![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Keyra menggigit kukunya khawatir ketika beberapa menit lagi bel masuk akan berbunyi namun ia tidak menemukan Aurora di mana-mana. Ponsel sahabatnya itu juga sedang tidak aktif, membuat Keyra kesulitan menghubunginya. Diperpustakaan tidak ada, padahal Aurora tadinya bilang mau ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas.
"Ya ampun, Ra, lo di mana sih? Hobi banget deh buat gue khawatir!" gerutu Keyra masih mencoba menghubungi Aurora namun masih sama seperti di awal. Nihil.
Bel akhirnya berbunyi. Semua siswa mulai memasuki kelas dan tak lama guru yang mengajar di kelasnya menyusul.
"Loh, Aurora mana? Perasaan tadi pagi Ibu ngeliat dia di koridor."
Aurora itu duduk paling depan dan menjadi siswa yang lebih mencolok diantara yang lain karena kecerdasannya. Tentu saja tidak hadirnya pemilik bangku itu mudah dideteksi oleh para guru yang kebetulan mejanya berdekatan dengan bangku Aurora.
"Keyra, Aurora mana?" Duh, Keyra tidak tahu harus menjawab apa. Tas Aurora saja ada di sana. "Emm, anu Bu. Itu, Em ... Aurora tadi sakit perut, iya! Jadi minta saya buat izinin ke Ibu. D-dia lagi di UKS Bu. Iya."
Keyra baru bisa bernapas lega saat guru itu mengangguk, percaya pada alasannya.
***
Aurora memilih pulang ke rumah. Ia tidak punya semangat lagi untuk belajar. Matanya pun sembab. Keyra pasti akan merecokinya dengan rentetan pertanyaan menyebalkan jika melihatnya. Saat ini, Aurora hanya ingin sendiri. Menikmati rasa sakit yang diberikan Agra padanya.
Tanpa melepas seragam sekolahnya, ia berbaring menyamping di karpet berbulu daket ranjangnya. Ia tidak lagi mengeluarkan air mata. Aurora hanya diam dengan tatapan kosong pada bulu-bulu karpet.
Ribuan pertanyaan menari-nari di kepalanya. Jadi ini jawaban Lena berada di rumah sakit saat itu dan Agra tidak memperkenalkan Aurora sebagai pacar? Jadi ini alasan mengapa Agra tampak sangat cemas ketika Lena pingsan? Jadi ini jawaban dari setiap foto di akun gosip sekolah? Jadi ini jawaban mengapa Aurora merasa aneh dengan keduanya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang membuat kepalanya sakit serasa ingin pecah.
Dering di ponselnya Aurora abaikan, ia benar-benar tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini. Sampai sepersekian menit kemudian, pintu kamarnya dibuka kasar. Sial, ia lupa mengunci pintu!
"ASTAGA RARA! GUE PIKIR LO KEMANA TERNYATA MALAH ASIK REBAHAN! SIAPA YANG NGAJARIN LO BOLOS, HAH?! AGRA?! DASAR YA TUH ORANG!!"
Keyra tanpa tahu apa-apa merocos begitu saja dengan hebohnya dan langsung menidurkan dirinya di samping Aurora. Barulah saat itu ia sadar kalau nyatanya Aurora bukan asik rebahan.
"Ra, mata lo kenapa sembab gitu? Lo kenapa?" Keyra bangun mendudukkan dirinya. Mengguncang pelan bahu Aurora yang tampak tak bernyawa. "Ra, jawab gue. Jangan diema aja dong. Hey!"
Mata Aurora bergulir menatap Keyra. Detik berikutnya tangis Aurora kembali pecah. Membuat Keyra cepat-cepat memeluknya, menenangkannya. "Kenapa, hm? Lo kangen sama orang tua lo?"
Aurora masih sesegukan dipelukan Keyra ketika ia menyebutkan nama Agra. Satu nama yang membuat Keyra langsung paham tanpa harus Aurora jelaskan secara rincin.
"Berengsek. Dia nepatin janji buat lepasin masa lalunya," gumam Keyra tanpa sadar bahwa Aurora mendengarnya.
Saat Aurora langsung melepas pelukannya, barulah Keyra sadar akan perkataannya dan merutuki dirinya.
"Maksud lo dia gak nepatin janji apa, Key?"
"Ra, maksud gue it-"
"Jadi lo udah tau? Lo udah tau siapa Lena buat Agra dan lo malah sembunyiin ini dari gue?" Aurora memandangnya tidak percaya. "Lo tega sama gue, Key?"
"Ra, gak gitu. Gue bukannya mau nyembunyiin ini dari lo. Tapi-"
"Stop!" sela Aurora. Perasaan muak tiba-tiba menghampirinya. "Keluar dari rumah gue. Gue mau sendiri sekarang."
"Ra, plis... gue-"
"Keluar, Key!"
"Ra-"
"Keluar atau-"
"Okey, gue keluar." Dengan berat hati Keyra keluar dari kamar Aurora.
Menyisakan Aurora yang kembali menangisi kepedihannya. Ia dikecewakan berkali-kali.