![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
"Rara?!" Rasanya, Agra ingin lenyap sekarang juga. Jantungnya sudah tidak karuan. Bayangan-bayangan di mana Aurora meninggalkannya mulai bergentayangan menghantuinya. Secepat kilat ia menghampiri Aurora dan hendak memegang tangan cewek itu namun Aurora dengan cepat menghindar.
"Kenapa? Kenapa nyamperin aku? Kamu udah dapat jawabannya, Gra. Kamu harus milih Lena karna aku milih mundur."
"Ra, dengerin gue dulu. Lo salah paham, gue gak-"
"Gue gak salah paham, Agra. Gue emang pantes mundur. Karna keberadaan gue salah. Kalian emang harusnya bersama, ngelanjutin hubungan kalian. Gue gak mungkin ngerusak hubungan orang."
Agra tampak frustasi. Ia benar-benar bingung bagaimana harus menjelaskannya dan mulai dari mana. Wajah sembab Aurora telah mengatakan bahwa cewek itu mendengar semuanya dari awal.
Sementara Lena, hanya diam membisu. Ia sebenarnya tidak tega pada Aurora mengingat bagaimana besarnya cinta Aurora pada Agra. Tapi Lena juga tidak ingin kehilangan Agra. Ia sudah menunggu bertahun-tahun untuk pertemuan ini. Ia tidak ingin penantiannya sia-sia kalau sampai Agra berakhir dengan cewek lain.
"Rara sayang, plis jangan nyimpulin hal yang enggak-enggak. Gue sayang banget sama lo."
"Iya, gue tau lo sayang sama gue. Tapi gue juga tau kalo lo sayang sama Lena. Yang dibilang Lena benar, Gra. Lo gak bisa sama dua cewek sekaligus. Lo harus milih."
Agra menggeleng kuat. Ia berkali-kali mendekati Aurora ingin menggenggam tangan cewek itu agar tidak meninggalkannya namun berkali-kali juga Aurora menghindar.
"G-gue gak bisa, Ra. Gue sayang sama lo, tapi gue gak bisa ngelepas Lena. Susah. Gue udah coba berkali-kali tapi tetap gak bisa."
Lena menunduk. Wajah terluka Aurora menyentil perasaannya sebagai sesama cewek. Tapi otaknya tetap menyuruh Lena untuk egois. Agra sejak dulu adalah miliknya, maka selamanya akan seperti itu.
"Ra, gue mohon jangan bilang gitu. Gue bakal ngelakuin apa aja biar lo bisa maafin gue asal jangan minta gue buat ngelepas lo. Gue gak bisa." Agra sangat ingin menangis, tapi airmatanya tidak ingin keluar. Hanya rasa sesak juga takut yang begitu besar yang ia rasakan.
Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Aurora. Cewek itu sudah banyak mengambil peran dalam hidupnya. Ia sudah menjadi separuh jiwa Agra. Tapi keberadaan Lena benar-benar mempengaruhinya. Rasa rindu itu selalu ada setiap menatap mata Lena.
"Gue gak berharap lo ngelakuin apapun, Gra. Gue cuma mau, lepasin gue. Dan bahagia sama Lena. Gue egois kalo mau milikin lo sendiri padahal Lena udah setia banget nungguin lo sampe bertahun-tahun."
"Ra ... plis. Aku mohon, maafin aku. Kasih aku kesempatan buat buktiin semuanya. Aku mohon."
Aurora menggeleng sembari menyeka air matanya. "Ngasih kamu kesempatan itu sama aja menunda-nunda perpisahan dan rasa sakit. Semuanya bakal tetap sama."
Kali ini, Aurora mendekat. Tetapi bukan pada Agra, melainkan kepala Lena. Ia tersenyum pada cewek yang juga menatapnya itu.
"Len, jaga Agra baik-baik, ya. Gue tau lo bahkan jauh lebih mengenal dia dibanding gue."
Agra memalingkan wajahnya saat Aurora memeluk Lena. Saat itu juga, setetes air mata Agra jatuh.