[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Persiapan



"Mama udah bilang ini dari awal, Gra. Semua ada di kamu. Kamu yang pegang kendali. Tapi kamu mungkin gak dengerin apa kata Mama hari itu di meja makan. Kalau kamu harus tegasin hati kamu biar gak ada yang tersakiti atau kalian bertiga sama-sama luka."


Agra menunduk mendengar Citra yang hari ini datang menjenguknya. "Mama gak bakal salahin sikap Aurora ke kamu, karna kalau pun Mama yang jadi dia, Mama pasti bakal ngelakuin hal yang sama."


"Ma-"


"Dia pasti kecewa banget, Gra, karna merasa kalo kamu nge-khianatin dia. Dia udah ngasih semua cintanya buat kamu, tapi kamu justru bohongin dia. Buat kamu masih sering pergi berdua sama Lena saat kamu masih pacaran sama Aurora, hm?"


"Ma aku-"


"Gak usah ngasih alasan. Mata sama telinga Mama ada dimana-mana buat kamu. Kamu pikir Mama gak tau kelakuan kamu di belakang Aurora? Kamu pergi sama Lena, kamu berduaan sama Lena, kamu asik-asikan sama Lena bahkan mungkin kalo udah sama Lena kamu lupa Aurora itu siapa."


Agra semakin menunduk. Semua yang dikatakan Citra sama sekali tidak ada yang salah. Mamanya benar bahwa ia kerap kali menghabiskan waktu bersama Lena tanpa sepengetahuan siapa pun.


"Sekarang, kamu selesaiin masalah kamu sendiri, jangan diem aja. Kamu udah gede, udah dewasa, Mama gak mau kamu cuma diem aja meratapi nasib seolah-olah kamu yang paling tersakiti."


Helaan napas berat Agra terembus. Ia menatap Citra dengan pandangan sendu. "Agra udah berusaha buat bicara sama Aurora, Ma. Tapi dia gak mau dengerin aku. Dia gak mau ngasih Agra kesempatan buat buktiin semuanya."


"Ya itu urusan kamu. Cari caralah gimana biar Aurora mau dengerin kamu."


Kepala Agra terangguk lesu. Kemudian setelah Citra sudah tidak berada dalam kamar rawatnya, cowok itu bersandar ke sandaran brankar. Memijat pelipisnya yang berdenyut dengan helaan napas berkali-kali.


***


"Key, yang mau pergi tuh gue kenapa lo yang ribet sih? Gak usah sebanyak itu masukin baju, entar gak kepake semua."


"Ish, Ra. Lo kan bakal tinggal di sana dalam kurun waktu yang gak nentu. Lo harus banyak persiapan kalo gak mau kelaparan atau pun jadi gembel di negri orang."


Aurora memutar mata malas. Keyra selalu menjawab seperti itu setiap kali Aurora memperingatinya untuk tidak memasukkan barang yang tidak berguna ke dalam kopernya.


"Ya, tapi itu makanan kalo kebanyakan nanti keburu basi, Key." Ada banyak makanan berat serta makanan ringan yang dibelikan Keyra untuk bekal Aurora.


Keyra berhenti dari kegiatannya dan tampak berpikir. "Iya juga, ya. Duh kok gue oon banget, sih?"


Aurora memutar bola matanya malas. Kemudian mengambil beberapa makanan berat. "Mending kita makan aja sekarang. Gue udah laper sejak tadi nungguin lo."


Keyra cengengesan lalu mengambil tempat di samping Aurora. Menikmati makanan yang ia beli bersama sahabatnya. Momen seperti ini akan sangat Keyra rindukan mengingat entah kapan lagi ia bisa makan bersama Aurora, menghabiskan waktu bersama Aurora dan duduk saling bicara bersama Aurora.