[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Aneh



Hari ini kelas Lena tengah melakukan olahraga di jam ketiga keempat. Yang berarti, matahari sedang terik-teriaknya. Cewek dengan proporsi tubuh bak model itu berdiri di urutan paling depan barisan teman-teman kelasnya untuk bagian perempuan mengingat tinggi badannya yang paling dominan.


"Hari kita bakal ambil nilai permainan bola besar baskter. Setiap regu akan terdiri dari lima orang. Putra dan Putri bergantian disetiap sesi."


Lena menjadi anggota regu satu. Cewek itu sangat suka basket, bahkan ia mahir. Mengingat dulu, saat bersama Agra, cowok itu selalu mengajarinya bermain basker disore hari menjelang hilangnya senja.


Namun, hari ini Lena tidak yakin bisa bermain basket dengan baik. Ia telat bangun pagi tadi hingga akhirnya terburu-buru dan melupakan sarapannya padahal ia tidak boleh tidak makan sebelum jam sembilan mengingat punya asam lambung.


Alhasil, perutnya mulai terasa perih. Namun, ia mencoba bertahan. Lena tidak ingin nilainya rendah hanya karena penyakit maag-nya kambuh.


"Kita mulai dari regu 1 Putri melawan regu 2 Putri!!" suara guru olahraga mengudara. Lena dan keempat anggota regunya bersiap-siap dengan melakukan beberapa pemanasan.


Lena mengumpat diam-diam saat kepalanya terasa pening dan pandangannya sedikit mengabur. "Fokus Lena! Fokus! Jangan ngecewain tim!" ujarnya pada diri sendiri.


Tapi yang namanya penyakit, Lena sudah tidak bisa menahannya. Hingga kemudian tubuhnya nyaris ambruk jika seseorang tidak segera menangkapnya.


****


Surga bagi para siswa adalah jam kosong. Kelas Agra tampak kegirangan ketika mendapat kabar bahwa guru yang mengajar hari ini tidak sempat hadit karena menghadiri pernikahan saudara.


"Cabut, kuy! Bosen dikelas mulu." Deon mulai mengajak, Alif yang terlihat memainkan ponselnya berhenti dan berdiri merangkul Deon. "Setuju! Kita makan-makan, Agra yang bayar!"


Agra memutar mata malas. Dua sahabatnya itu sangat kaya, tapi jika soal traktir men-traktir, selalu dompet Agra yang menjadi korban. Alasannya, karena harta Agra sedikit lebih banyak.


Basi.


Beranjak dari dudukannya, Agra memimpin jalan. Alif dan Deon mengikut dibelakang. Sesekali terdengar Deon yang melempar gombalan ke adik kelas maupun seangkatan. Agra dan Alif cuek-cuek saja. Sudah biasa.


"Eh, Gra. Liat deh kelapangan, itu mata gue yang salah atau emang Lena kayak pucat ya?" Mendengar nama Lena disebut, Agra langsung mengikuti arahan Alif untuk melihat ke lapangan. Benar saja, Lena yang tengah melakukan pemanasan sangat terlihat pucat.


"Lo kok bengong, sih?! Samper woi! Kasian anak orang." Alif mendorong bahu Agra, membuat cowoo itu mau tidak mau menghampiri Lena. Namun, Agra baru sampai ke pertengahan, Lena sudah terlihat sangat lemas. Hingga akhirnya Agra refleks berlari dan tepat waktu menangkap tubuh cewek itu yang hampir ambruk ke lantai lapangan.


Semua orang terkejut akan aksi tiba-tiba Agra.


Tidak kalah terkejutnya dengan cewek yang ikut menyaksikan kejadian itu di koridor atas.


"Agra kenapa sepanik itu?" gumam Aurora. Ia heran melihat wajah panik Agra. Aurora tau Lena dan Agra mungkin memiliki hubungan keluarga setelah kedatangan Lena ke rumah sakit waktu itu, tetapi ekspresi Agra terlihat lebih khawatir kepada ... Aurora menggelengkan kepalanya.


"Mikir apaan sih, Ra! Jelas lah Agra khawatir. Lena kan keluarganya. Gak usah mikir aneh-aneh deh.


***


Kejadian di lapangan tadi entah kenapa begitu cepat terlupakan. Orang-orang yang tadinya heboh mengepoi hubungan Agra dan Lena, seketika diam dan terlihat bodo amat. Aurora pun tidak mempermasalahkan hal itu. Berbeda dengan Keyra yang sempat diam-diam mengepalkan tangannya. Namun, cewek itu juga kembali biasa-biasa saja.


Sepulang sekolah, Agra meminta pulang bersama. Alhasil, mereka kini berada di atas motor yang sama. Saling diam namun tidak terasa canggung. Aurora menikmati angin sepoi-sepoi dan Agra sibuk dengan pikirannya.


Sepersekian menit berlalu, mereka sampai ke rumah Aurora. Cewek itu turun dari jok belakang lalu tersenyum pada Agra yang segera merapikan rambut Aurora.


Agra menatap Aurora yang juga berdiri menatapnya. Senyum cowok itu mengembang dan menyisir rambut Aurora kebelakang telinga. "Gue sayang lo, Ra. Bener-bener sayang lo," ucapnya tiba-tiba. Membuat Aurora mengernyitkan alis bingung.


"Kok tiba-tiba ngomong gitu?"


Agra menggeleng, masih dengan senyum dan mata yang menyelami indahnya mata coklat Aurora. "Gue cuma mau bilang itu aja." Kemudian tangannya meraih kedua tangan Aurora. "Jadi jangan tinggalin gue apapun yang terjadi ya? Gue gak mau kehilangan lo."


Aurora merona, sekalipun ia bingung akan anehnya Agra.