[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Pergi



Semua barang yang akan ia bawa telah siap. Keyra juga sudah datang menggunakan mobilnya untuk mengantar Aurora bersama dengan kedua orang tuanya.


"Hati-hati, ya, Nak. Jaga kesehatan baik-baik. Jangan lupa makan dan tidur tepat waktu." Aurora memeluk Mama Keyra. "Makasih, Tante. Rara pasti bakal baik-baik aja, kok."


Wajah Keyra sudah sedih sejak datang. Ia benar-benar belum siap jika Aurora harus meninggalkannya. Keyra memang lah anak orang berada. Bahkan orang tuanya berada dalam kasta yang sama dengan Agra, Alif, dan Deon. Namun, cewek itu hanya memiliki satu orang teman sejak kecil. Aurora.


Keyra tidak pandai bersosialisasi karena ketakutannya tertolak. Ia hanya benar-benar nyaman dengan Aurora.


"Semuanya, ayo berangkat! Waktu kita gak banyak." seru Papa Keyra yang membantu memasukkan barang-barang Aurora ke mobil.


Aurora melepas pelukannya dari Mama Keyra. Ketiga wanita berbeda umur itu berjalan beriringan menuju mobil. Papa Keyra menyetir dengan Mama Keyra di sampingnya. Aurora dan Keyra duduk di jok belakang.


Aurora terkekeh melihat wajah Keyra yang tidak tersenyum sejak tadi dan tidak mau melihatnya. "Key, lo kok gak ngajak gue ngomong dari tadi? Lo marah sama gue?" tanya Aurora.


Mama Keyra menoleh melihat putrinya begitu pun Papa Keyra yang melihat dari kaca spion tengah. Sementara Keyra, masih setia menatap keluar jendela. Aurora memeluknya dari samping kemudian meletakkan dagunya di bahu Keyra. "Key, gue mau pergi loh bentar lagi. Masa lo gak mau ngobrol sama gue."


Keyra masih bergeming mempertahankan posisinya. Namun, matanya semakin berkaca-kaca.


"Gue perginya cuma bentar lagi. Empat atau lima tahun lagi, gue bakal pulang. Gue gak akan menetap di sana dan bener-bener ninggalin lo."


"Lima tahun itu lama, Ra!" Sahut Keyra kemudian. Membuat Aurora dan Mama Keyra tersenyum. Papa cewek itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Udah sayang. Jangan sedih-sedih gitu. Nanti kalo libur kan kamu bisa ngunjungin Rara," bujuk mamanya. "Kasian tuh Rara udah mau pergi kamu cuekin dari tadi."


Keyra menghapus jejak air matanya yang berhasil turun kemudian membalas pelukan Aurora. "Maafin gue, Ra. Gue kelewat lebay."


Terkekeh, Aurora mengangguk. "Lo kan emang lebay."


***


Mereka telah sampai ke bandara beberapa menit yang lalu. Keyra sekeluarga dan Aurora duduk menunggu pengumuman terbangnya. Aurora mengecek ponsel, ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor tidak dikenal juga beberapa pesan.


Gue mau ketemu


Gue mau masalah kita selesai


Kalo gini terus gak bakal ada ujungnya


Please, Ra


Aurora menghela napas membaca pesan itu. Harus berapa kali ia memberi tahu Agra kalau tidak ada lagi yang harus dijelaskan? Semuanya sudah selesai. Aurora tidak ingin lagi membahas hal itu dan membuka luka lamanya. Ia ingin bahagia, tanpa mengganggu kebahagiaan Lena.


Kalau pun Aurora ada di posisi Lena, ia juga pasti akan melakukan hal yang sama. Tidak ada orang yang ingin penantian dan kesetiannya sia-sia.


Pengumuman keberangkatannya menghentikan lamunan Aurora. Cewek itu langsung memblokir nomor Agra kemudian mengeluarkan kartu simnya.


"Dia ngehubungin lo lagi?" tanya Keyra yang dibalas Aurora dengan anggukan. "Ck, tuh orang ngapain lagi, sih?!"


"Udah, Key. Gue gak mau bahas-bahas itu lagi." Keyra tersenyum kemudian memeluk Aurora erat. "Kalo udah punya temen baru jangan lupain gue," rajuknya.


Aurora mengangguk. "Mana bisa gue lupain lo, Key. Lo sahabat sejati gue." Setelah pelukan keduanya terlerai, Mama Keyra kembali memeluk Aurora. "Sering-sering kasih kabar, ya? Kalo udah sampe juga jangan lupa ngabarin."


"Iya, Tante." Papa Keyra hanya mengelus kepalanya. "Belajar yang baik, Nak. Jangan terpengaruh sama pergaulan bebas di sana."


"Iya, Om."


Acara peluk-pelukan berlangsung singkat. Karena sebentar lagi pesawatnya akan berangkat. "Rara pamit Om, Tante, Key." Ketiganya mengangguk.


Aurora menggeret kopernya. Bergabung dengan puluhan orang yang hari itu memenuhi bandara. Keyra memeluk mamanya dan menangis. Aurora, sahabatnya benar-benar pergi meninggalkan Jakarta.