![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Semasa hidup, Agra pernah melawan puluhan preman dan menang. Ia bernah berkelahi dengan puluhan bodyguard papanya dan menang. Ia juga pernah beberapa kali bertarung dengan geng terkenal dan menang. Ia belum pernah merasakan kegagalan dalam hidupnya. Lahir dari keluarga Demiand membuatnya dipenuhi akan rasa penguasa.
Ia selalu ingin menguasai apa saja. Entah itu suatu tempat, barang maupun manusia. Agra selalu ingin punya pengaruh pada setiap orang. Itu sebabnya ia selalu melakukan apa saja agar bisa menang dan mendapat pengakuan dari banyak orang.
Terbukti, banyak orang yang segan padanya. Banyak orang yang takut padanya walau hanya mendengar nama Agra Fransisco Demuand. Sang Pewaris dari Demiand Corperation yang bersikap layaknya iblis.
Alif dan Deon pun mengakui bagaimana besarnya pengaruh seorang Agra. Sekali pun keluarganya berada di kasta yang sama dengan keluarga Demiand dan besar bersama-sama. Tetap saja, keduanya juga memiliki rasa segan itu.
"Gue hampir shock pas denger Agra kali dari Rey. Gak biasanya anjirr! Kayak ada yang aneh gitu," celetuk Deon yang duduk dikursi samping kemudi. "Jangan kan lo, Yon. Gue aja heran kenapa Agra bisa kalah sama Rey." Alif yang mengendarai mobil menambahi.
Aurora yang duduk di jok belakang sebari memangku kepala Agra yang berbaring hanya menyimak. Ia tidak memperdulikan pembicaraan keduanya. Ia hanya fokus pada wajah Agra yang masih mengeluarkan darah sesekali.
"Jangan-jangan Rey curang lagi?! Wah gak bisa dibiarin nih!" Deon mulai kesal. Ia tidak terima jika sahabatnya kalah karena kecurangan lawan. Alif berdecak. "Gak usah gegabah, Yon. Gue juga ngerasa aneh, tapi gue gak mikir kalo Rey curang. Rey orangnya kompetitif. Gak mungkin curang."
"Ya terus kenapa bisa Agra kalah?! Kalo yang dilawan Rey itu lo terus lo kalah ya gue gak heran, tapi ini Agra! Agra woi!"
Kalau saja Alif sedang tidak menyetir, ia sudah pasti akan memberikan pukulan dahsyat pada Deon. "Mana gue tau monyet! Namanya juga manusia, siapa tau aja sekarang waktunya Agra kalah."
"Cih, hipotesis lo gak masuk akal!"
"Lo pikir Agra siapa sampe mau berbaik hanya nyerahin badannya dipukul? Ngotak dong lo!"
"Sialan lo! Itu kan cuma pemikiran gue aja. Bisa salah bisa bener."
Mendengar perdebatakan keduanya yang tak ada habisnya. Aurora mulai kesal sendiri. "Kalian berdua bisa diam gak?! Nyetir aja yang bener!"
Alif dan Deon menengok kebelakang dengan cengiran. "Hehe, maap Bu Bos."
****
Agra dibawah ke UGD melihat keadaan cowok itu benar-benar mengenaskan. Aurora duduk diruang tunggu bersama Alif dan Deon yang duduk di masing-masing sisinya. Seragam cewek itu sudah bercampur darah. Tangannya pun berlumur darah Agra namun ia abaikan. Ia benar-benar khawatir sekarang.
"Ra, lo pulang aja dulu. Biar gue sama Deon yang nungguin Agra. Kalo dia udah sadar pasti kita kabarin, kok." Kata Alif. Ia cukup prihatin melihat penampilan Aurora sekarang.
Namun, cewek itu memilih menggeleng. "Gimana bisa gue pulang sedangkan hati gue gak tenang kalo Agra belum sadar."
Alif dan Deon bertukar pandang. Deon menggeleng sebagai tanda menyuruh Alif untuk tidak memaksa Aurora.