[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Sebuah Fakta



Waktu berlalu begitu cepat. Sangat tidak terasa hubungan Agra dan Aurora sudah dua bulan, begitu pun dengan kehadiran Lena di sekolah ini. Fyi, ia berbeda kelas dengan Aurora. Agra tidak hentinya mengucap syukur kala itu.


Saat ini, waktu istirahat tiba. Seperti biasa, Agra, Aurora, Alif, Deon dan Keyra akan satu meja di kantin. Sehingga mengundang banyak tatapan iri dari cewek-cewek.


"Guys, gue ke toilet dulu, ye. Kebelet." Tanpa menunggu jawaban teman-temannya, Keyra segera meninggalkan kantin menuju toilet. Panggilan alamnya benar-benar tidak bisa ditunda.


Ia masuk ke dalam bilik paling ujung. Menyelesaikan tujuannya kemudian saat ia hendak keluar, bilik sebelah diisi oleh beberapa orang lain. Bukan karena mereka masuk bersama yang menggagalkan niat Keyra untuk keluar. Melainkan pembicaraan tiga cewek itu yang salah satunya Keyra kenal.


"Len, sebenarnya lo punya hubungan apa sih sama Agra? Gue pernah lo ngeliat kalian diluar sekolah berduaan. Lo diboncengin sama Agra."


Mata Keyra melotot tidak percaya.


"Iya. Gue juga ngerasa aneh. Kalian tau kan gue ngefans banget sama Agra? Jadi gue biasa merhatiin dia dari jauh. Tapi anehnya sejak Lena sekolah di sini, gue sering ngedapetin Agra ngeliatin satu tempat. Dan itu tempat yang biasa Lena tempatin."


Keyra dibuat penasaran. Lena belum juga membuka suara. Sebenarnya, ia juga merasa aneh pada Agra akhir-akhir ini. Aurora pernah bilang, bahwa Agra pernah tidak bisa dihubungi. Lena juga datang ke rumah sakit waktu itu. Dan, tidak menyangkal, Keyra juga pernah mendapati Agra memperhatikan Lena. Namun, Keyra pikir itu hanya kebetulan saja. Nyatanya, bukan cuma Keyra yang pernah mendapati Agra.


"Nah, kan. Agra ke Lena tuh gak biasa. Kayak ada something gitu. Kalian sebenarnya punya hubungan apaan sih?"


Kekehan Lena terdengar. "Gue mau cerita. Terserah kalian mau percaya atau enggak. Tapi kalian pasti gak bakal percaya mengingat Agra udah sama Aurora sekarang."


Keyra semakin tertarik ketika nama sahabatnya dimasuk-masukkan. Ia merapatkan telinganya ke dinding bilik agar bisa mendengar lebih jelas perkataan Lena.


"Maksud lo?"


"Jadi gini, gue sama Agra itu dulunya pacaran. Udah bertahun-tahun tapi kandas karna gue harus ikut ortu ke Jerman."


"Berarti Agra mantan lo dong?"


"Gue gak tau mau nyebut Agra sebagai mantan atau enggak. Soalnya, kata putus gak pernah ada diantara kita. Bahkan sampe sekarang pun, Agra gak pernah bilang putus. Justru setiap aku butuh dia, dia selalu ada. Kapan pun."


Jadi ... mereka ... masih pacaran dong kalau belum ada kata putus?


Kedua tangan Keyra terkepal. Agra berengsek! Katanya belum pernah berpacaran, tapi nyatanya apa? Cowok itu bahkan belum lepas dari jerat masa lalunya. Pantas saja, setiap Aurora bersama Agra, cowok itu tidak terlihat semangat seperti biasanya.


Tanpa ingin mendengar lebih lanjut, Keyra keluar dari bilik dengan membanting pintu. Ia berlari kembali ke kantin. Lalu menarik kasar lengan Agra hingga cowok itu berdiri terkejut.


"Lo kenapa, Key?" tanya Agra heran.


Yang lain juga ikut terheran-heran melihat wajah marah Keyra.


"Key, ada apa?" tanya Aurora.


***


Tamparan Keyra mengenai pipi kanan Agra begitu mereka berada di samping perpustakaan. Agra meringis memegang pipinya. "Lo kenapa sih, Key? Gue salah apa main ditampar-tampar aja?"


Keyra menarik kerah kemeja Agra sekalipun tidak berpengaruh pada cowok itu. "Siapa sebenarnya Lena?" desisnya di depan wajah Agra yang menegang.


"M-maksud lo?"


Berdecih, Keyra menghempar kerah Agra. "Siapa Lena sebenarnya, hah?! Jawab gue, jangan sok gak tau apa-apa!"


Agra kelabakan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan, ia pun sampai sekarang masih bingung siapa Lena baginya.


"Key ... dengerin gue dulu. Lena-"


"Apa? Mantan lo? Atau ... pacar lo yang ninggalin lo ke Jerman?"


Agra terbungkam. Keyra memukulnya telak melalu kalimat tajam cewek itu. Ia tidak tahu darimana Keyra tahu yang sebenarnya. Yang terpenting jangan sampai Aurora tahu dulu.


"Key, dengerin gue. Gue emang pernah punya hubungan spesial sama Lena. Tapi hubungan gue sama dia udah kandas sejak Lena mutusin buat ikut orang tuanya ke Jerman."


"TAPI KATA PUTUS GAK PERNAH ADA DI ANTARA KALIAN!! ITU YANG GAK GUE TERIMA!!"


Benar. Agra pun tahu ia tidak pernah memutuskan Lena maupun sebaliknya. Tapi, tidak adanya komunikasi selama bertahun-tahun bukannya menandakan bahwa hubungan keduanya sudah selesai?


"Emang gak pernah ada kata putus. Tapi gue sama dia udah gak pernah berhubungan lagi selama bertahun-tahun. Dan gue anggap itu sebagai akhir dari hubungan gue sama dia."


"Munafik!" Keyra menyangkal cepat, membuat Agra menghela napas berat. "Jangan pikir gue gak merhatiin sikap lo akhir-akhir ini, Gra. Lo berubah, lo gak seantusias dulu sama Aurora sejak keluar dari RS. Dan gue pernah ngedapetin lo merhatiin Lena diam-diam." Keyra menunjuk dada kiri Agra. "Sekeras apapun lo nyangkal, disini masih ada Lena."


Agra menggeleng, seolah memberitahu Keyra bahwa pikirannya salah namun cewek itu malah terkekeh sinis.


"Gue bakal kasih tau ini ke Aurora. Gue gak mau sahabat gue cuma dijadiin pelampiasan."


Mata Agra melotot. Ia cepat-cepat menahan Keyra yang hendak pergi. "Key, gue mohon, Key. Jangan kasih tau Aurora. Gue mohon."


"Enak aja lo. Kasian sahabat gue entar sakit hati karna cowok berengsek kayak lo."


"Iya gue emang brengsek, tapi pliiiiss ... jangan kasih tau Aurora dulu. Kasih gue kesempatan buat selesaiin urusan gue sama Lena. Gue mohon, Key ...."


Keyra melepas tangan Agra di lengannya. "Okey, gue kasih lo kesempatan. Tapi ingat, gue gak bisa nyegah kalau sampai Aurora tau dari orang lain."