[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Penawaran Bram



Lena benar-benar membuktikan ucapannya kala itu. Ia tidak pernah lagi berusaha membuat Agra kembali dekat dengannya. Sekarang, Agra dan Lena hanya seperti seorang teman. Lena juga membantunya mencari keberadaan Aurora menggunakan orang-orang cewek itu yang cukup handal dalam pencarian.


Namun, dua bulan berlalu, tidak ada jejak sama sekali yang didapat. Aurora seolah hilang di telan bumi. Tidak ada yang tahu ia kemana. Agra sudah sangat frustasi. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana dan dengan cara apa lagi agar ia bisa mendapatkan Aurora. Jika hari ini suruhannya gagal lagi, maka Agra benar-benar akan menyerah mencari Aurora dan membiarkan semesta yang mengatur semuanya.


Rey pun menyewa beberapa orang untuk melacak keberadaan Aurora, sayangnya hasil yang ia dapatkan tidak jauh beda dengan Agra. Keyra sendiri tidak bisa diharapkan. Cewek itu sama sekali tidak ingin membuka mulut soal Aurora. Keyra pun tampak lebih suka menyendiri di perpustakaan dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar di sana dibanding kantin sekolah.


"Info terakhir yang lo dapet apaan?" tanya Rey pada Agra. Dua cowok yang dulunya adalah rival, kini bersatu untuk menemukan Aurora. "Cuma info kalo emang bener Rara pernah Check in di bandara Soetta, tapi gak ada yang mau ngasih tau tujuannya kemana," jawab Agra tidak semangat.


"Kayaknya yang bantu Aurora pindah bukan sembarang orang. Gue yakin koneksinya lebih kuat dibanding kita."


Agra mengangguk menyetuji ucapan Rey. Saking kuatnya, para staff di bandara sama sekali tidak terpengaruh saat Agra mengancam akan membuat hidup mereka menderita jika tidak memberinya informasi tujuan Aurora.


"Kayaknya Rara dibantu sama bokapnya Keyra. Beliau punya banyak maskapai penerbangan. Cukup berpengaruh juga di dunia transportasi darat. Mungkin itu sebabnya mereka gak terpengaruh sama ancaman gue."


Sekali pun keluarga Agra jauh lebih kaya dibanding keluarga Keyra. Namun, keluarga Keyra punya ciri khasnya sendiri. Tidak ada yang berani melawan keluarga cewek itu sebab Papa Keyra menyimpan banyak rahasia pebisnis dan politikus yang kapan saja bisa ia bongkar ke media jika ingin.


Dengan kata lain, keluarga Keyra punya cara lain untuk disegani.


***


Malam sudah tiba, Agra tidak keluar kemana-mana malam ini. Cowok itu hanya berbaring di kasur empuknya sembari menggeser-geser layar ponsel yang memperlihatkan foto-foto Aurora bersama dirinya. Foto-foto yang dulunya diambil dengan perasaan bahagia dan kini, rasanya sangat menyakitkan. Andai saja waktu bisa diputar kembali, Agra sangat ingin mengulang waktu di mana hanya ada ia dan Aurora di suatu tempat. Mengobrol, bercanda dan tertawa sepuasnya berdua.


"Lo dimana, sih, Ra? Gue bener-bener kangen sama lo." Benar kata Dilan kalau rindu itu berat. Dulu, Agra selalu mengatakan bahwa kalimat itu lebay dan terlalu dramatis. Sekarang, rasanya ia ingin meminta maaf pada Dilan. Ia seolah mendapat karma dari ucapannya sebab, ia merasakan perasaan rindu itu sekarang.


Pintu Agra terketuk, Bram masuk ke kamarnya dan duduk di tepi kasur Agra, membuat cowok itu menutup ponselnya dan mendudukkan tubuh. "Ada apa, Pa?" kedatangan Bram ke kamarnya itu patut dicurigai, karena biasanya pria itu tidak akan mau menghabiskan tenaganya dan hanya menyuruh Agra ke ruang kerjanya.


Bram menatapnya sejenak lalu tersenyum tipis. "Alamat Aurora di luar negri." Agra membulatkan matanya terkejut. Cepat-cepat ia mengambil amplop itu namun dengan cepat juga Bram menjauhkannya dari Agra. "Pa!" protes cowok itu. "Kasih ke Agra kalo itu beneran alamatnya Rara. Agra udah lama nyari itu."


Bram berdiri, kemudian menggeleng. "Kamu pikir semudah itu?" Agra tahu, Papanya pasti menginginkan sesuatu darinya. "Papa mau apa?" tanya Agra, pasrah. Demi bertemu Aurora, ia siap melakukan apapun.


Bram terkekeh. Sembari jarinya yang memainkan amplop itu. "Papa bakal ngasih ini ke kamu tapi dengan satu syarat," ujar Bram.


"Apapun syaratnya akan Agra terima."


Satu alis Bram terangkat kemudian terkekeh. "Kamu yakin." Agra tampak ragu pada awalnya. Namun, mengingat ini adalah satu-satunya kesempatan, ia mengangguk dengan semangat. "Agra yakin."


Bram mengangguk seolah mengejek. "Mau papa sederhana. Kamu jangan nemuin Aurora sekarang. Tapi tunggu lima tahun ke dep-"


"Gak bisa gitu, Pa! Agra-"


"Bisa Agra!" Wajah Bram terlihat lebih serius. "Papa gak mau kamu nemuin Aurora dengan keadaan nenyedihkan kayak gini. Papa mau kamu buktiin ke Aurora kalo kamu bisa diandalkan. Ingat, garis keturunan Demiand semuanya berkualitas. Papa gak mau kamu keliatan bodoh hanya karna perempuan. Karna itu, Papa mau kamu lanjutin pendidikan kamu di London, ambil jurusan Bisnis dan belajar ngendaliin perusahaan selama dua tahun."


"Tapi itu lama banget, Pa. Lima tahun bukan waktu yang-"


"Papa gak masalah kalo kamu gak mau. Papa tinggal bakar amplop ini dan kamu gak akan bisa ketemu Aurora sampai kapan pun lagi."


Sial, kenapa Agra selalu saja bisa dipukul telak oleh Bram? Dengan kepasrahan yang amat dipaksakan, Agra mengangguk menyetujui.


Ia harus menunggu lima tahun lagi untuk Aurora.