![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
Sebuah motor sport melaju kencang dari arah barat. Membuat semua penonton bersorak antusias. Motor sport itu berhenti tepat digaris finish dan disusul oleh motor sport lain. Pemenang balapan itu membuka helm fullface-nya membuat penonton bertepuk tangan meriah.
"Sial... Kenapa gue harus kalah?!" gerutu pemuda yang kalah balapan itu karna merutuki kebodohannya.
Pemuda yang memenangkan balapan itu melepaskan helm fullface-nya lalu menyisir rambutnya kebelakang membuat penonton wanita disana memekik histeris. Ia berjalan menuju temannya dengan wajah sumringahnya yang disambut meriah oleh temannya. Pemuda itu adalah Agra Fransisco Demiand. The King Of Racing.
"Wihh ini emang boss guee..." pekik Deon heboh lalu merangkul Agra ala laki-laki.
"Gue emang bangga sama lo..." puji Alif meskipun senang ia tidak seheboh Deon.
"Selamat boss kuu..."
"Agra emang juara lah..."
"Emang gak ada yang bisa ngalahin boss kiteee..."
"Party lah Party.."
Begitulah kira-kira sorakan teman Agra. Agra pun bertos ria dengan semua anggota gengnya.
"Besok gue traktir lo semua di sekolah," ucap Agra.
"Aseekk makan makan kitaa!" heboh Deon sambil joget-joget gak jelas.
Membuat anggota Wolfer sebagian ngakak dan sebagian juga hanya geleng-geleng dan tertawa kecil.
"Makan aja di otak lo!" celutuk Kevin.
"Yeu.. Sirik aja lo upil anoa!" balas Deon.
Mengabaikan Deon dan Kevin yang terus adu mulut, kini Alif beralih kepada Agra menanyakan yang dari tadi ia fikirkan.
"Kok lo bisa menang? Bukannya tadi lo ketinggalan jauh dari Leon?" tanya Alif bingung terbukti dengan alisnya yang mengkerut.
Agra tersenyum miring lalu menjawab. "Gue emang sengaja buat ketinggalan jauh, karna gue tau, pas gue ketinggalan Leon bakalan senang dan nurunin kecepatan motornya. Nah saat gue liat kecepatan motornya udah turun. Baru gue nancap gas," jawabnya santai.
Alif menepuk bahu Agra dan tersenyum tipis. "Lo emang sahabat gue!" pujinya.
Agra tertawa kecil sampai suara Alif kembali menghentikan tawanya.
"Kali ini taruhan lo sama Leon apaan?"
Agra diam sejenak mendengar itu sehingga membuat Alif mengernyit bingung.
"Kenapa?" tanya Alif saat melihat raut wajah Agra yang sulit diartikan.
Agra menghela nafas berat. "Aurora," jawabnya ambigu.
"Aurora?" beo Alif bingung
"Hm.. Leon jadiin Aurora taruhan kali ini." jawab Agra datar.
Alif membulatkan matanya tak percaya. Yang ia bingungkan darimana Leon mengetahui cewek itu? Apa hubungannya balapan ini dan Aurora? Dan kenapa harus Aurora yang jadi taruhannya? Begitulah yang ada difikiran Alif kali ini.
"Gue bingung deh," ucapnya dengan raut wajah bingungnya.
"Gue juga bingung kenapa harus Aurora. Pas gue tanya dia tau dari mana cewek itu, dia bilang Pandu," ungkap Agra
"Terus apa hubungannya lo sama Aurora?"
"Itu yang gue bingungin."
"Lo gak takut Aurora bakal tau ini?"
"Dia gak akan tau!" balasnya cuek.
Alif mengangkat bahunya acuh lalu kembali bergabung dengan teman-temannya begitupun dengan Agra.
Sementara Leon kini memandang perkumpulan geng Wolfer penuh dendam.
"Gue akan balas ini" gumamnya dalam hati lalu pergi meninggalkan tempat itu.
****
Sejak kejadian dikantin dimana Agra mempermalukan Aurora, kini kedua sejoli yang tak permah akur itu dikingkupi oleh aurah peperangan. Mereka tak pernah adu mulut lagi pada saat bertemu, mereka tak saling menjahili lagi pada saat berpapasan. Mereka hanya membuang pandangan masing-masing pada saat berpapasan dan saling memandang tajam nan dingin pada saat bertemu.
Sahabat-sahabat dari dua sejoli ini pun dibuat bingung dengan sikap masing-masing.
Seperti saat ini Aurora dan Keyra berjalan dikoridor menuju kelasnya yang ada diujung dan otomatis harus melewati kelas Agra XI IPA 3. Aurora sebenarnya tidak masalah harus melewati kelas XI IPA 3 namun yang membuatnya kesal adalah Agra dan duo cunguk ada disana sedang bercanda ria di depan kelas mereka.
Dengan terpaksa Aurora pun melewati kelas mereka bersama Keyra. Mereka berdua berjalan berdampingan Aurora disebelah kiri dan Keyra disebelah kanan dekat kelas Agra. Saat akan melewati mereka Deon menyapa Aurora dan Keyra yang membuat kedua cewek itu menghentikan langkahnya.
"Hai Aurora... Hai Keyra..." sapa Deon dengan nada genitnya.
Aurora dan Keyra menghentikan langkahnya mendengar suara Deon. Ia pun beralih menatap Deon dengan tatapan garangnya, sementara Agra dan Aurora saling membuang pandangan.
"Apa lo?!" sewot Keyra sambil melototkan matanya pada Deon.
"Ya ampun Key cantik-cantik kok garang sih?" balasnya pura-pura takut.
"Gue emang cantik makasih!" ucap Keyra sambil mengibaskan rambutnya lalu menarik Aurora menuju kelasnya meninggalkan Deon yang melongo melihat tingkah Keyra dan Alif yang terkekeh melihat ekspresi Deon sementara Agra memilih masuk ke kelas setelah Aurora dan Keyra pergi.
Alif pun menyusul Agra diikuti oleh Deon. Didalam kelas, mereka menanyakan tentang Aurora kepada Agra.
"Gra lo gak ada niatan buat minta maaf sama Aurora?" tanya Alif setelah mereka duduk di bangkunya masing-masing.
Agra yang paling belakang dengan Alif sementara Deon didepan mereka bersama cowok cupu.
Deon memutar badannya menghadap kebelakang saat mendengar Alif bertanya ke Agra. Sementara Agra hanya mengangkat bahunya acuh menanggapi Alif.
"Ck... Agra ganteng gimana pun disini lo yang salah. Minta maaf gih!" suruh Deon
"Kenapa gue yang salah? Orang dia yang jelas-jelas duluan ngerjain gue!" balas Agra tidak terima disalahkan.
"Tapikan lo tau gimana cewek?" balas Deon menghela nafas jengah sementara Alif mengangguk mengiyakan ucapan Deon.
"Disini lo sebagai cowok itu harus brani ngakuin kesalahan lo. Karna menurut gue yang lo lakuin waktu itu ke Aurora juga keterlaluan, gak seharusnya lo mempermalukan dia dengan status sosialnya." nasihat Alif.
Di antara mereka bertiga Alif lah yang menjadi penengah ataupun tempat bertukar cerita dan saran.
"Tau Ah!" balas Agra malas lalu memilih tidur.
Alif dan Deon mendengus kasar lalu tak sengaja pandangan mereka mengarah kepintu dimana seorang pemuda dengan gaya bad-nya memasuki kelas.
Dia adalah Reynald Erlangga. Dasar Rey baru aja satu hari pindah skolah udah muncul sikap aslinya. #Huftt.. Author geleng-geleng kepala.
Mereka berdua menatap datar pemuda itu yang dibalas dengan senyum miring dari pemuda itu. Daripada mereka emosi melihat Rey lebih baik mereka menyibukkan diri saja dari pada melihat wajah pemuda itu.
Rey berjalan santai masuk kekelas dengan tangan kiri dimasukkan ke saku kirinya dan tangan kanannya memegang satu tali tasnya yang bertengger indah dibahunya. Pemuda itupun meletakkan tasnya dia atas meja. Lalu menelungkupkan wajahnya ditasnya.
Kriingg... Kriinggg...
Bel pertanda pelajaran akan dimulai pun berbunyi semua penghuni kelas kembali kebangku nya masing-masing. Setelah itu Seorang guru yang terkenal killer itu memasuki kelas dengan gaya angkuhnya.
Guru yang terkenal killer itu pun menyimpan berkas-berkas yang ada ditangannya keatas meja. Lalu berjalan ketengah untuk memulai pelajaran.
"Selamat pagi anak-anak..." sapanya datar.
"Pagi buuu...." jawab semuanya serempak kecuali Dua pemuda yang tengah menelungkupkan wajahnya. Agra dan Rey.
Bu Dian yang terkenal killer itu mengedarkan pandangannya untuk mencari siswanya yang sering membuat masalah, sampai akhirnya pandangannya jatuh pada bangku paling pojok dan barisan kedua.
Alif yang menyadari Bu Dian berjalan kearah mereka pun berusaha membangunkan Agra namun hasilnya nihil.
"Ssstt... Gra bangun!" bisik Alif dengan menyenggol kaki Agra dengan kakinya yang ada dibawah meja.
Bu Dian pun semakin dekat namun Agra belum juga bagun, membuat Alif jengkel sendiri sementara Deon hanya mengulum tawanya melihat wajah marah bu Dian yang seperti menahan boker.
"Ssstt.. Gra nyet bangun!" bisik Alif sekali lagi namun sayang bu Dian telah sampai di mejanya.
Alif hanya pasrah dengan menutup mata dan telinganya begitupun dengan Deon dan murid lainnya yang telah wanti-wanti karena sebentar lagi akan ada yang meledak
"Agra Fransisco." Panggil Bu Dian dengan nada sedangnya namun Agra tak kunjung bangun juga.
Melihat tak ada respond apa-apa bu Dian pun menarik nafasnya dalam-dalam lalu....
"AGRA FRANSISCO... REYNALD ERLANGGA BANGUUUUNN!!" teriak Bu Dian dengan suaranya yang melebihi So'imah.
Agra dan Rey sontak bangun dari tidurnya dengan wajah kagetnya membuat semua penghuni kelas menahan tawanya.
"Apasih buu? Ganggu orang tidur aja!" sahut Agra malas sedangkan Rey berdecak kesal karna tidurnya diganggu.
"Ngapain kamu tidur dikelas gak punya rumah?" omel Bu Dian pada Agra dengan nada garangnya.
"Kamu juga baru aja satu hari skolah disini udah brani ngelanggar aturan kelas!" lanjutnya pada Rey.
Agra hanya melirik Rey malas karena ia memang mengantuk akibat balapan tadi malam, sementara Rey entah kenapa.
"Kalian berdua keluar dari kelas saya, lalu lari keliling lapangan 30 kali. Cepat?!!" tegas Bu Dian tak terbantahkan.
Agra dan Rey berdiri dengan malas lalu saling melempar tatapan tidak suka dan berjalan keluar kelas menuju lapangan.
****
Kini kedua rival itu sedang berlari ditepi lapangan karena hukuman yang diberikan bu Dian. Suasana lapangan tengah sepi karena jam *** sedang berlangsung. Sesekali mereka berdua saling menyenggol karena tak ingin didahului.
Setelah mereka menyelesaikan hukumannya yaitu lari keliling lapangan 30 kali. Mereka berdua mendaratkan bokongnya di tengah lapangan dengan jarak beberapa meter. Nafas mereka terengah-engah gara-gara lari.
Tak sengaja mata Rey melihat seorang gadis dengan buku paket di pelukannya dari arah perpustakaan membuat Rey tersenyum sumringah lalu bangkit dari duduknya.
Sementara Agra menundukkan wajahnya upaya menetralkan nafasnya, ia tak menyadari keberadaan gadis itu sampai suara Rey membuatnya mendongakkan wajahnya dan mengernyit bingung mendengar panggilan itu.
"Aurora!!" panggil Rey setengah berteriak, membuat Gadis itu menatapnya bingung begitupun dengan Agra.