[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Perasaan Aurora



Dalam sebuah ruangan yang sering dijadikan tempat pelarian sebagian siswa-siswi Demiand Senior High School saat upacara, nampak 4 pemuda dan 2 gadis yang kini saling diam. 2 dari ke empat pemuda itu mengobati lukanya masing-masing, sementara dua lainnya sibuk dengan fikiran masing-masing, begitupun dengan dua gadis itu. Mereka Adalah Agra, Rey, Alif, Deon, Keyra dan Aurora.


Rey bisa ada bersama mereka karena ia ingin menjelaskan maksud dari kata penghianat yang keluar dari mulut Leon. Yah pemuda yang membantu Agra dan Aurora adalah Reynald Erlangga. Rey menjelaskan bahwa ia kedapatan oleh Leon menolong musuh mereka yang dikroyok oleh geng motor entah milik siapa. Dan itu membuat Leon marah karena mengira Rey diam-diam telah berkhianat dengan mereka. Meskipun Agra tidak melihat kebohongan dimata pemuda itu, namun Agra belum bisa mempercayai Rey sepenuhnya. Bisa sajakan ini taktik mereka untuk menjatuhkan Wolfer?.


Agra dan Rey hanya diam memandang Aurora yang kini menunduk bersalah, dan Keyra yang setia mengelus bahu sahabatnya itu, sedangkan Alif dan Deon masing-masing mengobati luka diwajahnya akibat Tawuran tadi.


"Kenapa lo bisa dibawa Leon?" tanya Agra kepada Aurora setelah lama mereka diam. Semua yang ada diruangan itu menatap Aurora menunggu jawaban gadis itu.


Aurora mendongakkan wajahnya menatap wajah lebam Agra.


Flashback on


Gadis dengan rambut dikuncir itu tengah mondar-mandir tidak tenang didalam sebuah Aulah, terlihat dari wajahnya yang cemas, membuat sahabatnya memutar bola matanya malas.


"Ra lo gak cape apa mondar-mandir kek setrikaan gitu?" tanya Keyra mulai jengah.


Aurora menghembuskan nafas gusar. "Gimana gue bisa tenang Key, sekolah kita dalam bahaya. Kalo misalnya temen-temen Agra kalah trus ada yang nyusup kesini gimana?" balas gadis itu was-was.


Keyra membenarkan dalam hati ucapan sahabatnya ini.


"Tapi gak us-" tiba-tiba omongan Keyra terpotong karena keributan diluar Aulah, teman-teman Agra yang berjumlah 10 orang untuk menjaga Aulah kini tinggal 3 orang karena sebagian ikut membantu yang lainnya diluar sekolah


Yang membuat Aurora tambah ketakutan adalah ketiga teman Agra yang bertugas menjaga Aulah kini terkapar lemah di lantai teras Aulah.


Seorang pemuda dengan wajahnya yang penuh warna biru keungu-unguan memasuki Aulah seperti mencari seseorang membuat semua yang ada di Aulah berteriak takut karena mereka tahu itu adalah musuh Agra.


Pemuda itu terus menyusuri Aulah mencari seseorang yang dapat ia jadikan umpan untuk membuat sang badboy DSHS itu menunduk didepannya. Lama mencari hingga akhirnya mata pemuda itu bertemu dengan manik mata orang yang ia cari membuatnya tersenyum miring dan berjalan dengan tergesah-gesah menuju orang itu.


Langkah pemuda itu semakin dekat membuat gadis yang kini menatapnya membulatkan matanya takut begitupun sahabatnya.


Gadis itu gelagapan tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia hanya kabur keluar Aulah berharap pemuda itu tak mengejarnya lagi. Namun sayang belum jauh dari aulah tangan gadis itu sudah dicekal oleh pemuda itu dan dikukung dalam tangan milik pemuda itu.


"Mau kemana cantik?hmm?" bisik Pemuda itu a.k.a Leon.


"Lep-lepasin gue" racau gadis itu memberontak berharap kukungan pemuda itu terlepas, namun sayang, kekuatan pemuda itu lebih besar dari dia.


"Gak akan sebelum Agra bertekuk lutut dihadapan gue" ucap Leon dengan seringai setannya.


Aurora bingung kenapa harus dia kalau ingin membuat Agra bertekuk lutut. Aurora tidak memperdulikan itu ia hanya terus memberontak.


Sebagian siswa Demiand Senior High School datang untuk menyelamatkan Aurora, namun sayang mereka semua mundur saat Leon mendekatkan pistol ke pelipis gadis itu, dan mengancam akan membidik pelipis gadis itu jika ada yang berani mendekat, dan dengan berat hatipun mereka mundur dan menatap Aurora seolah mengatakan maaf.


Flashback off


Setelah mengatakan itu tangan Agra mengepal dan rahang nya mengeras.


"Sialan" desis pemuda itu pelan.


"Maaf" ucap gadis itu sedikit gemetar.


Semua yang ada diruangan itu menatap heran Aurora, kenapa gadis itu malah minta maaf? Bukannya yang harus minta maaf disini adalah Agra karena gara-gara dia gadis itu juga terlibat?


"Kenapa minta maaf?" ucap Agra memandang Aurora yg menunduk.


Agra terkekeh gemas melihat gadis yang menunduk ini.


"Yang ada gue yang harus minta maaf karna gara-gara gue lo jadi sasarannya Leon" ucap Agra lembut.


Alif, Deon, Rey, dan Keyra menganga layaknya orang bodoh karena ini pertama kalinya mereka mendengar suara lembut Agra dan permintaan maaf yang terlihat begitu tulus dari pemuda itu. Dan yang membuat mereka tambah bingung adalah Agra bersikap seperti itu pada gadis yang sering ribut dengannya. Wahh ini termasuk sejarah baru bagi mereka. Lebay memang tapi itulah faktanya.


"Gra... Otak lo ga geserkan habis tawuran?" tanya Deon polos membuat semuanya menahan tawa kecuali Agra.


"Ngomong skali lagi gue sumpel mulut lo pake sempaknya miper" ancam Agra.


"Jadi selama ini lo diem-diem nyimpen sempaknya miper gra?" tanya Deon dengan wajah SOK SHOCK-NYA.


"Deoonnn..." desis Agra menatap tajam Deon membuat sang empunya cengengesan dan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk tanda piiiss...


Semua orang terkekeh melihat Deon dan Agra sementara Aurora hanya tersenyum tipis.


Kini Aurora beralih melihat wajah lebam Agra, diam-diam gadis itu meringis melihat luka yang ada diwajah tampan pemuda itu. Pasti sakit rasanya, pikir Aurora.


"Gra..." panggil gadis itu pelan.


Agra beralih menatap Aurora begitupun Rey sementara Alif, Deon dan Keyra kini berbincang sesekali bercanda di brankar uks lain.


"Hmm.?"


Aurora menggigit bibirnya gugup tak tahu harus berkata apa. Karena rasa ingin mengobati luka Agra datang begitu saja pada dirinya.


"Gue bo-boleh obatin luka lo" cicit gadis itu membuat Agra tersenyum tipis sedangkan Rey hanya menatap mereka datar, entah apa yang ada difikiran pemuda berlesung pipi itu.


"Khawatir yah liat gue kek gini?" goda Agra kepedean membuat Aurora mendelik kesal.


"Gosahh geer!! Anggap aja ini permintaan maaf gue" ucap gadis itu sedikit kesal membuat Agra terkekeh gemas lalu mengangguk membiarkan Aurora mengobati lukanya.


Berbeda dengan Rey ia tetap stay ditempatnya dengan tangan disilangkan didada dan menatap Agra datar, membuat sang empunya menaikkan sebelah alisnya.


"Ngapain lo masih disini?" tanya Agra datar.


"Kenapa?" balas pemuda itu tak kalah datar.


"Lo yakin hati lo bakal kuat liat adegan selanjutnya?"


Rey tersenyum sinis lalu pergi meninggalkan uks dan Agra yang kini tersenyum miring. Tak bisa Rey pungkiri bahwa dadanya berdenyut perih saat melihat raut khawatir dimata Aurora untuk Agra begitupun sebaliknya.


Aurora kembali duduk dihadapan Agra setelah mendapatkan kotak P3K yang ia cari.


Aurora membasahi kapas dengan alkohol untuk membersihkan luka-luka Agra lalu memberi kapas lain betadine dan menempelkan plaster obat di luka-luka Agra, gadis itu benar-benar teliti mengobati Agra.


Agra hanya menatap gadis yang kini tengah serius mengobati lukanya. Benar-benar cantik jika dilihat dari jarak dekat. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat saat memperhatikan wajah gadis itu dari dekat.


"Kok kumat lagi sih jantung gue?!!"


Begitupun dengan Aurora yang sedikit gugup karena jantungnya yang tiba-tiba berdegub kencang saat mengobati bagian sudut bibir Agra sedikit sobek, karena kegugupannya ia tak sadar telah menekan luka itu membuat sang empu bibir itu meringis kesakitan.


"Sshh..."


"Eh.. Eh.. Sorry gue gak sengaja" ucap gadis itu sedikit bersalah. Agra hanya mengangguk saja.


Sepuluh menit kemudian Aurora telah selesai mengobati luka Agra, gadis itu membereskan bekasnya lalu menyimpan kotak P3K itu ketempatnya semula, setelah itu ia kembali duduk di hadapan Agra.


"Ra..." panggil Agra menatap dalam-dalam gadis itu, membuat gadis tersebut mendadak gugup karena jantung nya tak bisa diajak kompromi.


"Hmm?" Aurora hanya membalas dengan deheman karena ia benar-benar gugup saat ini, berada dalam satu ruangan dengan Agra dan posisi yang terbilang dekat.


"Mulai skarang lo hati-hati yah!" ucap Agra menatap tepat manik mata coklat milik Aurora.


"Emang kenapa?"


Agra menghela nafas berat, gadis didepannya ini benar-benar tidak bisa langsung menurut pasti bertanya balik dulu.


"Setelah kejadian tadi, lo yakin bakal aman dari Leon?" tutur pemuda itu membuat Aurora diam seperti memikirkan sesuatu.


Memang benar yang dikatakan Agra, Leon tidak akan tinggal diam setelah kekalahannya dalam tawuran ini. Leon juga kalah dengan Rey saat menyelamatkan Aurora, dan ini pasti akan sangat membuat Leon dendam pada mereka dan akan menjadikan Aurora umpan nya.


"Trus gue harus gimana?" tanya gadis itu dengan ekspresi mengernyit bingung. Karena bagaimana pun hati-hatinya dia jika berhadapan dengan Leon ia pasti tak tahu harus melakukan apa.


Setelah Aurora mengatakan itu Agra nampak merogoh sesuatu dari dalam saku celananya membuat gadis yang kini memperhatikan gerak-geriknya mengernyit bingung.


Tak lama kemudian, Agra mendapatkan yang ia cari dari saku celananya. Dan sesuatu itu berbentuk seperti... Gelang?


"Gelang?" tanya Aurora bingung dengan gelang yang kini di genggaman Agra.


"Hm... Skarang lo pake gelang ini" ucap Agra menyodorkan gelang itu pada Aurora dan disambut dengan alis mengkerut bingung oleh gadis itu namun tak urung mengambilnya.


"Buat apa?" tanya-nya melihat-lihat gelang itu. Gelang dengan warna hitam dengan bola kecil berwarna merah ditengahnya lalu tulisan AGRA disamping kiri bola kecil itu dan tulisan FRANSISCO disebelah kanan bola kecil itu.


"Itu gelang punya gue. Bukan cuma gue yang punya, tapi semua temen geng gue punya itu. Bola merah kecil di tengah itu GPS supaya gue bisa tau dimana posisi lo" jelas Agra panjang lebar membuat Aurora menganggukkan kepalanya mengerti.


"Tapi kalo lo cuma tau posisi gue doang, lo gak bakalan tau dong kalo gue dalam bahaya atau gak" ucap gadis itu membuat Agra menghela nafas jengah, karena bibirnya masih perih untuk berbicara panjang lebar.


"Coba lo liat pengait gelang itu" Aurora pun menuruti perkataan Agra dengan melihat pengait gelang itu yang terdapat tombol kecil berwarna orange.


"Lo tekan tombol itu, otomatis akan masuk pemberitahuan ke ponsel gue dan temen-temen gue. Karena gue udah sambungin itu ke ponsel gue." lanjut pemuda itu lagi membuat Aurora paham dan memakai gelang itu disisi kirinya.


"Leon tau tentang gelang ini?" tanya gadis itu setelah memasang gelang tersebut.


"Gak, gue dan temen-temen gue cuma nyimpan di saku"


***


Gadis dengan rambut dikuncir serta baju khas pelayan restoran berwarna hitam dan putih tengah mencuci piring bekas makan pembeli. Gadis itu bekerja sambil melamun membuat palayan lain yang ada didekatnya dengan kegiatan yang sama memandangnya dari samping dengan wajah bingung nya.


Pelayan bernama Tasya itu menepuk pelan bahu gadis itu membuat sang empu bahu tersebut tersentak kaget.


"Eh... Sya kenapa?"


"Kamu ada masalah? Kok dari tadi aku perhatiin kamu ngelamun mulu"


"Emm... Gak kok, gak ada masalah apa-apa" balas gadis itu kikuk. Tasya hanya mengangguk dengan mulut berbentuk "O" karena ia pun merasa tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadi seseorang.


Gadis bernama Aurora itu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan memikirkan dirinya yang akhir-akhir ini nampak dekat dengan Agra setelah mereka pergi bersama beberapa hari lalu.


Memikirkan bagaimana pemuda itu tertawa bersamanya seperti tak pernah ada masalah dengan mereka. Bagaimana pemuda itu menghabiskan uangnya hanya untuk meminta maaf padanya waktu itu. Bagaimana pemuda itu tersenyum manis kepadanya yang membuat degub jantungnya tiba-tiba memompa lebih cepat.


Gadis itu juga memikirkan. Ada apa dengan jantungnya yang selalu berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya saat bersama pemuda itu? Kenapa pipinya memerah saat pemuda itu menggodanya? Mengapa ia merasa nyaman saat bersama pemuda itu padahal setiap harinya sebelum mereka damai, dia dan pemuda itu sering adu mulut? Dan terakhir... Mengapa ia khawatir saat melihat wajah tampan pemuda itu penuh dengan luka? Apakah Agra juga merasakan apa yang ia rasakan? Atau mungkin... Biasa-biasa saja?


Apa mungkin Aurora telah jatuh hati pada pemuda itu? Aurora tidak tahu perasaan apa ini. Karena ini pun untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan aneh namun membuatnya senang. Ah.. Aurora tidak peduli perasaan apa ini. Ia tidak boleh berfikiran kesana, karena gadis itu takut. Takut jika memang dia jatuh hati pada pemuda tampan itu, ia akan jatuh sendirian.