![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Seorang gadis yang kini ingin berjalan kekelasnya karena keadaan lapangan yang sudah sepi karena Pak Tono yang menghentikan aduh jotos Agra dengan Pandu, gadis itu tiba-tiba berhenti saat mendengar suara Pak Tono.
"Hey kamu... Sini!" Panggil pak Tono sambil melambaikan tangannya layaknya orang memanggil.
Mendengar suara itupun membuat gadis itu menoleh ke asal suara lalu menunjuk dirinya seolah berkata "saya?". Pak Tono yang mengerti hanya mengangguk dan melambaikan tangannya memanggil gadis itu.
"Kenapa pak?" Tanya Gadis itu sopan saat sampai di hadapan Pak Tono.
"Kamu obatin lukanya Agra, yah?" pinta pak Tono.
"Lah? Kok saya pak? Kan saya bukan anak PMR!" tolak gadis itu.
Berbeda dengan Agra yang terkejut mendengar ucapan pak Tono namun cepat menetralkan ekspresinya menjadi datar. Sementara duo kunyuk kini melemparkan senyum mengejek pada Agra yang menatapnya horor.
"Tidak ada penolakan. Kamu berani melawan perintah saya?" Tanya pak Tono mengintimidasi
Gadis itu menghela nafas pasrah mendengar ucapan pak Tono dan beralih menatap Agra datar dan dibalas sama oleh Agra. "Iya, Iya, Pak. Saya akan mengobati luka cowok itu," Tunjuk Aurora pada Agra yang memasang tampang malas.
Pak Tono tersenyum karena gadis itu menuruti nya meskipun dengan sedikit gertakan. "Ya sudah kamu sama Agra ke UKS aja, saya balik dulu," pamit Pak Tono lalu pergi dari sana.
Setelah Pak Tono pergi kini gadis itu menatap Agra yang dibalas dengan alis terangkat oleh Agra seolah mengatakan "apa?". Sementara duo kunyuk telah pergi entah kemana sebelum pak Tono pergi.
"Berdiri lo! Ikut gue ke UKS. Nyusain orang aja lo!" ketus Gadis itu.
Dengan malas Agra pun mengekori Aurora ke UKS. Yah Gadis itu adalah Aurora. Aurora Mauren
*****
Dua sejoli yang tak pernah terlihat akur kini berada dalam satu ruangan, UKS. Agra duduk dikursi yang telah disediakan dan Aurora duduk didepannya. Keadaan didalam UKS kini diliputi keheningan, mereka sama-sama merasakan kecanggungan.
Aurora begitu telaten mengobati luka di sudut bibir Agra dan di sudut matanya. Berbeda dengan Agra yang hanya fokus meneliti setiap inci wajah Aurora yang terlihat lebih cantik jika dilihat dari jarak dekat.
"Gue tau kalo gue cantik, jadi santai aja tuh mata!" ketus Aurora yang masih fokus mengobati lebam Agra.
Agra memutar bola matanya malas karena kepedean cewek ini. Tapi itulah kenyataannya.
"Sakit mata gue ngeliatin lo–aww," ringis Agra ketika Aurora sengaja menekan lukanya.
"Alah, gitu aja kesakitan. Manja lo!" ejek Aurora.
Agra yang tidak terima dihina seperti itu memberikan tatapan tajam pada Aurora yang di balas sama oleh sang empunya.
"Ya, jelas sakit, lah, kambing, orang lo tekan lukanya!" kesal Agra
"Bilang aja lemah!" balas Aurora tak mau kalah
"Terserah lo. Cewek emang slalu bener, dah." pasrah Agra karena malas berdebat.
Aurora tidak membalas lagi. Lebam diwajah Agra pun selesai di obati. Kini Aurora penasaran kenapa Agra sampai memukul Pandu.
"Lo kenapa bisa berantem sama Pandu?" tanya Aurora hati-hati.
"Apa urusan lo pengen tau?" tanya Agra balik
Aurora menghelah nafas berat "Gue gak punya urusan apa-apa. Tapi yang gue tau Pandu itu anak baik-baik, gak mungkin dia yang cari masalah sama lo. Pasti lo ini biang keroknya," tuduh Aurora.
Aurora telah selesai mengobati lebam di wajah Agra. Agra berdiri dari tempat duduknya lalu menatap Aurora datar. Aurora pun ikut berdiri dan menatap Agra sama datarnya.
"Lo gak tau gimana Pandu sebenarnya. Gue saranin sama lo jangan ngeliat orang dari cover nya doang," Agra tersenyum sinis pada Aurora.
"Hellow... Gue bukannya ngeliat orang dari cover nya tapi emang bener kan lo yang slalu cari masalah!" hardik Aurora balik.
"Lebih tepatnya masalah yang slalu cari gue. Jadi gue sebagai orang yang baik, harus menyambutnya dengan senang hati," balas Agra santai.
"Sableng lo... Pandu masuk rumah sakit gara-gara lo," ucap Aurora pelan.
"Urusannya sama gue?" tanya Agra mengangkat satu alisnya
"Urusannya sama lo?!" Beo Aurora tak percaya pada balasan Agra.
"Eh! Lo yang udah buat anak orang masuk rumah sakit, dan sekarang dengan santainya lo bilang apa urusan lo? Bener-bener yah lo!" Aurora geleng-geleng tak percaya dengan pemikiran Agra.
"Lo tau? Lo manusia paling gak punya perasaan yang pernah gue temuin!" lanjut Aurora sambil menunjuk dada Agra
"Lo berharap gue punya perasaan sama lo?" tanya Agra santai dengan tangan kanan dimasukkan ke saku celana.
"Cih... Gue gak bakal sudi suka sama anak manja kayak lo?!" balas Aurora sinis
"Ha... Ha... Liat aja, gue bakal bikin lo jadi cinta sama gue!" balas Agra tersenyum miring.
"Gue Aurora Mauren, gak akan pernah jatuh cinta sama cowok yang gak punya hati kayak lo!" sarkas Aurora dengan menunjuk wajah Agra.
"Gue harap itu gak bener," balas Agra santai.
Agra tersenyum miring lalu beranjak pergi dari tempat tersebut.
"Woy... Bilang makasih kek! Dasar anak manja! Cowok gila! Gak punya hati!" Teriak Aurora pada Agra yang sudah pergi meninggalkan UKS.
Agra terkekeh geli mendengar teriakan Aurora. Entahlah melihat wajah kesal Aurora saja bisa membuatnya bahagia.
"Anggap aja itu balasan lo ke gue karna udah nganter lo pulang dan bayar makanan lo!" balas Agra teriak karena jaraknya sudah jauh dari UKS
"Ck," Decak Aurora pelan
***
Ditepi lapangan sekolah kini dipenuhi dengan teriakan siswi-siswi alay yang sedang menyaksikan Agra cs bermain basket membuat sebagian siswa Demian Senior High School mendengus kesal.
Agra, Alif, dan Deon kini tengah iseng bermain basket dilapangan tak menyangka keisengannya akan mengundang keramaian seperti ini namun mereka hanya cuek karena menganggap ini sudah hal yang biasa bagi mereka bertiga. Menjadi most wanted sekolah yang pastinya digilai seluruh siswi di Demian Senior High School, oh iya kecuali Aurora dan Keyra tentunya.
Lama bermain basket mereka bertiga malah berbaring ditengah lapangan dibawah terik matahari yang menyekat tubuh, membuat siswi DSHS semakin menjerit tertahan karena ketampanan mereka yang berkali-kali lipat jika diterpa cahaya matahari. Alay memang tapi itulah faktanya.
"Capek juga ternyata," Keluh Deon sambil menyeka keringat dilehernya.
Sedangkan Agra dan Alif hanya mengangguk menyetujui. Mereka bertiga merubah posisinya menjadi duduk.
Agra mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang dapat ia manfaatkan, tak sengaja matanya melihat siswa cowok cupu yang sedang berjalan di tepi lapangan.
"WOY, CUPU!" teriak Agra teriak karena teriakan siswi yang masih terdengar.
Cowok cupu yang merasa dipanggil kini menolehkan wajahnya dan menunjuk dirinya seolah bertanya "Aku?" pada Agra.
"IYALAH, EMANG SIAPA LAGI YANG CUPU SELAIN LO!" Teriak Agra lagi.
Akhirnya cowok cupu itu pun melangkah memasuki lapangan menghampiri Agra cs.
"Ke-kenapa?" tanyanya takut karena ditatam dingin oleh Agra sedangkan Duo cunguk hanya menunggu kelanjutannya.
"Beliin kita minum sono!" suruh Agra dengan nada angkuh nya.
"U-uangnya?" tanyanya takut.
Agra tersenyum sinis sementara duo cunguk hanya terkekeh. "Uang lo lah!" jawab Agra santai.
Cowok cupu itu hanya mengangguk, lalu melanggang pergi kekantin. Sedangkan Trio kadal kini bertos ria karena berhasil mengerjai cowok cupu itu. Tak lama kemudian iapun datang dengan 3 botol air mineral berukuran sedang di tangannya. Cowok cupu itupun memberikan 3 botol air mineral itu pada Trio Kadal dan berniat beranjak dari sana. Baru sana ingin melangkah suara Agra kembali menghentikan langkahnya.
"Mau ke mana lo?" tanya Agra dingin
"Siapa yang nyuruh lo balik?" tanya Agra kembali dengan nada yang sama dinginnya.
Sementara Alif dan Deon Bodo amat dengan ini memilih kembali merebahkan dirinya dan menikmati panas yang menerpa kulitnya. Kalo ada yang heran mereka gak takut hitam apa? Tenang, mereka gak bakalan hitam hanya karena panas-panasan beberapa menit doang.
Rafi cowok cupu itu pun menunduk takut karena tatapan mengintimidasi dari seorang Agra. Lapangan masih seramai tadi, tetapi semuanya diam menunggu kelanjutan apa yang akan dilakukan Agra pada Rafi yang notabenenya adakah cowok cupu di Demiand Senior High School.
"Pijitin gue, abis itu baru lo pergi." lanjut Agra datar.
Rafi hanya menurut saja dengan perintah Agra takut kena marahnya Agra.
"Woy lo semua pada nunggu apaan? Nunggu sembako? Sana pergi kita lagi gak bagi-bagi sembako!!" teriak Deon pada semua siswi yang mengerumuni lapangan sekolah.
Deon hanya merasa kesal melihat mereka semua layaknya ibu-ibu yang ngantri sembako. Sementara Alif yang orangnya bodo amatan memilih diam saja.
Semua siswi yang tadinya mengerumuni lapangan bubar karena suara Deon yang mengintrupsi. Tak jauh dari sana seorang gadis bersama sahabatnya memperhatikan mereka bertiga dengan tatapan yang berbeda. Ada yang menatapnya datar ada juga yang biasa-biasa saja seolah ini adalah hal yang sangat biasa.
"Gak punya perasaan," gumam salah satu gadis di sana dengan nada jengahnya melihat kelakuan Agra cs mulai dari menyuruh cowok cupu itu membeli minuman hingga menyuruhnya untuk memijit dirinya.
"Agra emang gitu selalu bersikap memerintah. Tapi dia punya sisi baik yang orang lain gak tau," ucap gadis satunya lagi dengan menatap luris ke arah Agra yang masih dipijit oleh coeok cupu itu.
Gadis disebelahnya mengernyit bingung dwngan ucapan sahabatnya. Bukannya sahabatnya ini juga tidak suka dengan sikap semenah-menah Agra lalu kenapa tiba-tiba memuji Agra begini.
"Kok lo tiba-tiba bilang kek gitu?" tanyanya heran.
Gadis yang ditanya hanya tersenyum penuh arti lalu menjawab " Suatu saat lo akan tau kenapa gue bilang kek gini," jawabnya santai.
Sedangkan Gadis disebelahnya hanya mengangkat bahunya acuh lalu mengajak sahabatnya kembali kekelas daripada melihat kelakuan Agra yang membuatnya muak.
***
Drrrttt... Drrrttt...
Dengan malas Agra meraih ponselnya yang ada di atas nakas tanpa membuka matanya.
"Hm?" gumamnya saat telah menerima panggilan telfon yang tidak ia tahu.
Uhhuk! Uhhuk!
Suara batuk dari seberang sana membuat Agra mau tidak mau membuka matanya.
"B-bos... Tolong... Kit--"
"Marko? Lo kenapa?"
"Gu-gue di k-kroyok.."
Uhhuk! Uhhuk!
"Lo di mana skarang? Siapa yang berani kroyok lo hah?!" buku-buku tangan Agra memutih kala mendengar bahwa salah-salah satu anggota Wolfer di kroyok.
"Blok A. DB!" dengan dua kalimat itu Agra mengerti. Cowok itu bangun tergesa-gesa lalu memakai kaos hitam dan jaket kebanggan Wolfer dengan kepala serigala di belakang jaket itu.
Motor sport hitam miliknya melaju menyusuri dinginnya malam ini. Kecepatan motor sport itu tidak bisa dikatakan pelan. Suara derumannya begitu nyaring di antara pengendara lainnya.
Setelah beberapa menit akhirnya ia pun sampai pada jalan Blok A yang di katakan oleh Marko. Mata tajam Agra menelisik di antara keramaian yang tak jauh dari hadapannya.
Rahang kokoh cowok itu mengeras saat tak sengaja matanya menatap siluet badan yang sangat ia kenali.
Dengan cepat dirinya berlari lalu melayangkan tendangan dari arah belakang musuh. Dan sukses membuat cowok yang ia tendang terkapar ke aspal.
"Wow... Rupanya kita berhasil memancing sang ketua Wolfer!" ujar salah satu anggota DB yang berambut coklat dan sedikit panjang.
Mata tajam Agra beralih menatap cowok itu. Detik berikutnya satu bogeman mentah mendarat di tulang pipi cowok yang bersuara tadi.
Beralih pada cowok dengan rambut ikal. Agra melayangkan bogeman dan tendangan di perut dan di pipi cowok tersebut. Melihat ada tiga anak Wolfer yang terkapar membuat Agra lost control. Ia akan membalaskan kesakitan teman-temannya pada 10 pria di depannya ini!
"Braninya kroyokan!" Agra mendesis tajam lalu fokusnya beralih pada Leon yang menyerangnya dari samping.
Bugh!
Bukan Agra yang terkena. Melainkan Leon sendiri. Sudut bibir cowok itu mengeluarkan darah segar akibat bogeman Agra yang terbilang keras.
"Berani juga lo hadapin 10 orang cuma karna temen-temen lo yang gak becus itu!" ejek Leon terkesan sinis.
"Kenapa? Takut gue bisa ngalahin kalian?!" Leon tertawa mendengar suara Agra yang begitu percaya diri.
"Lo yakin bakal ngalahin gue dan temen-temen gue? Hahaha... Pulang aja sana! Nyabun aja di kamar mandi!"
Rahang Agra mengeras lalu melayangkan tinjunya pada Leon namun sayang, Leon dengan cepat menangkisnya.
"Lo gak siapin kata-kata perpisahan buat temen-temen lo dulu?" Leon kembali mengejek Agra hingga akhirnya Agra geram lalu melintir tangan Leon kebelakang.
Arrgghh
Erangan kesakitan dari Leon membuat Agra tersenyum miring. Terdengar sangat indah di telinganya.
"Gue gak suka banyak bacot! Mending buktiin semua kata-kata lo kalo emang lo laki!" Setelah itu Agra menendang keras punggung Leon lalu berbalik saat merasa ada yang ingin menyerangnya dari belakang.
Bugh!
"Berniat curang huh?"
Agra tertawa. Tawa yang terdengar mengerikan hingga sebagian anak DB merinding kala mata tajam itu jatuh pada mereka.
Satu persatu anak DB maju menyerang Agra namun permainan masih di kuasai oleh Agra. Seringai tajamnya selalu terlihat saat satu persatu anak DB tumbang di tangannya. Agra meludah saat merasa amis di bagian bibirnya.
"Sial!" umpatan keluar saat tahu bahwa bibirnya berdarah. Tulang pipinya pun terlihat sedikit membiru.
Agra menarik nafas dalam lalu menghembuskannya secara kasar. Kakinya kembali menendang balok yang hampir saja mengenai tengkuknya.
"Lo kroyokan aja masih pake senjata! Gak malu sama anak SD? huh! Mending jadi geng anak motor mainan sana! Bikin malu komunitas tau lo?!" Sinisan dari Agra sukses membuat Leon geram. Mata cowok itu berkilat amarah yang sangat besar.
Agra tersungkur saat satu tendangan dari Leon ia dapatkan. Namun bukannya kesakitan, Agra malah terkekeh sinis.
"Segini aja kemampuan lo? Huh! Gue gak heran sih. Bahkan lo nyuruh Pandu buat jadi mata-mata di Wolfer. Kenapa? Takut gue dan temen-temen gue nyerang lo tiba-tiba?" Agra menjeda kalimatnya lalu tertawa.
"Atau lo nge-fans sama geng gue sampai-sampai lo nyewa mata-mata buat laporin keseharian Wolfer? Hahaha gue gak nyangka. Geng motor Diamond Black yang katanya bringas dan penguasa jalanan ternyata gak lebih dari seorang penguntit!"
Leon maju untuk menarik kerah baju Agra, namun belum sampai pada tujuannya dirinya terlebih dahulu terlempar saat tendangan tiba-tiba di dadanya dari Agra.
Leon mengerang kesakitan dengan darah yang keluar dari mulutnya. Nafasnya sulit ia hembuskan saking kerasnya tendangan yang Agra berikan. Teman-temannya pun sudah tepar lemah di jalanan.
Agra bangkit dengan sekali hentakan lalu menarik kerah baju Leon.
"Berani ganggu ketenangan Wolfer, itu artinya lo siap menyambut kematian!" desisnya begitu dingin di telinga Leon hingga membuat cowok itu meneguk kasar salivanya.
"Oh iya. Kalo misalnya pulang dari sini lo beneran mati, nanti biar gue yang beliin lo kain kafan. Kurang baik apa lagi coba gue?" Agra tertawa mengejek lalu kembali mendang dada Leon namun tidak sekeras tadi. Tapi tendangan itu sukses membuat Leon memejamkan mata. Entah pingsan atau mati Agra tidak peduli.
🖤
🖤
🖤