![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Bel istirahat telah berbunyi sekitar satu menit yang lalu. Dengan jalan yang sedikit cepat Agra melangkah ke kelas XI IPA 1 tentunya untuk menjemput seseorang yang telah berhasi membuat fikirannya berantakan. Pemuda itu telah sampai didepan pintu yang bertuliskan XI IPA 1 diatas pintu itu. Salah satu siswi kelas itu keluar entah mau kemana, namun saat melihat Agra berdiri didepan kelasnya gadis itu menganga tak percaya. Baru kali ini seorang Agra datang kekelasnya.
"Aurora mana?" tanya Agra datar membuyarkan keterkejutan gadis itu.
Gadis itu semakin menganga tak percaya. Seorang Agra tak pernah datang kekelasnya. Dan sekarang untuk pertama kalinya pemuda itu datang namun yang dicarinya si Aurora? Cewek beasiswa yang berani melawan Agra? WOW!!
"Woy! Denger gue gak?!" sentak Agra karena gadis didepannya ini hanya menatapnya dengan tampang yang membuat Agra muak!
Gadis itu tersentak kaget!
"Eh... Iya kenapa Gra?" gugup gadis itu. Ini adalah pertama kalinya ia berbicara dengan Agra Fransisco sang Cassanova sekolah!
Agra berdecak kesal. "Aurora mana?" ulangnya dingin.
"I-itu A-aurora ada di dalem!" jawabnya gugup.
"Panggilin!" titah Agra dingin, gadis itupun mengangguk karena takut melihat Agra yang tiba-tiba menjadi dingin.
"Ra!! Agra nyari lo!!"
Didalam sana gadis yang mendengar teriakan itu membulatkan matanya, ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Agra untuk saat ini.
"Bi-bilang gue lagi sibuk!" sahut Aurora membuat gadis itu menghela nafas.
Baru saja gadis itu ingin memberi tahu Agra namun pemuda itu sudah masuk kedalam kelasnya tanpa permisi, membuat semua siswi di kelas itu yang tadinya bergosip dan tertawa ria kini menjadi hening seketika saat pemuda itu masuk. Semua menganga tak percaya melihat sang cassanova ini masuk kedalam kelasnya.
"Seberapa sibuk?!" Suara Agra membuat Aurora yang sedang asik menyalin catatan Keyra membulatkan matanya, sementara Keyra memalingkan wajahnya dari ponsel yang ada ditangannya.
Aurora memalingkan wajahnya dari buku yang ia tulisi ke arah suara itu. Disana berdiri seorang pemuda tampan dengan wajah dinginnya. Baru kali ini Aurora merasa takut dengan ekspresi itu.
"Seberapa sibuk, hm?" ulang Agra. Semua penghuni kelas menatap mereka berdua secara bergantian.
"Ra lo tau kan apa yang harus lo jawab? Saran gue ikutin kata hati lo!" bisik Keyra lalu berdiri dari tempatnya membuat Aurora membulatkan matanya. Apakah sahabatnya ini akan meninggalkannya sendiri dalam keadaan seperti ini? Oh god!!
Keyra tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya pada Aurora setelah itu ia berjalan ke arah Agra.
"Pj-nya gue tunggu pak boss!" bisiknya dengan senyum jahil dan dibalas oleh senyum miring Agra.
"WOY!! LO SEMUA IKUT GUE KELUAR DARI SINI SEBELUM AGRA YANG NYURUH LO KELUAR!!" teriak Keyra membuat semua penghuni kelas bingung, namun tetap menuruti ucapan Keyra, karena mereka tak ingin berurusan dengan Agra.
Semua penghuni kelas keluar meninggalkan Agra yang tersenyum sedangkan Aurora semakin membulatkan matanya melihat tingkah Keyra.
"Bunuh sahabat sendiri dosa gak sih?!"
Jantung Aurora sudah hampir keluar saat Agra mengambil kursi yang ada disebelah kiri Aurora lalu duduk didepan gadis itu.
Agra menopang kan dagunya menatap Aurora yang nampak gugup dan sedikit salah tingkah. Ingin sekali Agra tertawa keras namun ia tak ingin merusak suasana hati gadis itu. Bisa-bisa gadis itu kesal dengannya dan menolaknya, walaupun Agra gak yakin kalo gadis ini akan menerimanya.
"Jadi gimana?" tanya Agra dengan masih menopang dagu.
"A-apa?" gugup gadis itu meremas roknya, membuat Agra menghela nafas sabar.
"Nih cewek bener-bener pikun kali yak?!"
"Lo mau jadi pacar gue?"
Aurora menggigit bibir bawahnya. Ia tak yakin dengan jawaban yang akan keluar dari bibirnya.
"Siapapun tolong gue!"
1 detik!
3 detik!
6 detik!
10 detik!
Sepuluh detik berlalu namun Aurora masih diam membuat Agra benar-benar gemas dengan gadis ini.
"Ra!" sahut Agra memecah keheningan.
"Eh... Kenapa?" kaget gadis itu
Agra berdecak kesal. Gadis ini benar-benar menguji kesabarannya!
"Ra... Jangan nguji kesabaran gue," ucap Agra mencoba untuk sabar.
Aurora menghela nafas lalu dengan segenap keberaniannya ia menatap mata hitam pekat itu.
"Kalo gue bilang gak? Gimana?"
Deg!
Ucapan gadis itu membuat Agra terdiam ditempatnya. Jantungnya berdetak tak karuan. Apa maksud Aurora berkata seperti itu? Apa ini artinya dia ditolak?
"Maksud lo?" tanya Agra hati-hati.
"Jawaban gue nggak!" tegas gadis itu membuat jantung Agra ingin jatuh saat itu juga.
Agra tersenyum miris. Jadi selama ini ia hanya jatuh sendirian? Jadi selama ini hanya ia yang merasakan perasaan aneh ini? Apa mungkin ini karma buat dirinya yang selalu mencaci gadis itu dulu?
Agra menunduk dan menghembuskan nafasnya rasa sesak datang begitu saja didadanya kala mendengar jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.
Setelah menetralkan rasa sesak didadanya. Agra mendongak untuk melihat wajah gadis itu yang kini menatapnya datar. Agra tersenyum sekilas lalu menatap tepat dimanik mata coklat itu.
"Makasih bu-"
"Gue belum selesai ngomong!" potong gadis itu ketus.
Agra mengangkat kedua alisnya bingung. Kata-kata apa lagi yang akan keluar dari mulut gadis itu. Tiga kata yang keluar dari mulut gadis itu saja sudah membuat dadanya sesak, lalu apa lagi sekarang?
"Gak perlu lo lanjutin. Gu-"
"Gue gak bisa nolak maksudnya!" potong gadis itu cepat.
Agra terdiam ditempatnya mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut gadis itu. Beberapa detik kemudian pemuda itu membulatkan matanya lalu menatap Aurora dengan tatapan tak percaya nya.
"Ma-maksud lo ma-"
"Iya gue mau jadi pacar lo!" potong gadis itu lagi dengan mengulum tawa. Ia benar-benar ingin tertawa keras melihat wajah Agra yang terlihat putus asa tadi.
Dengan kesal Agra pun menghamburkan rambut gadis berkuncir kuda itu. Tawa Aurora pun lepas saat itu juga, membuat Agra semakin gemas menghamburkan rambut hitam dikuncir itu.
"Haha... Lo mirip orang gila deket rumah Alif tau gak?!" ejek Agra membuat gadis itu kesal dengan bibir mengerucut.
Agra menghentikan tawanya lalu merapikan rambut yang tadinya ia buat berantakan. Detakan jantung itu datang lagi kepada mereka. Dan sekarang mereka sudah tahu apa penyebab detakan itu.
"Tapi mau gimana pun lo tetep cantik kok!"
Pipi Aurora tiba-tiba memerah mendengar perkataan Agra. Agra yang melihat rona merah itupun kembali tertawa lalu menjitak pelan kepala Aurora.
"Gitu aja blushing!" ejek Agra.
Aurora mengusap puncak kepalanya yang terkena jitakan Agra. "Apaan sih?!"
Agra terkekeh pelan lalu memandangi gadis itu.
Mereka berdua terus bercanda ria melupakan seorang pemuda yang berada diambang pintu dengan tatapan sendunya.
Apa ini? Dia benar-benar sudah terlambat? Gadis itu telah dimiliki orang lain? Pengecut! Hanya itu yang pantas untuk dirinya. Dia tak tahu harus berbuat apa selain menyukai gadis itu diam-diam. Ingin sekali rasanya berteriak lalu mengatakan bahwa ia juga menyayangi gadis itu bahkan cinta.
Namun rasa takutnya jauh lebih besar. Takut jika gadis itu akan menjauhinya setelah tahu perasaan yang ia pendam selama ini. Serumit inikah kisah percintaannya? Baru saja ia menemukan cinta pertamanya, namun sudah dibuat kecewa? Baru saja ia meraskan apa itu jatuh cinta. Namun patah hati lebih dulu menyapanya sebelum sempat memiliki gadis yang kini tertawa bahagia bersama seorang pemuda yang baru saja menjadi miliknya.
"Smoga lo bahagia sama dia Ra." Gumam pemuda itu lalu pergi dari sana meninggalkan kedua pasangan baru itu.
***
Rooftop! Disinilah Rey saat ini menenangkan fikiran dan hatinya. Fikirannya tak pernah bisa jauh dari gadis bernama Aurora itu. Gadis yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pertemuan pertamanya sejak ia menolong gadis itu. Mata coklat dan senyum gadis itu selaku membuatnya merasa tenang dan melupakan masalahnya pada malam itu.
Sebelum Rey datang menolong Aurora, pemuda itu sempat bertengkar dengan ibu tiri dan papa nya. Memang Rey memiliki ibu tiri yang sangat ia benci karena mengira telah menggantikan posisi bundanya dihati sang ayah. Namun saat Rey kabur dari rumah, di tengah perjalanan ia melihat Aurora yang sedang diganggu oleh tiga orang preman. Dan saat itu juga Rey merasakan kehangatan mata coklat dan senyum manis milik gadis itu, yang membuatnya melupakan masalahnya serta tatapan teduh dan senyum menenangkan itu yang membuatnya jatuh untuk pertama kalinya.
Pemuda itu menghela nafas. Ia tidak menyesal sama sekali karena telah jatuh cinta pada gadis itu. Namun ada satu hal yang ia sesali. Harusnya pada waktu dikantin beberapa bulan lalu ia tak menawarkan Aurora menjadi temannya. Dan lihat! Mereka benar-benar hanya menjadi teman tidak lebih.
"Gue janji! Suatu saat nanti kalo gue udah nemuin pengganti lo, gue gak bakal ngajak dia temenan lagi!" gumamnya dalam hati.
Pemuda itu menutup matanya, merasakan angin sepoi-sepoi menembus kulitnya.
"WOY!!" suara teriakan serta tepukan dibahunya membuat Rey tersentak kaget dan refleks membuka matanya. Rey menoleh kebelakang ingin melihat siapa sang pelaku itu. Saat menoleh kebelakang Rey mendapati Keyra yang kini menunjukkan cengirannya serta jari bersimbol "V"
"Astaga Key! Gue kira siapa!" kesal Rey. Keyra terkekeh lalu duduk di kursi yang ada dirooftop itu disusul oleh Rey disampingnya.
"Ngapain lo disini?" tnya Rey.
"Emang gak boleh?!" sinis Keyra membuat Rey terkekeh.
"Gak sih!"
Mereka sama-sama diam menatap lurus kedepan.
"Lo udah tau tentang Rara dan Agra?" ujar Keyra memecah keheningan, gadis itu menoleh menatap Rey yang fokus kedepan.
"Hm," dehemnya. Jujur dia sedang malas membahas itu. Dadanya sesak hanya mengingat bagaimana gadis itu tertawa bahagia bersama Agra.
"Lo gak sakit?" tanya Keyra membuat Rey menatapnya dengan Alif mengernyit bingung.
Apa gadis ini sudah tahu perasaannya?
"Lo tau?" tanya Rey balik.
"Hm," dehem Keyra sambil mengangguk.
"Gak mungkin lo gak tau jawaban gue!" ujar Rey dengan menatap lurus kedepan begitupun dengan Keyra.
"Lo yakin bakal sanggup buat liat Rara sama Agra?"
"Apapun akan gue usahain, yang penting Aurora bahagia!"
"Jangan seolah-olah lo baik-baik aja. Hati lo bukan baja!" setelah mengatakan itu Keyra menepuk pundak Rey sekilas lalu pergi meninggalkan Rey yang kini tersenyum miris mendengar ucapan Keyra.
Benar hatinya bukan baja! Mau bagaimanapun ia tak akan bisa berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja.
Aurora orang pertama yang membuat Rey merasakan apa itu jatuh cinta, sekaligus orang pertama yang membuatnya patah hati!
"hufftt... Miris banget sih hidup gue!"
***
Agra kembali kekelasnya dengan senyum yang tak pernah lepas. Bahkan ia hanya menghabiskan jam istirahatnya buat tertawa bareng Aurora. Benar-benar pasangan baru!
Pemuda itu berjalan masuk kedalam kelasnya dengan tangan kanan yang dimasukkan ke saku serta senyum lebar yang tak pernah lepas dari bibir sexy nya.
Alif dan Deon terheran-heran melihat sahabat gantengnya ini.
"Ngapain lo senyam-senyum gitu?" tanya Deon heran.
"Baru gajian lo?" timpal Alif.
Pletak!!
Agra menjitak kepala Alif membuat sang empunya menatap Agra kesal sedangkan Deon tertawa bahagia karena berhasil membuat Alif merasakan rasanya dijitak.
Pletak!!
Agra beralih menjitak Deon yang tertawa keras sehingga teman sekelasnya menatap mereka dengan berbagai tatapan bingung.
"Ujung-ujungnya gue juga yang kena!" gerutu Deon kesal.
"Eh... Lo belum jawab pertanyaan kita. Ngapain lo senyum-senyum kek orang baru gajian?" tanya Alif
Deon kembali menatap Agra, sementara yang ditatap semakin tersenyum lebar membuat Alif dan Deon tambah heran.
"Aurora nerima gue!" jawab pemuda itu antusias.
Deon dan Alif hanya bergumam dengan mulut berbentuk huruf "O" membuat Agra menatapnya datar.
1 detik!
2 detik!
3 detik!
"WHAT?!!!" pekik Alif dan Deon bersamaan membuat Agra memutar bola matanya malas.