[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Baikan



Keyra duduk di kursi panjang di depan kelas menunggu Aurora datang. Sebab, sudah dua hari sahabatnya itu tidak masuk sekolah. Kata para guru, Aurora mengirim surat izin dihari pertama, Keyra yakin sekali Aurora benar-benar terguncang dengan kenyataan ini. Kenyataan bahwa ada sosok lain yang mengisi hati Agra selain dirinya.


"Udah hampir bel, Key. Lo gak masuk?"


Keyra menggelang menjawab pertanyaan salah satu teman sekelasnya. "Entaran," jawabnya pendek.


"Oh, gue duluan, ya."


Keyra hanya mengangguk. Tidak lama kemudian, ia tiba-tiba berdiri dari dudukannya begitu melihat Aurora di koridor. Ia tidak beranjak, hanya diam berdiri memperhatikan Aurora yang berjalan menuju kelas sembari menunduk. Keyra ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja ketika orang-orang berbisik-bisik saat Aurora lewat.


"Ra ...." Aurora berhenti melangkah. Keyra mendekatinya. "Lo ... lo masih marah sama gue?" tanya Keyra hati-hati. Sungguh, tanpa hadirnya Aurora selama dua hari, keseharian Keyra rasanya hampa. Ia merindukan sahabatnya. Sahabat kecilnya. Orang yang ia temani tumbuh bersama dalam suka duka.


Aurora menatapnya. Lama. Keyra takut-takut kalau Aurora akan bersikap dingin padanya mengingat Aurora adalah orang yang susah percaya ketika telah dikecewakan. Sepersekian menit, Keyra dibuat terkejut saat Aurora tersenyum dan memeluknya. Keyra langsung membalasnya erat bahkan menangis. Ia benar-benar merindukan Aurora.


"Maafin gue, Ra. Gue gak maksud bohong sama lo. Terserah lo mau pukul gue atau ngatain gue, asal jangan diemin gue. Gue gak bisa." Aurora terkekeh sembari menepuk-nepuk punggung Keyra.


"Gue gak mungkin bisa marah lama-lama sama lo, Key. Gue tau lo. Lo pasti punya alasan kenapa gak ngasih tau gue."


Keyra melepas pelukannya lalu mengangguk. "Gue awalnya denger Lena dan temennya ngobrol di toilet. Dari situ gue tau yang sebenarnya. Dia siapa dan apa hubungan dia sama Agra. Lo ingat pas gue tiba-tiba narik Agra keluar dari kantin?"


Aurora tampak mengingat sebelum mengangguk. "Gue udah tau waktu itu. Gue sengaja narik Agra buat bicara berdua, gue mau mastiin yang dibilang Lena bener atau enggak. Ternyata, bener. Gue udah mau ngasih tau lo waktu itu. Tapi Agra mohon-mohon ke gue buat dikasi kesempatan ngelepas Lena. Ternyata ... dia bohong. Dia gak benar-benar ngelepas Lena, Ra."


Keyra menunduk, menikmati rasa bersalahnya. "Gue bodoh banget, kalo aja waktu itu gue ngasih tau lo, mungkin rasa sakit lo gak akan parah."


Aurora tersenyum tipis sembari mengelus bahu Keyra. "Key, lo sahabat terbaik gue. Lo saudara terhebat gue. Lo segalanya buat gue. Gak usah minta maaf. Lo gak salah. Hati lo terlalu baik sampe ngasih Agra kesempatan, itu aja."


"Ssstt ... gak ada karna lo. Mungkin, ini emang udah jalan dari Tuhan kalo gue sama Agra gak bisa sama-sama lagi. Karna, mau diliat dari segi mana pun gue sama dia beda Key. Gue gak sepadan sama dia. Dan menurut gue, emang Lena yang pantes buat Agra."


Keyra selalu dibuat salut akan kebijakan Aurora. Ia benar-benar mengagumi sosok sahabatnya ini sejak kecil. Aurora yang kuat, tangguh, tidak manja, mandiri, dan berani mengambil keputusan. Keyra sekali lagi memeluknya. "Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik buat lo, Ra."


Aurora tersenyum. "Key, gue mau ngomong sesuatu sama lo." Aurora melepas pelukannya. Kemudian mengeluarkan amplop dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Keyra.


"Ini ... apa?"


"Buka aja."


Aurora menunggu reaksi Keyra. Dan sudah bisa ditebak, Keyra akan terkejut. "Ra, ini ... lo beneran?" Aurora mengangguk, bibirnya menyungging senyum cerah. Keyra lagi-lagi memeluknya, kali ini dengan perasaan haru.


"Selamat, Ra. Gue dari dulu percaya lo bakal bisa dapatin beasiswa di Amerika. Gue seneng banget."


"Tapi Key ... gue harus berangkat tiga hari lagi."


Keyra jadi bungkam. Ia menatap Aurora dengan pandangan yang sulit diartikan. "Ra, jangan bil-"


"Iya. Gue bakal pergi. Pihak sekolah juga udah tau. Berhubung UN tahun ini dihapuskan, ujian akhir gue dipercepat jadi hari ini."


Keyra tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak menangis. "Lo mau ninggalin gue, Ra?" Aurora menggeleng. "Enggak, Key. Setelah lulus, lo bisa nyusul gue ke sana."


Keyra tidak percaya. Baru saja ia berbaikan dengan Aurora, tidak lama lagi ia harua berpisah dengan sahabatnya.