[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
With Agra (2)



"Kenapa bawa gue ke hutan?" tanya Gadis itu sedikit takut karena mengira Agra akan macam-macam padanya.


Sementara yang ditanya hanya menunjukkan senyum miringnya membuat Aurora tambah ketakutan.


Agra menarik tangan Aurora memasuki yang katanya hutan itu membuat Aurora memberontak ingin melepaskan cekalan tangan Agra. Melihat gadis ini tak berhentinya memberontak Agra pun menghentikan langkahnya.


"Kenapa sih?" tanya nya bingung lalu menoleh kepada Aurora.


"Lo mau apain gue?" balas gadis itu was-was.


"Gak ngapa-ngapain" balasnya santai.


"Terus kenapa bawa gue ke hutan?"


Agra sedikit bingung lalu kemudian tergelak menertawai Aurora yang kini memasang wajah bingungnya melihat Agra ngakak.


"Kenapa lo ketawa?"


"Lo kira gue bakal macam-macam sama lo?" tanya pemuda itu lagi dengan sisa ketawanya.


"Ya-ya kan a-aneh aja lo bawa gue kesini" ucapnya dengan bibir mengerucut


"Gue gak nafsu sama lo. Datar gini juga" ucapnya lalu menarik Aurora masuk kedalam.


Aurora heran melihat ada pintu masuk didekat daun-daunan lebat itu. Agra pun membuka pintu itu lalu membawa Aurora masuk. Sesampainya didalam, mata Aurora membulat takjub begitupun dengan mulutnya yang sedikit terbuka melihat pemandangan didepannya ini.


Bagaimana tidak takjub? Ada tiga rumah pohon dengan ukuran sedang serta rumah-rumah diatas salah satu pohon yang berada didekat perbukitan. Pohon pohon yang rindang serta rumput yang lebat nan hijau. Dan tak lupa pula ada ring basket didekat salah satu pohon yang ada disana dimana tidak ada rumput dibawah pohon itu karena sudah diberi semen oleh pemiliknya.


"Awas lalat masuk ke mulut lo" ucap Agra lalu memukul pelan bibir Aurora dengan gemas.


"Ih apaansih!"


"Yuk ikut gue" ajak Agra berjalan didepan diikuti oleh Aurora. Agra berhenti tepat dibawah rumah pohon yang berada di posisi tengah. Aurora penasaran siapa pemilik ketiga rumah pohon ini. Bagaimana bisa ada ditempat terpencil seperti ini.


"Ini rumah pohon siapa?" tanya gadis itu sambil melihat ketiga rumah pohon tersebet bergantian.


"Punya gue sama duo kunyuk" jawabnya santai lalu menaiki tangga untuk sampai ke atas rumah pohon yang ada ditengah.


"Serius?" tanya gadis itu tak percaya.


"Hmm.. Yang sebelah kiri itu punya Alif, yang tengah gue, sedangkan yang satu lagi punya Deon."


"Kalian yang buat sendiri?" tanya gadis itu lagi setelah sampai diatas dan duduk bersila didekat Agra.


Agra terkekeh mendengar pertanyaan gadis itu. "Ya kali. Rumah pohon ini dibuat pas gue masih Tk sama tuh dua orang" jawabnya terkekeh.


"Gila... Berarti ini udah lama banget dong" ucap gadis itu takjub sehingga membuat Agra mengacak rambutnya gemas dan langsung ditepis oleh gadis itu.


"Hmm... Ini dibuat sama orang suruhan bokap gue. Dulu pas gue kecil, gue slalu main disini sama Alif, Deon juga." Balas pemuda itu seperti menerawang jauh ke masa lalu


"Terus sekarang?" tanya Aurora penasaran


"Sekarang gue juga sering kesini, kadang kalo gue bolos trus bosen di warung babe gue pergi kesini sama dua kunyuk. Gue juga biasa nginap disini bareng mereka kalo kita habis tawuran karena takut diomelin mama."


"Hehe... Ternyata lo takut sama nyokap lo juga yah" ucap gadis itu terkekeh membuat Agra ikut terkekeh.


"Hmm... Bahkan gue lebih takut nyokap dari pada bokap"


"Kenapa?"


"Bokap gue gak pernah ngelarang gue buat tawuran, berantem, balapan, atau mungkin bolos. Karena yang ada difikiran dia cuma gue harus dapet nilai yang baik dan gak bikin dia dan perusahaan malu."


"Trus kenapa pak Tono slalu ngancem lo pake embel-embel bakal laporin lo ke bokap lo?" tanya gadis itu semakin penasaran, karena memang selama ini pak Tono selalu mengancam Agra dengan alasan akan melapornya pada papa Agra.


Agra terkekeh lalu menatap gadis itu sekilas.


"Entah gue juga gak tau kenapa. Gue juga heran kenapa gue mau aja di ancem pake nama papa" jawabnya terkekeh.


"Aneh!"


"Tapi ada satu hal yang paling gue takutin dari papa" ucapnya lalu menatap Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apa?" tanya Gadis itu penasaran dan bingung karena Agra menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia jabarkan.


Agra hanya menatap Aurora lalu menghela nafas pelan dan kembali menatap pemandangan didepannya.


"Semoga aja ketakutan gue gak akan terjadi" ucapnya membuat Aurora semakin penasaran dan bingung.


"Emang apaan?" tanya gadis itu dengan alis mengkerut bingung.


"Udah gak usah difikirin" jawabnya lalu berdiri dari duduknya membuat Aurora menatapnya keatas.


"Yuk ikut gue?" ajaknya lalu menuruni tangga


"Kemana?"


"Kerumah-rumah yang ada dipohon itu" jawabnya setelah sampai dibawah lalu menunjuk rumah rumah yang ada di sebelah rumah pohon Deon.


Aurora pun menuruni tangga lalu mengikuti langkah Agra.


"Mau ngapain?"


"Udah lo naik aja dulu" suruhnya pada Aurora. Gadis itu pun menaiki tangga lalu duduk diatas rumah-rumah itu dengan kaki menjuntai kebawah disusul oleh Agra yang juga menaiki tangga lalu duduk disampingnya dengan posisi yang sama dengan gadis itu.


"Lo suka senja?"


"Hmm.. Lumayan"


"Tunggu beberapa menit lagi senja bakal keliatan dari sini"


"Serius?" tanya gadis itu dengan mata berbinarnya.


Agra tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


"Graa gue boleh tanya sesuatu sama lo?" tanya Aurora setelah lama diam.


"Tanya aja"


"Lo ada hubungan apa sama Rey?" tanya gadis itu hati-hati.


Agra menoleh sekilas ke Aurora lalu menatap kedepan. Dan menghela nafas berat.


"Musuh gue" jawabnya datar.


"Musuh?" Agra mengangguk.


"Kok?" tanya gadis itu tertarik.


"Rey itu ketua geng Diamond's Black musuh geng gue. Gengnya dia slalu aja cari gara-gara sama geng gue. Mereka slalu ngajak balapan ujung-ujungnya mereka yang kalah terus balas dendam dengan nyerang skolah, lebih tepatnya tawuran." jelas Agra panjang lebar.


"Tapi Rey orang nya baik kok" jawab Aurora seperti menerawang saat ia bersama Rey membuat Agra tersenyum sinis.


"Gue kan udah bilang sama lo, jangan liat orang dari covernya. Itupun kalo lo gak lupa. Cewek pikun!" balas Agra diakhiri dengan ejekan yang mengatakan Aurora adalah cewek pikun.


"Kan gue udah bilang gue gak pikun" jawabnya dengan bibir mengerucut.


"Iya... Iya gak pikun kok."


"Lo masih sering berantem sama Rey?"


"Akhir-akhir ini udah enggak. Tapi beberapa hari lalu gue sempet balapan sama Leon, salah satu anggota DB yang paling songong. Tapi yang gue bingungin kenapa Rey gak ada disana? Padahal tuh orang gak perna absen kalo soal balapan." jawabnya panjang lebar dengan raut wajah bingung diakhir kalimatnya saat membahas Rey.


"Lo yang menang?"


"Yah jelaslah" sombong Agra dengan menyisir rambutnya kebelakang membuat Aurora mendengus malas.


Aurora memalingkan pandangannya dari Agra karena malas melihat muka sombong Agra. Setelah memalingkan wajahnya, mata gadis itu berbinar antusias melihat siluet jingga yang sangat memanjakan mata di depan sana.


"Agra! Itu senja nya udah keliatan!" ucapnya antusias lalu menepuk bahu Agra agar pemuda itu juga melihatnya.


"Lo suka senja?" tanya pemuda itu. Bukannya menikmati senja, pemuda itu hanya menikmati ekspresi bahagia gadis disampingnya ini.


"Tapi lo lebih cantik" celutuk Agra membuat pipi Aurora nampak sedikit merah namun masih bisa dilihat oleh Agra membuat pemuda itu terkekeh.


"A-apaansih lo" balas nya kikuk.


"Pipi lo kenapa merah?" tanya Agra dengan mengulum senyum.


Refleks Aurora memegang pipinya dengan mata membulat lucu membuat Agra gemas.


"Lo tambah cantik kalo lagi blushing" ucap pemuda itu lagi-lagi menggoda Aurora, membuat kedua pipi gadis itu semakin memerah.


"Agra udah deh.." ucap gadis itu memelas.


"Lo bisa blushing juga tertanya"


"Siapa yang blushing?!" elak gadis itu tak menatap Agra, bisa-bisa pipinya tambah merah jika melihat Agra yang kini terus menggodanya.


"Trus pipi lo kenapa merah?" goda Agra lagi.


Dengan kesal Aurora pun menghujami perut Agra dengan cubitan mautnya, yang membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Brenti gak?" ancam gadis itu dengan terus mencubit perut Agra.


"Aw.. Sshh.. I-iya brenti kok.. Adaww.."


Gadis itu pun menghentikan aksinya lalu memalingkan wajah nya kesal. Sementara Agra masih mengelus-elus perut sixpack nya yang terkena cubitan manja dari Aurora. Eh?


Mereka berdua sama-sama diam menikmati pemandangan siluet jingga kemerah-merahan itu. Meskipun mereka saling diam, namun tak ada rasa canggung sedikit pun. Entah ini hanya perasaan mereka atau hanya pemikiran mereka, yang jelas kedua insan yang tak pernah akur itu kini menjadi dekat.


Agra Fransisco Demiand, pemuda yang memiliki segalanya. Harta, Tahta, Paras Rupawan, serta otak yang jenius membuatnya menjadi rebutan gadis-gadis diluar sana. Namun entah mengapa hatinya hanya nyaman kepada satu gadis yang jauh dari kriterianya.


Aurora Mauren gadis dengan segala kesederhanaannya dan keberaniannya yang membuat ia terjebak dalam dunia sang Pewaris Tunggal dari Demiand Corp. Wajahnya yang cantik nan manis membuat siapa saja yang melihatnya dapat tertarik apalagi jika ditambahkan dengan senyuman tulus nan menenangkannya yang menjadi favorit sang Pewaris Tunggal. Gadis itu tak pernah menyangkah akan sedekat ini dengan pemuda yang notabenenya adalah teman bertengkarnya, yang awalnya gadis itu benci karena sikap angkuhnya kepada orang miskin. Namun entah karena apa gadis itu merasa nyaman saat bersama dengan pemuda itu apalagi jantungnya yang selalu berdetak lebih cepat saat ditatap oleh pemuda itu.


"Aurora..?" panggil Agra pelan, setelah lama mereka terdiam dengan fikiran masing-masing.


"Hm?" dehemnya tanpa menatap Agra.


"Lo suka matahari?" tanya Agra sambil menatap wajah Aurora dari samping.


Pertanyaan Agra membuat Aurora bingung. Kenapa tiba-tiba Agra bertanya tentang matahari? Apa karna kini sekarang ia sedang terlihat sangat menikmati senja sampai-sampai ia menanyakan tentang matahari?


"Kenapa emangnya?" tanya balik Aurora membuat Agra mendengus kesal, karena jika gadis itu ditanya ia tak pernah langsung menjawab.


"Nanya aja" balasnya cuek.


"Gue suka" jawab gadis itu menatap lurus kedepan.


"Kenapa?"


"Karna matahari slalu ngasih kehangatan ke semua manusia, meskipun pada waktu tertentu dia digantikan oleh malam"


"Kalo hujan lo suka?" tanya Agra lagi membuat Aurora tambah bingung. Apa hubungannya coba Hujan dan Matahari?


"Emang kenapa sih?" kesal Aurora.


"Ck... Udah jawab aja"


"Iya gue juga suka hujan"


"Kenapa?"


"Karena hujan bisa nenangin perasaan seseorang yang ngerasain sejuknya hujan"


Agra hanya manggut-manggut mendengar jawaban gadis disampingnya ini.


"Kenapa emangnya?" tanya Aurora bingung dan menoleh memandang Agra.


"Nanya aja.. Hehe" jawab pemuda itu diakhiri kekehannya


"Ishhh.." kesal gadis itu membuat Agra tertawa kecil. Perasaan satu harian ini pemuda itu lebih banyak tertawa, tidak biasa seperti nya yang hanya tertawa kecil atau tersenyum tipis saat bersama Alif ataupun Deon.


Agra bangkit dari duduk nya lalu mengulurkan tangannya ke Aurora.


"Kemana?" Tanya gadis itu saat Agra mengulurkan tangannya.


"Pasar malam"


Pernyataan Agra barusan sontak membuat gadis itu berdiri tanpa membalas uluran tangan Agra membuat sang empunya menarik kembali tangannya dengan wajah datar.


"Ayoo.. Gue udah lama gak kesana" ajak gadis itu antusias bahkan karena terlalu antusias nya ia mendahului Agra turun dari atas sana, membuat pemuda itu menggelengkan kepala miris.


"Dasar cewek bar-bar" gumam Agra pelan. Entah sudah berapa julukan yang Agra punya untuk gadis itu.


Sesampainya dibawah Agra menatap kebawah tepat disepatu gadis itu, ternyata tali sepatu milik gadis itu terlepas sebelah.


"Ra tali spat-". Baru saja ingin memberitahukan gadis itu bahwa tali sepatunya terlepas sebelah, gadis itu malah sudah pergi duluan meninggalkan Agra.


"Ra jangan lari!! Nanti lo ja-"


Bruukk..


"Tuh..."


Aurora meringis ditempatnya akibat lutut nya yang sedikit mengeluarkan darah. Agra berlari menyusul gadis itu dengan wajah kesal bercampur khawatirnya karena Aurora tidak mendengarkannya dan akhirnya ia jatuh.


"Sshh... Perihh" gumam gadis itu kesakitan.


"Gue kan udah bilang jangan lari. Lo sih bandel!" omel Agra lalu memapah Aurora ketempat duduk yang ada di bawah rumah pohon. Setelah itu Agra kembali naik kerumah pohonnya untuk mencari sesuatu.


5 menit kemudian Agra turun dari rumah pohonnya dengan kotak P3K di tangannya. Pemuda itu lalu menghampiri Aurora yang kini meniup-niup lututnya. Setelah sampai disana Agra berlutut didepan Aurora lalu membuka kotak P3K yang ia letakkan disampingnya.


Pemuda itu membersihkan luka Aurora dengan kapas lalu memberikan sedikit betadine dan plaster obat. Setelah selesai ia pun menyimpan kotak P3K itu dibawah tempat duduk yang diduduki Aurora. Lalu duduk disamping gadis itu.


"Gimana? Masih perih?" tanyanya memastikan yang dibalas gelengan oleh gadis itu.


"Ya udah yuk." ajaknya lalu berdiri dari duduknya diikuti oleh Aurora.


"Gra? Jadikan kepasar malamnya?" tanya Aurora pelan karena takut Agra membatalkan rencananya untuk kepasar malam.


Agra terkekeh lalu mengacak rambut Aurora gemas. "Kaki lo?"


"Gak sakit kok" jawab gadis itu cepat.


"Yaudah... Kita kepasar malam"


"Yeyyy" seroknya girang.


"Semangat banget kepasar malam" ucap Agra sambil berjalan beriringan dengan Aurora ke motor mereka.


"Hm... Terakhir gue kepasar malam itu pas kelas 3 SMP sama Keyra"


"Kenapa?" tanya Agra lagi sambil memberikan jaketnya ke Aurora dan manaiki motornya, diikuti Aurora yang mengikat jaket milik Agra dipinggangnya.


"Sibuk kerja" jawabnya lalu naik keatas motor Agra.


"Gak pernah cuti?". Motor sport itu kini kembali membelah kota Jakarta menuju pasar malam.


"Pernah. Tapi gue gunain buat tidur" jawab gadis itu di boncengan Agra.


"Kok?"


"Ya biasa nya gue kerja sampe malam. Itupun kalo gak ada tugas sekolah gue bisa tidur cepet."


Agra diam mendengar ucapan Aurora. Ternyata hidup gadis itu lebih berat dari yang ia bayangkan. Hidup sendiri tanpa adanya keluarga di samping gadis itu. Bekerja hingga larut malam. Serta tidur yang tidak cukup. Ah, memikirkan itu saja membuat Agra benar-benar bersalah pada gadis itu karena sering menghinanya.


"Ra!!" panggil Agra sedikit teriak karena suara bising kendaraan lainnya.


"Iya?!" sahut Aurora juga dengan sedikit teriak.