![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Diparkiran sekolah bergengsi itu nampak seorang pemuda tengah menyandarkan tubuhnya ke motor sport nya dengan tangan kiri dimasukkan ke saku kirinya. Pemuda itu nampak tengah menunggu seseorang terlihat dari gerak-geriknya yang sesekali mengecek arlojinya dan berdecak kesal.
"Ck... Tuh cewek mana sih. Beranak dulu kali yak?" gerutu pemuda itu kesal.
Baru saja pemuda itu akan melangkahkan kakinya untuk mencari seseorang yang tengah ia tunggu. Nampak seseorang dari koridor sekolah berjalan dengan menunduk seperti menghindari seseorang.
Pemuda itu a.k.a Agra tersenyum geli saat gadis itu terus menunduk agar tidak dikenali oleh Agra, namun sayang Agra tahu betul siapa gadis itu, dia adalah Aurora Mauren orang yang ditunggu oleh Agra sejak tadi.
Gadis itu terus berjalan menunduk, sesekali menabrak siswa lain setelah itu meminta maaf karena tidak hati-hati. Saat jarak dirinya dengan Agra menipis gadis itu mempercepat langkah nya dengan menunduk. Gadis itu terus menunduk dan berjalan melewati Agra begitu saja.
Baru saja gadis itu akan lari karena berhasil melewati Agra namun tarikan tangan seseorang pada tasnya membuat ia hampir terjungkal kebelakang.
"Eitss... Berniat kabur hmm?" tanya Agra dengan mengulum senyum sambil menarik gadis itu agar berdiri di hadapannya.
"Mampusss" gumam Aurora dalam hati
"Eh.. Emm.. Gak kok gue tadi gak ngeliat lo, iya gue gak liat lo makanya gu-gue mau nyari angkutan umum aja." alibi gadis itu sedikit gugup.
"Alah.. Alasan bilang aja mau kabur!" ucap Agra lalu melepaskan tangannya dari tas Aurora
"Ck... Terserah deh.. Jadi sekarang?"
"Kenapa?"
"Ck... Ngapain nahan gue?"
"Gue kan udah bilang mau ngajak lo jalan sebagai tanda permintaan maaf gue. Masih muda udah pikun aja!"
"Eh gue gak pikun yah?!"
"Trus apa dong kalo gak pikun?"
"Yah i-itu..."
"Itu apaa?" tanya Agra dengan wajah mengejeknya
"Aishh.. Udah deh"
"Iya.. Iya.. Skrang kita ke tempat kerja lo dulu" ucap Agra lalu naik ke motor sport hitamnya
"Ngapain ke tempat kerja gue?"
"Kan gue udah bilang Auroraa.. Kalo gue mau ijin sama boss lo. Tuh kan lo bener-bener pikun" jawab Agra gemas lalu menghamburkan rambut Aurora dengan gemasnya.
"Ih Agra rambut gue berantakan bego?!!" kesal Gadis itu sedikit teriak.
"Abis nya gue gemes sama lo masih muda aja udah pikun"
"Dibilang gue gak pikun?!!"
"Iya.. Iya lo gak pikun kok. Udah buru naik"
Agra sudah siap dengan helm fullface-nya namun Aurora masih diam ditempatnya memandang Agra. Merasa ditarap Agra menoleh ke Aurora yang kini menatapnya kesal.
"Kenapa?" tanya Agra dibalik helm fullface-nya.
Aurora merenggut kesal lalu berkata. "Lo gak ada niatan buat minjamin gue jaket lo gitu?"
Agra tertawa dibalik helm fullface-nya lalu menggeleng heran.
"Kenapa gak bilang dari tadi nyonyaa?" tanya pemuda itu di sisa-sisa tawanya
"Isshh... Lo aja yg gak peka" balasnya kesal lalu mengambil jaket yang disodorkan Agra dengan kasar.
"Buruan"
"Ck.. Sabar dong"
Setelah mengikat jaket Agra ke pinggangnya. Kini Aurora menaiki motor Agra setelah itu ia memegang tas Agra agar ia tidak terjatuh saat Agra menancap gasnya.
"Udah?"
"Udah"
Mereka pun meninggalkan sekolah bersamaan dengan muncul nya pemuda yang sejak dari tadi memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo lagi rival gue ternyata" gumamnya pelan lalu pergi dari sana.
****
Aurora dan Agra kini sudah berada di sebuah Kafe yang sering dikunjungi anak muda jaman sekarang, setelah Agra meminta izin pada boss Aurora di dua tempat kerja gadis itu. Meskipun dengan sedikit ancaman agar Aurora di beri izin.
"Lo mau pesan apa?" tanya Agra setelah sampai disana.
"Samain sama lo ajalah."
Agra mengangguk dan memanggil pelayan kafe dengan kode tangan.
"Mau pesan apa mas?" tanya pelayan itu dengan sengaja menyelipkan anak rambutnya kebelakang untuk menggoda Agra, sementara yang digoda hanya memasang raut wajah datar dan dinginnya, berbeda dengan Aurora yang kini mengulum tawanya agar tidak pecah saat melihat Agra digoda oleh pelayan kafe yang mungkin sudah "tante-tante" apalagi make up nya yang ketebalan.
"Spagetti dua dan Milkshak strawberry dua" jawab Agra datar.
"Baik. Silahkan ditunggu yah mas" ucap pelayan itu dengan mengedipkan sebelah matanya genit ke Agra lalu pergi begitu saja, menyisakan Agra yang mengerang kesal ditempatnya, dan Aurora yang kini menertawakan Agra.
Agra tertegun melihat tawa gadis itu, tiba-tiba jantung nya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, yang membuat sang empunya bertanya-tanya, ada apa dengan jantungnya? Apa ia tiba-tiba mengidap penyakit jantung hanya karna melihat tawa Aurora yang begitu lepas seolah tak punya beban? Atau jantungnya saja yang lebay?
"Kenapa jantung gue jadi lebay gini cuman liat dia ketawa?" gumamnya dalam hati.
Meskipun sempat tertegun melihat tawa gadis itu namun tak urung Agra merasa kesal pada Aurora karena terus menertawakannya.
"Puas lo ngetawain gue?" tanya pemuda itu kesal. Namun yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan karena masih menahan tawanya agar tidak pecah lagi.
"Gimana Gra rasanya digoda tante-tante? Ada manis-manisnya gak?" tanya Gadis itu dengan senyum mengejek, membuat Agra tambah kesal.
"Songong yah lo!" balas Agra sambil mengapit pipi Aurora dengan kedua telapak tangannya sehingga bibir gadis itu manyun layaknya bibir bebek.
"Agrha hepahin behoo" racau gadis itu tidak jelas, membuat Agra terkekeh gemas, hampir saja Agra khilaf untuk mencium gadis itu jika ini bukan tempat umum. Eh?
"Haha... Lo lebih cantik kalo gitu" ucapnya terkekeh setelah melepaskan tangannya dari pipi gadis itu.
Aurora hanya menatap sinis Agra seraya memijit pipinya.
"Permisi... Ini pesanannya mbak.. Mas.." ucap seorang pelayan yang mengganggu kegiatan mereka. Agra bernafas lega karena pelayan yang mengantar pesanannya bukan pelayan yang tadi menggodanya.
"Makasih mbak" balas Aurora tersenyum kecil sementara Agra sudah menikmati makanannya. Pelayan itu mengangguk dan tersenyum kecil lalu pergi dari sana.
Setelah pelayan itu pergi Aurora pun menikmati makanannya dengan khidmat sama seperti Agra, mereka makan dalam keheningan.
Setelah beberapa menit makan Agra telah selesai dengan acara makannya, kini ia hanya menatap Aurora yang sedang serius menikmati makanannya.
"Cantik" gumam Agra tanpa sadar membuat Aurora mendongak menatap Agra bingung.
"Hah?" beo gadis itu menatap Agra.
"Eh... Kenapa?" Agra tersentak kaget saat Aurora membeokan ucapannya.
"Tadi lo bilang cantik. Siapa?"
"Oh.. I-itu dibelakang lo cantik. Iyaa" ucapnya sedikit gugup dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Aurora pun menoleh kan wajahnya kebelakang untuk melihat siapa yang Agra maksud cantik. Setelah itu ia menolehkan kembali wajahnya pada Agra dengan ekspresi menahan tawa.
"Serius?" tanya gadis itu sambil menahan tawa
"Kenapa?"
"Yakin dia yang lo bilang cantik?"
"Iya.. Emang kenapa?" tanya Agra sedikit ragu pasalnya ia hanya menjawab asal tadi karena takut ketahuan Aurora.
"Coba deh lo liat ulang!"
Agra pun mengalihkan pandangannya kebelakang Aurora, sedekit kemudian matanya membulat kaget, dan mentap Aurora yang kini telah menertawaknnya habis-habisan.
"Hahahahaah..." tawa Aurora menggema di kafe membuat semua pengunjung menatapnya bingung, menyadari tatapannya ia pun langsung membekap mulut nya dengan bergumam
"upss". Setelah itu ia hanya tertawa pelan melihat Agra yang kini menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Gimana cantik kan Gra?" ejek Aurora dengan tawanya yang tidak sekeras tadi.
Agra hanya menggeleng dengan wajah yang masih disembunyikan. Ia hanya malu untuk menatap Aurora saat ini.
Bagaimana tidak malu, orang yang dia bilang cantik itu ternyata seorang waria dengan baju kurang bahannya serta make-up tebal dan rambut palsu berwarna merah.
"Udah dong Ra gue malu sumpah..." ucap Agra memelas pada Aurora yang terus menertawakannya.
"Huu.. Gak nyangka gue selera lo kek gitu haha" Ucap Aurora sambil menetralkan wajahnya.
"Raa..." rengek Agra layaknya anak kecil yang ingin permen.
Entah perasaan Aurora saja atau apapun itu yang jelas Aurora sangat menyukai Agra ketika malu-malu seperti itu apalagi tadi Agra baru saja merengek padanya yang membuat perutnya seperti dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan.
Agra kembali menaruh tangannya ke atas meja lalu menatap Aurora sinis.
"Lo mau di sini aja?" tanya Aurora.
"Emang lo mau kemana?" balas Agra sedikit ketus, mungkin ia masih kesal pada Aurora.
"Ngambek mas-nya?" ejek Aurora.
"Gak"
Aurora hanya ber "oh" ria membuat Agra mendengus kesal pada Aurora yang tidak peka. Eh? Kok kesannya Agra kya berharap sama Aurora yah? Udahlah bodo amat.
"skarang lo mau kemana?" tanya pemuda itu dengan nada biasa tidak seperti tadi.
"Ke suatu tempat!" jawab gadis itu dengan senyum sumringah membuat Agra mengernyit bingung namun tak urung menuruti permintaan Aurora.
"Kemana?"
"Udah ikut aja!" ucap gadis itu lalu menarik tangan Agra keluar dari kafe namun sebelum itu Agra meninggalkan uang berwarna merah sebanyak dua lembar diatas meja sebagai bayaran makanannya.
Sesampainya di parkiran Aurora belum juga melepaskan tangannya dari tangan Agra, sehingga membuat pemuda itu tersenyum senyum sendiri.
"Betah banget megang tangan gue?"
Aurora pun mengalihkan tatapannya ke bawah dimana tangannya kini memegang tangan Agra. Gadis itu melototkan matanya lalu dengan cepat melepas tangannya dari tangan Agra.
"Yah kok dilepas?" tanya Agra sok kecewa.
"Ck... Udah deh. Ayo cepetan" kilah gadis itu menetralkan kegugupannya.
"Iya... Iya."
Setelah naik ke kendaraan yang mereka gunakan lebih tepatnya motor sport kebanggan Agra, kini motor sport itu meninggalkan kafe munuju tempat yang Aurora maksud.
***
Kini Aurora dan Agra telah sampai ditempat yang Aurora maksud. Danau dengan air yang jernih, rumput yang hijau serta angin sepoi-sepoi yang dapat memanjakan siapa saja yang datang. Aurora begitu antusias setelah sampai di danau ini, berbeda dengan Agra yang bingung karena tak pernah melihat tempat sesejuk ini di Jakarta.
Aurora duduk diatas rumput seraya memandangi air yang begitu jernih dengan senyuman yang tak pernah luntur, yang membuat sesuatu didalam diri Agra berdesir aneh melihat senyum itu. Senyum yang begitu tulus serta menenangkan khas milik gadis didepannya ini. Agra pun melangkahkan kakinya lalu duduk di samping Aurora, ia lebih memilih memandangi gadis itu daripada air jernih didepannya, karena menurutnya senyum gadis itu jauh lebih menyejukkan.
Merasa ditatap Aurora pun memalingkan wajahnya dari air danau itu ke Agra. Pandangan mereka bertemu, membuat Agra tersenyum dan dengan refleks Agra mengatakan sesuatu yang membuat Aurora deg-deg an entah mengapa.
"Lo cantik kalo senyum" ucap pemuda itu menatap tepat manik mata coklat Aurora.
"Hmm?" gumam gadis itu bingung sekaligus gugup.
"Sering-sering senyum yah!" ucap pemuda itu lagi dengan senyum manisnya dengan menepuk-nepuk pelan puncak kepala Aurora.
"Lo gak salah minum obat kan Gra?" tanya gadis itu sedikit bercanda, karena saat ini ia sedang menetralkan detak jantung nya yang tiba-tiba ngedugem.
"Pliisss lo gak usah dugem jantung!!"
"Gue serius" ucap pemuda itu malas karena Aurora merusak suasana.
"Hehe... Abisnya gak biasa nya lo muji gue"
"Emang salah?"
"Ya-ya gak juga tapi aneh aja"
"Aneh gimana maksud lo?"
"I-itu..." Gugup gadis itu tak tau akan berkata apa karena jantungnya masih saja konser didalam sana.
"Ra..." Pemuda itu memanggil Aurora dengan suaranya yang begitu rendah namun masih bisa didengar baik oleh Aurora.
"Hm?"
Pemuda itu nampak diam seperti memikirkan sesuatu. Tak bisa dipungkiri bahwa jantung pemuda itu juga sedang dugem didalam sana meskipun ia nampak biasa saja.
"Kok diem?" tanya Aurora bingung.
"Ra..."
"iyaa.. Agraaa"
"Kalo gue suka sama lo gimana?" ucapnya menatap mata Aurora begitupun sebaliknya.
"Hah?"
"Kenapa? Lo gak suka sama gue?"
"Hah? Bu-bukan gi-gitu tapi..."
"Haha udah gak usah difikirin gue becanda aja kok" ucap pemuda itu dengan tawanya yang sedikit agak dipaksakan.
Aurora merenggut kesal lalu menabok bahu Agra membuat sang empunya kesakitan.
"Ih Agra gue kira serius!"
"Aww.. Bar-bar banget sih jadi cewek!"
"Biarin!"
"Kalo emang gue serius kenapa?"
"Tau ah!"
Agra tersenyum tipis lalu memalingkan tatapannya ke danau didepannya begitupun dengan Aurora. Mereka sama-sama diam menikmati pemandangan danau ini serta angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit mereka. Rambut Aurora sedikit beterbangan akibat angin yang menerpa mereka.
"Ra..." suara Agra tiba-tiba memecah keheningan.
"Apa lagi?" balas cewek itu ketus karena takut Agra mengerjai nya lagi.
Agra terkekeh melihat gadis itu kesal lalu dengan gemas ia mengacak rambut milik gadis itu dan dibalas oleh tatapan mematikan dari Aurora membuat Agra cengengesan ditempatnya.
"Lo tau dari mana tempat ini?" tanya pemuda itu setelah melakukan aktivitasnya yang membuat Aurora kesal.
"Seseorang" jawabnya dengan menatap lurus kedepan dengan pandangan yang terlihat... Sendu?
Dahi Agra mengkerut bingung melihat perubahan gadis didepannya ini, yang awalnya kesal kini berubah menjadi sendu setelah menjawab dengan kata "seseorang" membuat Agra penasaran siapa seseorang itu. Mantannya kah? Atau mungkin pacarnya?.
"Siapa?" dengan segenap keberaniannya Agra menanyakan itu pada Aurora. Ia telah siap jika Aurora mengatakan bahwa ia mengetahui tempat ini dari pacarnya atau mungkin mantannya yang sulit ia lupakan.
Aurora menunduk sedih lalu menjawab pertanyaan Agra dengan jawaban yang membuat Agra diam-diam bernafas lega.
"Bunda..." lirih gadis itu
Agra tersenyum lega lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. " Sorry gue gak bermaksud" ucapnya dengan sedikit bersalah.
"Santai aja kali" balas Aurora dengan sedikit kekehannya.
"Ra kita damai yah?" tutur Agra menatap Aurora
"Hah?" beo gadis itu bingung terlihat dari kedua alisnya yang hampir menyatu.
"Hm.. Kita damai. Gue udah males berantem terus sama lo" ungkapnya serius.
Aurora nampak memikirkan tawaran Agra. Sebenarnya ia juga sudah malas bertengkar terus dengan Agra. Akhirnya setelah lama bersemedi gadis itupun menganggukkan kepalanya membuat Agra tersenyum lebar.
"Yaudah yuk berdiri. Gue mau bawa lo ke suatu tempat." ajaknya pada Aurora smbil berdiri diikuti oleh gadis itu.
"Kemana?"
"Udah ikut aja" balasnya lalu tanpa sadar menarik tangan Aurora untuk ia genggam karena terlalu antusias.
Aurora ikut berjalan sedikit dibelakang Agra, ia terpaku dan menatap kebawah dimana tangan Agra menggenggam tangannya. Berbeda dengan Agra yang tidak menyadarinya.
"Nih pake" ucap pemuda itu menyodorkan jaketnya pada Aurora setelah sampai dimotornya, dan melepaskan tangannya.
Aurora pun mengikat jaket milik Agra dipinggangnya. Ia pun naik kemotor sport Agra setelah Agra lebih dulu naik.
"Udah?"
"Udah"
Motor sport itupun melaju membelah kota Jakarta. Mereka sama-sama diam, Agra yang fokus mengendarai sementara Aurora yang menikmati aroma tubuh Agra yang terbawa oleh angin, dan entah kenapa Aurora menyukai aroma itu, aroma maskulin khas laki-laki yang membuatnya nyaman saat menghirup Aroma itu.
Setelah lama berkendara akhirnya mereka telah sampai di sebuah tempat yang Aurora tak tahu tempat apa ini. Karena dari luar terlihat seperti hutan.
"Kenapa bawa gue ke hutan?" tanya Gadis itu sedikit takut karena mengira Agra akan macam-macam padanya.
Sementara yang ditanya hanya menunjukkan senyum miringnya membuat Aurora tambah ketakutan.