[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Kata Aurora



Setiap harinya, Aurora selalu meyakinkan dirinya untuk bisa terlihat biasa-biasa saja ketika melihat Agra dan Lena berdua. Tetapi, kenapa ketika hal tersebut terjadi di depan matanya, ia masih merasakan sakit dan juga sesak? Bagaimana Agra terlihat begitu hati-hati mengarahkan Lena bermain basket membuatnya merasakan perasaan iri. Seharunya, ia yang di sana.


Setau Aurora, Lena itu jago basket. Ia bahkan pernah melihatnya sendiri saat kelas cewek itu sedang olahraga. Tapi entah ada apa hingga Agra harus mengajarinya.


Aurora berdiri sendiri di koridor, dengan arah pandang lurus ke area lapangan. Agra terlihat memberitahukan sesuatu pada Lena, lalu cewek itu mengangguk. Saat di mana Agra tersenyum pada Lena sembari menepuk kepala cewek itu, Aurora mengalihkan pandangan. Pemandangan itu terlalu menyakitkan untuk disaksikan.


Saat kembali melihat ke lapangan. Matanya bersitubruk dengan netra hitam Agra. Cowok itu tampak terkejut sebelum bergerak menghampiri Aurora. Merasa Agra akan datang padanya, Aurora cepat-cepat berbalik menghindarinya.


"Ra! Rara tunggu! Rara!"


Pergelangan tangannya berhasil digapai oleh Agra. Membuat Aurora mau tidak mau harus berhenti melangkah. "Ra, jangan salah paham dulu. Gue gak ngapa-ngapain sama Lena. Itu gak seperti yang lo pikrin."


Aurora berbalik kemudian melepas tangan Agra di pergelangan tangannya. "Gue gak peduli. Jangan nahan gue," ujarnya datar kemudian pergi. Tetapi Agra dengan cepat menghalangi jalannya.


"Gue tau, Ra. Lo cemburu, kan? Lo cemburu kan liat gue sama Lena tadi? Hati lo bener-bener gak mau ninggalin gue, kan?"


Kekehan remeh Aurora mengudara. Seolah mengejek rentetan kalimat kepedean Agra. "Lo gak se-spesial itu buat gue cemburuin, Gra. Lo sama gue, sekarang gak ada apa-apa lagi. Buat apa gue cemburu?"


"Mata lo gak bisa bohong, Ra. Gue tau lo cemburu."


"Ra, plis jangan kayak gini. Gue minta maaf. Gue bakal ngelepasin Lena, tapi lo janji bakal balik ke gue."


Aurora menatap Agra dengan tajam. Ia memandang Agra dengan sorot tidak percaya. Raut wajahnya tampak jelas menunjukkan bahwa ia kecewa dengan apa yang baru saja ia dengar. "Gue gak percaya ternyata lo se-brengsek ini, Gra. Lo mau ngelepas Lena? Apa gak cukup gue aja yang lo sakiti? Apa harus Lena juga ngerasin apa yang gue rasa?"


"Gak gitu, Ra, maksud gue. Gue-"


"Udah, Gra. Gak usah ngomong lagi. Kembali ke Lena. Buktiin kalo kesetiaan dia nunggu lo selama bertahun-tahun gak sia-sia. Karna sampai kapan pun, kita emang gak akan bisa sama-sama lagi."


"Ra-"


"Lo bakal ngehadapin banyak masalah kalo milih gue. Salah satunya bokap lo. Bokap lo gak suka sama hubungan kita, dan gue gak mau jadi alasan kenapa lo ngelawan bokap lo."


Agra memandang Aurora putus asa. Tidak, Agra tidak siap dan tidak akan pernah siap ditinggal Aurora. Cewek ini sangat berharga. Aurora sudah mengajarkan banyak hal yang tidak pernah Agra lupakan semasa hidupnya.


"Gue sayang sama lo, Ra. Banget," lirih Agra sembari menunduk. Menutupi wajah sedihnya.


Aurora mengangguk. "Gue juga sayang sama lo. Tapi, satu hal yang harus lo tau, Gra. Terkadang, Tuhan nyatuin kita bukan karna untuk bersama selamanya, tapi hanya untuk saling memberikan pelajaran hidup. Anggap aja, kalo gue salah satu orang yang singgah di hidup lo." Dan, Aurora berlalu melewati Agra yang masih menunduk menatap lantai.