![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
"Gue kan udah bilang, lo harus hati-hati! Sekali pun lo pengin berinteraksi sama Lena, jangan di area sekolah. Lo beg0 apa gimana sih, Gra?!"
"Sekarang apa? Aurora udah tau. Gue gak tau harus mihak siapa. Aurora cewek lo, dia cinta sama lo. Lena statusnya masih gak jelas tapi kesetiaan dia buat nunggu lo bikin gue salut."
Kabar bahwa Aurora sudah mengetahui hubungan Agra dan Lena serta memilih menyerah, sampai ke telinga Alif dan Deon. Membuat kedua sahabat itu geram pada Agra yang sejak kemarin seperti orang bodoh yang tidak tahu harus apa.
Agra mengacak rambutnya frustasi kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa. Mama dan Papanya sedang keluar kota hingga membebaskan ketiganya berada di rumah ini untuk membahas Aurora dan Lena.
"Gue juga gak mau hal ini sampe kejadian! Tapi gue bisa apa kalau Rara udah tau?!" desahnya, resah. Satu hari tanpa Aurora saja ia tidak bisa, apalagi jika cewek itu benar-benar pergi meninggalkannya.
"Gue sama Deon gak bisa bantu apa-apa, Gra. Karna ini soal perasaan lo. Lo yang pegang kendali. Lo cinta sama Aurora, lepasin Lena. Lo masih cinta sama Lena, lepasin Aurora. Lo gak boleh egois, Man, atau kalian bertiga akan sama sakitnya."
Deon mengangguki perkataan Alif. "Gue emang gak ngerti soal cinta-cinta gini soalnya belum pernah ngelepas status jomblo gue dari lahir. Tapi gue mau bilang, mau gimana pun kondisinya, mencintai dua nama dalam satu hati, itu tetep gak bener, Gra."
"Bener. Sekali pun kita sahabatan. Gue tetep gak setuju lo kayak gini. Mereka berdua butuh kepastian. Jadi, tenangin diri lo. Ambil waktu lo buat mikirin semuanya sebelum terlambat. Gue sama Deon bakal ngedukung apapun keputusan lo, brader." Alif menepuk pundak Agra lalu beranjak bersama Deon.
"Kita cabut," ujar Deon. Ia dan Alif keluar dari rumah Agra. Membiarkan sahabatnya itu berpikir lebih baik lagi untuk keputusannya.
Tarikan napas berat Agra terembus. Tuhan ... kenapa Lena harus kembali disaat hatinya baru belajar menerima orang baru? Kenapa Aurora nemilih menyerah di saat sebentar lagi ia bisa mengambil keputusan?
***
Hari berlalu begitu cepat. Masalah Agra, Aurora dan Lena sudah tersebar di sekolah. Berita itu terembus secepat angin. Semua orang mulai membicarakan hal ini. Ada yang mendukung Aurora dan ada pula yang mendukung Lena. Serta, ada yang menyalahkan sikap kurang tegas Agra.
Tentunya, jika semua siswa DSHS tau, Reynald Erlangga pun akan tahu karena ia masih bagian dari sekolah ini. Sudah bisa dipastikan bagaimana marahnya seorang Rey ketika berita ini sampai ketelinganya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya Aurora dan bagaimana sesaknya cewek itu merasa dikhianati.
Kaki jenjangnya berjalan dikoridor dengan lincah. Sesekali berlari menuruni tangga. Ketika target sudah tertangkap oleh radarnya, Rey berlari lalu tanpa tedeng aling-aling, tendangannya melayang mengenai wajah Agra.
Seperti kejadian sebelumnya, Agra memilih memasrahkan dirinya. Ini salahnya, susah sepantasnya ia mendapatkan hal ini.
"ANJIIINGGG!! MATI LO! MATI!!" napas Rey tersenggal-senggal karena emosi. Sedangkan wajah Agra sudah penuh darah. Rey sangat marah, lebih marah lagi ketika Agra hanya diam tanpa membalasnya. "Gue gak nyangka ternyata lo sebanjingannn ini!!"
Alif dan Deon datang dengan cepat membawa Agra menjauh dari Rey. Rey yang tidak terima mendorong keduanya lalu kembali memukul Agra.
"Berhenti anjiiingg! Ini bisa dibicarain baik-baik!" bentak Alif. Rey mendecih sinis sembari mendorong bahu Alif remeh. "Selesaiin baik-baik? Si Brengsek temen lo ini gak pantes dibaik-baikin. Gue udah ngasih lo kesempatan buat bahagiain Aurora, tapi lo malah nyakitin dia! Kalo gak bisa bahagian dia, bilang! Biar gue yang buat dia bahagia!"
Pandangan Rey semakin meremeh ketika Lena datang dan terlihat cemas pada Agra hingga cewek itu memangku kepala Agra. Rey merasa deja vu, bedanya sekarang Lena bukan Aurora.
"Ini, ini cewek yang ngebuat lo nyakitin Aurora, hah?" Rey berdecih. "Pantes aja. Orang tampangnya kayak jala-"
Tanpa diduga, Agra secepat kilat membungkam mulut Rey dengan tinju kerasnya. "Jaga ucapan lo. Dia cewek baik-baik!" Agra tentu saja tidak terima Lena dihina sedangkan cewek itu tidak seperti yang dikatakan Rey.
Rey tertawa, sarat akan kesinisan yang besar. "Cewek baik-baik gak akan ngerebut kebahagian cewek lain, btw."
Lena mendekat ke Rey, menatap tajam cowok itu. "Gue gak pernah ngerebut kebahagiaan siapapun. Gue sama Agra udah pacaran sejak dulu, gak pernah ada kata putus diantara kami. Jadi gue bukan perebut!!"
Demi Tuhan, Rey terkejut. Berita yang tersebar adalah Aurora putus dengan Agra karena adanya Lena yang membuat Agra berpaling. Tapi ini ... Rey kehabisan kata-kata. Bahkan, semua penonton yang tadi heboh menyoraki kini bungkam. Mereka sama tidak percayanya dengan Rey.
Sepersekian detik berikutnya, tepukan tangan Rey mengudara. Ia tertawa terbahak-bahak. Membuat orang keheranan. Tetapi, secepat kilat wajahnya berubah dingin. Ia mencengkeram kerah Agra walau dihadang Alif dan Deon.
"Bahkan lo lebih buruk dari bangsatt! Keputusan Aurora ninggalin lo emang benar, dia terlalu istimewa buat kotoran kayak lo!" kalimat tajam Rey menusuk relung hati Agra yang paling dalam.