![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Aurora mendapat tugas fisika hari ini yang mana ia harus menyelesaikannya saat ini juga. Alhasil, ketika jam istirahat, ia manfaatkan untuk ke perpustakaan mengerjakan tugasnya. Agra juga bilang hari ini mereka tidak bisa makan bersama. Entah karena apa, Agra tidak mengatakannya dan Aurora juga tidak mau kepo. Agra juga punya privasi. Menurutnya.
Belum saja ia sampai ke perpustakaan, dua siluet tubuh yang seperti ia kenali baru saja terlintas. Aurora mengernyitkan alis, kakinya seolah bergerak sendiri menghampiri sang pemilik siluet-siluet itu.
"Haha ... Iya aku masih ingat. Dulu aku penakut banget. Sama kodok aja takut. Sampai-sampai aku lari bermeter-meter cuma buat ngehindarin Alif yang bawa kodok waktu itu."
Aurora tahu betul suara itu. Lena. Aurora tidak mungkin salah lihat. Namun, siapa yang menjadi lawan bicaranya. Penasaran, Aurora mengintip disamping perpustakaan. Ia terkejut ketika melihat Agra disana tengah tertawa sembari mengacak rambut Lena.
"Dasar penakut."
Lena memukul pelan lengan Agra yang terkesan manja. "Aku gak takut tau. Cuma geli aja."
"Gak usah ngelak, deh."
Lena mengerucutkan bibir. Agra mencubit gemas pipi cewek itu. Rasa sesak memenuhi dada Aurora. Sekarang, ia tidak bisa lagi berpikir positif seperti biasanya.
Suasananya tiba-tiba hening diantara Agra dan Lena setelah Lena menghentikan tawanya. Aurora masih setia menunggu kelanjutan pembicaraan keduanya sekali pun hatinya sudah berkata tidak sanggup lagi.
"Agra ...."
Perasaan Aurora mulai tidak enak. Jantungnya berdentum kuat begitu suara Lena memanggil lembut nama Agra.
"Ya?"
Keduanya saling menatap. Aurora tidak mengerti arti tatapan itu. Yang ia tahu, Agra beberapa kali menatapnya demikian ketika berbicara berdua. Dalam dan memabukkan.
"Kita ini sebenarnya apa? Aku serius masih heran."
Lena menghela napas. "Aku tau, sejak kepergian aku ke Jerman, kita mulai lost contact bahkan gak pernah saling bertukar kabar lagi. Tapi asal kamu tau, Gra. Aku selalu setia nungguin kamu yang dulu bilang mau jemput aku di Jerman. Aku selalu ngejaga hati aku buat kamu. Dan sekarang, setelah aku kembali ke Jakarta, aku malah dibuat kaget sekaligus kecewa saat tau kamu udah punya pacar. Padahal, belum ada kata putus antara kamu dan aku."
Aurora membekap mulutnya. Wajahnya terlihat shock. Demi Tuhan, ia sama sekali tidak pernah memikirkan keduanya memiliki hubungan serumit itu. Selama ini Aurora hanya berpikir bahwa Agra dan Lena adalah saudara atau mungkin sahabat. Tapi ternyata?
Agra belum lepas dari masa lalunya.
Lantas, apa arti hubungan Aurora dan Agra selama ini? Apakah Aurora hanya pelampiasan?
"Maaf, Len. Gue emang brengsek. Gue bener-bener bodoh. Kalau aja gue tau. Kalau aja gue tau lo sesetia itu, gue gak mungkin ngecewain lo."
Aurora menahan sesak didadanya ketika mendengar balasan Agra. 'kalau aja gue tau'? Itu artinya Agra menyesal menjalin hubungan dengan Aurora atau bagaimana? Aurora benar-benar bingung.
"Agra ..." Lena memegang tangan Agra. "Aku emang kecewa, tapi bukan berarti aku berhenti cinta sama kamu. Perasaan aku masih sama. Dan aku yakin, perasaan kamu pun masih sama. Mata kamu gak bisa bohong, Gra. Tapi mau gimana pun kamu harus milih. Aku, atau Aurora?"
Cairan bening tanpa sadar menetes mengaliri pipinya. Aurora sekuat tenaga menahan diri untuk tidak bersuara, tetapi rasanya sangat sulit. Melihat keterdiaman Agra yang cukup lama, Aurora yakin cowok itu ragu. Entah ragu untuk memilih Aurora, atau ragu untuk melepas Lena.
"Agra. Jawab. Kamu gak bisa cinta sama dua orang sekaligus. Kamu harus milih diantara kami. Aku, atau Auror-"
"Gue aja yang mundur."
Suara serak itu menyentak keduanya. Agra terkejut bukan main dan cepat-celat melepas tangan Lena yang menggenggam tangannya.
"Rara?"