![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Hari ini, hari terakhir Aurora berada di sekolah. Besok pagi, ia sudaj terbang ke Amerika untuk pendidikannya. Cewek berkuncir kuda itu menyelesaikan ujiannya juga hari ini. Tidak ada kesulitan untuk hal itu jika siswi seperti Aurora yang tanpa belajar pun ia sudah pintar.
Kelasnya tengah olahraga di lapangan, sialnya harus berbarengan dengan kelas Agra juga. Sepertinya memang semesta berniat mempermainkan keduanya. Aurora sudah sangat tidak ingin melihat Agra lagi, karena menurutnya itu sangat berbahaya untuk pertahanan dirinya. Tapi kenapa selalu saja ada hal yang membuatnya harus melihat cowok itu lagi dan lagi?
Rey juga ikut mengingat kelasnya sama dengan Agra. Dengan senyum manis khas Rey yang membuat para cewek tersihir, cowok itu menghampiri Aurora dan Keyra yang tengah berjalan memasuki lapangan.
"Seneng banget akhirnya kelas gue bisa satu jam olahraga sama kelas gue," katanya, nada bahagia sama sekali tidak ditutupi oleh cowok manis itu.
"Sehari doang, ini karna guru olahraga gue entar jam ketiga mau lahiran ayamnya. Jadi dipercepat," balas Keyra mengasal. Rey terkekeh.
"Yok ke sana, udah pada ngumpul."
Aurora dan Keyra mengikuti Rey ke tempat berbaris. Cowok itu masuk ke barisan khusus kelasnya begitu pun dengan Aurora dan Keyra. Dua kelas itu berbaris berhadapan. Yang artinya mau tidak mau pandangan Aurora tidak terhalang apapun pada Agra.
Cowok berambut acak-acakan itu menatapnya lurus. Seolah ada pesan tersirat yang ingin disampiakannya melalui pandangan. Sementara Aurora mengalihkan pandangannya dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak melihat Agra. Cewek itu memfokuskan matanya pada sang guru yang menjelaskan. Meski beberapa kali ia bergerak gelisah karena risih ditatap seintens itu.
Menyadari kerisihan Aurora, Agra mengalihkan pandangannya. Beralih memperhatikan sang guru.
"Lo pasti bisa, Ra! Semangat!" Bisik Keyra sebelum pergi ke tepi lapangan dan duduk di sana menyemangati Aurora. Keyra masuk ke tim berbeda dengan Aurora yang membuat mereka tidak berada dalam tim yang sama.
"Semangat, Ra! Gue yakin lo bisa!" teriak Rey. Mengundang perhatian Agra, Alif dan Deon yang langsung menoleh ke arah cowok itu. Agra menatap Rey dengan tatapan tak terdefinisi. Hatinya kesal, ia cemburu ketika Rey menyemangati Aurora lalu Aurora membalasnya dengan senyuman.
"Udah, gak usah dipikirin. Dia sengaja kali mau manas-manasin lo," celetuk Deon mengerti arti tatapan Agra.
"Bener, orang kayak gitu gak usah dipeduliin. Pasti juga caper," tambah Alif. Yang akhirnya dapat membuat Agra membuang pandangannya dari Rey. Namun, saat ia kembali melihat ke lapangan di mana Aurora bertanding. Bola voly melambung tinggi, Agra punya firasat buruk tentang itu.
"Rara awas!!" teriak Keyra. Namun, terlambat. Bola volly itu sudah lebih dulu menghantam wajah Aurora dengan keras. Membuat cewek itu memekik kesakitan memegangi wajahnya. Sepersekian detik berikutnya, ia terpekik kaget saat ada darah di tangannya yang berasal dari hidung.
Melihat itu, Agra beranjak cepat menghampiri Aurora. Wajahnya terlihat khawatir. Sangat-sangat khawatir. Namun, belum saja pertengahan, Rey sudah lebih dulu tiba di sana dan membantu Aurora menghentikan mimisannya.
"Sial. Selalu aja!" umpat Agra.