangannya. Gadis itu menatap kebawah, tangannya saling bertautan karena gugup.
"Tolong kasi tau gue kalo ini cuma mimpi!!"
Batin Aurora.
"Ra? Lo sendiri gimana?" tanya pemuda itu pelan, namun Aurora masih menunduk.
"Lo mau jadi pacar gue?"
Tidak ada respon dari Aurora. Gadis itu terus saja menunduk dengan jarinya yang bertautan serta wajahnya yang gugup. Agra menghela nafas. Ia juga tak ingin memaksa Aurora untuk menjawab pertanyaannya.
"Oke... Gue gak maksa lo buat jawab sekarang. Gue bakal nunggu lo. Tapi inget, manusia juga punya batas sabar buat nunggu sesuatu!" setelah mengatakan itu Agra mengacak rambut Aurora pelan lalu pergi
meninggalkan uks, dan Aurora yang menghela nafas.
Flashback off
"Serius?" ucap Keyra tak percaya setelah mendengar cerita Agra.
Aurora mengangguk lesu.
"Gue harus jawab apa Key? Gue bener-bener bingung sama perasaan gue sendiri," keluh Aurora lesuh.
Keyra memperbaiki posisinya lalu menatap Aurora baik-baik.
"Ra jawab setiap pertanyaan gue! Okey?"
Aurora mengernyit bingung namun tetap mengindahkan permintaan sahabatnya.
"Okey... Lo benci sama Agra?" tanyanya membuat Aurora menggeleng.
"Risih?" Aurora menggeleng
"Nyaman?" Aurora terdiam sejenak lalu kemudian mengangguk ragu. Keyra tersenyum melihat itu!
"Jantung lo slalu berdetak cepet gak kalo sama Agra?"
"I-iya." Lagi-lagi Keyra tersenyum mendengar jawaban Aurora.
"Lo khawatir kalo ngeliat Agra kenapa-napa?" Aurora mengangguk lagi.
"Oke.. Kalo gitu lo gak mungkin gak tau apa jawabannya!" ujar Keyra lalu memalingkan wajahnya menghadap papan tulis, karena 5 menit lagi pelajaran pertama akan dimulai.
Aurora menatap Keyra dari samping dengan dahinya yang mengernyit bingung.
"Maksud Key apa sih?!"