[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Kedapatan



Suasana kelas XII IPA 1 begitu hening dan tenang. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja Ibu Sarah yang terkenal akan terkiller-annya mendadak memberikan ulangan harian hari ini. Tak banyak dari mereka celingak-celingukan mencari jawaban kesana kemari.


Aurora dan Keyra nampak tenang dalam mengisi lembar jawabannya. Namun yang membuat Aurora tak henti-hentinya menggerutu dalam hati adalah Agra. Pemuda itu tidak menampakkan batang hidungnya pagi ini, dan yang membuat Aurora heran adalah Alif ada di sini. Tapi Agra kemana?


"Agra mana sih kok gak ikut ulangan kali ini? Alif juga ada, terus kenapa dia gak ada?" batin Aurora gelisah. "Udahlah bodo amat! Gue selesaiin dulu nih soal." lanjutnya lalu fokus pada lembar jawabannya.


Satu jam berlalu dan kini semuanya mengumpulkan lembar kertas masing-masing. Setelah itu Bu Sarah pun melanjutkan materi yang membuat sebagian siswa di kelas itu menggerutu serta mengumpat diam-diam.


Kringg... Kringg...


Suara bel pertanda istirahat berbunyi bertepatan dengan sorakan kemenangan dari kelas XII IPA 1 yang merasa senang akan berakhirnya pelajaran bu Sarah. Bu Sarah pun mengakhiri pertemuannya lalu keluar dari kelas. Begitupun dengan Alif yang hendak keluar kelas namun tertunda saat Aurora memanggilnya.


"Alif!" Merasa di panggil pun, Alif membalikkan badannya pada Aurora dan Keyra yang kini berjalan menghampirinya.


"Kenapa Ra?" tanya Alif saat telah berhadapan dengan Aurora dan Keyra.


"Agra mana? Kenapa gak masuk? Dia bolos lagi? Atau ada halangan hadir kali ini?" tanya Aurora bertubi-tubi membuat Alif terkekeh geli.


"Satu-satu kali Ra." Aurora berdecak sebal memandang Alif, sementara Keyra ikut terkekeh.


"Udah, deh! Buruan kasi tau gue mana Agra?"


"Gue juga gak tau, tapi kayaknya dia ada di warung babe Rojak deh," jawab Alif sedikit ragu, karena ia pun tak mendapat kabar Agra kali ini.


"Emang dia gak ngabarin lo?" celutuk Keyra yang dibalas gelengan oleh Alif.


"Tuh orang kebiasaan yah suka ngilang tapi gak ngomong dulu!" dumel Aurora yang dibalas kekehan Alif. "Kalo ngomong dulu bukan hilang namanya Ra, tapi pamitan." balas Alif tertawa kecil yang di ikuti kekehan renyah Keyra serta decakan sebal Aurora.


"Sekarang lo mau kemana?" tanya Aurora pada Alif. "Warung babe," jawab Alif yang di balas wajah semangat Aurora.


"Gue ikut, yah?" pintanya pada Alif yang mendapat kernyitan bingung oleh pemuda itu.


"Nyari Agra."


"Tapi di sanakan banyak cowok. Lo gak keberatan?"


"Ah elah. Kan di sana cuma temen2 lo kan? Anak Wolfer?" Alif mengangguk. "Jadi gue ikut aja yah?" lanjut Aurora yang mendapat kendikan bahu oleh Alif. "Yaudah." balas pemuda itu.


Aurora pun bersorak senang sementara Alif dan Keyra menggelengkan kepalanya heran.


***


Aurora tidak tahu harus bereaksi bagaimana ketika pemandangan pertama yang ia dapati adalah Agra dan Lena yang duduk berdua sementara lain berada di meja yang sama. Bukan hanya posisi duduk keduanya, tetapi bagaimana Agra menatap Lena yang sedang makan di depannya membuat dada Aurora sesak. Entah kenapa, Aurora hanya merasa bahwa tatapan itu seharusnya untuk dirinya, bukan Lena.


"Makan yang banyak. Entar kayak kemarin pingsan lagi. Kasian Tante Violet khawatir banget," kata Agra yang berhasil Aurora tangkap oleh rungunya. Kekehan Lena terdengar juga. "Mama emang suka lebay. Padahal aku udah sering."


"Bukan lebay, Len. Tapi mereka kelewat sayang sama lo makanya khawatir banget."


Alif jauh lebih mati kutu. Sepertinya keputusan menerima permintaan Aurora untuk diikutkan kemari adalah hal yang salah. Teman-teman Agra yang duluan menyadari keberadaan Aurora terlihat panik meskipun mereka mencoba mengontrol ekpresi.


Deon secara sembunyi-sembunyi melempar kacang pada Agra yang membuat cowok itu refleks menoleh pada Deon. Kekesalannya tertelan begitu saja ketika mendapati Aurora disamping Alif. Ia cepat-cepat berdiri.


"Ra, ini gak seperti-"


Diluar dugaan, Aurora justru tersenyum hangat dan menghampiri keduanya. Persetan dengan pikiran buruknya, ia percaya pada Agra.


"Hai, Len. Masih ingat gue kan?" tanyanya, Lena menyudahi makannya dan beralih membalas Aurora dengan senyum ramahnya. "Jelas dong. Pacar Agra, kan?"


Aurora mengangguk malu. Jelaskan? Lena saja tahu Aurora pacar Agra, mana mungkin keduanya punya hubungan spesial seperti di akun gosip sekolah.


Sementara itu, Agra nyaris saja kehilangan jantungnya. Ia benar-benar takut semuanya akan terungkap.