[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Lena, Agra & Rey



Lena mendengar semua yang di katakan Aurora pada Agra. Sejak melihat Agra meninggalkannya karena menghampiri Aurora, Lena sudah mengikut di belakang Agra tanpa sepengetahuan Agra dan Aurora.


Cewek itu bersandar di balik tembok yang dekat dengan koridor tempat Agra dan Aurora berbicara. Ia menunduk menatap ujung sepatu putihnya. Jujur, sikap Agra yang terlihat putus asa karena Aurora membuat hatinya sakit. Tidak bisakah Agra hanya melihat ke arahnya?


Akhir-akhir ini pun sifat Agra seperti berubah. Cowok itu lebih banyak diam dari biasanya. Memang, ia masih sering bersikap manis kepada Lena. Tetapi tidak lama kemudian Agra kembali diam lagi.


Pernah sekali, Lena mendapati Agra diam-diam menatap foto Aurora di ponselnya. Lena juga pernah mendapati Agra mengigaukan Aurora di dalam tidurnya saat tengah di rumah sakit.


Lena tidak tahu sudah sebesar apa rasa cinta Agra ke Aurora. Tetapi ketika melihat kesedihan yang tak pernah hilang dari wajah cowok itu semenjak diputuskan Aurora, Lena bisa menyimpulkan bahwa perasaan Agra tidak lah sederhana.


"Lo hebat, Ra. Lo hebat karna dengan mudahnya ngebuat manusia berhati keras kayak Agra jatuh sejatuh-jatuhnya ke lo." Lena mengangkat sudut bibirnya. "Dulu, gue bahkan butuh waktu lama buat narik perhatian dia biar bisa ngeliat gue. Tapi lo, lo bahkan gak perlu berjuang buat menangin hati Agra."


"Tapi maaf, Ra. Gue mau egois. Gue udah cinta sama Agra sejak gue kecil. Dari dulu sampe sekarang gue gak bisa cinta sama laki-laki lain seperti gue cinta sama Agra."


Kadang kala, Lena merasa bersalah pada Aurora. Cewek itu begitu sederhana dan juga baik hati, bahkan ketika secara tidak langsung Lena adalah penyebab retaknya hubungan Aurora dan Agra, cewek itu masih berbaik hati padanya. Kalau saja Aurora cewek lain, Lena yakin, ia tidak akan tenang bersekolah di sini.


Agra benar, Aurora mungkin adalah salah satu bidadari Tuhan yang nyasar ke bumi.


***


Memilih bolos di jam terakhir, Agra pergi ke UKS untuk tidur. Sayangnya ia tidak bisa menutup mata. Wajah kecewa Aurora masih membayanginya juga kalimat menyakitkan cewek itu. Aurora benar-benar tidak memberinya harapan lagi. Semua sudah ditebas habis oleh perkataan cewek bahwa Aurora tidak lagi ingin terlibat apapun dengan Agra.


"Jadi cowok lemah banget. Kalo benar-benar cinta, berjuang. Jangan malah bersikap sok tersakiti."


Rey entah sejak kapan tiba. Cowok urakan itu juga menidurkan dirinya di kasur yang tidak jauh dari kasur Agra. Agra menoleh, melihat Rey sebelum kembali menatap langit-langit UKS.


"Tau apa lo," balasnya pendek.


"Gue tau banyak. Gue tau gimana perasaan Aurora ke lo. Sekali pun dia keliatan dingin dan gak mau ketemu lo, dia sebenarnya masih peduli. Bahkan saat lo masuk rumah sakit, Aurora gak bisa nutupin muka khawatirnya."


Agra merasa aneh pada Rey. Tidak biasanya musuh bebuyutannya ini mengatakan hal seperti itu. "Buat apa lo ngomongin itu sama gue? Bukannya lo seharusnya seneng gue sama dia putus dan lo punya kesempatan buat milikin dia?"


Rey terkekeh renyah. "Kalo gue mau, tanpa lo putus sama Aurora pun gue bisa aja milikin dia. Tapi gue mikirin perasaan Aurora. Dia cintanya sama lo doang, sekali pun jadi milik gue, dia gak akan bisa bahagia."