[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Perasaan Rey



"Makasih, Gra." Lena turun dari motor Agra. Sekarang, cewek itu berdiri di samping Agra. "Gak mau masuk dulu? Mama selalu nanya loh kamu kapan mampir ke rumah lagi?"


Agra tersenyum kecil. "Lain kali ya? Gue ada urusan abis ini."


"Urusan apa?" Agra menatap Lena penuh arti. Menyadari kekepoannya, cewek itu segera meralat ucapannya. "Maaf, maaf. Aku gak maksud kepo, kok, hehe."


Agra terkekeh. Lena masih menggemaskan seperti dulu. "Gakpapa. Sana masuk. Entar Tante Violet nunggu."


"Iya. Kalau gitu aku masuk ya. Hati-hati!" Lena melambaikan tangan setelah menutup pagar rumahnya. Agra masih tersenyum menatap pagar menjulang itu. Kenapa sulit sekali untuk mengabaikan Lena?


Kenapa hatinya masih menghangat ketika Lena tersenyum manis dan perhatian padanya?


"Maafin gue, Ra. Maafin gue. Gue emang berengsek. Gue gak bisa lepasin Lena dengan mudah, tapi gue juga gak kehilangan lo. Maaf." Bayangan Aurora tersenyum terlihat di pandangannya, membuat Agra seperti dihujam. Entah bagaimana reaksi Aurora ketika tahu yang sebenarnya.


Agra merogoh saku celananya mencari benda pipih persegi empat lalu kembali menghubungi nomor Aurora.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif–


Tut...tut...


Dengan kesal Agra mematikan panggilannya. Kemana Aurora sampai gadis itu lupa mengabari Agra? Tak tahukah dia bahwa Agra sangat khawatir saat ini? Agra menghela nafas berat. Beberapa detik kemudian ia menepuk jidatnya kala menyadari sesuatu.


"Agra bego banget sih. Kan gelang lo ada di Rara. Lacak la ogeb." gerutu pemuda itu pada dirinya sendiri.


Agra pun tampak mengetik sesuatu di handphone-nya, sedetik kemudian senyumnya mengembang saat melihat titik merah keberadaan Aurora. Tapi perlahan senyum Agra luntur di gantikan wajah bingung saat melihat letak titik merah itu.


"Ini bukannya rumah..... Rey?" gumam Agra tak percaya. Ngapain Aurora ke rumah Rey? Pikir Agra.


Dengan cepat Agra pun melajukan motornya membelah kota Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata tanpa memperdulikan sumpah serapah pengendara lain.


***


"Gue sayang sama lo bukan seperti seorang kakak ke adiknya. Tapi rasa sayang seorang laki-laki untuk lawan jenisnya."


"Lebih tepatnya gue cinta sama lo, Ra." ungkap Rey dengan mata terpejam tak ingin melihat respon Aurora.


Sedangkan Aurora sendiri membeku tak percaya ditempatnya. Apa ini? Rey jatuh cinta padanya? Bukankah ini gila? Rey yang ia anggap sebagai kakaknya, sebagai pelindungnya ternyata menyimpan rasa padanya? Tolong seseorang beritahu Aurora kalo ini hanyalah mimpi atau mungkin pendengaran Aurora yang salah.


"Re-rey lo be-"


"Pliss jangan benci gue Ra. Gue gak mau lo benci sama gue setelah tau ini," mohon Rey membuat Aurora tak enak sendiri. Selama ini Rey selalu baik padanya.


"Se-sejak kapan?"


Rey membuka matanya lalu menatap Aurora dalam-dalam.


"Gue gak tau sejak kapan. Yang gue tau, gue cuma gak mau lo kenapa-kenapa, gue nyaman sama lo, gue gak suka liat lo sama cowok lain, dan gue gak terima kalau lo disakitin sama siapapun."


Air mata Aurora turun tanpa ia minta. Dadanya sesak kala mengingat betapa jahatnya ia selama ini pada Rey. Rey selalu baik padanya, tapi dia? Dia bahkan selalu saja berbicara tentang Agra walaupun bersama Rey. Ya tuhan... Kenapa Aurora tidak bisa jatuh cinta kepada manusia sebaik Rey?


"Kenapa gue gak sadar selama ini?" batin Aurora menjerit.


"Maafin gue Rey," ujar Aurora dengan suara bergetar membuat Rey tersentak kaget mendengarnya.


"Ra... Kok lo nangis?" tanya Rey panik dengan memegang bahu Aurora yang bergetar menahan isakan tangis.


"Gu-gue emang jahat. Gue gak tau diri jadi cewek. Lo slalu ada buat gue Rey. Tapi gue apa? Gue mal-"


"Ssttt... Udah." Dengan sigap pun Rey menarik Aurora kepelukannya berniat meredakan tangis Aurora. Namun sayang, tangis Aurora semakin menjadi bersamaan dengan tangannya yang membalas pelukan Rey sangat erat.


"Udah Ra... Gue gak pa-pa kok," ujar Rey menenangkan dengan mengelus surai indah milik Aurora.


"Gue jahat Rey! Gue bodoh gak bisa bedain peduli lo slama ini."


"Udah... Gue gak berharap kok lo balas perasaan gue. Gue cuma mau lo jangan benci gue setelah ini."


Aurora menggelengkan kepalanya dalam pelukan Rey. Bagaimana mungkin ia bisa membenci malaikat pelindungnya?


"Maafin gue Rey.."


"Gak pa-pa kok, dengan lo bahagia itu udah bikin gue juga bahagia. Meskipun bukan gue yang buat lo bahagia."


"Lo cowok baik. Lo pasti bisa dapetin yang lebih baik dari gue."


Rey terkekeh lalu mengangguk.


"Mau sebaik apapun cewek itu, tetap lo yang paling gue sayang," batin Rey.


"Rey... Meskipun nantinya kita cuma sebatas teman, gue mohon ya jangan berubah . Tetap jadi Rey yang baik kek gini."


"Gue janji bakal–"


"Ekheemm!"


Aurora melepaskan pekukannya pada Rey saat mendengar deheman seseorang. Dan Aurora kenal siapa pemilik suara berat itu.


Aurora dan Rey pun menolehkan kepalanya melihat siapa pemilik suara itu. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat siapa sang pemilik suara berat tadi.


"Agra?!" kaget Aurora dan Rey bersamaan.


"Kenapa? Kaget ngeliat gue disini? Atau takut ketahuan?" datar Agra, membuat Aurora menelan salivanya kasar sementara Rey kembali menetralkan ekspresinya.


"K-kok lo bisa a-ada di sini?" gugup Aurora membuat Agra terkekeh sinis.


"Emang gak boleh?" sinisnya lalu berjalan mendekat ke arah Aurora dan Rey.


Bugh!


Satu bogeman mendarat di rahang kokoh Rey saat Agra sampai dihadapannya.


"Agra?!" pekik Aurora terkejut.


"Kenapa?"


"Lo apa-apaan sih? Ini gak seperti yang lo fikirin!"


"Emang gue mikirin apaan?" balas Agra santai membuat Aurora geram.


"Tau ah bodo!" balasnya cuek lalu menghampiri Rey yang menyeka sudut bibirnya, Pukulan Agra emang gak main-main.


"Mau gue obatin?"


"Sok perhatian banget sih." bukan Rey yang menjawab melainkan Agra.


"Diem deh!" kesal Aurora pada Agra membuat pemuda itu diam.


"Maafin Agra yah?"


"Gak pa-pa kok. San-"


"Alahh! Gitu aja, kok. Lemah!"


"Lo mau gue obatin?"


"Gak kok gak usah. Gue bisa sendiri kok," balas Rey dengan senyum tipisnya.


"Tap–"


"Udahlah Ra. Mending kita pulang yuk." celutuk Agra membuat Aurora mendengus kesal.


"Yakin gak mau gue obatin?" tanyanya lagi pada Rey dan mengabaikan Agra yang menatap mereka malas.


"Yakin kok. Lagian ini udah biasa buat cowok."


"Maaf yah Rey. Agra emang gitu orangnya, sok jagoan." Aurora sedikit melirik kesal pada Agra yang biasa saja.


"Gak pa-pa kok."


"Yaudah kalo gitu gue pulang aja yah. Jangan lupa obatin bibir lo."


"Siap!"


Aurora terkekeh lalu menyambar tas sekolahnya yang ia letakkan diatas ayunan lalu keluar dari rumah Rey tanpa memperdulikan Agra.


Dengan cepat Agra pun mengejar Aurora.


"Ra! Rara! Kok ditinggalin sih?" protesnya saat sudah sampai diparkiran rumah Rey.


"Lagian siapa suruh tiba-tiba mukul Rey?" balasnya cuek.


"Salah kalo gue gak suka liat lo dipeluk Rey?"


Aurora terdiam ditempatnya, lalu menatap Agra yang juga menatapnya.


"Bukan salah. Tapi jangan kek gitu juga!"


"Gue gak suka kalo ada orang yang bilang dia nyimpen rasa buat lo. Pengen gue hilangin tau gak tuh orang!"


Aurora tersenyum lalu menggenggam tangan Agra.


"Lo dengar semuanya?"


"Hm."


"Dari yang mana?"


"Mulai saat dia nyanyi buat lo!"


"Selama itu lo berdiri di sana?" tanya Aurora tak percaya.


"Iyalah. Gue udah panas tau pen mukul. Tapi gue pengen liat reaksi lo dulu tadi."


Aurora terkekeh lagi.


"Jangan kek gitu lagi yah. Apalagi sama Rey!"


"Lo suka sama Rey?"


Aurora terdiam lalu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Agra membuat Agra menatapnya meminta penjelasan.


"Iya. Gue suka sama Rey? Kenapa?"


Agra bungkam tak percaya. Perlahan senyum kecut tersungging di bibirnya.


"Gak pa-pa. Kalo emang lo suka sama dia, gue gak bakalan larang elo, itu kan hak lo dan-"


"Hahahahahaha...." ucapan Agra terpotong saat mendengar tawa Aurora. Mata Agra membulat tak percaya. Jadi dia hanya di kibulin?


"Ohhh... Jadi lo ngerjain gue? Iya?"


"Hahaha... Lo sih! Yakali gue suka sama cowok lain. Kan gue suka nya sama lo doang." ucapnya pada Agra lalu mengedipkan sebelah matanya genit.


Agra terkekeh gemas lalu menghamburkan rambut Aurora, membuat sang empu rambut tertawa kegirangan.


"Ketawa aja terus."


"Haha... Gak kok. Ini udah berhenti," ucapnya dengan menetralkan tawanya.


Agra terkekeh lagi lalu naik ke atas motornya diikuti oleh Aurora.


"Siapa yang suruh naik?" tanya Agra saat Aurora sudah stay di jok belakang motornya.


"Hah?"


"Ngapain naik?"


"Kan mau pulang."


"Kan gue gak suruh naik."


"Lah terus?"


"Turun!"


"Kok turun?"


"Kan gue belum suruh naik, jadi turun dulu."


Aurora pun turun dari jok motor Agra dengan kesal.


"Skarang naik!"


"Lah? Terus ngapain tadi nyuruh gue turun ogeb?" tanya Aurora tak percaya pada pacar gantengnya ini.


"Kan tadi gue belum nyuruh naik. Makanya turun dulu, nah, skarang udah bisa naik."


"Agraaaaaaa!!" geram Aurora dan menabok lengan Agra.


Agra tertawa lalu menghentikan serangan Aurora.


"Udah, skarang naik. Gue mau ngajak lo ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Udah naik aja."


Aurora pun kembali naik ke jok motor Agra dengan perasaan dongkol. Bisa-bisanya Agra ngerjain dia. Balas dendam kah?


Setelah Aurora duduk di jok motor belakang Agra motor sport hitam itu pun melaju meninggalkan kawasan kediaman Erlangga dengan tangan Aurora yang melingkan indah diperut Agra.