[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Garis Terdepan



"Key kasi tau Agra yah kalo gue gak bisa pulang bareng dia." ujar Aurora yang nampak terburu-buru membereskan alat tulisnya kedalam tas.


"Emang mau kemana? Buru-buru amat," balas Keyra heran, tak biasanya Aurora seburu-buru itu.


"Udah, kasi tau aja yah. Dahh!" Keyra ingin kembali bertanya tapi Aurora sudah hilang dibalik pintu kelas. Hati dan pikiran Keyra terus bertanya-tanya. Ada apa dengan sahabatnya itu? Kenapa seperti sangat buru-buru?.


Keyra mengangkat bahunya acuh lalu menyampirkan ranselnya ke bahu dan keluar dari kelas. Tetapi saat di ambang pintu ia bertemu dengan Agra.


"Astaga Agra! Ngagetin banget sih!" pekiknya kaget.


"Santai aja kali," balas Agra memutar bola matanya malas.


"Mau ngapain lo kesini?"


"Cari cewek gua lah."


"Rara maksud lo?"


Agra mendengus kesal lalu menjawab.


"Yaiyalah Keyraaaa. Emang cewek gue selain Rara siapa?"


"Gue kirain Lena." balas Keyra santai membuat Agra menatapnya tajam.


"Kenapa natap gue kek gitu? Gak suka?" tantang Keyra membuat Agra menghela nafas.


"Gue lagi gak mood buat debat. Cepat kasi tau gue mana Rara."


"Udah pulang duluan."


"Hah?"


"Ck! Udah pulang duluan Raranya tuan Demiand yang terhormat! Budek!!"


"Kok gak ngasih tau gue sih?" gumam Agra heran, baru kali ini Aurora pulang sendiri tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.


"Kan ini udah dikasih tau" polos Keyra membuat Agra menyentil pelan jidatnya.


"Maksud gue Rara yang gak ngasih tau ogeb!"


"Hehe... Mungkin dia gak sempet ngasih tau, soalnya dia keliatan buru-buru banget."


"Buru-buru?" beo Agra yang mendapat anggukan dari Keyra.


"Gue duluan yah Gra, jemputan gue dateng nanti."


"Ah? Oh iya lo duluan aja."


Setelah Keyra pergi, Agra juga ikut meninggalkan kelasnya, di sepanjang koridor Agra nampak tengah memikirkan sesuatu, apalagi kalo bukan Aurora?


"Rara kemana yah? Kok sampe gak ngasih tau gue?" gumam Agra bertanya entah pada siapa. Dirinya hanya bingung pada Aurora, tak biasanya gadis itu seperti ini, biasanya walaupun sepenting apapun urusannya ia pasti selalu memberi tahu Agra.


Untuk menghilangkan rasa bingungnya, Agra pun berinisiatif menelfon nomor Aurora. Namun sayang, setelah beberapa kali mencoba menghubunginya yang terdengar hanyalah suara perempuan alias operator.


Sekarang Agra merasa cemas, dimana Aurora? Kalo sampai beberapa kejadian lalu terulang lagi, apa yang harus Agra lakukan?


Dengan segala kecemasannya Agra pun berlari terburu-buru ke arah parkiran, kejadian-kejadian dimana Aurora diganggu penjahat terulang dikepalanya. Ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika benar, Aurora kenapa-napa.


Sesampainya diparkiran Agra memakai helm dengan terburu-buru, baru saja ia menstater motornya dan berniat melajukan motor sport hitam itu, namun suara seseorang membuat kegiatannya tertunda dan membuat dirinya mengumpat kesal.


"Agra!" teriak gadis yang saat ini tak ingin Agra lihat wajahnya.


"Sial!" umpat Agra kesal.


"Agra udah mau pulang yah?" tanya gadis itu, dia adalah Lena, tunangan Agra.


"Gak! Gue mau boker dulu!"


"Tapi kenapa kamu pake helm? Terus ngapain diatas motor?"


"Udah tau malah nanya lagi!" sentak Agra membuat Lena sedikit takut.


"A-agra... Aku boleh nu-numpang pulang sama kamu?" tanya Lena sedikit takut habis dibentak Agra.


Agra terkekeh sinis.


"Lo kan kaya. Telfon aja sana supir pribadi lo!"


"Ta-tapi papa kamu bilang, pulangnya harus sama kamu"


Diam-diam Agra menggertakkan giginya kesal. Ia sedang buru-buru karena menghawatirkan Aurora, dan sekarang gadis sialan ini malah mengulur-ngulur waktunya.


"Gue gak bisa. Gue ada urusan penting!" dingin Agra.


"Kalo kamu gak mau aku laporin sama papa kamu!" ancam Lena membuat Agra ingin sekali memakannya hidup-hidup.


"Sabar Gra! Dia cewek!"


"Naik!" suruh Agra datar membuat Lena diam-diam tersenyum miring tanpa Agra ketahui.


"Sayangnya aku tau kelemahan kamu Agra!" batin Lena menyeringai.


***


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di depan sebuah rumah besar yang menjulang tinggi berwarna putih. Aurora berdiri didepan gerbang rumah itu dan nampak seperti mencocokkan sesuatu di kertas yang ia pegang dan rumah dihadapannya.


"Ini udah bener kok alamatnya. Tapi kenapa sepi banget?" gumam Aurora heran, pada rumah mewah nan sepi ini.


"Assalamualaikum. Permisi!" teriak Aurora berharap ada seseorang yang keluar dari balik gerbang besi berwarna hitam itu.


"Permisi!" teriak Aurora lagi, namun hasilnya nihil, tak ada yang keluar dari balik pagar itu. Aurora tak putus asa ia terus berteriak meneriakkan kata permisi, dan tak lama kemudian seorang wanita parubaya yang sepertinya adalah asisten rumah ini pun keluar.


"Maaf. Nyari siapa yah non?" tanya wanita paru baya itu.


"Bibi asisten rumah tangga disini?"


"Iya. Ada apa yah non?"


"Gak kok bi. Saya cuma mau nanya, ini benar kediaman keluarga Erlangga?"


"Iya, sebelumnya ada apa yah datang kemari?"


"Saya bisa ketemu dengan Rey?... Ah maksud saya Reynald Erlangga."


"Tuan Rey? Maaf tapi non ini siapa nya?"


"Saya temennya Rey bi."


"Oh yaudah non, mari ikut saya."


Aurora pun mengangguk dan mengikuti wanita parubaya itu masuk kedalam rumah mewah milik keluarga Erlangga. Yah itu adalah rumah Reynald Erlangga.


Mata Aurora takjub saat masuk kedalam rumah mewah itu, desain unik yang begitu terlihat mewah, serta pernak-pernik rumah ini nampak seperti emas sungguhan.


"Non duduk dulu yah. Saya mau panggilkan tuan muda dulu." ujar pembantu bernama bi Asih itu.


"Iya bi." setelah kepergian bi Asih, Aurora mengedarkan pandangannya pada rumah mewah ini. Di beberapa lemari dan tembok terdapat beberapa bingkai foto pernikahan dan juga bingkai foto keluarga, namun ada satu foto yang menarik perhatian Aurora. Foto anak kecil yang sedang memakan es krim. Itu pasti Rey. Pikir Aurora.


"Mauren?" suara berat orang itu mengagetkan Aurora. Ia pun menengok ke arah suara.


"Eh Rey. Maaf yah gak bilang dulu mau kesini," kikuk Aurora.


"Santai aja kali," balas Rey dengan terkekeh yang membuat Aurora bingung lagi, tadi disekolah Rey dingin padanya, lah sekarang?


"Oh iya mau minum apa?" tanya Rey membuat Aurora sadar dari lamunannya.


"Eh gak usah. Sebenarnya gue ke sini cuma mau ngobrol aja sama lo,"


Rey pun mengangguk lalu berdiri dari duduknya membuat Aurora menatapnya bingung.


"Kalo mau ngobrol, kita ke taman belakang aja yuk! Disana enak ngobrolnya."


"Oke!"


***


"Ren, katanya mau ngobrol, ini kok kita diem-dieman aja yah?" canda Rey berusah mencairkan susana yang canggung.


"Hehe iya lupa." cengir Aurora membuat Rey mengacak rambut gadis itu gemas.


"Dasar pikun!"


"Ishh gue gak pikun tau! Tapi emang suka lupa aja." balas Aurora tak mau kalah yang mendapat tawa dari Rey. Pikun sama suka lupa bedanya apa coba?  Pikir Rey.


"Iya deh yang gak pikun tapi suka lupa." ejek Rey membuat Aurora mengerucutkan bibirnya kesal.


Rey tertawa melihat ekspresi menggemaskan Aurora lalu mencubit pipi gadis yang kini masih berkuasa di hatinya.


"Mau ngobrolin apa Ren sampe dateng ke rumah gue?" tanya Rey setelah menetralkan tawanya.


"Gak penting kok. Gue cuma heran aja sama lo"


"Heran gimana?"


"Yah heran aja. Tadi di sekolah lo kayak cuek terus dingin banget sama gue"


"Masa sih?"


Aurora memberenggut kesal lalu menabok pelan lengan Rey membuat pemuda itu terkekeh. Aurora benar-benar penghibur terbaiknya.


"Ck, Sok lupa lo! Tadi gue takut tau liat lo kek gitu, gue kira lo marah sama gue." Rey tersenyum menatap Aurora yang mengomel, terlihat sangat menggemaskan dimata Rey. Jadi ada yang tahu bagaimana cara agar Rey bisa move on dari gadis menggemaskan ini?


Rey menghela nafas lalu mengelus rambut Aurora, reaksi Aurora hanya biasa saja, karena baginya Rey sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, kakak yang selalu melindunginya dan ada disaat ia butuh tanpa diminta.


"Gue kek gitu karna gue ngerasa gak becus aja" jawab Rey menunduk yang membuat Aurora bingung.


"Gak becus apa maksud lo?"


"Yah gue ngerasa gak becus aja ngejagain lo. Gue gak bisa bayangin gimana jadinya kalo malam itu gue gak ada buat nolongin lo. Gu-" omongan Rey terpotong digantikan dengan rasa terkejut saat Aurora tiba-tiba memeluknya.


"Lo gak usah ngerasa gak becus atau apapun. Karna tanpa lo sadar, lo adalah orang yang selalu lindungin gue dengan sangat baik. Harusnya gue yang merasa bersalah karena waktu itu gue sempet bentak lo pas mukulin Agra. Tapi jujur, biarpun gue kecewa sama Agra, gue gak tega juga liat dia disiksa kek gitu."


Perlahan tangan Rey bergerak untuk membalas pelukan Aurora. Dadanya bergemuruh hebat kalah Aurora tiba-tiba memeluknya tanpa ia minta.


"Maaf karna udah nyakitin orang yang lo sayang" ujar Rey, rendah.


"Lo gak salah. Agra juga gak salah. Gak ada yang salah disini. Lo lakuin itu ke Agra karna lo ngerasa Agra gak becus jagain gue dan Agra juga pasti punya alasan kenapa malam itu dia gak dateng"


Aurora melepaskan pekukannya lalu menatap Rey dengan tersenyum.


"Rey, makasih yah lo udah lindungin gue dan lo slalu ada saat gue butuh tanpa gue minta sama lo. Gue.... Sayang sama lo" ujar Aurora tulus membuat hati Rey menghangat saat Aurora berkata bahwa ia menyayanginya.


"Sebagai kakak gue." lanjut Aurora membuat hati yang tadinya menghangat kini terasa teremas. Dadanya kembali berdenyut perih. Dalam hati Rey menertawakan dirinya. Apa yang ia pikirkan? Apakah ia berpikir bahwa Aurora menyayanginya lebih dari itu? Ayolah Rey! Aurora sudah punya Agra.


Rey memaksakan senyumnya lalu mengacak rambut Aurora.


"Gue janji akan slalu lindungin elo dan selalu ada buat lo, kapan pun lo mau" ucap Rey tulus lalu turun dari ayunan itu.


"Mau kemana?" tanya Aurora saat Rey turun.


"Tunggu bentar yah gue mau ngambil sesuatu" jawabnya lalu pergi begitu saja.


Lima menit kemudian Rey kembali dengan gitar yang berada ditangan kanannya.


"Gitar?" gumam Aurora.


"Duduk di rumput yuk Ren." ajak Rey yang diikuti oleh Aurora.


"Lo mau nyanyi?"


"Gak. Gue mau nangis."


"Ishh, Rey gue serius!"


"Hehe iyalah mau nyanyi emang mau apaan kalo megang gitar?"


"Hehe siapa tau ajakan cuma megang doang."


Rey menggelengkan kepalanya dan terkekeh lalu mulai memetik senar gitarnya. Pandangannya tertuju pada Aurora yang duduk sila didepannya.


Bilur makin terhampar


Dalam rangkuman asa..


Kalimat hilang makna, logika tak berdaya


Di tepian nestapa, hasrat terbungkam sunyi


Entak aku pengecut, atau kau tidak peka...


Ku mendambakanmu, mendambakanku..


Bila kau butuh telingah tuk mendengar..


Bahu tuk bersandar, raga tuk berlindung..


Pasti kau temukan aku di garis terdepan


Bertepuk dengan sebelah tangan...


Kau membuatku yakin, malaikat tak slalu bersayap..


Biar saja menanti tanpa batas, tanpa balas


Tetap menjelma cahaya di angkasa


Yang sulit tertampik, dan sukar tergapai


Ku mendambakanmu, mendambakanku


Bila kau butuh telinga tuk mendengar..


Bahu tuk bersandar, raga tuk berlindung..


Pasti kau temukan aku digaris terdepan...


Meski hanya sebatas teman...


Yakin kau temukan aku di garis terdepan..


Bertepuk dengan sebelah tangan~~


Melodi indah dari gitar milik Rey berhenti setelah lagu tersebut telah selesai Rey nyanyikan. Kini Rey beralih menatap Aurora yang terdiam menatapnya seolah menanyakan sesuatu.


"Ren? Kok bengong?"


"Maksud lagu ini apa?" tanya Aurora datar membuat Rey diam-diam menelan saliva nya, apakah sudah seharusnya Aurora tahu tentang perasaannya.


"Ma-maksud lo apaan sih Ren? Ini cuma lagu biasa. Gue cuma is-"


"Gue gak suka dibohongin Rey!" dingin Aurora membuat Rey menghela nafas lalu meletakkan gitarnya di rumput tempat ia duduk.


"Gu-gue harap setelah lo tau ini, lo gak akan benci sama gue." Aurora tidak menyahut ia hanya diam menatap datar Rey. Aurora merasa lagu yang dinyanyikan Rey tadi adalah ungkapan hati Rey, tapi ada yang tidak Aurora pahami dari beberapa lirik dari lagu milik Fiera bessari itu.


Rey menghela nafas dalam-dalam lalu menatap tepat dimanik mata coklat Aurora, mata yang selalu membuat jantungnya berdetak cepat dan tak berani menatap mata itu lama-lama.


"Gue sayang sama lo." ujar Rey dengan satu kali tarikan nafas.


"Gue juga sayang sama lo, karna lo udah gue anggep sebagai kakak gue sendiri. Yang gue tanyain apa maksud lagu yang lo bawain tadi?"


"Gue sayang sama lo bukan seperti seorang kakak ke adiknya. Tapi rasa sayang seorang laki-laki untuk lawan jenisnya."


"Lebih tepatnya gue cinta sama lo... Mauren."