![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Aurora baru saja menyelesaikan ujian dengan empat mata pelajaran hari ini di ruang guru mengingat sebentar lagi ia harus pergi ke negeri orang untuk mengejar cita-citanya. Kedua tangannya direntangkan ke udara akibat pegal memegang pensil.
"Selamat ya, Aurora. Kamu emang pantes buat dapat beasiswa itu. Kamu siswi yang paling berprestasi disini." Aurora tersenyum malu mendengar pujian wali kelasnya.
"Terima kasih, Bu. Tanpa didikan dan ajaran dari ibu sama guru yang lain, saya juga gak akan seperti ini."
Wali kelasnya tersenyum. "Tapi, Ra. Saya masih bingung kenapa kamu gak mau kabar baik ini diumumkan ke semua orang? Kan, biar mereka bisa belajar dari kesuksesan kamu biar lebih giat belajar lagi untuk dapat beasiswa."
Aurora bukannya tidak ingin kabar baik ini diumumkan. Hanya saja, kepergiannya semata-mata bukan hanya untuk beasiswa. Melainkan, untuk menyembuhkan hatinya yang masih saja sakit ketika tetap berada di kota ini. Mengingat, hampir semua tempat pernah ia datangi bersama Agra.
"Saya gak mau ada yang merasa gak adil, Bu, karna jadwal ujian akhir saya dipercepat. Mereka pasti bakal mikir kalau sekolah pilih kasih sama saya."
Benar juga. Wali kelasnya mengangguk mengerti lalu menepuk pundak Aurora. "Sekali lagi sekamat, ya. Ibu benar-benar bangga punya siswa seperti kamu."
"Makasih, Bu."
Aurora menyampirkan tasnya ke bahu, menyalin wali kelasnya dan keluar. Tetapi, sebelumnya ia kembali meminta suatu hal pada wali kelasnya. "Bu, saya boleh minta tolong?"
"Ya jelas bisa dong, Ra."
"Kalo nanti saya udah pergi dan ada yang nyariin saya atau nanya saya kemana, tolong ya Bu jangan dikasih tau kalo saya ke Amerika. Ibu terserah mau bilang saya kemana asal jangan bilang saya ke Amerika. Terutama sama Agra."
"Makasih, Bu."
"Sama-sama. Aurora, ini pasti karna masalah itu kan jadi kamu gak mau dia tau?" Aurora hanya tersenyum tipis sebelum pamit untuk pulang.
***
Malam ini, Aurora datang ke tempat kerjanya menemui semua teman-temannya. Memberi tahukan pada mereka bahwa ini adalah malam terakhir Aurora bekerja. Semua temannya tampak sedih, namun diluar semua itu mereka bersyukur karena Aurora berhasil meraih salah satu impiannya.
"Selamat ya, Ra. Jaga diri lo baik-baik di negri orang. Kalo ada bule ganteng, sabi kali lo kabarin gue," kata Elma yang berbisik di kalimat terakhir. Aurora tertawa kecil. "Iya, nanti gue kabarin kalo dapet bule ganteng."
Elma memberinya dua jempol. "Btw, thanks lo makan-makannya." Aurora mengangguk. Malam ini setelah bekerja, ia men-traktir teman-temannya di Cafe terdekat. Hitung-hitung sebagai kenang-kenangan sebelum ia benar-benar meninggalkan Jakarta.
"Ra, senyum!" blits kamera yang tiba-tiba muncul di depan wajahnya membuat Aurora terkejut hingga hasil fotonya tampak konyol. "Ih, woy hapus! Gue jelek!" seru Aurora sembari berusaha meraih ponsel temannya namun sang empu menghindar.
"Lo kan emang setiap harinya jelek, Ra."
Aurora mengerucutkan bibir, membuat teman-temannya tertawa. "Gue mau pergi bukannya dibaik-baikin ini malah dinistain!" tawa mereka kian pecah, yang akhirnya menular pada Aurora hingga tawanya ikut pecah. Setidaknya, bersama mereka Aurora bisa melupakan sejenak luka di hatinya.