[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Tanpa Kabar



Agra dan Aurora akan keluar bersama malam ini untuk menghabiskan waktu santai keduanya. Aurora sudah siap dengan kemeja flanel coklat bawahan jeans hitam dan sneaker putih. Rambutnya dibiarkan tergerai, kemudian cewek itu meraih tas selempang yang tergantung di belakang pintu kamarnya sebelum keluar.


Ia menunggu di dekat sebuah halte yang berjarak beberapa meter dari rumahnya. Cewek itu duduk di sana sembari menunggu Agra yang katanya akan datang menjemputnya pukul tujuh nanti. Sekarang masih pukul tujuh empat lima. Artinya, ia harus menungggu lima belas menit untuk Agra.


Namun, setelah lima belas menit berlalu. Agra tidak juga muncul. Suara motor cowok itu pun belum terdengar sampai sekarang.


"Agra lupa kali, ya?" Gumam Aurora sesekali melihat sekitar, barang kali ada siluet tubuh Agra. Namun, tidak ada sama sekali. Akhirnya cewek itu berinisiatif menelfon Agra. Sayangnya, puluhan panggilannya tidak terjawab. Bahkan spam chatnya pun tidak dibalas. Agra seolah hilang.


Segala pikiran buruk mulai datang memenuhi kepala Aurora. Ia menyengkalnya sebaik mungkin. Mengisi kepalanya hanya dengan pikiran positif. Mungkin saja Agra terkena macet, atau kehabisan bensin, atau ban motornya kempes, atau ... Aurora menarik napas berat. Apa benar-benar Agra lupa?


Sementara itu ditempat yang berbeda namun waktu yang sama, Agra harus menahan rasa kesalnya. Ia sudah akan berangkat untuk menjemput Aurora, sayangnya Bram tiba-tiba mengatakan ada pertemuan penting dengan rekan bisnis Papanya yang mengharuskan Agra ikut dengannya ke sana. Mau tidak mau, ia harus ikut dan merelakan rencananya bersama Aurora batal.


Lebih sialnya lagi, Agra melupakan ponselnya. Entah kenapa, ia selalu menjadi seorang pelupa ketika menghadapi sesuatu hal yang penting. Kalau saja ponselnya berada di tangannya saat ini, ia pasti akan menelfon Aurora dan mengatakan untuk menunda rencana mereka. Tapi kalau lupa begini, ia harus bagaimana?


Agra, Bram dan Citra tiba disebuah resraurant berbintang lima. Dengan dekorasi mewah dan harga menu yang fantastis. Mereka mendatangi sebuah meja yang diisi oleh sebuah keluarga. Perasaan Agra mulai tidak enak begitu melihat adanya sosok gadia seumurannya di sana. Walau hanya terlihat bagian punggungnya, Agra seperti tidak asing dengan cewek itu. Ia seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?


"Malam, Pak Mendensen. Maaf saya dan keluarga datang terlambat." Bram menyapa pria bayah di sana. Pria itu terkekeh dan mengatakan tidak apa-apa. Citra duduk di samping wanita yang Agra yakini istri Pak Mendensen.


Lagi-lagi, Agra merasa tidak asing dengan marga keluarga itu. Rasa sangat akrab dengan nama itu tiba-tiba saja muncul. Sampai ketika ia duduk di depan gadis yang ia maksud, Agra dibuat terpaku. Napasnya otomatis tertahan begitu mata milik gadis itu bersitubruk dengan mata hitamnya.


"Hai, Agra. Lama gak ketemu."


***


Nyamuk-nyamuk satu persatu mendekatinya. Aurora sudah lama menunggu namun Agra belum datang juga. Berkali-kali ia mencoba menghubungi cowok itu namun nihil. Bahkan Alif dan Deon pun tidak mengetahui dimana keberadaan Agra.


Sepersekian menit, datang sebuau motor sport yang berhenti di depannya. Aurora langsung berdiri setelah mengenali motor itu.


"Rey?"


Rey membuka kaca helmnya kemudian tersenyum. "Lo ngapain malam-malam diluar, Ra?"


Aurora tampak kikuk. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya akan tetapi malu. Alhasil ia memilih beralibi. "Em, tadi gue rencananya mau keluar, tapi nunggu taksi gak dateng-dateng. Saldo gue abis juga, hehe."


Rey ikut terkekeh. "Yaudah. Lo keluar bareng gue aja gimana?"


"Eh? Gakpapa?"


"Gakpapa lah, Ayo."


Alhasil, ia pergi bersama Rey. Bukan Agra.